Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 September 2025

[Puisi] Napas Agustus

Napas-napasku adalah hidupku
Napas yang bertiup dari rahmat-Nya
Napas yang diperjuangkan ayah dan ibu
Napas yang diaminkan puluhan doa


Mungkin hidup tak hanya tentang napas—
—atau perihal denyut nadi
Adapun ruhku mengisi jasmani
Yang keduanya saling berselaras


Napas-napasku yang telah usai 
Pada ribuan purnama silam
Bersenandung di antara tirai—
—waktu siang dan malam


Demikian pun pada bulan lalu—
—yang baru saja berakhir
Napasku hidupi memori bisu
Jejak buah pikiran yang kuukir


Napas-napasku telah berembus
Di tengah riuhnya bulan Agustus
Mengalir sedemikian halus
Berdetik-detik, terus-menerus


Napas Agustusku adalah saksi—
saksi bisu perihal diri ini,
tentang masa penuh memori,
tentang janji yang tak terpenuhi


Untaian kalimat penenang itu,
"besok aku akan lebih rajin,"
atau, "harus produktif setiap waktu,"
Nyatanya aku masih belum disiplin


Detik-detik yang terulur,
hingga menit-menit yang tertinggal,
dan semangat yang meluntur,
seakan napasku tersisa sejengkal


Sejujurnya ini tak separah itu
Bila mana keberanianku tiba
Menjawab teguh tanpa ragu
Pada komitmen sebelumnya


Bukankah hidupku pun berawal janji?
Janji mengabdi pada Rabb-ku
Janji mengasihi makhluk-Nya di bumi
Sebatas mampuku setiap waktu


Namun apalah janji yang gugur
Seperti unggas di dalam telur
Yang tak berhasil lahir ke bumi
Berakhir sebagai sesuatu yang mati


Adakah Septemberku teperbarui?
Memulihkan luka yang bertubi-tubi,
menggenapkan kekosongan jasmani,
memenuhi janji pada ruh di dalam diri



Kamis, 16 Januari 2025

[Puisi] Tragedi Interaksi

Bilakah merugimu tiba?

Adakah akibat suatu jumpa?

Apakah saat mata bertemu mata?

Mungkinkah kala hadirku di suatu masa?


Adakah sesalmu kala itu?

Adakah keterpaksaan menyiksamu?

Adakah lukamu karena eksistensiku–

–menyapa hidupmu di segaris waktu?


Adakah engganmu menyayat kalbu?

Jengahkah dirimu menatapku?

Kacaukah harimu saat kita bertemu–

–dalam ketidaksengajaan di masa lalu?


Adakah sukacita menyelimutimu–

–tatkala perpisahan mengakhirinya?

Adakah lega melingkupi benakmu–

–saat tak ada lagi perjumpaan kita?


Pernahkah terbersit dalam benakmu?

"Salahkah aku menghindar darinya?"

Atau barangkali namaku–

–muncul dalam selapis sesalmu?


Adakah setitik kelembutan hatimu–

–membuka jalan penerimaan

Menyambut uluran tangan

Menggengamku tanpa jemu


Adakah pintu yang harus kutuju–

–tuk menemuimu di lorong waktu

Tanpa menghadapi seribu larimu

Menjauh pergi meninggalkanku


Adakah maaf yang harus kuaju

Untuk sembuhkan luka yang berdebu

Yang mungkin tergores karena ulahku

Yang mungkin kulakukan di masa lalu


Masihkan kesempatan itu terbuka

Bilamana di suatu perlintasan masa

Entah kebetulan atau disengaja

Sosokmu dan diriku berjumpa


Akankah bila itu terjadi

Mungkinkah kau 'kan memilih pergi

Akankah bagimu celaka tak terperi?

Akankah jadi sial yang tak terprediksi?


Haruskah kulakukan suatu hal

Penuhi perkara yang kau impikan

Bilamana itu menjadi aral

Untuk kutemui kau di penantian


Bilakah pupus harapan ini?

Tentangmu seakan tak kunjung usai

Penantian silam yang belum terpenuhi

Semoga sesakku segera runtuh terurai


Rabu, 15 Januari 2025

[Puisi] Asa Hampa

Seonggok asa yang mengabu-biru

Tak pernah terpikirkan dalam benakku

Bertahun merindu dalam kesunyian

Memadu rasa yang tak terjelaskan


Tak jemu aku duduk bersimpuh

Dalam lorong tunggu yang cukup jauh

Berjuta jengkal dari hadirmu

Tersisihkan sosokku yang telah lalu


Kau yang terpaut jauh dalam diammu

Mengasingkanku dalam ribuan bisu

Mengunci batinku dalam perjalanan waktu

Menutup tabir yang penuh rancu


Kesucianmu yang seakan mutlak

Terpelihara dari jamah genggamku

Terjaga dari suaraku yang serak–

–ternoda tangis di masa lalu


Bila selangkah kakiku maju

Maka ke belakang seratus langkahmu

Kau bentangkan jarak yang beribu

Semakin menjauh seiring waktu


Wujudmu yang bebas cela dari bercak

Pun tak tersentuh jemariku yang beruas

Seakan tentangku tak pernah layak

Berdiri di depanmu, menerjang batas 


Barangkali satu hadirku nodai harimu

Mencederai kemurnian eksistensimu

Barangkali kau jelmaan peri di Surga

Hadirmu bukan untukku yang nista


Napasku dalam rengkuhan sayap rindu

Terbungkus memori yang kian berdebu

Berlapis bait-bait yang terabaikan

Bait pengharapan sebuah penantian


Episode yang seakan terus mengalir

Catatan doa yang senantiasa terukir

Terpanjat dalam kalimat yang mengiba

Mendamba harapan yang kian menua


Diammu membungkam lisanku

Membiarkanku tercekat membeku

Menggengam rindu yang tak pernah pudar

Menghalau rasaku yang selalu menguar


Namun, tak sehuruf pun darimu terbit

Penerimaan yang kutunggu seakan percuma

Rindu yang sederhana seolah rumit

Tak pernah terjawab barang satu kata


Dalam diamku yang enggan bersuara

Dalam penolakan yang akrab menyapa

Berharap kau tetap baik-baik di sana

Berharap kau bahagia selamanya

Kamis, 05 Desember 2024

[Puisi] Bayang-bayang

Aku hanyalah sesosok bayang 
Terkungkung dalam jubah berwarna terang—
—tersorot seakan paling cemerlang
Terkepung di antara para belalang

Wujudku hanyalah sebentuk bayang
Tak kasat mata seakan hadirku tak nyata
Terjebak dalam jiwa yang hilang 
Terjerat angan-angan fatamorgana

Garis takdirku bagaikan bayang
Tak lebih dari sekedar benda maya
Meski zatku menempati ruang—
—kehadiranku tak akan masuk logika

Aku tak menyangkal takdirku di dunia
Lafaz syukurku tak pernah dusta
Kufur tak pernah hadir dalam jiwa
Pada awalnya, pada permulaan aku tercipta

Lalu hingga semuanya mengalir
Garis waktu semakin bergulir
Berbagai entitas pun turut hadir
Mewarnai kisah yang seakan tak berakhir

Dan inilah nasibku ternyata
Bersama jutaan bayangan lainnya
Terpasung antara rasa syukur dan ingkar setia—
—atas abdiku dalam jubah aneka warna

Jubahku terkoyak dan mulai compang-camping
Wujudku makin tak sedap dipandang
Diriku mulai dibiarkan dalam hening
Sendiri bahkan tanpa para belalang

Bilamana terluka adalah bagian dari janjiku—
—maka hadirkan luka yang paling sempurna
—yang tak membiarkan hariku membiru
—yang menjanjikan Surga abadi untukku selamanya


Rabu, 04 Desember 2024

[Puisi] Langit November

Damai November pernah hadir
Dalam lembaran garis takdir
Ribuan memori telah terukir
Dalam tenteram tiada khawatir

Warna yang indah pernah tercorak
Menghias hari penuh semarak
Menyisakan memori berjejak
Untuk dikenang esok kelak

Dipayungi langit yang basah
Antara mendung dan suram
Di bawah hujan yang tercurah
Menjaring cahaya mengurai kelam

Ada risau yang tersirat
Di balik cemas yang tersembunyi
Di antara riuh yang menjerat
Ada jiwa yang ingin kembali

Dalam ruang kebimbangan
Harapan yang kian tersudut itu—
—mengais kasih yang berdatangan
Menginginkan berakhirnya pilu

Sepanjang November yang lembap
Sekian jiwa berkelana ingin pulang
Meskipun jalan semakin gelap
Meskipun sulit mencari terang

Bersama tetes hujan gerimis
Melebur dengan tetes tangis
Asa yang penuh semakin terkikis
Memandang diri dengan tatapan miris

Apakah kekangan batin itu nyata?
Adakah singgasana yang tepat untuk jiwa?
Bilakah gundah pergi dan sirna?
Ataukah hanya perlu menunggu masa?

Ah, lagi-lagi rasanya semakin berlebihan
Ketika tak ada jawab dari sebuah harap
Kala cemooh menghakimi keinginan
Saat optimisme mulai lenyap

Apa yang sebenarnya terlalui?
Bertahan dalam tekanan alam mimpi –
– ataukah memperjuangkan hak asasi?
Bolehkah jawaban ini dinanti?

Bila benar bahwa ini hanya mimpi 
Biarkan hidung ini masih bisa membaui –
– aroma hujan yang jatuh ke bumi
Hujan November tahun ini

Walaupun langit hanya diam
Bersama hujan dan angin malam
Biarkan terkenang dalam bungkam
Berkas kenangan November silam

***

[Puisi] Lukacita

Satu, dua, dan tiga

Lukaku belum sampai lima

Beraneka bentuk dan warna

Ada biru, ada merah membara

 

Dua, tiga, dan empat

Lukaku bertambah cepat

Kini semakin rapat

Melebarnya semakin pesat

 

Tiga, empat, dan lima

Lukaku punya cerita berbeda

Satu sembuh, di sisi lain mendera

Satu meradang, di sudut lain mereda

 

Lalu aku menjadi terbiasa

Luka di raga seakan wajar adanya

Walau penuh perih yang terasa

Panas, pedih, dan sakit menjera

 

Tetapi bagiku tak apa

Berulang kali kau mengungkapkannya–

 –bahwa ini perlambang cinta–

–yang kau hadirkan untukku semata

 

Apalah arti semua derita

Bila kita masih bersama

Apalah arti tangis dan luka

Bila kau tetap di depan mata

 

Bahkan bila kau menginginkannya–

–biarkan kupersiapkan segalanya

Entah sekedar tangan dan kaki–

–atau mainan dari berbagai negeri

 

Walau kau seakan muak

Pada seluruh cintaku yang telak

Yakinilah aku tak akan pergi

Meski seisi bumi mencaci

 

Gelak-isakmu adalah nyanyianku

Dengungkanlah lagumu di telinga

Sapa inderaku dengan inderamu

Tetaplah denganku selamanya

 

***

 

[Seri Puisi] Hikayat Cinta #3

Sebelumnya:

Bunga Cintaku Berkembang


Guruku paling cerdas berbahasa
Menguntai indah himpunan kata
Mengajarkanku berbahasa sederhana
Hingga memahami aneka makna

Jiwa-ragaku terasupi aksara
Mengenal huruf dan membacanya
Pun memakainya untuk bicara
Dan menulisnya dengan tinta pena

Tahun demi tahun, bulan demi bulan
Semakin kaya perbendaharaan kata—
—yang dibekali para guru teladan
Dan pengalaman dari aneka manusia

Lalu aku semakin terbiasa
Menyusun kata, praktik berbahasa
Berdialog, berpuisi, bercerita
Betapa indahnya seni sastra

Dan hidupku berjalan sebagaimana adanya
Hingga perjumpaan itu tiba—
—obrolan bisu di antara kita
Yang tersambung melalui dunia maya

Kupikir segalanya akan tetap sama
Duniaku berotasi pada jalurnya
Dan kita hanya sebatas dua manusia,
yang hanya bertemu di sebuah masa

Pada awalnya memang tak berbeda
Kita saling sapa dan bertukar cerita
Menikmati tarian jari di depan mata 
Menyusun kalimat, "hai lagi apa?"

Ternyata hadirmu buyarkan semua
Perbendaharaan kataku lenyap seketika 
Kala tatapanmu tawarkan bahagia 
"Bisakah kita selamanya?"

Kuraih kembali akal yang tersisa
Mencari definisi untuk ungkapkan rasa
Tentang jiwaku yang terperanjat
Tentang hatiku yang tertambat

Adakah aku bersorak gembira,
atau ragui ucapmu di depan telinga,
mencemaskan ekspektasiku sendiri,
hadirnya sosokmu bagaikan mimpi

Apakah aku menemukannya—
—seonggok alasan untuk menghindar,
bagaimana bila kita hanya sementara,
dan kamu hanya sedang mendusta?

Mampukah aku temukan gantinya,
bila waktu pergimu telah tiba
Layakkah kuingkar pada rasa yang ada?
Atau semua ini memanglah maya?

Bukankah manusia mudah berubah,
lantas mengapa tak kujalani saja,
selama hati kita masih bertaut,
Dan ternyata kita tak terpisahkan maut

Bahkan tak sesederhana itu saja
Semoga ketetapan Tuhanku Yang Mulia
Selalu menghimpunku dengan manusia—
—yang mengasihiku dan kukasihi jiwanya

***

Bersambung 


[Puisi Sesat] Sambat Sesaat

Udah pagi aja deh ini
Sumpah, gue pengen ngopi lagi
Walau semalam abis seteko
Buat temenin semangkok bakso

Begadang mulu tiap hari
Nyelesain target sana-sini
Supaya rekening keisi uang
Istirahatnya waktu ketiduran doang

Padahal aslinya secapek itu
Capek segede Gunung Merbabu
Kalo berhenti takut ketinggalan 
Soalnya udah di pertengahan jalan

Sebenarnya gue gak banyak harapan
Tapi perasaan susah amat digapai
Hal kecil kayak cuma angan-angan
Tiap hari berkawan badai

Emang gini ya jalannya?
Atau gue aja yang lebai?
Dikit-dikit nangis bombai
Tiap ngerasa gak ada guna

Gue udah berusaha kok
Tapi jalannya makin berkelok
Segala opsi udah dicoba
Kok nihil terus hasilnya

Di mana ya ini salahnya?
Kapan ya gagalnya sirna?
Bukannya gue gak bersyukur
Tapi dah seringkali gue tersungkur

Maaf ya kali ini rada ngelantur
Kayak gak pernah diajarin bertutur
Walaupun gue berasa hampir hancur
Gue yakin baik-buruknya udah diatur


[Seri Puisi] Hikayat Cinta #2

Sebelumnya:

[Seri Puisi] Hikayat Cinta #1

Benih Kasihku Bertumbuh

Usia dini yang menyenangkan
Penuh warna dan harapan
Menjemput berbagai keajaiban
Merajut memori, merangkai kenangan

Masa emas yang tak terlupakan
Menikmati perjalanan awal kehidupan
Menyusuri proses pertumbuhan 
Menjajaki langkah perkembangan

Berat tubuh yang selalu optimal
Fungsi organ yang cukup ideal 
Semuanya berkat rezeki halal
Yang berdasar cinta sejak awal

Keindahan yang tak ternilai
Dari harapan-harapan yang tercapai
Pada tiap tahap perjalanan—
—menjajaki berbagai pengalaman 

Namun pada suatu ketika
Ibuku bertutur dengan sabarnya
Hidupku masih belum lengkap,
bila belum ada ilmu yang terserap

Kutanyakan perihal itu
Sesuatu yang asing bagiku
Adakah yang harus kujalani—
—tuk sempurnakan kehidupan ini?

Dan beliau mengantarkanku
Pada gerbang dunia yang baru
Bertemu dengan berbagai malaikat—
—rayuan cintanya buatku terpikat

Para gurukulah malaikat itu
Yang menjelma dalam wujud manusia
Mengenalkan berbagai hal seru
Hidupku pun semakin berwarna

Hingga pada suatu masa
Kantung cintaku semakin terisi
Ketika setibanya aku di sana
Terbelai kasih budi pekerti

Kudapati cinta yang indah itu
Dari baiknya ratusan guru
Menyuapkanku berbagai ilmu
Menyapaku di jendela kalbu

Dan aku semakin kenyang
Mengunyah cinta yang teramat renyah
Dari berbagai bentuk kasih sayang
Yang hadir di rumah dan sekolah

Cinta itu berbentuk huruf
Kadang pula berupa angka
Yang kukenal melalui taaruf
Tentang berbagai isi dunia

Indah kugapai makin sempurna
Tatkala aku berhasil membaca,
menghitung dan mengenal warna,
Sungguh riang tak terkira

Pun ketika diperdengarkan suara
Atau saat diajarkan berbicara
Juga kala diperkenalkan norma
Sehingga akalku makin terbuka

Sungguh bahagia semasa itu
Mungkin beginilah cara Tuhanku
Mencintaiku semanis madu
Menyambung kasih-Nya yang tak semu


***


Bersambung:


Selasa, 03 Desember 2024

[Puisi] Kepada Muridku Tercinta

Kala hening menyapa kalbu
Seketika aku membeku
Terbayang sosok lugumu
Kesayanganku sepanjang waktu

Biarkan aku mengejanya
Indah namamu dalam tiap doa
Berharap Tuhan Allah Ta'ala
Memberi izin untuk tetap bersama

Dalam tiap perjuangan kita
Berharap teriring ridho dan keberkahan-Nya
Senantiasa kupanjatkan tiap masa
Supaya kita selalu bahagia

Untuk tiap bahagia yang diusahakan
Untuk tiap perjuangan yang dijalankan
Biarkan aku menikmati pertualangan
Bersamamu, menggali pengetahuan

Barangkali, aku ini tak seberapa
Tapi mimpiku luar biasa
Menginginkan kesuksesan yang nyata
Untuk dirimu sepanjang masa

Aku hanya makhluk tiada daya
Yang dititipkan amanat mulia
Mendidikmu menjadi manusia
Memberimu ilmu yang berguna

Sungguh, aku ingin melihatmu terbang
Menggapai bintangmu di tiap bidang
Tempat kau memperoleh cahaya gemilang
Saat kau damai dan merasa tenang

Biarkan aku melebarkan sayapmu
Menerbangkanmu tinggi di udara
Raihlah bintangmu tanpa ragu
Semoga kau bahagia bersamanya

Bila nanti kau telah bersinar
Sisihkan waktu saja sebentar
Doakan aku supaya tegar
Menghadapi cobaan tanpa gentar

Kutitipkan dirimu pada Tuhanku
Semoga terwujud cita-cita kita
Kau semakin cantik dengan takdirmu
Menjadi hamba Allah yang setia

***

Sabtu, 30 November 2024

[Seri Puisi] Hikayat Cinta #1

Bibit Jiwaku Tertanam

Secercah harapan terwaris
Dari hati yang saling mencintai
Dalam janji kalimat berbaris
Ikrar bersama sehidup-semati

Pada ikatan sumpah yang suci
Dan jiwa-jiwa yang lahir berikutnya
Cinta-kasih itu senantiasa terberi
Tak berkurang sepanjang masa

Jalan hidup yang bervariasi
Preferensi yang warna-warni 
Berakar dari sebuah janji
Berupaya mengasihi setiap hati

Kasih sayang yang lestari—
—yang ditanamkan dan diwarisi
Terhingga pada cicit-cicitnya kini
Saling berbagi hari dan hati

Dan sepasang kekasih itu asyik mencintai
Mengasihi jiwa dan menyayangi jasmani—
—bayi yang terlahir di tengah Januari,
yang diwarisi kasih sayang yang suci

Lalu aku semakin mengenal cinta
Yang terlukiskan dari perlakuannya
Mengasihi sosokku tanpa ragu
Membesarkan jiwa dan hatiku

Dan pada hari-hari lainnya,
saat dekapannya menghangatkanku,
saat bisiknya, "kami menyayangimu"
Kuyakini cinta memang benar adanya

Pun ketika senyumnya tenangkan jiwa,
iringi minggu-minggu awal hidupku
Pecahkan berkas cemas di dada
Saat kupikir tak ada yang indah di dunia

Juga kala suapan nafkahnya pada tubuhku
Menjelma jadi raga yang mendewasa
Dan ucap syukurnya setiap waktu
Pada tumbuh kembangku yang menua

Bahkan setelah ribuan purnama
Cintanya padaku tak pernah pudar
Meski hitam-putihku semakin nyata
Walau gurat gelisahku semakin terkuar

Hanyakah dari sosok mereka saja,
kutemui cinta yang warnai dunia?
Atau Tuhanku menitipkannya juga,
pada jiwa lain di ujung sana?

Benarlah bahwa cinta itu memang ada
Karunia dari Allah Yang Maha Mulia
Yang amat mengasihi hamba-Nya
Juga menyayangi beberapa di antaranya

Meski terulur lewat warisan manusia
Yang mengajarkan konsep cinta
Atau melalui kebaikan kepada sesama
Tetap hanya Allah yang memilikinya

Detik demi detik yang kumiliki
Kuwarisi cinta dan kasih mereka
Yang kupahami dari tutur katanya
Bahwa tiap manusia wajib mengasihi

Akankah nanti kuwariskan lagi,
sebongkah cinta dari orangtuaku,
pada buah hatiku di esok hari?
atau hanya pada sesama makhluk Rabb-ku?

Entah apa yang terjadi nanti
Semoga apapun takdir yang kujalani
Warisan ini tetap dapat lestari
Semampuku mengasihi dan mencintai

***

Berikutnya:

Selasa, 19 November 2024

[Puisi] Penyesalan

Malamku yang sepi, kala itu
Berbalut sunyi yang melingkupi
Aku termangu dalam dekapan waktu
Hari seakan kosong, namun terus berlari

Hampir tak terbayang bagaimana berikutnya–
–aku di malam itu melalui waktu
Tiba di titik masa yang tak terduga
Aku tersentak menyambut hasratku

Manusia dapat memilih keputusannya
Namun tak akan mampu mengubah hari lalu
Malam itu tak akan lagi seperti semula
Hanya sebatas kenangan dalam rindu

Bila kembali waktuku bersamanya
Aku ingin kami bersua
Memastikan ia menerima maafku
Atas khilafku yang tercela

Memastikan ia berhasil menjalankan hidupnya–
–dengan suka cita sebagai manusia
Ia yang jauh entah di mana
Semoga bahagia dalam berbagai lintas masa

[Puisi] Dilema

Membuka hari, beraktivitas lagi
Terpekak bunyi orasi basi
Merasa sesak di antara ilusi
Berimajinasi tak lagi mengobati


Terpasung dalam keraguan
Memberontak dalam angan-angan
Berkreasi sebagai pengelabuan
Ada gelisah yang tak terbantahkan


Harapan yang mulai menguap
Tergoyahkan dalam senyap
Membisu dalam rasa pengap
Perlahan hilang dan beranjak lenyap


Luka lama kembali terkuak
Kekurangan diri mulai tersibak
Visi misi menjadi terserak
Buah catatan lampau yang terjejak


Mengaduh tergerus badai
Seakan tak ada damai
Seolah tak pernah selesai
Terjebak pelik akibat lalai


Puing-puing aib telah tertinggal–
–di belakang,  jauh terpental
Tertoleh ketika tersangkal
Saat mencoba menyalahkan aral


Ketika berbalik ke arah depan
Ada yang menatap penuh harapan–
–mimpi lama yang terlupakan
Memohon minta diperjuangkan


Tak ada jalan untuk keluar
Tak ada takdir yang menyasar
Seketika benak mulai tersadar
Lampu hijau kembali berpendar


Pada akhirnya tak ada pilihan
Segala alarm berdering bersahutan
Membangunkan satu kesadaran
Pelarangan untuk tinggalkan jalan


Dan, akhirnya kembali lagi
Pada pilihan yang telah terpatri
Pada ikrar dalam sebuah janji
Meski terkadang terulang kembali




Badai yang membabi buta
Akhirnya terkalahkan keyakinan nyata
Ataukah ini jebakan semata–
–tentang permainan sebuah rasa?


Ah, biarlah saja
Semoga tak asalah mengolah asa
Setidaknya ada pelajaran bermakna
Dari lika-liku yang penuh warna


Kamis, 04 Juli 2024

[Puisi] Aku (Bukan) Gadis Pingitan

Aku tak pernah merasa seperti ini
Bernapas dalam ruang pribadi
Begitu lama, berhari-hari
Duniaku seolah terasa sepi


Aku termangu dalam diamku
Yang tak mendapat izin restu
Pergi keluar, menikmati waktu
Hari-hariku seolah terbelenggu


Aku mengintip dari celah jendela
Ini bukan lagi zaman Siti Nurbaya
Namun apalah daya
Kuharus menetap dengan terpaksa


Sebuah kabar yang datang ke telinga
Membuatku ingin berkelana
Sungguh indah dunia di luar sana
Katanya, sang penjelajah setia


Namun sayang beribu sayang
Kabar itu masih dalam bayang
Padahal ragaku ingin ke lain ruang
Aku rindu dunia yang terang


Jiwaku merengek ingin menjelajah
Mencari kesegaran, mengusir gundah
Namun usai bencana itu berkisah
Hatiku terasa semakin resah


Mengapa kini aku terpingit?
Keadaanku seolah terjepit
Terjebak antara sehat dan sakit
Sungguh, aku tak mampu menjerit


Bila nanti dunia kembali berseri
Dan izin pergiku telah disetujui
Biarkan jiwaku akan bernyanyi
Menyudahkan rindu yang hampir tak bertepi


Marilah kita menjaga diri
Supaya berakhir masalah ini
Mengurus jiwa menata hati
Bertindak positif setiap hari



NB:

Puisi ini dibuat saat era COVID-19 melanda di Indonesia

 

Rabu, 03 Juli 2024

[Puisi] MELATI

Bungaku, bunga melati
Harum semerbak, putih suci
Mungil dan cantik tak terperi
Sungguh amat kusukai


Bungaku, bunga melati
Menguarkan wangi sepanjang hari
Terbasuh embun setiap pagi
Elok tersorot sinar mentari


Satu hal yang tak tertandingi
Melatiku menyayat hati
Ketika terbang seorang diri
Pergi mencari dunia mimpi


Melatiku mudah berhamburan
Helai demi helai bertebaran
Perlahan hilang dari pandangan
Melayang jauh tanpa tujuan


Bungaku, bunga melati
Gemar berlari mengejar ambisi
Menjelajahi tempat sesuka hati
Meninggalkanku seorang diri


Bungaku, bunga melati
Yang paling kurindu setiap hari
Yang hilang, yang mungkin tak kembali
Sirna bersama lenyapnya pelangi

***

Sabtu, 22 Juni 2024

[Puisi] Kopi Darat

Inspired by: 
Backsound Tik Tok "boleh minta nomer wa gak?" oleh @namakuiyusss


#1

Tak pernah ada yang percuma
Pada kehidupan setiap manusia 
Termasuk pertemuan dua insan—
—yang berjumpa di usia belasan

Tak ada beda seperti lainnya
Saat satu titik pandangku—
—berhenti pada seorang pria
Pada pemilik mata kelabu

Perjumpaan yang cukup sederhana
Tersimpan rapi di album memori
Tentang sosokmu yang bersahaja 
Berhasil masuk ke relung hati

Sayangnya aku terlalu berani
Mendekati tempat kau berdiri
Mengundangmu untuk saling mengenal
Berharap upayaku tidak gagal

Dengan kesadaran penuh, lisanku bertanya
"Halo Kak, boleh minta nomor wasapnya gak?"
Kau tampak terperangah, sedikit ternganga
Duh malunya diriku, alamak!

Hampir terbirit kakiku saat itu
Hentak halusmu menahanku tetap di sana
Kau tunjukkan layar ponselmu
Muncul sederet angka dengan nyata

Beruntung tawamu tak hadir kala itu
Pun hujaman dari sepasang matamu
Meski mungkin di benakmu menggerutu,
"sudah gilakah wanita di hadapanku?"

Namun kau tak menghakimiku
Untuk sikap refleksku yang bikin malu 
Tiba-tiba otakku tersadar sesuatu 
Loh, aku kan sudah simpan nomormu!


***

#2

Festival seni yang mengagumkan
Tak pernah membuatku kecewa
Seakan jadi pelarianku sementara 
Penawar suntuk kesibukan kerja

Aneka tarian dan dongeng Nusantara 
Selalu jadi favoritku hingga kini
Antuasiasmeku begitu menbara
Tak dapat kulewati meski hanya pembuka

Catatan alfaku tak pernah ada
Pada acara kesayanganku ini
Setiap tahun tetap sama
Aku menghadirinya seorang diri

Lalu kau muncul tiba-tiba
Menyerukan tanya di muka
Mengejutkanku begitu saja
Sungguh, aku tak tahu harus apa

Kau malah terbengong di tempat
Sedetik berlalu kakimu hampir melesat—
—kembali hilang di kerumunan padat
Kusodorkan ponselku dengan cepat

Beruntung aku tak salah membalas
Dengan sahutan viral di dunia maya
Mungkin bisa buat kau semakin melas
Menahan malu hampir tak hingga

Namun, apakah kau bercanda?
Bukankah kita janjian untuk berjumpa?
Berkopidarat setelah perkenalan lama—
—saat kita bertemu di social media?

Dan kau tampak hampir tertawa
Rupanya kesadaranmu telah tiba
Lalu kita tenggelam di lautan manusia
Menikmati acara hingga usai waktunya

***

Minggu, 07 Agustus 2016

[Puisi] Senja

Bagai langit senja
Wajah mungil bayi manusia
Menatapku lama
Membisu dalam hampa

Sungguh aku tak percaya
Senyumnya begitu sangat sempurna
Sampai tepat di depan mata
Polos wajahnya runtuhkan jiwa

Aku tak tahu kapan hadirnya
Kala senja telah tiba
Atau saat mentari di atas kepala
Kedatangannya sungguh tiada terduga

Namun yang aku tahu
Dia sudah tiba
Setelah pupus harapanku
Ketika tiba datangnya senja

Harapan yang tak pernah nyata
Dalam hidupku yang nestapa
Menginginkan secuil cinta
Malah bayi yang kuterima

Semuanya hilang
Terbang
Melayang
Tinggal kusendiri dalam bayang

Berlarut dalam kebimbangan
Adakah datang seorang pahlawan
Mengulurkan sebuah tangan
Menarikku dari kehampaan

Lalu aku menunggu
Hingga senja berlalu
Tapi tak ada jua
Yang kutunggu itu tiba

Apakah aku kecewa?
Sekali pun tak kan pernah
Lalu aku tetap menunggunya
Meski harapanku hampir punah

Dan saat kuputus asa
Dia datang begitu saja
Tanpa pernah aku mengira
Dia menjadi kawan yang setia

Hadirnya kadang buatku gulana
Apa yang harus aku lakukan
Saat ia menaruh curiga
Tiada kuelak dengan alasan

Tapi setidaknya
Aku harus bersyukur kepada Tuhan
Dia diliputi jutaan cahaya
Yang menyinari hati yang luka

Namun kini ia pergi selamanya
Saat senja telah tiba
Tinggalkan duka tak terkira
Adakah Tuhan mengirim penggantinya?

[Puisi] Napas Agustus

Napas-napasku adalah hidupku Napas yang bertiup dari rahmat-Nya Napas yang diperjuangkan ayah dan ibu Napas yang diaminkan puluhan doa Mungk...