Fiksi sederhana yang terlahir dari coretan, curahan, dan harapan hidup seorang Run yang tak pernah ternilai.
Selasa, 30 September 2025
[Puisi] Napas Agustus
Napas-napasku adalah hidupku
Mungkin hidup tak hanya tentang napas—
Napas-napasku yang telah usai
Demikian pun pada bulan lalu—
Napas-napasku telah berembus
Napas Agustusku adalah saksi—
Untaian kalimat penenang itu,
Detik-detik yang terulur,
Sejujurnya ini tak separah itu
Bukankah hidupku pun berawal janji?
Namun apalah janji yang gugur
Adakah Septemberku teperbarui?
Kamis, 16 Januari 2025
[Puisi] Tragedi Interaksi
Bilakah merugimu tiba?
Adakah akibat suatu jumpa?
Apakah saat mata bertemu mata?
Mungkinkah kala hadirku di suatu masa?
Adakah sesalmu kala itu?
Adakah keterpaksaan menyiksamu?
Adakah lukamu karena eksistensiku–
–menyapa hidupmu di segaris waktu?
Adakah engganmu menyayat kalbu?
Jengahkah dirimu menatapku?
Kacaukah harimu saat kita bertemu–
–dalam ketidaksengajaan di masa lalu?
Adakah sukacita menyelimutimu–
–tatkala perpisahan mengakhirinya?
Adakah lega melingkupi benakmu–
–saat tak ada lagi perjumpaan kita?
Pernahkah terbersit dalam benakmu?
"Salahkah aku menghindar darinya?"
Atau barangkali namaku–
–muncul dalam selapis sesalmu?
Adakah setitik kelembutan hatimu–
–membuka jalan penerimaan
Menyambut uluran tangan
Menggengamku tanpa jemu
Adakah pintu yang harus kutuju–
–tuk menemuimu di lorong waktu
Tanpa menghadapi seribu larimu
Menjauh pergi meninggalkanku
Adakah maaf yang harus kuaju
Untuk sembuhkan luka yang berdebu
Yang mungkin tergores karena ulahku
Yang mungkin kulakukan di masa lalu
Masihkan kesempatan itu terbuka
Bilamana di suatu perlintasan masa
Entah kebetulan atau disengaja
Sosokmu dan diriku berjumpa
Akankah bila itu terjadi
Mungkinkah kau 'kan memilih pergi
Akankah bagimu celaka tak terperi?
Akankah jadi sial yang tak terprediksi?
Haruskah kulakukan suatu hal
Penuhi perkara yang kau impikan
Bilamana itu menjadi aral
Untuk kutemui kau di penantian
Bilakah pupus harapan ini?
Tentangmu seakan tak kunjung usai
Penantian silam yang belum terpenuhi
Semoga sesakku segera runtuh terurai
Rabu, 15 Januari 2025
[Puisi] Asa Hampa
Seonggok asa yang mengabu-biru
Tak pernah terpikirkan dalam benakku
Bertahun merindu dalam kesunyian
Memadu rasa yang tak terjelaskan
Tak jemu aku duduk bersimpuh
Dalam lorong tunggu yang cukup jauh
Berjuta jengkal dari hadirmu
Tersisihkan sosokku yang telah lalu
Kau yang terpaut jauh dalam diammu
Mengasingkanku dalam ribuan bisu
Mengunci batinku dalam perjalanan waktu
Menutup tabir yang penuh rancu
Kesucianmu yang seakan mutlak
Terpelihara dari jamah genggamku
Terjaga dari suaraku yang serak–
–ternoda tangis di masa lalu
Bila selangkah kakiku maju
Maka ke belakang seratus langkahmu
Kau bentangkan jarak yang beribu
Semakin menjauh seiring waktu
Wujudmu yang bebas cela dari bercak
Pun tak tersentuh jemariku yang beruas
Seakan tentangku tak pernah layak
Berdiri di depanmu, menerjang batas
Barangkali satu hadirku nodai harimu
Mencederai kemurnian eksistensimu
Barangkali kau jelmaan peri di Surga
Hadirmu bukan untukku yang nista
Napasku dalam rengkuhan sayap rindu
Terbungkus memori yang kian berdebu
Berlapis bait-bait yang terabaikan
Bait pengharapan sebuah penantian
Episode yang seakan terus mengalir
Catatan doa yang senantiasa terukir
Terpanjat dalam kalimat yang mengiba
Mendamba harapan yang kian menua
Diammu membungkam lisanku
Membiarkanku tercekat membeku
Menggengam rindu yang tak pernah pudar
Menghalau rasaku yang selalu menguar
Namun, tak sehuruf pun darimu terbit
Penerimaan yang kutunggu seakan percuma
Rindu yang sederhana seolah rumit
Tak pernah terjawab barang satu kata
Dalam diamku yang enggan bersuara
Dalam penolakan yang akrab menyapa
Berharap kau tetap baik-baik di sana
Berharap kau bahagia selamanya
Kamis, 05 Desember 2024
[Puisi] Bayang-bayang
Rabu, 04 Desember 2024
[Puisi] Langit November
Damai November pernah hadirDalam lembaran garis takdirRibuan memori telah terukirDalam tenteram tiada khawatir
Warna yang indah pernah tercorakMenghias hari penuh semarakMenyisakan memori berjejakUntuk dikenang esok kelak
Dipayungi langit yang basahAntara mendung dan suramDi bawah hujan yang tercurahMenjaring cahaya mengurai kelam
Ada risau yang tersiratDi balik cemas yang tersembunyiDi antara riuh yang menjeratAda jiwa yang ingin kembali
Dalam ruang kebimbanganHarapan yang kian tersudut itu——mengais kasih yang berdatanganMenginginkan berakhirnya pilu
Sepanjang November yang lembapSekian jiwa berkelana ingin pulangMeskipun jalan semakin gelapMeskipun sulit mencari terang
Bersama tetes hujan gerimisMelebur dengan tetes tangisAsa yang penuh semakin terkikisMemandang diri dengan tatapan miris
Apakah kekangan batin itu nyata?Adakah singgasana yang tepat untuk jiwa?Bilakah gundah pergi dan sirna?Ataukah hanya perlu menunggu masa?
Ah, lagi-lagi rasanya semakin berlebihanKetika tak ada jawab dari sebuah harapKala cemooh menghakimi keinginanSaat optimisme mulai lenyap
Apa yang sebenarnya terlalui?Bertahan dalam tekanan alam mimpi –– ataukah memperjuangkan hak asasi?Bolehkah jawaban ini dinanti?
Bila benar bahwa ini hanya mimpi Biarkan hidung ini masih bisa membaui –– aroma hujan yang jatuh ke bumiHujan November tahun ini
Walaupun langit hanya diamBersama hujan dan angin malamBiarkan terkenang dalam bungkamBerkas kenangan November silam
***
[Puisi] Lukacita
Satu, dua, dan tiga
Lukaku belum sampai lima
Beraneka bentuk dan warna
Ada biru, ada merah membara
Dua, tiga, dan empat
Lukaku bertambah cepat
Kini semakin rapat
Melebarnya semakin pesat
Tiga, empat, dan lima
Lukaku punya cerita berbeda
Satu sembuh, di sisi lain mendera
Satu meradang, di sudut lain mereda
Lalu aku menjadi terbiasa
Luka di raga seakan wajar adanya
Walau penuh perih yang terasa
Panas, pedih, dan sakit menjera
Tetapi bagiku tak apa
Berulang kali kau mengungkapkannya–
–bahwa ini perlambang cinta–
–yang kau hadirkan untukku semata
Apalah arti semua derita
Bila kita masih bersama
Apalah arti tangis dan luka
Bila kau tetap di depan mata
Bahkan bila kau menginginkannya–
–biarkan kupersiapkan segalanya
Entah sekedar tangan dan kaki–
–atau mainan dari berbagai negeri
Walau kau seakan muak
Pada seluruh cintaku yang telak
Yakinilah aku tak akan pergi
Meski seisi bumi mencaci
Gelak-isakmu adalah nyanyianku
Dengungkanlah lagumu di telinga
Sapa inderaku dengan inderamu
Tetaplah denganku selamanya
***
[Seri Puisi] Hikayat Cinta #3
[Puisi Sesat] Sambat Sesaat
Sumpah, gue pengen ngopi lagi
Walau semalam abis seteko
Buat temenin semangkok bakso
Begadang mulu tiap hari
Nyelesain target sana-sini
Supaya rekening keisi uang
Istirahatnya waktu ketiduran doang
Padahal aslinya secapek itu
Capek segede Gunung Merbabu
Kalo berhenti takut ketinggalan
Soalnya udah di pertengahan jalan
Sebenarnya gue gak banyak harapan
Tapi perasaan susah amat digapai
Hal kecil kayak cuma angan-angan
Tiap hari berkawan badai
Emang gini ya jalannya?
Atau gue aja yang lebai?
Dikit-dikit nangis bombai
Tiap ngerasa gak ada guna
Gue udah berusaha kok
Tapi jalannya makin berkelok
Segala opsi udah dicoba
Kok nihil terus hasilnya
Di mana ya ini salahnya?
Kapan ya gagalnya sirna?
Bukannya gue gak bersyukur
Tapi dah seringkali gue tersungkur
Maaf ya kali ini rada ngelantur
Kayak gak pernah diajarin bertutur
Walaupun gue berasa hampir hancur
Gue yakin baik-buruknya udah diatur
[Seri Puisi] Hikayat Cinta #2
Sebelumnya:
Benih Kasihku Bertumbuh
Usia dini yang menyenangkan
Penuh warna dan harapan
Menjemput berbagai keajaiban
Merajut memori, merangkai kenangan
Masa emas yang tak terlupakan
Menikmati perjalanan awal kehidupan
Menyusuri proses pertumbuhan
Menjajaki langkah perkembangan
Berat tubuh yang selalu optimal
Fungsi organ yang cukup ideal
Semuanya berkat rezeki halal
Yang berdasar cinta sejak awal
Keindahan yang tak ternilai
Dari harapan-harapan yang tercapai
Pada tiap tahap perjalanan—
—menjajaki berbagai pengalaman
Namun pada suatu ketika
Ibuku bertutur dengan sabarnya
Hidupku masih belum lengkap,
bila belum ada ilmu yang terserap
Kutanyakan perihal itu
Sesuatu yang asing bagiku
Adakah yang harus kujalani—
—tuk sempurnakan kehidupan ini?
Dan beliau mengantarkanku
Pada gerbang dunia yang baru
Bertemu dengan berbagai malaikat—
—rayuan cintanya buatku terpikat
Para gurukulah malaikat itu
Yang menjelma dalam wujud manusia
Mengenalkan berbagai hal seru
Hidupku pun semakin berwarna
Hingga pada suatu masa
Kantung cintaku semakin terisi
Ketika setibanya aku di sana
Terbelai kasih budi pekerti
Kudapati cinta yang indah itu
Dari baiknya ratusan guru
Menyuapkanku berbagai ilmu
Menyapaku di jendela kalbu
Dan aku semakin kenyang
Mengunyah cinta yang teramat renyah
Dari berbagai bentuk kasih sayang
Yang hadir di rumah dan sekolah
Cinta itu berbentuk huruf
Kadang pula berupa angka
Yang kukenal melalui taaruf
Tentang berbagai isi dunia
Indah kugapai makin sempurna
Tatkala aku berhasil membaca,
menghitung dan mengenal warna,
Sungguh riang tak terkira
Pun ketika diperdengarkan suara
Atau saat diajarkan berbicara
Juga kala diperkenalkan norma
Sehingga akalku makin terbuka
Sungguh bahagia semasa itu
Mungkin beginilah cara Tuhanku
Mencintaiku semanis madu
Menyambung kasih-Nya yang tak semu
***
Selasa, 03 Desember 2024
[Puisi] Kepada Muridku Tercinta
Seketika aku membeku
Terbayang sosok lugumu
Kesayanganku sepanjang waktu
Biarkan aku mengejanya
Indah namamu dalam tiap doa
Berharap Tuhan Allah Ta'ala
Memberi izin untuk tetap bersama
Dalam tiap perjuangan kita
Berharap teriring ridho dan keberkahan-Nya
Senantiasa kupanjatkan tiap masa
Supaya kita selalu bahagia
Untuk tiap bahagia yang diusahakan
Untuk tiap perjuangan yang dijalankan
Biarkan aku menikmati pertualangan
Bersamamu, menggali pengetahuan
Barangkali, aku ini tak seberapa
Tapi mimpiku luar biasa
Menginginkan kesuksesan yang nyata
Untuk dirimu sepanjang masa
Aku hanya makhluk tiada daya
Yang dititipkan amanat mulia
Mendidikmu menjadi manusia
Memberimu ilmu yang berguna
Sungguh, aku ingin melihatmu terbang
Menggapai bintangmu di tiap bidang
Tempat kau memperoleh cahaya gemilang
Saat kau damai dan merasa tenang
Biarkan aku melebarkan sayapmu
Menerbangkanmu tinggi di udara
Raihlah bintangmu tanpa ragu
Semoga kau bahagia bersamanya
Bila nanti kau telah bersinar
Sisihkan waktu saja sebentar
Doakan aku supaya tegar
Menghadapi cobaan tanpa gentar
Kutitipkan dirimu pada Tuhanku
Semoga terwujud cita-cita kita
Kau semakin cantik dengan takdirmu
Menjadi hamba Allah yang setia
Sabtu, 30 November 2024
[Seri Puisi] Hikayat Cinta #1
Bibit Jiwaku Tertanam
Dari hati yang saling mencintai
Dalam janji kalimat berbaris
Ikrar bersama sehidup-semati
Pada ikatan sumpah yang suci
Dan jiwa-jiwa yang lahir berikutnya
Cinta-kasih itu senantiasa terberi
Tak berkurang sepanjang masa
Jalan hidup yang bervariasi
Preferensi yang warna-warni
Berakar dari sebuah janji
Berupaya mengasihi setiap hati
Kasih sayang yang lestari—
—yang ditanamkan dan diwarisi
Terhingga pada cicit-cicitnya kini
Saling berbagi hari dan hati
Dan sepasang kekasih itu asyik mencintai
Mengasihi jiwa dan menyayangi jasmani—
—bayi yang terlahir di tengah Januari,
yang diwarisi kasih sayang yang suci
Lalu aku semakin mengenal cinta
Yang terlukiskan dari perlakuannya
Mengasihi sosokku tanpa ragu
Membesarkan jiwa dan hatiku
saat dekapannya menghangatkanku,
saat bisiknya, "kami menyayangimu"
Kuyakini cinta memang benar adanya
Pun ketika senyumnya tenangkan jiwa,
iringi minggu-minggu awal hidupku
Pecahkan berkas cemas di dada
Saat kupikir tak ada yang indah di dunia
Juga kala suapan nafkahnya pada tubuhku
Menjelma jadi raga yang mendewasa
Dan ucap syukurnya setiap waktu
Pada tumbuh kembangku yang menua
Bahkan setelah ribuan purnama
Cintanya padaku tak pernah pudar
Meski hitam-putihku semakin nyata
Walau gurat gelisahku semakin terkuar
kutemui cinta yang warnai dunia?
Atau Tuhanku menitipkannya juga,
pada jiwa lain di ujung sana?
Benarlah bahwa cinta itu memang ada
Karunia dari Allah Yang Maha Mulia
Yang amat mengasihi hamba-Nya
Yang mengajarkan konsep cinta
Atau melalui kebaikan kepada sesama
Tetap hanya Allah yang memilikinya
Kuwarisi cinta dan kasih mereka
Yang kupahami dari tutur katanya
Akankah nanti kuwariskan lagi,
sebongkah cinta dari orangtuaku,
pada buah hatiku di esok hari?
atau hanya pada sesama makhluk Rabb-ku?
Entah apa yang terjadi nanti
Semoga apapun takdir yang kujalani
Warisan ini tetap dapat lestari
Semampuku mengasihi dan mencintai
Selasa, 19 November 2024
[Puisi] Penyesalan
Malamku yang sepi, kala ituBerbalut sunyi yang melingkupiAku termangu dalam dekapan waktuHari seakan kosong, namun terus berlari
Hampir tak terbayang bagaimana berikutnya––aku di malam itu melalui waktuTiba di titik masa yang tak terdugaAku tersentak menyambut hasratku
Manusia dapat memilih keputusannyaNamun tak akan mampu mengubah hari laluMalam itu tak akan lagi seperti semulaHanya sebatas kenangan dalam rindu
Bila kembali waktuku bersamanyaAku ingin kami bersuaMemastikan ia menerima maafkuAtas khilafku yang tercela
Memastikan ia berhasil menjalankan hidupnya––dengan suka cita sebagai manusiaIa yang jauh entah di manaSemoga bahagia dalam berbagai lintas masa
[Puisi] Dilema
Membuka hari, beraktivitas lagi
Terpekak bunyi orasi basi
Merasa sesak di antara ilusi
Berimajinasi tak lagi mengobati
Terpasung dalam keraguan
Memberontak dalam angan-angan
Berkreasi sebagai pengelabuan
Ada gelisah yang tak terbantahkan
Harapan yang mulai menguap
Tergoyahkan dalam senyap
Membisu dalam rasa pengap
Perlahan hilang dan beranjak lenyap
Luka lama kembali terkuak
Kekurangan diri mulai tersibak
Visi misi menjadi terserak
Buah catatan lampau yang terjejak
Mengaduh tergerus badai
Seakan tak ada damai
Seolah tak pernah selesai
Terjebak pelik akibat lalai
Puing-puing aib telah tertinggal–
–di belakang, jauh terpental
Tertoleh ketika tersangkal
Saat mencoba menyalahkan aral
Ketika berbalik ke arah depan
Ada yang menatap penuh harapan–
–mimpi lama yang terlupakan
Memohon minta diperjuangkan
Tak ada jalan untuk keluar
Tak ada takdir yang menyasar
Seketika benak mulai tersadar
Lampu hijau kembali berpendar
Pada akhirnya tak ada pilihan
Segala alarm berdering bersahutan
Membangunkan satu kesadaran
Pelarangan untuk tinggalkan jalan
Dan, akhirnya kembali lagi
Pada pilihan yang telah terpatri
Pada ikrar dalam sebuah janji
Meski terkadang terulang kembali
Badai yang membabi buta
Akhirnya terkalahkan keyakinan nyata
Ataukah ini jebakan semata–
–tentang permainan sebuah rasa?
Ah, biarlah saja
Semoga tak asalah mengolah asa
Setidaknya ada pelajaran bermakna
Dari lika-liku yang penuh warna
Kamis, 04 Juli 2024
[Puisi] Aku (Bukan) Gadis Pingitan
Aku tak pernah merasa seperti ini
Bernapas dalam ruang pribadi
Begitu lama, berhari-hari
Duniaku seolah terasa sepi
Aku termangu dalam diamku
Yang tak mendapat izin restu
Pergi keluar, menikmati waktu
Hari-hariku seolah terbelenggu
Aku mengintip dari celah jendela
Ini bukan lagi zaman Siti Nurbaya
Namun apalah daya
Kuharus menetap dengan terpaksa
Sebuah kabar yang datang ke telinga
Membuatku ingin berkelana
Sungguh indah dunia di luar sana
Katanya, sang penjelajah setia
Namun sayang beribu sayang
Kabar itu masih dalam bayang
Padahal ragaku ingin ke lain ruang
Aku rindu dunia yang terang
Jiwaku merengek ingin menjelajah
Mencari kesegaran, mengusir gundah
Namun usai bencana itu berkisah
Hatiku terasa semakin resah
Mengapa kini aku terpingit?
Keadaanku seolah terjepit
Terjebak antara sehat dan sakit
Sungguh, aku tak mampu menjerit
Bila nanti dunia kembali berseri
Dan izin pergiku telah disetujui
Biarkan jiwaku akan bernyanyi
Menyudahkan rindu yang hampir tak bertepi
Marilah kita menjaga diri
Supaya berakhir masalah ini
Mengurus jiwa menata hati
Bertindak positif setiap hari
NB:
Puisi ini dibuat saat era COVID-19 melanda di Indonesia
Rabu, 03 Juli 2024
[Puisi] MELATI
Bungaku, bunga melati
Harum semerbak, putih suci
Mungil dan cantik tak terperi
Sungguh amat kusukai
Bungaku, bunga melati
Menguarkan wangi sepanjang hari
Terbasuh embun setiap pagi
Elok tersorot sinar mentari
Satu hal yang tak tertandingi
Melatiku menyayat hati
Ketika terbang seorang diri
Pergi mencari dunia mimpi
Melatiku mudah berhamburan
Helai demi helai bertebaran
Perlahan hilang dari pandangan
Melayang jauh tanpa tujuan
Bungaku, bunga melati
Gemar berlari mengejar ambisi
Menjelajahi tempat sesuka hati
Meninggalkanku seorang diri
Bungaku, bunga melati
Yang paling kurindu setiap hari
Yang hilang, yang mungkin tak kembali
Sirna bersama lenyapnya pelangi
***
Sabtu, 22 Juni 2024
[Puisi] Kopi Darat
Inspired by:
Backsound Tik Tok "boleh minta nomer wa gak?" oleh @namakuiyusss
Minggu, 07 Agustus 2016
[Puisi] Senja
Wajah mungil bayi manusia
Menatapku lama
Membisu dalam hampa
Sungguh aku tak percaya
Senyumnya begitu sangat sempurna
Sampai tepat di depan mata
Polos wajahnya runtuhkan jiwa
Aku tak tahu kapan hadirnya
Kala senja telah tiba
Atau saat mentari di atas kepala
Kedatangannya sungguh tiada terduga
Namun yang aku tahu
Dia sudah tiba
Setelah pupus harapanku
Ketika tiba datangnya senja
Harapan yang tak pernah nyata
Dalam hidupku yang nestapa
Menginginkan secuil cinta
Malah bayi yang kuterima
Semuanya hilang
Terbang
Melayang
Tinggal kusendiri dalam bayang
Berlarut dalam kebimbangan
Adakah datang seorang pahlawan
Mengulurkan sebuah tangan
Menarikku dari kehampaan
Lalu aku menunggu
Hingga senja berlalu
Tapi tak ada jua
Yang kutunggu itu tiba
Apakah aku kecewa?
Sekali pun tak kan pernah
Lalu aku tetap menunggunya
Meski harapanku hampir punah
Dan saat kuputus asa
Dia datang begitu saja
Tanpa pernah aku mengira
Dia menjadi kawan yang setia
Hadirnya kadang buatku gulana
Apa yang harus aku lakukan
Saat ia menaruh curiga
Tiada kuelak dengan alasan
Tapi setidaknya
Aku harus bersyukur kepada Tuhan
Dia diliputi jutaan cahaya
Yang menyinari hati yang luka
Namun kini ia pergi selamanya
Saat senja telah tiba
Tinggalkan duka tak terkira
Adakah Tuhan mengirim penggantinya?
[Puisi] Napas Agustus
Napas-napasku adalah hidupku Napas yang bertiup dari rahmat-Nya Napas yang diperjuangkan ayah dan ibu Napas yang diaminkan puluhan doa Mungk...
-
Bilakah merugimu tiba? Adakah akibat suatu jumpa? Apakah saat mata bertemu mata? Mungkinkah kala hadirku di suatu masa? Adakah sesalmu kala ...
-
Desember yang basah Lalu langit mulai berkisah Tentang hasrat dan gairah Lewat tetes hujan yang tercurah Lalu Januari datang Berceri...
-
Satu Ah, ya, selamat tahun baru! Tak terasa setahun sudah berlalu Betapa cepat larinya waktu Sayangnya langit masih kelabu Dua Kini usia mak...