Tampilkan postingan dengan label Math Poetry. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Math Poetry. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Desember 2024

[Math Poetry] Adu Puji

Makhluk Elok Rupa


Rupamu yang sederhana
Menyejukkan pandanganku
Bulat utuh dan sempurna
Tak bersudut siku-siku

Bila benarlah sudut kita sama,
lantas mengapa kau lebih istimewa?
Koordinat kutub di selatan dan utara
Mengacu pada fisikmu yang jelita

Betapa anggun rupa yang kau punya
Tercipta seakan sederhana.
namun menyimpan banyak makna
Berperan pada aneka sudut dan roda

Bila diriku tercipta seindah rupamu
Bermanfaat besar sepanjang waktu
Tak akan terputus rasa bahagiaku
Atas nikmat-Nya pada penciptaanku

Sungguh berkah yang tiada dusta
Penuh nikmat untuk alam semesta
Berjuta syukur terhadir untuk Allah Ta'ala
Atas penciptaanmu yang luar biasa

***

Makhluk Molek Sisi


Rupaku adalah wujud cinta
Dari Allah Ta'ala atas makhluk-Nya
Pada takdirku yang kau kagumi
Pada takdirku yang penuh arti

Benarlah sudut kita sama,
Meskipun sisi kita berbeda
Kau tetap indah dengan tegak datarmu
Mudah dilukis dan diramu

Rupamu pun cantik tiada dua
Berbeda dengan poligon lainnya
Bahkan Kakbah di kota suci nan mulia
Berdasar dari rupamu yang mempesona

Kau tak perlu mencari lebihku
Untuk rasa cukupmu atas penciptaanmu
Syukuri saja cantik rupamu,
yang tak akan lekang oleh waktu

Sungguh nikmat yang tak bercela
Pada takdir setiap makhluk-Nya
Syukur terpanjat dalam menghamba
Kepada kasih sayang Allah Ta'ala

***

Minggu, 30 Juni 2024

[Math Poetry] I'm Just x, Not Your Ex

Hari-hari berlalu membawa makna

Embun pagi menguarkan aromanya

Kala siang cerah berseri

Malam berbintang dan sunyi


Beratus tahun singgah di bumi,

sebagai bagian ilmu pasti

Karena tak cukup waktu sesaat

Untuk bisa diterima umat


Aku dan y tak seburuk itu

Hanya sebuah variabel sederhana

Lagipun kami dapat diubah sesukamu

Dengan huruf lain yang mungkin kau suka


Bila asing bagimu hadirnya kami

Laksana makhluk jauh di pelosok bumi

Perkenalkan, kami variabel yang penuh arti

Yang digagas oleh si cerdas Al-Khawarizmi


Ternyata tak sesederhana semestinya 

Penerimaanmu atas kehadiranku

Padahal peranku penuh makna

Kala kau lupa atas nilai tertentu


Di lain hal kami hanyalah lambang

Sebagai simbol suatu posisi

Meski seakan tentang kami berbilang

Namun terkadang hanya satu materi


Kuharap kita bisa hidup berdampingan

Bahagia bersama di bumi ini

Mari melihat kupu-kupu beterbangan

Tatkala mengagumi uniknya gravitasi 

Sabtu, 22 Juni 2024

[Math Poetry] Gabungan Himpunan

Puisi prekuel:

[Puisi] Irisan Himpunan



Bila bagimu kita hanyalah kumpulan penyelesaian 

Dengan anggota berupa waktu yang berjalan

Maka bagiku kita bersama dalam gabungan

Sejak lahir hingga adanya kematian


Kita memang tak pernah tahu

Seberapa pantas hubungan kita diberi simbol U

Dan kita memang tak akan pernah tahu

Hingga kehidupan di alam semesta berlalu


Aku juga peduli dengan arsiran

Walaupun pikirmu aku terfokus pada gabungan

Sungguh, aku selalu berusaha mencari alasan—

—untuk tetap bersamamu dari berbagai persamaan


Kurasa, kita tak perlu begitu cemas

Arsiran hanyalah tentang angka yang fana

Meski untuk menghitung seakan aku malas

Kupikir yang utama kita berjalan seirama


Bila kita adalah penyelesaian lingkaran sempurna

Tak lagi penting apakah kita berada di kuadran berbeda

Kita akan tetap berada di semesta yang sama

Tak perlu khawatirkan garis sumbu yang maya


Bahkan bila Lauhul Mahfuzh tak pernah ada,

buku takdir akan tetap ada di lain rupa

Kita hanya terlalu banyak meminta—

—perihal kebersamaan yang fana


Bagiku cukup manusiawi pola pikirmu

Anggapku tak salah pada cara pandangmu

Kita hanya perlu banyak tafakur

Untuk mampu memahami cara bersyukur


Suara hatimu adalah lagu bagiku

Yang bersenandung dalam kalbu,

dalam ruang hati yang tampak kelabu

Untuk kuwarnai secerah awan biru


Akan kujemput bahagiaku

Akan kudatangi sukacitaku

Syukurku satu dalam hadirmu

Hingga nanti waktu kita berlalu 




[Math Poetry] Irisan Himpunan

Kita hanyalah kumpulan penyelesaian 
Dari hari-hari yang dijalani dalam kehidupan
Tersusun dari berbagai arsiran
Mulai detik, menit hingga tahunan

Kita tak pernah tahu seberapa besar—
—irisan kita sejak lahir hingga kita di Padang Mahsyar
Dan kita tak akan pernah tahu seberapa banyak binar—
—atau kelam dari irisan yang tergambar

Apakah kau juga peduli dengan irisan?
—atau lebih tertarik dengan gabungan?
Sungguh, aku hampir tenggelam dalam canduku—
—mencari irisan kita yang berpacu pada waktu

Kurasa, kita tak terlalu banyak beririsan
Walaupun katamu, "perbedaan menyempurnakan kita."
Karena tentang kita seakan tak beririsan
Seakan hadirku hanya sia-sia

Bila kita adalah pertidaksamaan lingkaran sempurna,
apakah kita berada di kuadran yang sama?
Bila kita adalah pertidaksamaan lonjong belaka,
bisakah kita berotasi dan memperbesar irisan kita?

Bahkan bila Lauhul Mahfuzh tak pernah ada,
akankah hukum sebab-akibat berlaku sederhana?
Atau hanya karena terbatasnya akal manusia—
—sehingga aku tak mampu menjangkau kebesaran-Nya?

Jika terlalu picik bagimu segala ingkarku
Jika terlalu bodoh anggapmu segala protesku
Lantas tak pernahkah kau sendiri berlaku demikian?
Memanjangkan pandangan seraya menyangkal keadilan?

Bila terlalu rumit untukmu memahami ocehanku
Cukup kuharap kau mensyukuri himpunanmu
Acuhkan jejak tulisanku di dalam buku
Jemputlah bahagiamu hingga waktumu berlalu

***

Puisi sekuel:

[Puisi] Napas Agustus

Napas-napasku adalah hidupku Napas yang bertiup dari rahmat-Nya Napas yang diperjuangkan ayah dan ibu Napas yang diaminkan puluhan doa Mungk...