Sebelumnya:
Bunga Cintaku Berkembang
Guruku paling cerdas berbahasa
Menguntai indah himpunan kata
Mengajarkanku berbahasa sederhana
Hingga memahami aneka makna
Jiwa-ragaku terasupi aksara
Mengenal huruf dan membacanya
Pun memakainya untuk bicara
Dan menulisnya dengan tinta pena
Tahun demi tahun, bulan demi bulan
Semakin kaya perbendaharaan kata—
—yang dibekali para guru teladan
Dan pengalaman dari aneka manusia
Lalu aku semakin terbiasa
Menyusun kata, praktik berbahasa
Berdialog, berpuisi, bercerita
Betapa indahnya seni sastra
Dan hidupku berjalan sebagaimana adanya
Hingga perjumpaan itu tiba—
—obrolan bisu di antara kita
Yang tersambung melalui dunia maya
Kupikir segalanya akan tetap sama
Duniaku berotasi pada jalurnya
Dan kita hanya sebatas dua manusia,
yang hanya bertemu di sebuah masa
Pada awalnya memang tak berbeda
Kita saling sapa dan bertukar cerita
Menikmati tarian jari di depan mata
Menyusun kalimat, "hai lagi apa?"
Ternyata hadirmu buyarkan semua
Perbendaharaan kataku lenyap seketika
Kala tatapanmu tawarkan bahagia
"Bisakah kita selamanya?"
Kuraih kembali akal yang tersisa
Mencari definisi untuk ungkapkan rasa
Tentang jiwaku yang terperanjat
Tentang hatiku yang tertambat
Adakah aku bersorak gembira,
atau ragui ucapmu di depan telinga,
mencemaskan ekspektasiku sendiri,
hadirnya sosokmu bagaikan mimpi
Apakah aku menemukannya—
—seonggok alasan untuk menghindar,
bagaimana bila kita hanya sementara,
dan kamu hanya sedang mendusta?
Mampukah aku temukan gantinya,
bila waktu pergimu telah tiba
Layakkah kuingkar pada rasa yang ada?
Atau semua ini memanglah maya?
Bukankah manusia mudah berubah,
lantas mengapa tak kujalani saja,
selama hati kita masih bertaut,
Dan ternyata kita tak terpisahkan maut
Bahkan tak sesederhana itu saja
Semoga ketetapan Tuhanku Yang Mulia
Selalu menghimpunku dengan manusia—
—yang mengasihiku dan kukasihi jiwanya
***
Bersambung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar