Seonggok asa yang mengabu-biru
Tak pernah terpikirkan dalam benakku
Bertahun merindu dalam kesunyian
Memadu rasa yang tak terjelaskan
Tak jemu aku duduk bersimpuh
Dalam lorong tunggu yang cukup jauh
Berjuta jengkal dari hadirmu
Tersisihkan sosokku yang telah lalu
Kau yang terpaut jauh dalam diammu
Mengasingkanku dalam ribuan bisu
Mengunci batinku dalam perjalanan waktu
Menutup tabir yang penuh rancu
Kesucianmu yang seakan mutlak
Terpelihara dari jamah genggamku
Terjaga dari suaraku yang serak–
–ternoda tangis di masa lalu
Bila selangkah kakiku maju
Maka ke belakang seratus langkahmu
Kau bentangkan jarak yang beribu
Semakin menjauh seiring waktu
Wujudmu yang bebas cela dari bercak
Pun tak tersentuh jemariku yang beruas
Seakan tentangku tak pernah layak
Berdiri di depanmu, menerjang batas
Barangkali satu hadirku nodai harimu
Mencederai kemurnian eksistensimu
Barangkali kau jelmaan peri di Surga
Hadirmu bukan untukku yang nista
Napasku dalam rengkuhan sayap rindu
Terbungkus memori yang kian berdebu
Berlapis bait-bait yang terabaikan
Bait pengharapan sebuah penantian
Episode yang seakan terus mengalir
Catatan doa yang senantiasa terukir
Terpanjat dalam kalimat yang mengiba
Mendamba harapan yang kian menua
Diammu membungkam lisanku
Membiarkanku tercekat membeku
Menggengam rindu yang tak pernah pudar
Menghalau rasaku yang selalu menguar
Namun, tak sehuruf pun darimu terbit
Penerimaan yang kutunggu seakan percuma
Rindu yang sederhana seolah rumit
Tak pernah terjawab barang satu kata
Dalam diamku yang enggan bersuara
Dalam penolakan yang akrab menyapa
Berharap kau tetap baik-baik di sana
Berharap kau bahagia selamanya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar