Rabu, 15 Januari 2025

[Puisi] Asa Hampa

Seonggok asa yang mengabu-biru

Tak pernah terpikirkan dalam benakku

Bertahun merindu dalam kesunyian

Memadu rasa yang tak terjelaskan


Tak jemu aku duduk bersimpuh

Dalam lorong tunggu yang cukup jauh

Berjuta jengkal dari hadirmu

Tersisihkan sosokku yang telah lalu


Kau yang terpaut jauh dalam diammu

Mengasingkanku dalam ribuan bisu

Mengunci batinku dalam perjalanan waktu

Menutup tabir yang penuh rancu


Kesucianmu yang seakan mutlak

Terpelihara dari jamah genggamku

Terjaga dari suaraku yang serak–

–ternoda tangis di masa lalu


Bila selangkah kakiku maju

Maka ke belakang seratus langkahmu

Kau bentangkan jarak yang beribu

Semakin menjauh seiring waktu


Wujudmu yang bebas cela dari bercak

Pun tak tersentuh jemariku yang beruas

Seakan tentangku tak pernah layak

Berdiri di depanmu, menerjang batas 


Barangkali satu hadirku nodai harimu

Mencederai kemurnian eksistensimu

Barangkali kau jelmaan peri di Surga

Hadirmu bukan untukku yang nista


Napasku dalam rengkuhan sayap rindu

Terbungkus memori yang kian berdebu

Berlapis bait-bait yang terabaikan

Bait pengharapan sebuah penantian


Episode yang seakan terus mengalir

Catatan doa yang senantiasa terukir

Terpanjat dalam kalimat yang mengiba

Mendamba harapan yang kian menua


Diammu membungkam lisanku

Membiarkanku tercekat membeku

Menggengam rindu yang tak pernah pudar

Menghalau rasaku yang selalu menguar


Namun, tak sehuruf pun darimu terbit

Penerimaan yang kutunggu seakan percuma

Rindu yang sederhana seolah rumit

Tak pernah terjawab barang satu kata


Dalam diamku yang enggan bersuara

Dalam penolakan yang akrab menyapa

Berharap kau tetap baik-baik di sana

Berharap kau bahagia selamanya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

[Puisi] Napas Agustus

Napas-napasku adalah hidupku Napas yang bertiup dari rahmat-Nya Napas yang diperjuangkan ayah dan ibu Napas yang diaminkan puluhan doa Mungk...