Bagai langit senja
Wajah mungil bayi manusia
Menatapku lama
Membisu dalam hampa
Sungguh aku tak percaya
Senyumnya begitu sangat sempurna
Sampai tepat di depan mata
Polos wajahnya runtuhkan jiwa
Aku tak tahu kapan hadirnya
Kala senja telah tiba
Atau saat mentari di atas kepala
Kedatangannya sungguh tiada terduga
Namun yang aku tahu
Dia sudah tiba
Setelah pupus harapanku
Ketika tiba datangnya senja
Harapan yang tak pernah nyata
Dalam hidupku yang nestapa
Menginginkan secuil cinta
Malah bayi yang kuterima
Semuanya hilang
Terbang
Melayang
Tinggal kusendiri dalam bayang
Berlarut dalam kebimbangan
Adakah datang seorang pahlawan
Mengulurkan sebuah tangan
Menarikku dari kehampaan
Lalu aku menunggu
Hingga senja berlalu
Tapi tak ada jua
Yang kutunggu itu tiba
Apakah aku kecewa?
Sekali pun tak kan pernah
Lalu aku tetap menunggunya
Meski harapanku hampir punah
Dan saat kuputus asa
Dia datang begitu saja
Tanpa pernah aku mengira
Dia menjadi kawan yang setia
Hadirnya kadang buatku gulana
Apa yang harus aku lakukan
Saat ia menaruh curiga
Tiada kuelak dengan alasan
Tapi setidaknya
Aku harus bersyukur kepada Tuhan
Dia diliputi jutaan cahaya
Yang menyinari hati yang luka
Namun kini ia pergi selamanya
Saat senja telah tiba
Tinggalkan duka tak terkira
Adakah Tuhan mengirim penggantinya?
Fiksi sederhana yang terlahir dari coretan, curahan, dan harapan hidup seorang Run yang tak pernah ternilai.
Minggu, 07 Agustus 2016
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
[Puisi] Napas Agustus
Napas-napasku adalah hidupku Napas yang bertiup dari rahmat-Nya Napas yang diperjuangkan ayah dan ibu Napas yang diaminkan puluhan doa Mungk...
-
Tujuh "Pagi, Mbak." Sapaan halus itu mengelus lembut telinganya. Ajeng menoleh. Ia urun...
-
“Kamu nggak apa-apa, Grace?” Lagi-lagi aku mendapatinya tengah bersedih. Raut wajah datarnya terlihat murung. Sebetulnya ...
-
Dua Haruskah ? Dicta menatap adiknya ragu. Ringgo meliriknya sekilas. Ia tak berani mengganggu abangnya. ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar