Satu, dua, dan tiga
Lukaku belum sampai lima
Beraneka bentuk dan warna
Ada biru, ada merah membara
Dua, tiga, dan empat
Lukaku bertambah cepat
Kini semakin rapat
Melebarnya semakin pesat
Tiga, empat, dan lima
Lukaku punya cerita berbeda
Satu sembuh, di sisi lain mendera
Satu meradang, di sudut lain mereda
Lalu aku menjadi terbiasa
Luka di raga seakan wajar adanya
Walau penuh perih yang terasa
Panas, pedih, dan sakit menjera
Tetapi bagiku tak apa
Berulang kali kau mengungkapkannya–
–bahwa ini perlambang cinta–
–yang kau hadirkan untukku semata
Apalah arti semua derita
Bila kita masih bersama
Apalah arti tangis dan luka
Bila kau tetap di depan mata
Bahkan bila kau menginginkannya–
–biarkan kupersiapkan segalanya
Entah sekedar tangan dan kaki–
–atau mainan dari berbagai negeri
Walau kau seakan muak
Pada seluruh cintaku yang telak
Yakinilah aku tak akan pergi
Meski seisi bumi mencaci
Gelak-isakmu adalah nyanyianku
Dengungkanlah lagumu di telinga
Sapa inderaku dengan inderamu
Tetaplah denganku selamanya
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar