Rabu, 04 Desember 2024

[Puisi] Lukacita

Satu, dua, dan tiga

Lukaku belum sampai lima

Beraneka bentuk dan warna

Ada biru, ada merah membara

 

Dua, tiga, dan empat

Lukaku bertambah cepat

Kini semakin rapat

Melebarnya semakin pesat

 

Tiga, empat, dan lima

Lukaku punya cerita berbeda

Satu sembuh, di sisi lain mendera

Satu meradang, di sudut lain mereda

 

Lalu aku menjadi terbiasa

Luka di raga seakan wajar adanya

Walau penuh perih yang terasa

Panas, pedih, dan sakit menjera

 

Tetapi bagiku tak apa

Berulang kali kau mengungkapkannya–

 –bahwa ini perlambang cinta–

–yang kau hadirkan untukku semata

 

Apalah arti semua derita

Bila kita masih bersama

Apalah arti tangis dan luka

Bila kau tetap di depan mata

 

Bahkan bila kau menginginkannya–

–biarkan kupersiapkan segalanya

Entah sekedar tangan dan kaki–

–atau mainan dari berbagai negeri

 

Walau kau seakan muak

Pada seluruh cintaku yang telak

Yakinilah aku tak akan pergi

Meski seisi bumi mencaci

 

Gelak-isakmu adalah nyanyianku

Dengungkanlah lagumu di telinga

Sapa inderaku dengan inderamu

Tetaplah denganku selamanya

 

***

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

[Puisi] Napas Agustus

Napas-napasku adalah hidupku Napas yang bertiup dari rahmat-Nya Napas yang diperjuangkan ayah dan ibu Napas yang diaminkan puluhan doa Mungk...