Damai November pernah hadir
Dalam lembaran garis takdir
Ribuan memori telah terukir
Dalam tenteram tiada khawatir
Warna yang indah pernah tercorak
Menghias hari penuh semarak
Menyisakan memori berjejak
Untuk dikenang esok kelak
Dipayungi langit yang basah
Antara mendung dan suram
Di bawah hujan yang tercurah
Menjaring cahaya mengurai kelam
Ada risau yang tersirat
Di balik cemas yang tersembunyi
Di antara riuh yang menjerat
Ada jiwa yang ingin kembali
Dalam ruang kebimbangan
Harapan yang kian tersudut itu—
—mengais kasih yang berdatangan
Menginginkan berakhirnya pilu
Sepanjang November yang lembap
Sekian jiwa berkelana ingin pulang
Meskipun jalan semakin gelap
Meskipun sulit mencari terang
Bersama tetes hujan gerimis
Melebur dengan tetes tangis
Asa yang penuh semakin terkikis
Memandang diri dengan tatapan miris
Apakah kekangan batin itu nyata?
Adakah singgasana yang tepat untuk jiwa?
Bilakah gundah pergi dan sirna?
Ataukah hanya perlu menunggu masa?
Ah, lagi-lagi rasanya semakin berlebihan
Ketika tak ada jawab dari sebuah harap
Kala cemooh menghakimi keinginan
Saat optimisme mulai lenyap
Apa yang sebenarnya terlalui?
Bertahan dalam tekanan alam mimpi –
– ataukah memperjuangkan hak asasi?
Bolehkah jawaban ini dinanti?
Bila benar bahwa ini hanya mimpi
Biarkan hidung ini masih bisa membaui –
– aroma hujan yang jatuh ke bumi
Hujan November tahun ini
Walaupun langit hanya diam
Bersama hujan dan angin malam
Biarkan terkenang dalam bungkam
Berkas kenangan November silam
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar