Sabtu, 07 Desember 2024

[Puisi] Tercekik Pelik

Menjelang senja, matahari pamit

Sementara keadaan masih rumit

Oleh gulana yang membelit

Entah sudah seberapa sulit


Yang kutahu, waktu tetap berjalan

Mengiringi berbagai keadaan

Hari berlalu terasa pelan

Meski masalah belum terselesaikan


Telah banyak waktu yang usai

Cukup banyak memori yang selesai

Sudah banyak usaha yang terbengkalai

Karena banyak ibadah yang terabai


Terbit malam, hari akan ditutup

Permukaan langit mulai meredup

Banyak pasang mata terlihat sayup

Tak lama lagi benar-benar menguncup


Manakala istirahat tiba

Terselip berbagai rasa

Dilema antara tidur atau tetap terjaga

Pikiran buruk tak kunjung sirna


Saat tengah mulai menyergap

Tak ada lagi pilihan untuk menetap

Pada pikiran separuh meratap

Tuhan, ajarkan aku terlelap

 

[Puisi] Broken

Merpatiku patah sayapnya

Surat-suratku terbengkalai

Lantas aku patah hati

Kami terluka dalam waktu yang sama


Semuanya tak berjalan sempurna

Sebagaimana yang telah kuharap

Rencanaku menjadi sia-sia

Seketika gairahku lenyap


Pena dan kertas yang telah siap

Tetap utuh wujud rupanya

Seisi kepalaku mendadak gelap—

—dari perbendaharaan kosakata


Untaian kata yang siap ditulis berturut—

—urung tertulis dalam lembaran kertas

Aku ceroboh, malam semakin larut

Separuh suratku tak mengudara lepas


Maka kurawat dengan sabar hati

Sayap merpati yang kucintai

Sambil menanti sehatnya kembali

Dan siap mengantar surat misteri


Suratku bukan sembarang surat

Namun surat dengan khasiat

Penawar lara hati tersayat

Gratis kuberi tanpa syarat


Suratku memang sederhana, kelihatannya

Tanpa pernik di kemasannya

Supaya tiada yang tertarik membaca,

isinya hanya untuk sang penerima


Semoga, sampai padaku waktu yang tepat

Untuk mengirim surat yang tertunda

Kepada sang pemilik jauh di sana

Berharap lepas luka yang menjerat


***

[Cermin] Pendar

Gracia atau Zhasfa?

Aku tersentak ketika dua nama itu menyengat benakku. Seketika aku terlepas dari alam lamunan. Tersadarkan oleh dua nama yang dimiliki oleh dua gadis yang berbeda dengan peran yang seakan mirip dalam kisah hidupku di waktu yang berbeda pula. Dua nama yang entah mengapa membuatku menjebak diri sendiri dalam angan yang tak akan pernah terwujud. Dua nama yang...

"Mereka bukan pilihan!" bantah Miracle kala itu.

"Tetapi ini harapanku..."

"... bahkan kamu gak bisa berharap apa-apa." potongnya.

"Aku bahkan gak pernah memaksa supaya harapanku terwujud meskipun aku sangat menginginkannya!!!" sanggahku tak kalah sengit.

"Tetapi kamu terlalu egois."

"Egois pada bagian yang mana? Apakah aku pernah menyakiti mereka?"

"Mungkin tidak. Tapi kamu telah menyakiti dirimu sendiri!" tandasnya sambil melangkah pergi ketika bus yang dinantinya telah datang.

Dan mungkin saja aku hampir terperosok ke dalamnya apabila kami tidak pernah mengalami perpisahan. Terjerembab dalam jurang yang tak sengaja kuciptakan sendiri sedalam harapanku. Harapan kosong yang tak akan pernah diterima oleh siapapun, bahkan

"Mengapa tidak pada yang lain saja?" celetuknya suatu ketika beberapa hari setelah hubungan kami kembali membaik.

"Apa?"

Ia mendengus gemas. Ditegakkannya daguku lalu membiarkan tatapanku mengikuti arah telunjuknya bergerak di udara.

"Lihatlah sekitarmu, Femmy. Banyak hal yang lebih pantas untuk dimiliki."

"Sejujurnya aku memang tidak pernah menutup mata dari hal-hal tersebut. Entahlah. Segalanya hanya membuatku semakin bimbang."

"Tidak," ia menggeleng tegas. "Kamu yang menyesatkan pikiranmu sendiri."

"Tetapi aku mungkin tidak bisa."

"Kamu yang memiliki pilihan untuk bisa atau tidak bisa. Jangan berlindung di balik tempurung nafsumu."

Aku terdiam. Bahkan ketika dalam keadaan marahpun aku tidak bisa menolak untuk menyetujui segala bentuk ujaran Miracle padaku.

"Mungkin memang tidak secepat angin bertiup." tambahnya.

"Tetapi kamu akan menemukannya suatu saat."

***

Suatu saat. Saat yang tak dapat diketahui pasti tepatnya. Lalu waktu yang menggelinding di hadapan kian membawaku semakin jauh dari mereka Gracia dan Zhasfa. Begitupun pada hubunganku dengan Miracle yang walaupun tidak pernah serumit tentangku dengan kedua gadis tadi. Kami berpisah sejak kami lulus SMP dan hanya berkomunikasi secara digital beberapa saat sejak kala itu lalu hubungan kami mendingin begitu saja. Tiga tahun telah melesat di depan mata. Dan rasa itu memudar dengan ajaib tanpa pernah kuusir sama sekali.

Tiba-tiba saja sepotong isi surat perpisahan dari Miracle melayang di pikiranku.

... Kita akan sampai pada titik waktu yang tak pernah kita duga, Fem. Titik waktu yang akan membawa kita pada kebenaran yang mungkin belum pernah kita ketahui sebelumnya. Tuhan sendiri yang akan menunjukkan tabir kebenaran itu. Lalu kita akan dihadapkan oleh sesuatu yang fana karena perubahan yang terjadi padanya. Perubahan dapat terjadi dengan mudah. Waktu mungkin akan membekukan kita dengan kenyataan yang mencengangkan...

Ya, aku sampai pada titik itu pada akhirnya. Kehilangan ketiganya dalam waktu berbeda. Gracia dan Miracle mungkin masih bisa terjangkau. Namun Zhasfa seolah hanya tinggal kenangan yang tak dapat tersentuh lagi.

Ah, bahkan dia sudah menghilang lebih awal!

***

Derasnya hujan membuatku memutuskan untuk tetap berdiam diri di lobi utama ketika jam telah menunjukkan lebih dari pukul 3 pada siang ini. Meskipun waktu toleransi tiba di rumah masih cukup panjang, tetapi kegelisahan mulai menyelimutiku karena prediksi cuaca hari ini bahwa hujan akan berlangsung cukup lama hingga menjelang malam. Kalaupun kupaksakan untuk pulang pasti akan merepotkan diriku sendiri yang lupa membawa jas hujan pada hari ini. Meskipun jarak rumahku dengan sekolah hanya sekitar tujuh ratus meter.

Ruang lobi berukuran 5 x 7 meter itu cukup sepi karena hanya menjadi tempat orang berlalu lalang dengan segala urusan. Beberapa di antaranya yang mengenalku ada yang sempat bertegur sapa ketika tatapan kami bertemu. Kursi-kursi panjang yang biasanya dipenuhi tamu kini hanya disinggahi beberapa murid yang menunggu jemputan atau sekadar menunggu teman pulang sepertiku.

"Femmy!"

Seketika aku menoleh cepat ketika suara berat Saras menyapa telinga. Wajahnya menyembul di antara celah sepasang pintu lobi bagian dalam.

"Buka chat kita. Tolong dibalas ya. Aku ada urusan sebentar, mau ke perpustakaan dulu."

Sedetik kemudian ia menghilang bersama seorang gadis yang meraih telapak kirinya. Ketika aku mengambil ponsel di saku kemeja dan mengetuknya layarnya pelan, segera saja sederet pesan panjangnya menyambutku dengan puluhan kata. Aku memang sengaja mematikan notifikasi selama berada di sekolah sehingga pesan-pesan darinya tidak 'mengganggu'-ku sedikitpun.


15.04 Fem, kamu sekarang di lobi, ya? Nanti dijemput atau naik ojek gitu gak?

15.04 Kita pulang bareng yuk! Tetapi nanti. Sekitar jam setengah 4 sore.

15.04 Aku bawa dua jas hujan kok buat kupinjamkan satu padamu.

15.05 Kalau kamu gak keberatan, ikut aku ke perpustakaan aja.

15.06 Fem, balas dong.

15.07 Aku jemput kamu ke lobi, ya.


Anak ini masih belum berubah. Aku menelan ludah.

Jarak rumah kami memang hanya sekitar 100 meter dan terbiasa berangkat dan pulang sekolah bersama sejak kami duduk di bangku di sekolah telah usai. Hal yang biasanya membuat kami tidak pulang sekolah bersama hanya bila saat kami memiliki urusan masing-masing setelah jam pulang sekolah. Seperti pada saat ini misalnya.

"Femmy, masih di sini kamu rupanya!"

Wajah manisnya tampak begitu cerah. Cerah dan teduh serupa...

Ya Tuhan!

Sesosok remaja lain muncul dari arah yang sama dengan kedatangan Saras dan menyapanya untuk pamit pulang. Tenggoranku tersekat tiba-tiba. Sekujur tubuhku membeku seketika. Sejurus ketika ia juga menyapaku sekilas saat Saras memperkenalkaku sebagai temannya.

Diam-diam hatiku menghangat ketika sudut mataku masih menangkap senyum tipisnya. Sehangat ketika lampu-lampu taman berpendar menyoroti jalan. Sayangnya tiba-tiba aku menangkap respons yang sama dari wajah Saras.

"Ayo kita pulang."

Aku mengangguk. Aku tidak boleh egois lagi! Janjiku dalam hati.

***


Special thanks for adorable girls in my real life who has been named as Gracia, Miracle, Zhasfa, and Saras in this mini fiction. I hope they'll forgive me soon.


Kamis, 05 Desember 2024

[Puisi] Bayang-bayang

Aku hanyalah sesosok bayang 
Terkungkung dalam jubah berwarna terang—
—tersorot seakan paling cemerlang
Terkepung di antara para belalang

Wujudku hanyalah sebentuk bayang
Tak kasat mata seakan hadirku tak nyata
Terjebak dalam jiwa yang hilang 
Terjerat angan-angan fatamorgana

Garis takdirku bagaikan bayang
Tak lebih dari sekedar benda maya
Meski zatku menempati ruang—
—kehadiranku tak akan masuk logika

Aku tak menyangkal takdirku di dunia
Lafaz syukurku tak pernah dusta
Kufur tak pernah hadir dalam jiwa
Pada awalnya, pada permulaan aku tercipta

Lalu hingga semuanya mengalir
Garis waktu semakin bergulir
Berbagai entitas pun turut hadir
Mewarnai kisah yang seakan tak berakhir

Dan inilah nasibku ternyata
Bersama jutaan bayangan lainnya
Terpasung antara rasa syukur dan ingkar setia—
—atas abdiku dalam jubah aneka warna

Jubahku terkoyak dan mulai compang-camping
Wujudku makin tak sedap dipandang
Diriku mulai dibiarkan dalam hening
Sendiri bahkan tanpa para belalang

Bilamana terluka adalah bagian dari janjiku—
—maka hadirkan luka yang paling sempurna
—yang tak membiarkan hariku membiru
—yang menjanjikan Surga abadi untukku selamanya


Rabu, 04 Desember 2024

[Puisi] Langit November

Damai November pernah hadir
Dalam lembaran garis takdir
Ribuan memori telah terukir
Dalam tenteram tiada khawatir

Warna yang indah pernah tercorak
Menghias hari penuh semarak
Menyisakan memori berjejak
Untuk dikenang esok kelak

Dipayungi langit yang basah
Antara mendung dan suram
Di bawah hujan yang tercurah
Menjaring cahaya mengurai kelam

Ada risau yang tersirat
Di balik cemas yang tersembunyi
Di antara riuh yang menjerat
Ada jiwa yang ingin kembali

Dalam ruang kebimbangan
Harapan yang kian tersudut itu—
—mengais kasih yang berdatangan
Menginginkan berakhirnya pilu

Sepanjang November yang lembap
Sekian jiwa berkelana ingin pulang
Meskipun jalan semakin gelap
Meskipun sulit mencari terang

Bersama tetes hujan gerimis
Melebur dengan tetes tangis
Asa yang penuh semakin terkikis
Memandang diri dengan tatapan miris

Apakah kekangan batin itu nyata?
Adakah singgasana yang tepat untuk jiwa?
Bilakah gundah pergi dan sirna?
Ataukah hanya perlu menunggu masa?

Ah, lagi-lagi rasanya semakin berlebihan
Ketika tak ada jawab dari sebuah harap
Kala cemooh menghakimi keinginan
Saat optimisme mulai lenyap

Apa yang sebenarnya terlalui?
Bertahan dalam tekanan alam mimpi –
– ataukah memperjuangkan hak asasi?
Bolehkah jawaban ini dinanti?

Bila benar bahwa ini hanya mimpi 
Biarkan hidung ini masih bisa membaui –
– aroma hujan yang jatuh ke bumi
Hujan November tahun ini

Walaupun langit hanya diam
Bersama hujan dan angin malam
Biarkan terkenang dalam bungkam
Berkas kenangan November silam

***

[Puisi] Lukacita

Satu, dua, dan tiga

Lukaku belum sampai lima

Beraneka bentuk dan warna

Ada biru, ada merah membara

 

Dua, tiga, dan empat

Lukaku bertambah cepat

Kini semakin rapat

Melebarnya semakin pesat

 

Tiga, empat, dan lima

Lukaku punya cerita berbeda

Satu sembuh, di sisi lain mendera

Satu meradang, di sudut lain mereda

 

Lalu aku menjadi terbiasa

Luka di raga seakan wajar adanya

Walau penuh perih yang terasa

Panas, pedih, dan sakit menjera

 

Tetapi bagiku tak apa

Berulang kali kau mengungkapkannya–

 –bahwa ini perlambang cinta–

–yang kau hadirkan untukku semata

 

Apalah arti semua derita

Bila kita masih bersama

Apalah arti tangis dan luka

Bila kau tetap di depan mata

 

Bahkan bila kau menginginkannya–

–biarkan kupersiapkan segalanya

Entah sekedar tangan dan kaki–

–atau mainan dari berbagai negeri

 

Walau kau seakan muak

Pada seluruh cintaku yang telak

Yakinilah aku tak akan pergi

Meski seisi bumi mencaci

 

Gelak-isakmu adalah nyanyianku

Dengungkanlah lagumu di telinga

Sapa inderaku dengan inderamu

Tetaplah denganku selamanya

 

***

 

[Seri Puisi] Hikayat Cinta #3

Sebelumnya:

Bunga Cintaku Berkembang


Guruku paling cerdas berbahasa
Menguntai indah himpunan kata
Mengajarkanku berbahasa sederhana
Hingga memahami aneka makna

Jiwa-ragaku terasupi aksara
Mengenal huruf dan membacanya
Pun memakainya untuk bicara
Dan menulisnya dengan tinta pena

Tahun demi tahun, bulan demi bulan
Semakin kaya perbendaharaan kata—
—yang dibekali para guru teladan
Dan pengalaman dari aneka manusia

Lalu aku semakin terbiasa
Menyusun kata, praktik berbahasa
Berdialog, berpuisi, bercerita
Betapa indahnya seni sastra

Dan hidupku berjalan sebagaimana adanya
Hingga perjumpaan itu tiba—
—obrolan bisu di antara kita
Yang tersambung melalui dunia maya

Kupikir segalanya akan tetap sama
Duniaku berotasi pada jalurnya
Dan kita hanya sebatas dua manusia,
yang hanya bertemu di sebuah masa

Pada awalnya memang tak berbeda
Kita saling sapa dan bertukar cerita
Menikmati tarian jari di depan mata 
Menyusun kalimat, "hai lagi apa?"

Ternyata hadirmu buyarkan semua
Perbendaharaan kataku lenyap seketika 
Kala tatapanmu tawarkan bahagia 
"Bisakah kita selamanya?"

Kuraih kembali akal yang tersisa
Mencari definisi untuk ungkapkan rasa
Tentang jiwaku yang terperanjat
Tentang hatiku yang tertambat

Adakah aku bersorak gembira,
atau ragui ucapmu di depan telinga,
mencemaskan ekspektasiku sendiri,
hadirnya sosokmu bagaikan mimpi

Apakah aku menemukannya—
—seonggok alasan untuk menghindar,
bagaimana bila kita hanya sementara,
dan kamu hanya sedang mendusta?

Mampukah aku temukan gantinya,
bila waktu pergimu telah tiba
Layakkah kuingkar pada rasa yang ada?
Atau semua ini memanglah maya?

Bukankah manusia mudah berubah,
lantas mengapa tak kujalani saja,
selama hati kita masih bertaut,
Dan ternyata kita tak terpisahkan maut

Bahkan tak sesederhana itu saja
Semoga ketetapan Tuhanku Yang Mulia
Selalu menghimpunku dengan manusia—
—yang mengasihiku dan kukasihi jiwanya

***

Bersambung 


[Puisi Sesat] Sambat Sesaat

Udah pagi aja deh ini
Sumpah, gue pengen ngopi lagi
Walau semalam abis seteko
Buat temenin semangkok bakso

Begadang mulu tiap hari
Nyelesain target sana-sini
Supaya rekening keisi uang
Istirahatnya waktu ketiduran doang

Padahal aslinya secapek itu
Capek segede Gunung Merbabu
Kalo berhenti takut ketinggalan 
Soalnya udah di pertengahan jalan

Sebenarnya gue gak banyak harapan
Tapi perasaan susah amat digapai
Hal kecil kayak cuma angan-angan
Tiap hari berkawan badai

Emang gini ya jalannya?
Atau gue aja yang lebai?
Dikit-dikit nangis bombai
Tiap ngerasa gak ada guna

Gue udah berusaha kok
Tapi jalannya makin berkelok
Segala opsi udah dicoba
Kok nihil terus hasilnya

Di mana ya ini salahnya?
Kapan ya gagalnya sirna?
Bukannya gue gak bersyukur
Tapi dah seringkali gue tersungkur

Maaf ya kali ini rada ngelantur
Kayak gak pernah diajarin bertutur
Walaupun gue berasa hampir hancur
Gue yakin baik-buruknya udah diatur


[Seri Puisi] Hikayat Cinta #2

Sebelumnya:

[Seri Puisi] Hikayat Cinta #1

Benih Kasihku Bertumbuh

Usia dini yang menyenangkan
Penuh warna dan harapan
Menjemput berbagai keajaiban
Merajut memori, merangkai kenangan

Masa emas yang tak terlupakan
Menikmati perjalanan awal kehidupan
Menyusuri proses pertumbuhan 
Menjajaki langkah perkembangan

Berat tubuh yang selalu optimal
Fungsi organ yang cukup ideal 
Semuanya berkat rezeki halal
Yang berdasar cinta sejak awal

Keindahan yang tak ternilai
Dari harapan-harapan yang tercapai
Pada tiap tahap perjalanan—
—menjajaki berbagai pengalaman 

Namun pada suatu ketika
Ibuku bertutur dengan sabarnya
Hidupku masih belum lengkap,
bila belum ada ilmu yang terserap

Kutanyakan perihal itu
Sesuatu yang asing bagiku
Adakah yang harus kujalani—
—tuk sempurnakan kehidupan ini?

Dan beliau mengantarkanku
Pada gerbang dunia yang baru
Bertemu dengan berbagai malaikat—
—rayuan cintanya buatku terpikat

Para gurukulah malaikat itu
Yang menjelma dalam wujud manusia
Mengenalkan berbagai hal seru
Hidupku pun semakin berwarna

Hingga pada suatu masa
Kantung cintaku semakin terisi
Ketika setibanya aku di sana
Terbelai kasih budi pekerti

Kudapati cinta yang indah itu
Dari baiknya ratusan guru
Menyuapkanku berbagai ilmu
Menyapaku di jendela kalbu

Dan aku semakin kenyang
Mengunyah cinta yang teramat renyah
Dari berbagai bentuk kasih sayang
Yang hadir di rumah dan sekolah

Cinta itu berbentuk huruf
Kadang pula berupa angka
Yang kukenal melalui taaruf
Tentang berbagai isi dunia

Indah kugapai makin sempurna
Tatkala aku berhasil membaca,
menghitung dan mengenal warna,
Sungguh riang tak terkira

Pun ketika diperdengarkan suara
Atau saat diajarkan berbicara
Juga kala diperkenalkan norma
Sehingga akalku makin terbuka

Sungguh bahagia semasa itu
Mungkin beginilah cara Tuhanku
Mencintaiku semanis madu
Menyambung kasih-Nya yang tak semu


***


Bersambung:


Selasa, 03 Desember 2024

[Puisi] Kepada Muridku Tercinta

Kala hening menyapa kalbu
Seketika aku membeku
Terbayang sosok lugumu
Kesayanganku sepanjang waktu

Biarkan aku mengejanya
Indah namamu dalam tiap doa
Berharap Tuhan Allah Ta'ala
Memberi izin untuk tetap bersama

Dalam tiap perjuangan kita
Berharap teriring ridho dan keberkahan-Nya
Senantiasa kupanjatkan tiap masa
Supaya kita selalu bahagia

Untuk tiap bahagia yang diusahakan
Untuk tiap perjuangan yang dijalankan
Biarkan aku menikmati pertualangan
Bersamamu, menggali pengetahuan

Barangkali, aku ini tak seberapa
Tapi mimpiku luar biasa
Menginginkan kesuksesan yang nyata
Untuk dirimu sepanjang masa

Aku hanya makhluk tiada daya
Yang dititipkan amanat mulia
Mendidikmu menjadi manusia
Memberimu ilmu yang berguna

Sungguh, aku ingin melihatmu terbang
Menggapai bintangmu di tiap bidang
Tempat kau memperoleh cahaya gemilang
Saat kau damai dan merasa tenang

Biarkan aku melebarkan sayapmu
Menerbangkanmu tinggi di udara
Raihlah bintangmu tanpa ragu
Semoga kau bahagia bersamanya

Bila nanti kau telah bersinar
Sisihkan waktu saja sebentar
Doakan aku supaya tegar
Menghadapi cobaan tanpa gentar

Kutitipkan dirimu pada Tuhanku
Semoga terwujud cita-cita kita
Kau semakin cantik dengan takdirmu
Menjadi hamba Allah yang setia

***

Senin, 02 Desember 2024

[Math Poetry] Adu Puji

Makhluk Elok Rupa


Rupamu yang sederhana
Menyejukkan pandanganku
Bulat utuh dan sempurna
Tak bersudut siku-siku

Bila benarlah sudut kita sama,
lantas mengapa kau lebih istimewa?
Koordinat kutub di selatan dan utara
Mengacu pada fisikmu yang jelita

Betapa anggun rupa yang kau punya
Tercipta seakan sederhana.
namun menyimpan banyak makna
Berperan pada aneka sudut dan roda

Bila diriku tercipta seindah rupamu
Bermanfaat besar sepanjang waktu
Tak akan terputus rasa bahagiaku
Atas nikmat-Nya pada penciptaanku

Sungguh berkah yang tiada dusta
Penuh nikmat untuk alam semesta
Berjuta syukur terhadir untuk Allah Ta'ala
Atas penciptaanmu yang luar biasa

***

Makhluk Molek Sisi


Rupaku adalah wujud cinta
Dari Allah Ta'ala atas makhluk-Nya
Pada takdirku yang kau kagumi
Pada takdirku yang penuh arti

Benarlah sudut kita sama,
Meskipun sisi kita berbeda
Kau tetap indah dengan tegak datarmu
Mudah dilukis dan diramu

Rupamu pun cantik tiada dua
Berbeda dengan poligon lainnya
Bahkan Kakbah di kota suci nan mulia
Berdasar dari rupamu yang mempesona

Kau tak perlu mencari lebihku
Untuk rasa cukupmu atas penciptaanmu
Syukuri saja cantik rupamu,
yang tak akan lekang oleh waktu

Sungguh nikmat yang tak bercela
Pada takdir setiap makhluk-Nya
Syukur terpanjat dalam menghamba
Kepada kasih sayang Allah Ta'ala

***

Sabtu, 30 November 2024

[Seri Puisi] Hikayat Cinta #1

Bibit Jiwaku Tertanam

Secercah harapan terwaris
Dari hati yang saling mencintai
Dalam janji kalimat berbaris
Ikrar bersama sehidup-semati

Pada ikatan sumpah yang suci
Dan jiwa-jiwa yang lahir berikutnya
Cinta-kasih itu senantiasa terberi
Tak berkurang sepanjang masa

Jalan hidup yang bervariasi
Preferensi yang warna-warni 
Berakar dari sebuah janji
Berupaya mengasihi setiap hati

Kasih sayang yang lestari—
—yang ditanamkan dan diwarisi
Terhingga pada cicit-cicitnya kini
Saling berbagi hari dan hati

Dan sepasang kekasih itu asyik mencintai
Mengasihi jiwa dan menyayangi jasmani—
—bayi yang terlahir di tengah Januari,
yang diwarisi kasih sayang yang suci

Lalu aku semakin mengenal cinta
Yang terlukiskan dari perlakuannya
Mengasihi sosokku tanpa ragu
Membesarkan jiwa dan hatiku

Dan pada hari-hari lainnya,
saat dekapannya menghangatkanku,
saat bisiknya, "kami menyayangimu"
Kuyakini cinta memang benar adanya

Pun ketika senyumnya tenangkan jiwa,
iringi minggu-minggu awal hidupku
Pecahkan berkas cemas di dada
Saat kupikir tak ada yang indah di dunia

Juga kala suapan nafkahnya pada tubuhku
Menjelma jadi raga yang mendewasa
Dan ucap syukurnya setiap waktu
Pada tumbuh kembangku yang menua

Bahkan setelah ribuan purnama
Cintanya padaku tak pernah pudar
Meski hitam-putihku semakin nyata
Walau gurat gelisahku semakin terkuar

Hanyakah dari sosok mereka saja,
kutemui cinta yang warnai dunia?
Atau Tuhanku menitipkannya juga,
pada jiwa lain di ujung sana?

Benarlah bahwa cinta itu memang ada
Karunia dari Allah Yang Maha Mulia
Yang amat mengasihi hamba-Nya
Juga menyayangi beberapa di antaranya

Meski terulur lewat warisan manusia
Yang mengajarkan konsep cinta
Atau melalui kebaikan kepada sesama
Tetap hanya Allah yang memilikinya

Detik demi detik yang kumiliki
Kuwarisi cinta dan kasih mereka
Yang kupahami dari tutur katanya
Bahwa tiap manusia wajib mengasihi

Akankah nanti kuwariskan lagi,
sebongkah cinta dari orangtuaku,
pada buah hatiku di esok hari?
atau hanya pada sesama makhluk Rabb-ku?

Entah apa yang terjadi nanti
Semoga apapun takdir yang kujalani
Warisan ini tetap dapat lestari
Semampuku mengasihi dan mencintai

***

Berikutnya:

Rabu, 20 November 2024

[Cermin] Catatan Awal Kehidupan

Aku berusaha mengerjap beberapa kali ketika berbagai suara menghantam telingaku. Sekeliling pandanganku mengabur. Seolah tampak tak ada batas yang jelas dan nyata di antara berbagai objek. Mataku terasa lengket dan... Aku benar- benar mengantuk!

Ah, padahal seperti baru kemarin upacara perpisahanku diselenggarakan. Aku pun masih ingat bagaimana kami pada akhirnya dijemput oleh... Eh, bagaimana mungkin aku bisa lupa siapa yang mengantarku ke tempat asing ini dan bagaimana prosesnya? Tunggu dulu, mengapa tubuhku menjadi lengket dan basah seperti ini? Sungguh, aku merasa tidak nyaman!

Tidak ada lagi teman-teman lamaku di sini, sepertinya. Aroma yang menguar cukup memberiku petunjuk bahwa aku benar-benar berada di dunia baru. Aku benar-benar menjadi seorang imigran yang baru saja tiba. Tetapi, tunggu dulu. Aku mendengar suara yang serupa denganku ketika sepasang tangan besar meletakkanku di sebuah ranjang kecil. Rupanya banyak 'tamu' yang juga baru datang. Apakah mereka juga mengalami peristiwa yang sama sepertiku?

Segala hal yang asing dan baru bagiku ini, akankah memberikanku sedikit saja ruang untuk memperoleh kenyamanan? Sekuat tenaga aku mencoba memahami dan menerima hal yang sedang terjadi padaku namun tetap saja lagi dan lagi yang meluncur dari lisanku hanyalah sebuah tangisan nyaring. Sungguh, aku mendadak menjadi tidak suka dengan suaraku sendiri.

Bukannya aku tidak berusaha lari dan mencari jalan keluar, tanpa kuketahui asal-mulanya ternyata tubuhku terasa lemas tak berdaya sementara posisiku berada dalam dekapan sepasang tangan raksasa. Lepaskan! Biarkan aku bergerak bebas!

Berbagai obrolan singkat, tawa kecil, dengung-dengung yang kadang melirih dan meninggi... Ah, aku tidak mampu memahami suara-suara itu. Bahkan aku sendiri tak dapat berkomunikasi dengan 'tamu-tamu' itu meskipun (mungkin) kami telah mengalami peristiwa yang sama. Namun selang sekian menit kemudian sepasang tangan raksasa itu membawaku ke sepasang tangan raksasa lain

Lalu aku menjadi sering berpindah dari satu tangan ke tangan lain dengan iringan ucapan syukur. Rupanya kehadiranku sangat dinantikan di sini, begitulah pikirku. Tepat dengan berdentingnya sebuah alarm dan suara yang menggema di dalam hatiku. Ya, benar. Pertualanganku baru saja dimulai.

Selasa, 19 November 2024

[Puisi] Penyesalan

Malamku yang sepi, kala itu
Berbalut sunyi yang melingkupi
Aku termangu dalam dekapan waktu
Hari seakan kosong, namun terus berlari

Hampir tak terbayang bagaimana berikutnya
aku di malam itu melalui waktu
Tiba di titik masa yang tak terduga
Aku tersentak menyambut hasratku

Manusia dapat memilih keputusannya
Namun tak akan mampu mengubah hari lalu
Malam itu tak akan lagi seperti semula
Hanya sebatas kenangan dalam rindu

Bila kembali waktuku bersamanya
Aku ingin kami bersua
Memastikan ia menerima maafku
Atas khilafku yang tercela

Memastikan ia berhasil menjalankan hidupnya
dengan suka cita sebagai manusia
Ia yang jauh entah di mana
Semoga bahagia dalam berbagai lintas masa

[Puisi] Dilema

Membuka hari, beraktivitas lagi
Terpekak bunyi orasi basi
Merasa sesak di antara ilusi
Berimajinasi tak lagi mengobati


Terpasung dalam keraguan
Memberontak dalam angan-angan
Berkreasi sebagai pengelabuan
Ada gelisah yang tak terbantahkan


Harapan yang mulai menguap
Tergoyahkan dalam senyap
Membisu dalam rasa pengap
Perlahan hilang dan beranjak lenyap


Luka lama kembali terkuak
Kekurangan diri mulai tersibak
Visi misi menjadi terserak
Buah catatan lampau yang terjejak


Mengaduh tergerus badai
Seakan tak ada damai
Seolah tak pernah selesai
Terjebak pelik akibat lalai


Puing-puing aib telah tertinggal
–di belakang,  jauh terpental
Tertoleh ketika tersangkal
Saat mencoba menyalahkan aral


Ketika berbalik ke arah depan
Ada yang menatap penuh harapan
–mimpi lama yang terlupakan
Memohon minta diperjuangkan


Tak ada jalan untuk keluar
Tak ada takdir yang menyasar
Seketika benak mulai tersadar
Lampu hijau kembali berpendar


Pada akhirnya tak ada pilihan
Segala alarm berdering bersahutan
Membangunkan satu kesadaran
Pelarangan untuk tinggalkan jalan


Dan, akhirnya kembali lagi
Pada pilihan yang telah terpatri
Pada ikrar dalam sebuah janji
Meski terkadang terulang kembali




Badai yang membabi buta
Akhirnya terkalahkan keyakinan nyata
Ataukah ini jebakan semata
–tentang permainan sebuah rasa?


Ah, biarlah saja
Semoga tak asalah mengolah asa
Setidaknya ada pelajaran bermakna
Dari lika-liku yang penuh warna


[Cerpen] Perjalanan

“Nak, sebentar lagi giliranmu, ya,” pinta Amai dengan halus.

“Lima pemberhentian lagi, ya, Amai,” sahutku agak acuh.

“Itu terlalu jauh. Jangan mengulur waktu!”

“Bagaimana bila empat pemberhentian lagi?”

“Antrean sudah sangat penuh pada tempat itu.”

“Satu pemberhentian sebelum itu?”

“Lebih cepat lebih baik, Nak.”

“Sesungguhnya aku belum siap dan ...”

“Semuanya telah dipersiapkan untukmu. Ikuti saja alurnya.”

“Apakah Amai juga sudah siap kehilanganku?”

“Tidak perlu kau pikirkan itu. Jemput takdirmu sesegera mungkin.”

“Baiklah,” anggukku. “Dua pemberhentian setelah ini aku siap.”

Amai menghela napas panjang dan menyandarkan kepalanya pada sudut kursi. Suasana hening seketika. Kereta yang kutumpangi masih melaju gesit membawaku bersama Amai Sandhya dan anak-anak lain bersama Amai-nya. Kulirik wajah ayu Amai yang tampak begitu suci dan tulus. Terdiam dalam pikirannya sendiri.

“Amai?”

“Ya, Nak?”

“Apakah kita akan bertemu lagi?”

Ia akan mengangkat bahunya sesaat sambil tersenyum.

“Tidak pernah ada yang tahu kecuali Tuhan,” ia menatapku dalam. “Bahkan bila aku akan menjadi manusia sepertimu, belum tentu kita akan saling mengenal lagi seperti ini.”

“Setidaknya, mungkinkah kita akan bertemu di lain waktu?”

“Ya ...,” ia agak menunduk. “Kuharap begitu tetapi apapun yang terjadi memang itulah yang terbaik.”

“Penumpang kereta yang berbahagia, kita akan tiba di pemberhentian kelima. Bersiaplah untuk perjalanan berikutnya.”

Pengumuman yang dikumandangkan di antara dengung dua sirine itu mengejutkanku secara tiba-tiba. Mendadak Amai memelukku erat. Ditenggelamkannya tubuhku dalam dekapnya yang lembut. Embusan napasnya terdengar jelas berbisik di telingaku.

“Hati-hati, ya, Nak,” ucapnya lirih.

Aku hanya mengangguk dan terdiam. Pintu kereta sudah terbuka lebar di depan mata. Kami pun berdiri dan bergegas menuju gerbang pemberhentian kelima. Dalam langkah yang sama, kami melewati setiap inci lantai lembap daalam ruang yang sempit. Ketika aku berhasil melewati gerbang itu, Amai melebur menjadi makhluk serupa kumpulan serangga bersayap begitu saja. Hampir aku ingin meraihnya namun wujudku terlanjur menjelma menjadi sesosok yang lain. Tangisku pun pecah hingga mengganggu pendengaranku sendiri.

Tak lagi sisa suara kereta menyapa telingaku. Berganti gumaman yang tak pernah kudengar sebelumnya. Sesuatu yang hangat tiba-tiba menyentuhku. Sebuah dekapan lembut penuh ketulusan. Terasa asing namun menenangkan. Selepas itu, aku terlelap dan tak ingat apa-apa lagi.


 ***


Tertenung benang demi benang

Terajut elok nan elogan

Masa yang lampau telah hilang

Tergerus waktu yang berjalan

 

Ukiran kayu terpahat rapi

Membingkai cantiknya kursi jati

Takdir manusia tak terprediksi

Penuh kejutan beribu misteri


***


Amai Sandhya

Aku hanyalah sebentuk makhluk

Tercipta fana untuk mengabdi

Karya Sang Agung pemberi bentuk

Yang Maha Adil lagi Mengasihi

 

Dalam rupaku yang tak sempurna

Hidupku terbatas dalam sebuah dimensi

Yang tak tertafsir oleh rangkaian kata

Apakah diriku hanya ilusi?

 

Waktuku akan segera usai

Pengabdianku akan selesai

Aku ‘kan melebur dan terurai

Terupa bagaikan anai-anai

 

Pada Cintaku yang fatamorgana

Sesosok makhluk calon manusia

Teman hidupku pelipur lara

Bersiaplah hadir untuk dunia

 

Pun demikian dengan Cintaku

Ia akan segera berlayar

Berjumpa dengan kehidupan baru

Kehidupan dunia yang hingar-bingar


***


Aku

Perjalanan baruku akan tiba

Keretaku akan berhenti pada waktunya

Menjemput takdir yang jelas dan nyata

Terlahir sebagai seorang manusia

 

Pun sama pada Amai tercinta

Amai Sandhya, indah namanya

Sesosok serupa wanita muda

Teman hidupku di dalam kereta

 

Tak akan pernah ada lagi

Kisah singkatku bersama Amai

Hanya akan tersisa memori

Dari waktu yang telah usai

 

Perhentian demi perhentian terlalui

Hingga tiba pada giliranku

Jantungku berdebar tak terperi

Menyambut pertualangan baru

 

Dan masa itu datang juga

Amai melebur bersama waktu

Aku menjelma menjadi manusia

Kami tak lagi pernah bertemu


***

 

Amai Sandhya

Akankah kisahku benar-benar berakhir?

Akankah ada periode berikutnya?

Entah mengapa aku seolah pungkir

Terhadap takdir yang telah nyata

 

Bolehkah aku berharap?

Menjadi Amai untuk berikutnya?

Namun apakah aku siap–

–ketika doaku menjadi nyata?

 

Entahlah bagaimana selanjutnya

Setidaknya aku cukup bahagia

Cintaku berhasil lahir ke dunia

Siap menjadi seorang manusia

 

 ***

 

 

 

[Puisi] Napas Agustus

Napas-napasku adalah hidupku Napas yang bertiup dari rahmat-Nya Napas yang diperjuangkan ayah dan ibu Napas yang diaminkan puluhan doa Mungk...