Gracia atau Zhasfa?
Aku tersentak ketika dua nama itu menyengat benakku. Seketika aku terlepas dari alam lamunan. Tersadarkan oleh dua nama yang dimiliki oleh dua gadis yang berbeda dengan peran yang seakan mirip dalam kisah hidupku di waktu yang berbeda pula. Dua nama yang entah mengapa membuatku menjebak diri sendiri dalam angan yang tak akan pernah terwujud. Dua nama yang...
"Mereka bukan pilihan!" bantah Miracle kala itu.
"Tetapi ini harapanku..."
"... bahkan kamu gak bisa berharap apa-apa." potongnya.
"Aku bahkan gak pernah memaksa supaya harapanku terwujud meskipun aku sangat menginginkannya!!!" sanggahku tak kalah sengit.
"Tetapi kamu terlalu egois."
"Egois pada bagian yang mana? Apakah aku pernah menyakiti mereka?"
"Mungkin tidak. Tapi kamu telah menyakiti dirimu sendiri!" tandasnya sambil melangkah pergi ketika bus yang dinantinya telah datang.
Dan mungkin saja aku hampir terperosok ke dalamnya apabila kami tidak pernah mengalami perpisahan. Terjerembab dalam jurang yang tak sengaja kuciptakan sendiri sedalam harapanku. Harapan kosong yang tak akan pernah diterima oleh siapapun, bahkan
"Mengapa tidak pada yang lain saja?" celetuknya suatu ketika beberapa hari setelah hubungan kami kembali membaik.
"Apa?"
Ia mendengus gemas. Ditegakkannya daguku lalu membiarkan tatapanku mengikuti arah telunjuknya bergerak di udara.
"Lihatlah sekitarmu, Femmy. Banyak hal yang lebih pantas untuk dimiliki."
"Sejujurnya aku memang tidak pernah menutup mata dari hal-hal tersebut. Entahlah. Segalanya hanya membuatku semakin bimbang."
"Tidak," ia menggeleng tegas. "Kamu yang menyesatkan pikiranmu sendiri."
"Tetapi aku mungkin tidak bisa."
"Kamu yang memiliki pilihan untuk bisa atau tidak bisa. Jangan berlindung di balik tempurung nafsumu."
Aku terdiam. Bahkan ketika dalam keadaan marahpun aku tidak bisa menolak untuk menyetujui segala bentuk ujaran Miracle padaku.
"Mungkin memang tidak secepat angin bertiup." tambahnya.
"Tetapi kamu akan menemukannya suatu saat."
***
Suatu saat. Saat yang tak dapat diketahui pasti tepatnya. Lalu waktu yang menggelinding di hadapan kian membawaku semakin jauh dari mereka Gracia dan Zhasfa. Begitupun pada hubunganku dengan Miracle yang walaupun tidak pernah serumit tentangku dengan kedua gadis tadi. Kami berpisah sejak kami lulus SMP dan hanya berkomunikasi secara digital beberapa saat sejak kala itu lalu hubungan kami mendingin begitu saja. Tiga tahun telah melesat di depan mata. Dan rasa itu memudar dengan ajaib tanpa pernah kuusir sama sekali.
Tiba-tiba saja sepotong isi surat perpisahan dari Miracle melayang di pikiranku.
... Kita akan sampai pada titik waktu yang tak pernah kita duga, Fem. Titik waktu yang akan membawa kita pada kebenaran yang mungkin belum pernah kita ketahui sebelumnya. Tuhan sendiri yang akan menunjukkan tabir kebenaran itu. Lalu kita akan dihadapkan oleh sesuatu yang fana karena perubahan yang terjadi padanya. Perubahan dapat terjadi dengan mudah. Waktu mungkin akan membekukan kita dengan kenyataan yang mencengangkan...
Ya, aku sampai pada titik itu pada akhirnya. Kehilangan ketiganya dalam waktu berbeda. Gracia dan Miracle mungkin masih bisa terjangkau. Namun Zhasfa seolah hanya tinggal kenangan yang tak dapat tersentuh lagi.
Ah, bahkan dia sudah menghilang lebih awal!
***
Derasnya hujan membuatku memutuskan untuk tetap berdiam diri di lobi utama ketika jam telah menunjukkan lebih dari pukul 3 pada siang ini. Meskipun waktu toleransi tiba di rumah masih cukup panjang, tetapi kegelisahan mulai menyelimutiku karena prediksi cuaca hari ini bahwa hujan akan berlangsung cukup lama hingga menjelang malam. Kalaupun kupaksakan untuk pulang pasti akan merepotkan diriku sendiri yang lupa membawa jas hujan pada hari ini. Meskipun jarak rumahku dengan sekolah hanya sekitar tujuh ratus meter.
Ruang lobi berukuran 5 x 7 meter itu cukup sepi karena hanya menjadi tempat orang berlalu lalang dengan segala urusan. Beberapa di antaranya yang mengenalku ada yang sempat bertegur sapa ketika tatapan kami bertemu. Kursi-kursi panjang yang biasanya dipenuhi tamu kini hanya disinggahi beberapa murid yang menunggu jemputan atau sekadar menunggu teman pulang sepertiku.
"Femmy!"
Seketika aku menoleh cepat ketika suara berat Saras menyapa telinga. Wajahnya menyembul di antara celah sepasang pintu lobi bagian dalam.
"Buka chat kita. Tolong dibalas ya. Aku ada urusan sebentar, mau ke perpustakaan dulu."
Sedetik kemudian ia menghilang bersama seorang gadis yang meraih telapak kirinya. Ketika aku mengambil ponsel di saku kemeja dan mengetuknya layarnya pelan, segera saja sederet pesan panjangnya menyambutku dengan puluhan kata. Aku memang sengaja mematikan notifikasi selama berada di sekolah sehingga pesan-pesan darinya tidak 'mengganggu'-ku sedikitpun.
15.04 Fem, kamu sekarang di lobi, ya? Nanti dijemput atau naik ojek gitu gak?
15.04 Kita pulang bareng yuk! Tetapi nanti. Sekitar jam setengah 4 sore.
15.04 Aku bawa dua jas hujan kok buat kupinjamkan satu padamu.
15.05 Kalau kamu gak keberatan, ikut aku ke perpustakaan aja.
15.06 Fem, balas dong.
15.07 Aku jemput kamu ke lobi, ya.
Anak ini masih belum berubah. Aku menelan ludah.
Jarak rumah kami memang hanya sekitar 100 meter dan terbiasa berangkat dan pulang sekolah bersama sejak kami duduk di bangku di sekolah telah usai. Hal yang biasanya membuat kami tidak pulang sekolah bersama hanya bila saat kami memiliki urusan masing-masing setelah jam pulang sekolah. Seperti pada saat ini misalnya.
"Femmy, masih di sini kamu rupanya!"
Wajah manisnya tampak begitu cerah. Cerah dan teduh serupa...
Ya Tuhan!
Sesosok remaja lain muncul dari arah yang sama dengan kedatangan Saras dan menyapanya untuk pamit pulang. Tenggoranku tersekat tiba-tiba. Sekujur tubuhku membeku seketika. Sejurus ketika ia juga menyapaku sekilas saat Saras memperkenalkaku sebagai temannya.
Diam-diam hatiku menghangat ketika sudut mataku masih menangkap senyum tipisnya. Sehangat ketika lampu-lampu taman berpendar menyoroti jalan. Sayangnya tiba-tiba aku menangkap respons yang sama dari wajah Saras.
"Ayo kita pulang."
Aku mengangguk. Aku tidak boleh egois lagi! Janjiku dalam hati.
***
Special thanks for adorable girls in my real life who has been named as Gracia, Miracle, Zhasfa, and Saras in this mini fiction. I hope they'll forgive me soon.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar