Selasa, 19 November 2024

[Cerpen] Perjalanan

“Nak, sebentar lagi giliranmu, ya,” pinta Amai dengan halus.

“Lima pemberhentian lagi, ya, Amai,” sahutku agak acuh.

“Itu terlalu jauh. Jangan mengulur waktu!”

“Bagaimana bila empat pemberhentian lagi?”

“Antrean sudah sangat penuh pada tempat itu.”

“Satu pemberhentian sebelum itu?”

“Lebih cepat lebih baik, Nak.”

“Sesungguhnya aku belum siap dan ...”

“Semuanya telah dipersiapkan untukmu. Ikuti saja alurnya.”

“Apakah Amai juga sudah siap kehilanganku?”

“Tidak perlu kau pikirkan itu. Jemput takdirmu sesegera mungkin.”

“Baiklah,” anggukku. “Dua pemberhentian setelah ini aku siap.”

Amai menghela napas panjang dan menyandarkan kepalanya pada sudut kursi. Suasana hening seketika. Kereta yang kutumpangi masih melaju gesit membawaku bersama Amai Sandhya dan anak-anak lain bersama Amai-nya. Kulirik wajah ayu Amai yang tampak begitu suci dan tulus. Terdiam dalam pikirannya sendiri.

“Amai?”

“Ya, Nak?”

“Apakah kita akan bertemu lagi?”

Ia akan mengangkat bahunya sesaat sambil tersenyum.

“Tidak pernah ada yang tahu kecuali Tuhan,” ia menatapku dalam. “Bahkan bila aku akan menjadi manusia sepertimu, belum tentu kita akan saling mengenal lagi seperti ini.”

“Setidaknya, mungkinkah kita akan bertemu di lain waktu?”

“Ya ...,” ia agak menunduk. “Kuharap begitu tetapi apapun yang terjadi memang itulah yang terbaik.”

“Penumpang kereta yang berbahagia, kita akan tiba di pemberhentian kelima. Bersiaplah untuk perjalanan berikutnya.”

Pengumuman yang dikumandangkan di antara dengung dua sirine itu mengejutkanku secara tiba-tiba. Mendadak Amai memelukku erat. Ditenggelamkannya tubuhku dalam dekapnya yang lembut. Embusan napasnya terdengar jelas berbisik di telingaku.

“Hati-hati, ya, Nak,” ucapnya lirih.

Aku hanya mengangguk dan terdiam. Pintu kereta sudah terbuka lebar di depan mata. Kami pun berdiri dan bergegas menuju gerbang pemberhentian kelima. Dalam langkah yang sama, kami melewati setiap inci lantai lembap daalam ruang yang sempit. Ketika aku berhasil melewati gerbang itu, Amai melebur menjadi makhluk serupa kumpulan serangga bersayap begitu saja. Hampir aku ingin meraihnya namun wujudku terlanjur menjelma menjadi sesosok yang lain. Tangisku pun pecah hingga mengganggu pendengaranku sendiri.

Tak lagi sisa suara kereta menyapa telingaku. Berganti gumaman yang tak pernah kudengar sebelumnya. Sesuatu yang hangat tiba-tiba menyentuhku. Sebuah dekapan lembut penuh ketulusan. Terasa asing namun menenangkan. Selepas itu, aku terlelap dan tak ingat apa-apa lagi.


 ***


Tertenung benang demi benang

Terajut elok nan elogan

Masa yang lampau telah hilang

Tergerus waktu yang berjalan

 

Ukiran kayu terpahat rapi

Membingkai cantiknya kursi jati

Takdir manusia tak terprediksi

Penuh kejutan beribu misteri


***


Amai Sandhya

Aku hanyalah sebentuk makhluk

Tercipta fana untuk mengabdi

Karya Sang Agung pemberi bentuk

Yang Maha Adil lagi Mengasihi

 

Dalam rupaku yang tak sempurna

Hidupku terbatas dalam sebuah dimensi

Yang tak tertafsir oleh rangkaian kata

Apakah diriku hanya ilusi?

 

Waktuku akan segera usai

Pengabdianku akan selesai

Aku ‘kan melebur dan terurai

Terupa bagaikan anai-anai

 

Pada Cintaku yang fatamorgana

Sesosok makhluk calon manusia

Teman hidupku pelipur lara

Bersiaplah hadir untuk dunia

 

Pun demikian dengan Cintaku

Ia akan segera berlayar

Berjumpa dengan kehidupan baru

Kehidupan dunia yang hingar-bingar


***


Aku

Perjalanan baruku akan tiba

Keretaku akan berhenti pada waktunya

Menjemput takdir yang jelas dan nyata

Terlahir sebagai seorang manusia

 

Pun sama pada Amai tercinta

Amai Sandhya, indah namanya

Sesosok serupa wanita muda

Teman hidupku di dalam kereta

 

Tak akan pernah ada lagi

Kisah singkatku bersama Amai

Hanya akan tersisa memori

Dari waktu yang telah usai

 

Perhentian demi perhentian terlalui

Hingga tiba pada giliranku

Jantungku berdebar tak terperi

Menyambut pertualangan baru

 

Dan masa itu datang juga

Amai melebur bersama waktu

Aku menjelma menjadi manusia

Kami tak lagi pernah bertemu


***

 

Amai Sandhya

Akankah kisahku benar-benar berakhir?

Akankah ada periode berikutnya?

Entah mengapa aku seolah pungkir

Terhadap takdir yang telah nyata

 

Bolehkah aku berharap?

Menjadi Amai untuk berikutnya?

Namun apakah aku siap–

–ketika doaku menjadi nyata?

 

Entahlah bagaimana selanjutnya

Setidaknya aku cukup bahagia

Cintaku berhasil lahir ke dunia

Siap menjadi seorang manusia

 

 ***

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

[Puisi] Napas Agustus

Napas-napasku adalah hidupku Napas yang bertiup dari rahmat-Nya Napas yang diperjuangkan ayah dan ibu Napas yang diaminkan puluhan doa Mungk...