Sabtu, 07 Desember 2024

[Puisi] Tercekik Pelik

Menjelang senja, matahari pamit

Sementara keadaan masih rumit

Oleh gulana yang membelit

Entah sudah seberapa sulit


Yang kutahu, waktu tetap berjalan

Mengiringi berbagai keadaan

Hari berlalu terasa pelan

Meski masalah belum terselesaikan


Telah banyak waktu yang usai

Cukup banyak memori yang selesai

Sudah banyak usaha yang terbengkalai

Karena banyak ibadah yang terabai


Terbit malam, hari akan ditutup

Permukaan langit mulai meredup

Banyak pasang mata terlihat sayup

Tak lama lagi benar-benar menguncup


Manakala istirahat tiba

Terselip berbagai rasa

Dilema antara tidur atau tetap terjaga

Pikiran buruk tak kunjung sirna


Saat tengah mulai menyergap

Tak ada lagi pilihan untuk menetap

Pada pikiran separuh meratap

Tuhan, ajarkan aku terlelap

 

[Puisi] Broken

Merpatiku patah sayapnya

Surat-suratku terbengkalai

Lantas aku patah hati

Kami terluka dalam waktu yang sama


Semuanya tak berjalan sempurna

Sebagaimana yang telah kuharap

Rencanaku menjadi sia-sia

Seketika gairahku lenyap


Pena dan kertas yang telah siap

Tetap utuh wujud rupanya

Seisi kepalaku mendadak gelap—

—dari perbendaharaan kosakata


Untaian kata yang siap ditulis berturut—

—urung tertulis dalam lembaran kertas

Aku ceroboh, malam semakin larut

Separuh suratku tak mengudara lepas


Maka kurawat dengan sabar hati

Sayap merpati yang kucintai

Sambil menanti sehatnya kembali

Dan siap mengantar surat misteri


Suratku bukan sembarang surat

Namun surat dengan khasiat

Penawar lara hati tersayat

Gratis kuberi tanpa syarat


Suratku memang sederhana, kelihatannya

Tanpa pernik di kemasannya

Supaya tiada yang tertarik membaca,

isinya hanya untuk sang penerima


Semoga, sampai padaku waktu yang tepat

Untuk mengirim surat yang tertunda

Kepada sang pemilik jauh di sana

Berharap lepas luka yang menjerat


***

[Cermin] Pendar

Gracia atau Zhasfa?

Aku tersentak ketika dua nama itu menyengat benakku. Seketika aku terlepas dari alam lamunan. Tersadarkan oleh dua nama yang dimiliki oleh dua gadis yang berbeda dengan peran yang seakan mirip dalam kisah hidupku di waktu yang berbeda pula. Dua nama yang entah mengapa membuatku menjebak diri sendiri dalam angan yang tak akan pernah terwujud. Dua nama yang...

"Mereka bukan pilihan!" bantah Miracle kala itu.

"Tetapi ini harapanku..."

"... bahkan kamu gak bisa berharap apa-apa." potongnya.

"Aku bahkan gak pernah memaksa supaya harapanku terwujud meskipun aku sangat menginginkannya!!!" sanggahku tak kalah sengit.

"Tetapi kamu terlalu egois."

"Egois pada bagian yang mana? Apakah aku pernah menyakiti mereka?"

"Mungkin tidak. Tapi kamu telah menyakiti dirimu sendiri!" tandasnya sambil melangkah pergi ketika bus yang dinantinya telah datang.

Dan mungkin saja aku hampir terperosok ke dalamnya apabila kami tidak pernah mengalami perpisahan. Terjerembab dalam jurang yang tak sengaja kuciptakan sendiri sedalam harapanku. Harapan kosong yang tak akan pernah diterima oleh siapapun, bahkan

"Mengapa tidak pada yang lain saja?" celetuknya suatu ketika beberapa hari setelah hubungan kami kembali membaik.

"Apa?"

Ia mendengus gemas. Ditegakkannya daguku lalu membiarkan tatapanku mengikuti arah telunjuknya bergerak di udara.

"Lihatlah sekitarmu, Femmy. Banyak hal yang lebih pantas untuk dimiliki."

"Sejujurnya aku memang tidak pernah menutup mata dari hal-hal tersebut. Entahlah. Segalanya hanya membuatku semakin bimbang."

"Tidak," ia menggeleng tegas. "Kamu yang menyesatkan pikiranmu sendiri."

"Tetapi aku mungkin tidak bisa."

"Kamu yang memiliki pilihan untuk bisa atau tidak bisa. Jangan berlindung di balik tempurung nafsumu."

Aku terdiam. Bahkan ketika dalam keadaan marahpun aku tidak bisa menolak untuk menyetujui segala bentuk ujaran Miracle padaku.

"Mungkin memang tidak secepat angin bertiup." tambahnya.

"Tetapi kamu akan menemukannya suatu saat."

***

Suatu saat. Saat yang tak dapat diketahui pasti tepatnya. Lalu waktu yang menggelinding di hadapan kian membawaku semakin jauh dari mereka Gracia dan Zhasfa. Begitupun pada hubunganku dengan Miracle yang walaupun tidak pernah serumit tentangku dengan kedua gadis tadi. Kami berpisah sejak kami lulus SMP dan hanya berkomunikasi secara digital beberapa saat sejak kala itu lalu hubungan kami mendingin begitu saja. Tiga tahun telah melesat di depan mata. Dan rasa itu memudar dengan ajaib tanpa pernah kuusir sama sekali.

Tiba-tiba saja sepotong isi surat perpisahan dari Miracle melayang di pikiranku.

... Kita akan sampai pada titik waktu yang tak pernah kita duga, Fem. Titik waktu yang akan membawa kita pada kebenaran yang mungkin belum pernah kita ketahui sebelumnya. Tuhan sendiri yang akan menunjukkan tabir kebenaran itu. Lalu kita akan dihadapkan oleh sesuatu yang fana karena perubahan yang terjadi padanya. Perubahan dapat terjadi dengan mudah. Waktu mungkin akan membekukan kita dengan kenyataan yang mencengangkan...

Ya, aku sampai pada titik itu pada akhirnya. Kehilangan ketiganya dalam waktu berbeda. Gracia dan Miracle mungkin masih bisa terjangkau. Namun Zhasfa seolah hanya tinggal kenangan yang tak dapat tersentuh lagi.

Ah, bahkan dia sudah menghilang lebih awal!

***

Derasnya hujan membuatku memutuskan untuk tetap berdiam diri di lobi utama ketika jam telah menunjukkan lebih dari pukul 3 pada siang ini. Meskipun waktu toleransi tiba di rumah masih cukup panjang, tetapi kegelisahan mulai menyelimutiku karena prediksi cuaca hari ini bahwa hujan akan berlangsung cukup lama hingga menjelang malam. Kalaupun kupaksakan untuk pulang pasti akan merepotkan diriku sendiri yang lupa membawa jas hujan pada hari ini. Meskipun jarak rumahku dengan sekolah hanya sekitar tujuh ratus meter.

Ruang lobi berukuran 5 x 7 meter itu cukup sepi karena hanya menjadi tempat orang berlalu lalang dengan segala urusan. Beberapa di antaranya yang mengenalku ada yang sempat bertegur sapa ketika tatapan kami bertemu. Kursi-kursi panjang yang biasanya dipenuhi tamu kini hanya disinggahi beberapa murid yang menunggu jemputan atau sekadar menunggu teman pulang sepertiku.

"Femmy!"

Seketika aku menoleh cepat ketika suara berat Saras menyapa telinga. Wajahnya menyembul di antara celah sepasang pintu lobi bagian dalam.

"Buka chat kita. Tolong dibalas ya. Aku ada urusan sebentar, mau ke perpustakaan dulu."

Sedetik kemudian ia menghilang bersama seorang gadis yang meraih telapak kirinya. Ketika aku mengambil ponsel di saku kemeja dan mengetuknya layarnya pelan, segera saja sederet pesan panjangnya menyambutku dengan puluhan kata. Aku memang sengaja mematikan notifikasi selama berada di sekolah sehingga pesan-pesan darinya tidak 'mengganggu'-ku sedikitpun.


15.04 Fem, kamu sekarang di lobi, ya? Nanti dijemput atau naik ojek gitu gak?

15.04 Kita pulang bareng yuk! Tetapi nanti. Sekitar jam setengah 4 sore.

15.04 Aku bawa dua jas hujan kok buat kupinjamkan satu padamu.

15.05 Kalau kamu gak keberatan, ikut aku ke perpustakaan aja.

15.06 Fem, balas dong.

15.07 Aku jemput kamu ke lobi, ya.


Anak ini masih belum berubah. Aku menelan ludah.

Jarak rumah kami memang hanya sekitar 100 meter dan terbiasa berangkat dan pulang sekolah bersama sejak kami duduk di bangku di sekolah telah usai. Hal yang biasanya membuat kami tidak pulang sekolah bersama hanya bila saat kami memiliki urusan masing-masing setelah jam pulang sekolah. Seperti pada saat ini misalnya.

"Femmy, masih di sini kamu rupanya!"

Wajah manisnya tampak begitu cerah. Cerah dan teduh serupa...

Ya Tuhan!

Sesosok remaja lain muncul dari arah yang sama dengan kedatangan Saras dan menyapanya untuk pamit pulang. Tenggoranku tersekat tiba-tiba. Sekujur tubuhku membeku seketika. Sejurus ketika ia juga menyapaku sekilas saat Saras memperkenalkaku sebagai temannya.

Diam-diam hatiku menghangat ketika sudut mataku masih menangkap senyum tipisnya. Sehangat ketika lampu-lampu taman berpendar menyoroti jalan. Sayangnya tiba-tiba aku menangkap respons yang sama dari wajah Saras.

"Ayo kita pulang."

Aku mengangguk. Aku tidak boleh egois lagi! Janjiku dalam hati.

***


Special thanks for adorable girls in my real life who has been named as Gracia, Miracle, Zhasfa, and Saras in this mini fiction. I hope they'll forgive me soon.


Kamis, 05 Desember 2024

[Puisi] Bayang-bayang

Aku hanyalah sesosok bayang 
Terkungkung dalam jubah berwarna terang—
—tersorot seakan paling cemerlang
Terkepung di antara para belalang

Wujudku hanyalah sebentuk bayang
Tak kasat mata seakan hadirku tak nyata
Terjebak dalam jiwa yang hilang 
Terjerat angan-angan fatamorgana

Garis takdirku bagaikan bayang
Tak lebih dari sekedar benda maya
Meski zatku menempati ruang—
—kehadiranku tak akan masuk logika

Aku tak menyangkal takdirku di dunia
Lafaz syukurku tak pernah dusta
Kufur tak pernah hadir dalam jiwa
Pada awalnya, pada permulaan aku tercipta

Lalu hingga semuanya mengalir
Garis waktu semakin bergulir
Berbagai entitas pun turut hadir
Mewarnai kisah yang seakan tak berakhir

Dan inilah nasibku ternyata
Bersama jutaan bayangan lainnya
Terpasung antara rasa syukur dan ingkar setia—
—atas abdiku dalam jubah aneka warna

Jubahku terkoyak dan mulai compang-camping
Wujudku makin tak sedap dipandang
Diriku mulai dibiarkan dalam hening
Sendiri bahkan tanpa para belalang

Bilamana terluka adalah bagian dari janjiku—
—maka hadirkan luka yang paling sempurna
—yang tak membiarkan hariku membiru
—yang menjanjikan Surga abadi untukku selamanya


Rabu, 04 Desember 2024

[Puisi] Langit November

Damai November pernah hadir
Dalam lembaran garis takdir
Ribuan memori telah terukir
Dalam tenteram tiada khawatir

Warna yang indah pernah tercorak
Menghias hari penuh semarak
Menyisakan memori berjejak
Untuk dikenang esok kelak

Dipayungi langit yang basah
Antara mendung dan suram
Di bawah hujan yang tercurah
Menjaring cahaya mengurai kelam

Ada risau yang tersirat
Di balik cemas yang tersembunyi
Di antara riuh yang menjerat
Ada jiwa yang ingin kembali

Dalam ruang kebimbangan
Harapan yang kian tersudut itu—
—mengais kasih yang berdatangan
Menginginkan berakhirnya pilu

Sepanjang November yang lembap
Sekian jiwa berkelana ingin pulang
Meskipun jalan semakin gelap
Meskipun sulit mencari terang

Bersama tetes hujan gerimis
Melebur dengan tetes tangis
Asa yang penuh semakin terkikis
Memandang diri dengan tatapan miris

Apakah kekangan batin itu nyata?
Adakah singgasana yang tepat untuk jiwa?
Bilakah gundah pergi dan sirna?
Ataukah hanya perlu menunggu masa?

Ah, lagi-lagi rasanya semakin berlebihan
Ketika tak ada jawab dari sebuah harap
Kala cemooh menghakimi keinginan
Saat optimisme mulai lenyap

Apa yang sebenarnya terlalui?
Bertahan dalam tekanan alam mimpi –
– ataukah memperjuangkan hak asasi?
Bolehkah jawaban ini dinanti?

Bila benar bahwa ini hanya mimpi 
Biarkan hidung ini masih bisa membaui –
– aroma hujan yang jatuh ke bumi
Hujan November tahun ini

Walaupun langit hanya diam
Bersama hujan dan angin malam
Biarkan terkenang dalam bungkam
Berkas kenangan November silam

***

[Puisi] Lukacita

Satu, dua, dan tiga

Lukaku belum sampai lima

Beraneka bentuk dan warna

Ada biru, ada merah membara

 

Dua, tiga, dan empat

Lukaku bertambah cepat

Kini semakin rapat

Melebarnya semakin pesat

 

Tiga, empat, dan lima

Lukaku punya cerita berbeda

Satu sembuh, di sisi lain mendera

Satu meradang, di sudut lain mereda

 

Lalu aku menjadi terbiasa

Luka di raga seakan wajar adanya

Walau penuh perih yang terasa

Panas, pedih, dan sakit menjera

 

Tetapi bagiku tak apa

Berulang kali kau mengungkapkannya–

 –bahwa ini perlambang cinta–

–yang kau hadirkan untukku semata

 

Apalah arti semua derita

Bila kita masih bersama

Apalah arti tangis dan luka

Bila kau tetap di depan mata

 

Bahkan bila kau menginginkannya–

–biarkan kupersiapkan segalanya

Entah sekedar tangan dan kaki–

–atau mainan dari berbagai negeri

 

Walau kau seakan muak

Pada seluruh cintaku yang telak

Yakinilah aku tak akan pergi

Meski seisi bumi mencaci

 

Gelak-isakmu adalah nyanyianku

Dengungkanlah lagumu di telinga

Sapa inderaku dengan inderamu

Tetaplah denganku selamanya

 

***

 

[Seri Puisi] Hikayat Cinta #3

Sebelumnya:

Bunga Cintaku Berkembang


Guruku paling cerdas berbahasa
Menguntai indah himpunan kata
Mengajarkanku berbahasa sederhana
Hingga memahami aneka makna

Jiwa-ragaku terasupi aksara
Mengenal huruf dan membacanya
Pun memakainya untuk bicara
Dan menulisnya dengan tinta pena

Tahun demi tahun, bulan demi bulan
Semakin kaya perbendaharaan kata—
—yang dibekali para guru teladan
Dan pengalaman dari aneka manusia

Lalu aku semakin terbiasa
Menyusun kata, praktik berbahasa
Berdialog, berpuisi, bercerita
Betapa indahnya seni sastra

Dan hidupku berjalan sebagaimana adanya
Hingga perjumpaan itu tiba—
—obrolan bisu di antara kita
Yang tersambung melalui dunia maya

Kupikir segalanya akan tetap sama
Duniaku berotasi pada jalurnya
Dan kita hanya sebatas dua manusia,
yang hanya bertemu di sebuah masa

Pada awalnya memang tak berbeda
Kita saling sapa dan bertukar cerita
Menikmati tarian jari di depan mata 
Menyusun kalimat, "hai lagi apa?"

Ternyata hadirmu buyarkan semua
Perbendaharaan kataku lenyap seketika 
Kala tatapanmu tawarkan bahagia 
"Bisakah kita selamanya?"

Kuraih kembali akal yang tersisa
Mencari definisi untuk ungkapkan rasa
Tentang jiwaku yang terperanjat
Tentang hatiku yang tertambat

Adakah aku bersorak gembira,
atau ragui ucapmu di depan telinga,
mencemaskan ekspektasiku sendiri,
hadirnya sosokmu bagaikan mimpi

Apakah aku menemukannya—
—seonggok alasan untuk menghindar,
bagaimana bila kita hanya sementara,
dan kamu hanya sedang mendusta?

Mampukah aku temukan gantinya,
bila waktu pergimu telah tiba
Layakkah kuingkar pada rasa yang ada?
Atau semua ini memanglah maya?

Bukankah manusia mudah berubah,
lantas mengapa tak kujalani saja,
selama hati kita masih bertaut,
Dan ternyata kita tak terpisahkan maut

Bahkan tak sesederhana itu saja
Semoga ketetapan Tuhanku Yang Mulia
Selalu menghimpunku dengan manusia—
—yang mengasihiku dan kukasihi jiwanya

***

Bersambung 


[Puisi Sesat] Sambat Sesaat

Udah pagi aja deh ini
Sumpah, gue pengen ngopi lagi
Walau semalam abis seteko
Buat temenin semangkok bakso

Begadang mulu tiap hari
Nyelesain target sana-sini
Supaya rekening keisi uang
Istirahatnya waktu ketiduran doang

Padahal aslinya secapek itu
Capek segede Gunung Merbabu
Kalo berhenti takut ketinggalan 
Soalnya udah di pertengahan jalan

Sebenarnya gue gak banyak harapan
Tapi perasaan susah amat digapai
Hal kecil kayak cuma angan-angan
Tiap hari berkawan badai

Emang gini ya jalannya?
Atau gue aja yang lebai?
Dikit-dikit nangis bombai
Tiap ngerasa gak ada guna

Gue udah berusaha kok
Tapi jalannya makin berkelok
Segala opsi udah dicoba
Kok nihil terus hasilnya

Di mana ya ini salahnya?
Kapan ya gagalnya sirna?
Bukannya gue gak bersyukur
Tapi dah seringkali gue tersungkur

Maaf ya kali ini rada ngelantur
Kayak gak pernah diajarin bertutur
Walaupun gue berasa hampir hancur
Gue yakin baik-buruknya udah diatur


[Seri Puisi] Hikayat Cinta #2

Sebelumnya:

[Seri Puisi] Hikayat Cinta #1

Benih Kasihku Bertumbuh

Usia dini yang menyenangkan
Penuh warna dan harapan
Menjemput berbagai keajaiban
Merajut memori, merangkai kenangan

Masa emas yang tak terlupakan
Menikmati perjalanan awal kehidupan
Menyusuri proses pertumbuhan 
Menjajaki langkah perkembangan

Berat tubuh yang selalu optimal
Fungsi organ yang cukup ideal 
Semuanya berkat rezeki halal
Yang berdasar cinta sejak awal

Keindahan yang tak ternilai
Dari harapan-harapan yang tercapai
Pada tiap tahap perjalanan—
—menjajaki berbagai pengalaman 

Namun pada suatu ketika
Ibuku bertutur dengan sabarnya
Hidupku masih belum lengkap,
bila belum ada ilmu yang terserap

Kutanyakan perihal itu
Sesuatu yang asing bagiku
Adakah yang harus kujalani—
—tuk sempurnakan kehidupan ini?

Dan beliau mengantarkanku
Pada gerbang dunia yang baru
Bertemu dengan berbagai malaikat—
—rayuan cintanya buatku terpikat

Para gurukulah malaikat itu
Yang menjelma dalam wujud manusia
Mengenalkan berbagai hal seru
Hidupku pun semakin berwarna

Hingga pada suatu masa
Kantung cintaku semakin terisi
Ketika setibanya aku di sana
Terbelai kasih budi pekerti

Kudapati cinta yang indah itu
Dari baiknya ratusan guru
Menyuapkanku berbagai ilmu
Menyapaku di jendela kalbu

Dan aku semakin kenyang
Mengunyah cinta yang teramat renyah
Dari berbagai bentuk kasih sayang
Yang hadir di rumah dan sekolah

Cinta itu berbentuk huruf
Kadang pula berupa angka
Yang kukenal melalui taaruf
Tentang berbagai isi dunia

Indah kugapai makin sempurna
Tatkala aku berhasil membaca,
menghitung dan mengenal warna,
Sungguh riang tak terkira

Pun ketika diperdengarkan suara
Atau saat diajarkan berbicara
Juga kala diperkenalkan norma
Sehingga akalku makin terbuka

Sungguh bahagia semasa itu
Mungkin beginilah cara Tuhanku
Mencintaiku semanis madu
Menyambung kasih-Nya yang tak semu


***


Bersambung:


Selasa, 03 Desember 2024

[Puisi] Kepada Muridku Tercinta

Kala hening menyapa kalbu
Seketika aku membeku
Terbayang sosok lugumu
Kesayanganku sepanjang waktu

Biarkan aku mengejanya
Indah namamu dalam tiap doa
Berharap Tuhan Allah Ta'ala
Memberi izin untuk tetap bersama

Dalam tiap perjuangan kita
Berharap teriring ridho dan keberkahan-Nya
Senantiasa kupanjatkan tiap masa
Supaya kita selalu bahagia

Untuk tiap bahagia yang diusahakan
Untuk tiap perjuangan yang dijalankan
Biarkan aku menikmati pertualangan
Bersamamu, menggali pengetahuan

Barangkali, aku ini tak seberapa
Tapi mimpiku luar biasa
Menginginkan kesuksesan yang nyata
Untuk dirimu sepanjang masa

Aku hanya makhluk tiada daya
Yang dititipkan amanat mulia
Mendidikmu menjadi manusia
Memberimu ilmu yang berguna

Sungguh, aku ingin melihatmu terbang
Menggapai bintangmu di tiap bidang
Tempat kau memperoleh cahaya gemilang
Saat kau damai dan merasa tenang

Biarkan aku melebarkan sayapmu
Menerbangkanmu tinggi di udara
Raihlah bintangmu tanpa ragu
Semoga kau bahagia bersamanya

Bila nanti kau telah bersinar
Sisihkan waktu saja sebentar
Doakan aku supaya tegar
Menghadapi cobaan tanpa gentar

Kutitipkan dirimu pada Tuhanku
Semoga terwujud cita-cita kita
Kau semakin cantik dengan takdirmu
Menjadi hamba Allah yang setia

***

Senin, 02 Desember 2024

[Math Poetry] Adu Puji

Makhluk Elok Rupa


Rupamu yang sederhana
Menyejukkan pandanganku
Bulat utuh dan sempurna
Tak bersudut siku-siku

Bila benarlah sudut kita sama,
lantas mengapa kau lebih istimewa?
Koordinat kutub di selatan dan utara
Mengacu pada fisikmu yang jelita

Betapa anggun rupa yang kau punya
Tercipta seakan sederhana.
namun menyimpan banyak makna
Berperan pada aneka sudut dan roda

Bila diriku tercipta seindah rupamu
Bermanfaat besar sepanjang waktu
Tak akan terputus rasa bahagiaku
Atas nikmat-Nya pada penciptaanku

Sungguh berkah yang tiada dusta
Penuh nikmat untuk alam semesta
Berjuta syukur terhadir untuk Allah Ta'ala
Atas penciptaanmu yang luar biasa

***

Makhluk Molek Sisi


Rupaku adalah wujud cinta
Dari Allah Ta'ala atas makhluk-Nya
Pada takdirku yang kau kagumi
Pada takdirku yang penuh arti

Benarlah sudut kita sama,
Meskipun sisi kita berbeda
Kau tetap indah dengan tegak datarmu
Mudah dilukis dan diramu

Rupamu pun cantik tiada dua
Berbeda dengan poligon lainnya
Bahkan Kakbah di kota suci nan mulia
Berdasar dari rupamu yang mempesona

Kau tak perlu mencari lebihku
Untuk rasa cukupmu atas penciptaanmu
Syukuri saja cantik rupamu,
yang tak akan lekang oleh waktu

Sungguh nikmat yang tak bercela
Pada takdir setiap makhluk-Nya
Syukur terpanjat dalam menghamba
Kepada kasih sayang Allah Ta'ala

***

[Puisi] Napas Agustus

Napas-napasku adalah hidupku Napas yang bertiup dari rahmat-Nya Napas yang diperjuangkan ayah dan ibu Napas yang diaminkan puluhan doa Mungk...