Kamis, 05 Desember 2024

[Puisi] Bayang-bayang

Aku hanyalah sesosok bayang 
Terkungkung dalam jubah berwarna terang—
—tersorot seakan paling cemerlang
Terkepung di antara para belalang

Wujudku hanyalah sebentuk bayang
Tak kasat mata seakan hadirku tak nyata
Terjebak dalam jiwa yang hilang 
Terjerat angan-angan fatamorgana

Garis takdirku bagaikan bayang
Tak lebih dari sekedar benda maya
Meski zatku menempati ruang—
—kehadiranku tak akan masuk logika

Aku tak menyangkal takdirku di dunia
Lafaz syukurku tak pernah dusta
Kufur tak pernah hadir dalam jiwa
Pada awalnya, pada permulaan aku tercipta

Lalu hingga semuanya mengalir
Garis waktu semakin bergulir
Berbagai entitas pun turut hadir
Mewarnai kisah yang seakan tak berakhir

Dan inilah nasibku ternyata
Bersama jutaan bayangan lainnya
Terpasung antara rasa syukur dan ingkar setia—
—atas abdiku dalam jubah aneka warna

Jubahku terkoyak dan mulai compang-camping
Wujudku makin tak sedap dipandang
Diriku mulai dibiarkan dalam hening
Sendiri bahkan tanpa para belalang

Bilamana terluka adalah bagian dari janjiku—
—maka hadirkan luka yang paling sempurna
—yang tak membiarkan hariku membiru
—yang menjanjikan Surga abadi untukku selamanya


Rabu, 04 Desember 2024

[Puisi] Langit November

Damai November pernah hadir
Dalam lembaran garis takdir
Ribuan memori telah terukir
Dalam tenteram tiada khawatir

Warna yang indah pernah tercorak
Menghias hari penuh semarak
Menyisakan memori berjejak
Untuk dikenang esok kelak

Dipayungi langit yang basah
Antara mendung dan suram
Di bawah hujan yang tercurah
Menjaring cahaya mengurai kelam

Ada risau yang tersirat
Di balik cemas yang tersembunyi
Di antara riuh yang menjerat
Ada jiwa yang ingin kembali

Dalam ruang kebimbangan
Harapan yang kian tersudut itu—
—mengais kasih yang berdatangan
Menginginkan berakhirnya pilu

Sepanjang November yang lembap
Sekian jiwa berkelana ingin pulang
Meskipun jalan semakin gelap
Meskipun sulit mencari terang

Bersama tetes hujan gerimis
Melebur dengan tetes tangis
Asa yang penuh semakin terkikis
Memandang diri dengan tatapan miris

Apakah kekangan batin itu nyata?
Adakah singgasana yang tepat untuk jiwa?
Bilakah gundah pergi dan sirna?
Ataukah hanya perlu menunggu masa?

Ah, lagi-lagi rasanya semakin berlebihan
Ketika tak ada jawab dari sebuah harap
Kala cemooh menghakimi keinginan
Saat optimisme mulai lenyap

Apa yang sebenarnya terlalui?
Bertahan dalam tekanan alam mimpi –
– ataukah memperjuangkan hak asasi?
Bolehkah jawaban ini dinanti?

Bila benar bahwa ini hanya mimpi 
Biarkan hidung ini masih bisa membaui –
– aroma hujan yang jatuh ke bumi
Hujan November tahun ini

Walaupun langit hanya diam
Bersama hujan dan angin malam
Biarkan terkenang dalam bungkam
Berkas kenangan November silam

***

[Puisi] Lukacita

Satu, dua, dan tiga

Lukaku belum sampai lima

Beraneka bentuk dan warna

Ada biru, ada merah membara

 

Dua, tiga, dan empat

Lukaku bertambah cepat

Kini semakin rapat

Melebarnya semakin pesat

 

Tiga, empat, dan lima

Lukaku punya cerita berbeda

Satu sembuh, di sisi lain mendera

Satu meradang, di sudut lain mereda

 

Lalu aku menjadi terbiasa

Luka di raga seakan wajar adanya

Walau penuh perih yang terasa

Panas, pedih, dan sakit menjera

 

Tetapi bagiku tak apa

Berulang kali kau mengungkapkannya–

 –bahwa ini perlambang cinta–

–yang kau hadirkan untukku semata

 

Apalah arti semua derita

Bila kita masih bersama

Apalah arti tangis dan luka

Bila kau tetap di depan mata

 

Bahkan bila kau menginginkannya–

–biarkan kupersiapkan segalanya

Entah sekedar tangan dan kaki–

–atau mainan dari berbagai negeri

 

Walau kau seakan muak

Pada seluruh cintaku yang telak

Yakinilah aku tak akan pergi

Meski seisi bumi mencaci

 

Gelak-isakmu adalah nyanyianku

Dengungkanlah lagumu di telinga

Sapa inderaku dengan inderamu

Tetaplah denganku selamanya

 

***

 

[Seri Puisi] Hikayat Cinta #3

Sebelumnya:

Bunga Cintaku Berkembang


Guruku paling cerdas berbahasa
Menguntai indah himpunan kata
Mengajarkanku berbahasa sederhana
Hingga memahami aneka makna

Jiwa-ragaku terasupi aksara
Mengenal huruf dan membacanya
Pun memakainya untuk bicara
Dan menulisnya dengan tinta pena

Tahun demi tahun, bulan demi bulan
Semakin kaya perbendaharaan kata—
—yang dibekali para guru teladan
Dan pengalaman dari aneka manusia

Lalu aku semakin terbiasa
Menyusun kata, praktik berbahasa
Berdialog, berpuisi, bercerita
Betapa indahnya seni sastra

Dan hidupku berjalan sebagaimana adanya
Hingga perjumpaan itu tiba—
—obrolan bisu di antara kita
Yang tersambung melalui dunia maya

Kupikir segalanya akan tetap sama
Duniaku berotasi pada jalurnya
Dan kita hanya sebatas dua manusia,
yang hanya bertemu di sebuah masa

Pada awalnya memang tak berbeda
Kita saling sapa dan bertukar cerita
Menikmati tarian jari di depan mata 
Menyusun kalimat, "hai lagi apa?"

Ternyata hadirmu buyarkan semua
Perbendaharaan kataku lenyap seketika 
Kala tatapanmu tawarkan bahagia 
"Bisakah kita selamanya?"

Kuraih kembali akal yang tersisa
Mencari definisi untuk ungkapkan rasa
Tentang jiwaku yang terperanjat
Tentang hatiku yang tertambat

Adakah aku bersorak gembira,
atau ragui ucapmu di depan telinga,
mencemaskan ekspektasiku sendiri,
hadirnya sosokmu bagaikan mimpi

Apakah aku menemukannya—
—seonggok alasan untuk menghindar,
bagaimana bila kita hanya sementara,
dan kamu hanya sedang mendusta?

Mampukah aku temukan gantinya,
bila waktu pergimu telah tiba
Layakkah kuingkar pada rasa yang ada?
Atau semua ini memanglah maya?

Bukankah manusia mudah berubah,
lantas mengapa tak kujalani saja,
selama hati kita masih bertaut,
Dan ternyata kita tak terpisahkan maut

Bahkan tak sesederhana itu saja
Semoga ketetapan Tuhanku Yang Mulia
Selalu menghimpunku dengan manusia—
—yang mengasihiku dan kukasihi jiwanya

***

Bersambung 


[Puisi Sesat] Sambat Sesaat

Udah pagi aja deh ini
Sumpah, gue pengen ngopi lagi
Walau semalam abis seteko
Buat temenin semangkok bakso

Begadang mulu tiap hari
Nyelesain target sana-sini
Supaya rekening keisi uang
Istirahatnya waktu ketiduran doang

Padahal aslinya secapek itu
Capek segede Gunung Merbabu
Kalo berhenti takut ketinggalan 
Soalnya udah di pertengahan jalan

Sebenarnya gue gak banyak harapan
Tapi perasaan susah amat digapai
Hal kecil kayak cuma angan-angan
Tiap hari berkawan badai

Emang gini ya jalannya?
Atau gue aja yang lebai?
Dikit-dikit nangis bombai
Tiap ngerasa gak ada guna

Gue udah berusaha kok
Tapi jalannya makin berkelok
Segala opsi udah dicoba
Kok nihil terus hasilnya

Di mana ya ini salahnya?
Kapan ya gagalnya sirna?
Bukannya gue gak bersyukur
Tapi dah seringkali gue tersungkur

Maaf ya kali ini rada ngelantur
Kayak gak pernah diajarin bertutur
Walaupun gue berasa hampir hancur
Gue yakin baik-buruknya udah diatur


[Seri Puisi] Hikayat Cinta #2

Sebelumnya:

[Seri Puisi] Hikayat Cinta #1

Benih Kasihku Bertumbuh

Usia dini yang menyenangkan
Penuh warna dan harapan
Menjemput berbagai keajaiban
Merajut memori, merangkai kenangan

Masa emas yang tak terlupakan
Menikmati perjalanan awal kehidupan
Menyusuri proses pertumbuhan 
Menjajaki langkah perkembangan

Berat tubuh yang selalu optimal
Fungsi organ yang cukup ideal 
Semuanya berkat rezeki halal
Yang berdasar cinta sejak awal

Keindahan yang tak ternilai
Dari harapan-harapan yang tercapai
Pada tiap tahap perjalanan—
—menjajaki berbagai pengalaman 

Namun pada suatu ketika
Ibuku bertutur dengan sabarnya
Hidupku masih belum lengkap,
bila belum ada ilmu yang terserap

Kutanyakan perihal itu
Sesuatu yang asing bagiku
Adakah yang harus kujalani—
—tuk sempurnakan kehidupan ini?

Dan beliau mengantarkanku
Pada gerbang dunia yang baru
Bertemu dengan berbagai malaikat—
—rayuan cintanya buatku terpikat

Para gurukulah malaikat itu
Yang menjelma dalam wujud manusia
Mengenalkan berbagai hal seru
Hidupku pun semakin berwarna

Hingga pada suatu masa
Kantung cintaku semakin terisi
Ketika setibanya aku di sana
Terbelai kasih budi pekerti

Kudapati cinta yang indah itu
Dari baiknya ratusan guru
Menyuapkanku berbagai ilmu
Menyapaku di jendela kalbu

Dan aku semakin kenyang
Mengunyah cinta yang teramat renyah
Dari berbagai bentuk kasih sayang
Yang hadir di rumah dan sekolah

Cinta itu berbentuk huruf
Kadang pula berupa angka
Yang kukenal melalui taaruf
Tentang berbagai isi dunia

Indah kugapai makin sempurna
Tatkala aku berhasil membaca,
menghitung dan mengenal warna,
Sungguh riang tak terkira

Pun ketika diperdengarkan suara
Atau saat diajarkan berbicara
Juga kala diperkenalkan norma
Sehingga akalku makin terbuka

Sungguh bahagia semasa itu
Mungkin beginilah cara Tuhanku
Mencintaiku semanis madu
Menyambung kasih-Nya yang tak semu


***


Bersambung:


Selasa, 03 Desember 2024

[Puisi] Kepada Muridku Tercinta

Kala hening menyapa kalbu
Seketika aku membeku
Terbayang sosok lugumu
Kesayanganku sepanjang waktu

Biarkan aku mengejanya
Indah namamu dalam tiap doa
Berharap Tuhan Allah Ta'ala
Memberi izin untuk tetap bersama

Dalam tiap perjuangan kita
Berharap teriring ridho dan keberkahan-Nya
Senantiasa kupanjatkan tiap masa
Supaya kita selalu bahagia

Untuk tiap bahagia yang diusahakan
Untuk tiap perjuangan yang dijalankan
Biarkan aku menikmati pertualangan
Bersamamu, menggali pengetahuan

Barangkali, aku ini tak seberapa
Tapi mimpiku luar biasa
Menginginkan kesuksesan yang nyata
Untuk dirimu sepanjang masa

Aku hanya makhluk tiada daya
Yang dititipkan amanat mulia
Mendidikmu menjadi manusia
Memberimu ilmu yang berguna

Sungguh, aku ingin melihatmu terbang
Menggapai bintangmu di tiap bidang
Tempat kau memperoleh cahaya gemilang
Saat kau damai dan merasa tenang

Biarkan aku melebarkan sayapmu
Menerbangkanmu tinggi di udara
Raihlah bintangmu tanpa ragu
Semoga kau bahagia bersamanya

Bila nanti kau telah bersinar
Sisihkan waktu saja sebentar
Doakan aku supaya tegar
Menghadapi cobaan tanpa gentar

Kutitipkan dirimu pada Tuhanku
Semoga terwujud cita-cita kita
Kau semakin cantik dengan takdirmu
Menjadi hamba Allah yang setia

***

[Puisi] Napas Agustus

Napas-napasku adalah hidupku Napas yang bertiup dari rahmat-Nya Napas yang diperjuangkan ayah dan ibu Napas yang diaminkan puluhan doa Mungk...