Fiksi sederhana yang terlahir dari coretan, curahan, dan harapan hidup seorang Run yang tak pernah ternilai.
Kamis, 05 Desember 2024
[Puisi] Bayang-bayang
Rabu, 04 Desember 2024
[Puisi] Langit November
Damai November pernah hadirDalam lembaran garis takdirRibuan memori telah terukirDalam tenteram tiada khawatir
Warna yang indah pernah tercorakMenghias hari penuh semarakMenyisakan memori berjejakUntuk dikenang esok kelak
Dipayungi langit yang basahAntara mendung dan suramDi bawah hujan yang tercurahMenjaring cahaya mengurai kelam
Ada risau yang tersiratDi balik cemas yang tersembunyiDi antara riuh yang menjeratAda jiwa yang ingin kembali
Dalam ruang kebimbanganHarapan yang kian tersudut itu——mengais kasih yang berdatanganMenginginkan berakhirnya pilu
Sepanjang November yang lembapSekian jiwa berkelana ingin pulangMeskipun jalan semakin gelapMeskipun sulit mencari terang
Bersama tetes hujan gerimisMelebur dengan tetes tangisAsa yang penuh semakin terkikisMemandang diri dengan tatapan miris
Apakah kekangan batin itu nyata?Adakah singgasana yang tepat untuk jiwa?Bilakah gundah pergi dan sirna?Ataukah hanya perlu menunggu masa?
Ah, lagi-lagi rasanya semakin berlebihanKetika tak ada jawab dari sebuah harapKala cemooh menghakimi keinginanSaat optimisme mulai lenyap
Apa yang sebenarnya terlalui?Bertahan dalam tekanan alam mimpi –– ataukah memperjuangkan hak asasi?Bolehkah jawaban ini dinanti?
Bila benar bahwa ini hanya mimpi Biarkan hidung ini masih bisa membaui –– aroma hujan yang jatuh ke bumiHujan November tahun ini
Walaupun langit hanya diamBersama hujan dan angin malamBiarkan terkenang dalam bungkamBerkas kenangan November silam
***
[Puisi] Lukacita
Satu, dua, dan tiga
Lukaku belum sampai lima
Beraneka bentuk dan warna
Ada biru, ada merah membara
Dua, tiga, dan empat
Lukaku bertambah cepat
Kini semakin rapat
Melebarnya semakin pesat
Tiga, empat, dan lima
Lukaku punya cerita berbeda
Satu sembuh, di sisi lain mendera
Satu meradang, di sudut lain mereda
Lalu aku menjadi terbiasa
Luka di raga seakan wajar adanya
Walau penuh perih yang terasa
Panas, pedih, dan sakit menjera
Tetapi bagiku tak apa
Berulang kali kau mengungkapkannya–
–bahwa ini perlambang cinta–
–yang kau hadirkan untukku semata
Apalah arti semua derita
Bila kita masih bersama
Apalah arti tangis dan luka
Bila kau tetap di depan mata
Bahkan bila kau menginginkannya–
–biarkan kupersiapkan segalanya
Entah sekedar tangan dan kaki–
–atau mainan dari berbagai negeri
Walau kau seakan muak
Pada seluruh cintaku yang telak
Yakinilah aku tak akan pergi
Meski seisi bumi mencaci
Gelak-isakmu adalah nyanyianku
Dengungkanlah lagumu di telinga
Sapa inderaku dengan inderamu
Tetaplah denganku selamanya
***
[Seri Puisi] Hikayat Cinta #3
[Puisi Sesat] Sambat Sesaat
Sumpah, gue pengen ngopi lagi
Walau semalam abis seteko
Buat temenin semangkok bakso
Begadang mulu tiap hari
Nyelesain target sana-sini
Supaya rekening keisi uang
Istirahatnya waktu ketiduran doang
Padahal aslinya secapek itu
Capek segede Gunung Merbabu
Kalo berhenti takut ketinggalan
Soalnya udah di pertengahan jalan
Sebenarnya gue gak banyak harapan
Tapi perasaan susah amat digapai
Hal kecil kayak cuma angan-angan
Tiap hari berkawan badai
Emang gini ya jalannya?
Atau gue aja yang lebai?
Dikit-dikit nangis bombai
Tiap ngerasa gak ada guna
Gue udah berusaha kok
Tapi jalannya makin berkelok
Segala opsi udah dicoba
Kok nihil terus hasilnya
Di mana ya ini salahnya?
Kapan ya gagalnya sirna?
Bukannya gue gak bersyukur
Tapi dah seringkali gue tersungkur
Maaf ya kali ini rada ngelantur
Kayak gak pernah diajarin bertutur
Walaupun gue berasa hampir hancur
Gue yakin baik-buruknya udah diatur
[Seri Puisi] Hikayat Cinta #2
Sebelumnya:
Benih Kasihku Bertumbuh
Usia dini yang menyenangkan
Penuh warna dan harapan
Menjemput berbagai keajaiban
Merajut memori, merangkai kenangan
Masa emas yang tak terlupakan
Menikmati perjalanan awal kehidupan
Menyusuri proses pertumbuhan
Menjajaki langkah perkembangan
Berat tubuh yang selalu optimal
Fungsi organ yang cukup ideal
Semuanya berkat rezeki halal
Yang berdasar cinta sejak awal
Keindahan yang tak ternilai
Dari harapan-harapan yang tercapai
Pada tiap tahap perjalanan—
—menjajaki berbagai pengalaman
Namun pada suatu ketika
Ibuku bertutur dengan sabarnya
Hidupku masih belum lengkap,
bila belum ada ilmu yang terserap
Kutanyakan perihal itu
Sesuatu yang asing bagiku
Adakah yang harus kujalani—
—tuk sempurnakan kehidupan ini?
Dan beliau mengantarkanku
Pada gerbang dunia yang baru
Bertemu dengan berbagai malaikat—
—rayuan cintanya buatku terpikat
Para gurukulah malaikat itu
Yang menjelma dalam wujud manusia
Mengenalkan berbagai hal seru
Hidupku pun semakin berwarna
Hingga pada suatu masa
Kantung cintaku semakin terisi
Ketika setibanya aku di sana
Terbelai kasih budi pekerti
Kudapati cinta yang indah itu
Dari baiknya ratusan guru
Menyuapkanku berbagai ilmu
Menyapaku di jendela kalbu
Dan aku semakin kenyang
Mengunyah cinta yang teramat renyah
Dari berbagai bentuk kasih sayang
Yang hadir di rumah dan sekolah
Cinta itu berbentuk huruf
Kadang pula berupa angka
Yang kukenal melalui taaruf
Tentang berbagai isi dunia
Indah kugapai makin sempurna
Tatkala aku berhasil membaca,
menghitung dan mengenal warna,
Sungguh riang tak terkira
Pun ketika diperdengarkan suara
Atau saat diajarkan berbicara
Juga kala diperkenalkan norma
Sehingga akalku makin terbuka
Sungguh bahagia semasa itu
Mungkin beginilah cara Tuhanku
Mencintaiku semanis madu
Menyambung kasih-Nya yang tak semu
***
Selasa, 03 Desember 2024
[Puisi] Kepada Muridku Tercinta
Seketika aku membeku
Terbayang sosok lugumu
Kesayanganku sepanjang waktu
Biarkan aku mengejanya
Indah namamu dalam tiap doa
Berharap Tuhan Allah Ta'ala
Memberi izin untuk tetap bersama
Dalam tiap perjuangan kita
Berharap teriring ridho dan keberkahan-Nya
Senantiasa kupanjatkan tiap masa
Supaya kita selalu bahagia
Untuk tiap bahagia yang diusahakan
Untuk tiap perjuangan yang dijalankan
Biarkan aku menikmati pertualangan
Bersamamu, menggali pengetahuan
Barangkali, aku ini tak seberapa
Tapi mimpiku luar biasa
Menginginkan kesuksesan yang nyata
Untuk dirimu sepanjang masa
Aku hanya makhluk tiada daya
Yang dititipkan amanat mulia
Mendidikmu menjadi manusia
Memberimu ilmu yang berguna
Sungguh, aku ingin melihatmu terbang
Menggapai bintangmu di tiap bidang
Tempat kau memperoleh cahaya gemilang
Saat kau damai dan merasa tenang
Biarkan aku melebarkan sayapmu
Menerbangkanmu tinggi di udara
Raihlah bintangmu tanpa ragu
Semoga kau bahagia bersamanya
Bila nanti kau telah bersinar
Sisihkan waktu saja sebentar
Doakan aku supaya tegar
Menghadapi cobaan tanpa gentar
Kutitipkan dirimu pada Tuhanku
Semoga terwujud cita-cita kita
Kau semakin cantik dengan takdirmu
Menjadi hamba Allah yang setia
[Puisi] Napas Agustus
Napas-napasku adalah hidupku Napas yang bertiup dari rahmat-Nya Napas yang diperjuangkan ayah dan ibu Napas yang diaminkan puluhan doa Mungk...
-
Bilakah merugimu tiba? Adakah akibat suatu jumpa? Apakah saat mata bertemu mata? Mungkinkah kala hadirku di suatu masa? Adakah sesalmu kala ...
-
Desember yang basah Lalu langit mulai berkisah Tentang hasrat dan gairah Lewat tetes hujan yang tercurah Lalu Januari datang Berceri...
-
Satu Ah, ya, selamat tahun baru! Tak terasa setahun sudah berlalu Betapa cepat larinya waktu Sayangnya langit masih kelabu Dua Kini usia mak...