Dua
Haruskah? Dicta menatap adiknya ragu. Ringgo meliriknya sekilas. Ia tak berani mengganggu abangnya.
"Dik?"
Ringgo mengangkat kepalanya. Suapan terakhirnya tertunda. Ditatapnya Dicta dengan santun.
"Tolong jawab jujur, ya," suara Dicta melirih seketika.
"Iya, Mas," Ringgo mengangguk sopan.
"Apakah kamu merasakan ada perubahan yang terjadi pada Mama beberapa tahun terakhir ini?"
Ringgo mulai kehilangan kata. Pelan, ia menghembuskan napas, tak kentara.
"Saya paham maksud Mas Dicta," Ringgo menunduk. "Karena saya juga turut merasakannya. Kehilangan," kembali ditatapnya Dicta dengan mata yang sarat akan kerinduan, "akan setiap butir-butir cinta yang selalu Mama tanamkan pada kita."
"Sabar, ya, Dik," Dicta membalas tatapan Ringgo dengan wajah prihatin. "Ayo, habiskan makanmu dulu. Nanti antar aku ke bank. Kamu juga mau beli sesuatu di swalayan 'kan?," ucap Dicta sambil membereskan alat makannya.
Ringgo menautkan kedua alisnya sambil mengangguk. Mengirimkan sinyal bertanya. Dicta hanya tersenyum penuh arti.
* * *
"Mumpung belum jam sembilan, kita pergi ke bank dulu, Pak."
Guntur tak menjawab. Hanya melajukan sedan Ajeng ke arah barat begitu ada kesempatan untuk melakukan putar balik. Kali ini Ratri tidak ikut mereka. Karena harus mengurusi pekerjaan rumah dan kedua anak angkat majikannya.
Sebetulnya rumah Ajeng dan Lidya hanya berjarak belasan meter. Jadi Ajeng tak perlu terlalu pagi untuk pergi ke rumah Lidya. Hanya saja kali ini lain cerita. Ia sengaja pergi lebih pagi karena harus segera menyelesaikan urusan administrasi pembayaran tanah yang dibelinya dari seorang kaya untuk memperluas lahan ternak ayamnya.
Rupanya ia tak mau menomor tujuh belaskan urusan itu. Demi kepentingan bisnis dan mimpi di masa kecilnya. Karena dari pengusaha itulah ia mengetahui semuanya. Tentang teror misterius yang selalu menghantuinya hampir setiap hari. Serta serangkaian rahasia yang bersangkutan dibaliknya.
Bukannya Ajeng tak mau menindaklanjuti peneror misterius itu. Hanya saja ia tak mau bersikap gegabah. Karena perempuan muda itu tahu orang yang sesungguhnya ia hadapi.
Entah apa yang ia mimpikan semalam, peneror misterius itu kini muncul di hadapannya. Orang itu terlihat gugup ketika ia sadar bahwa Ajeng tengah memperhatikannya sejak tadi. Dengan tatapan yang menghujam hingga dalam matanya.
"Selamat pagi."
"Mbak... Ajeng...," Dicta tergagap seketika.
"Apa kabar Dicta?"
"Baik. Sangat baik."
Ajeng tersenyum jahil. "Sebaik itukah?"
Perempuan ini... Mata Dicta menyipit. Sepertinya ia telah mengetahui apa yang sedang terjadi di balik rencananya.
"Nomor empat belas," seorang teller menyebutkan nomor antrian berikutnya.
"Maaf, Mbak," Dicta mengeluarkan sebuah cek dari sakunya. "Giliran saya sudah tiba. Permisi."
Dicta segera beringsut dari hadapannya. Ajeng tersenyum penuh kemenangan. Dan ia semakin percaya bahwa kemenangan memang berpihak kepadanya ketika secara tak sengaja Ajeng juga menjumpai penguntitnya di dalam bank itu.
Wajah penguntit itu tampak pucat pasi. Namun Ajeng tak berbuat banyak. Senyumnya makin melebar dan orang itu semakin tampak ketakutan.
"Ringgo? Apa kabar?"
"Baik," Ringgo berusaha bersikap tenang.
Aduh! Kenapa aku jadi ketakutan begini?
"Oh...," Ajeng menajamkan tatapannya. "Sepertinya keadaanmu terlalu baik."
Jantung Ringgo berdebar kencang.
"Bagaimana kabar Ibu Kemuning?" Ajeng mengalihkan pembicaraan.
Mama? Ringgo tercenung lama.
Seolah tahu dengan apa yang ada di pikiran pemuda itu, tiba- tiba Ajeng menyeletuk begitu saja. Membuat Ringgo tertohok mendengarnya. Hingga akhirnya ia terpaksa menyerah lalu mundur dari lingkaran perangkap yang dibuat Ajeng.
"Tidak ada yang lebih jujur daripada hati nurani kita sendiri," desis Ajeng. Percayalah. Coba kau pikirkan lagi."
Ajeng kemudian melenggang pergi untuk menyelesaikan urusannya di meja teller saat gilirannya sudah tiba. Meninggalkan Ringgo yang tetap membeku di tempatnya berdiri. Hingga Dicta menyadarkan dan membawanya pulang.
* * *
Ringgo hampir terjengkang ketika dahinya tak sengaja terbentur pintu saat ia hendak masuk kamar sambil membuntuti Dicta. Terlambat, abangnya terlanjur membanting pintu kamarnya. Pelan, ia meringis kesakitan.
Dibukanya kembali pintu itu. Ringgo mendapati Dicta tengah telentang santai di atas ranjang. Kaki jenjangnya menjulur ke bawah hingga adiknya tak sengaja menendang ujung jari kakinya saat melangkah masuk.
Dicta hanya tersentak kaget lalu menggeser kakinya. Ringgo kemudian duduk dengan santai di samping tubuhnya.
"Aku malu tadi, Dik," Dicta menggerutu kesal.
"Apalagi aku Mas...," Ringgo ikut membaringkan tubuhnya. "Aku gelagapan tadi. Malah segala pura-pura nanya kabar Mama. Bikin aku makin gak keruan aja."
Dicta terkejut. Ia kemudian bangkit dan duduk tegak. Diikuti oleh Ringgo pada detik berikutnya.
"Kamu juga?" Dicta terbelalak.
Ringgo mengangguk. "Aku tadi sempat lihat Mas tampak gugup saat bicara dengannya kira semenit sebelum dapat giliran antrian."
"Sepertinya perempuan itu tahu sesuatu. Bahkan perasaanku bilang, ia jauh lebih cerdik daripada kita," mata Dicta seolah menerawang jauh.
"Dan itu alasannya kenapa Mas Dicta menghentikan komando untukku dan mengakhiri perang dingin dengannya?"
Dicta mengalihkan tatapannya pada Ringgo.
"Kita sudah kalah telak, Ringgo," jawab Dicta, sabar.
"Padahal kita baru saja melancarkan serangan tahap awal," sergah Ringgo, memaksa.
"Aku tidak mungkin bisa mengembalikan serangan perempuan itu. Situasi tidak memungkinkan. Kita tidak punya persiapan yang cukup untuk memutar balikkan keadaan. Karena aku tahu siapa yang sesungguhnya kita hadapi."
"Lalu uang itu?" Ringgo melirik amplop tebal di genggaman Dicta.
"Nanti malam kita akan ke Semarang."
"Jenguk Mama?"
* * *
"Keren lho, Mbak," Guntur terbahak usai Ajeng menceritakan kronologi unik pertemuannya dengan Dicta dan Ringgo.
"Skak mat kuadrat! Jenius!" seru Ecilia sambil memegangi perutnya yang hampir terguncang karena tawanya.
"Kejutan!" Lidya hampir menjerit. "Lalu?"
"Menurut kabar yang kudapat dari bawahannya Ibu Marina, nanti malam mereka mau out sejenak dari Jakarta," tutur Ajeng santai.
"Kemana?" tanya Lidya penasaran.
"Pulkam, Bu. Setor uang buat bayar utang Bu Kemuning pada Tante Marina."
"Tante?" dahi Lidya mengernyit. Seperti mendengar sesuatu yang asing di telinganya.
"Iya, Bu Marina itu tanteku. Hanya saja aku bukan keponakan kandungnya. Beliau hanya adik ipar Pakdhe Seno," jawab Ajeng santai.
"Mas Seno abang iparnya almarhumah Mbak Galuh, kan?" tanya Lidya nada penasaran.
Ajeng mengangguk. Lidya dan Ecilia saling menatap. Lekat. Lama.
* * *
Bersambung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar