“Nak, sebentar
lagi giliranmu, ya,” pinta Amai dengan halus.
“Lima
pemberhentian lagi, ya, Amai,” sahutku agak acuh.
“Itu terlalu
jauh. Jangan mengulur waktu!”
“Bagaimana bila
empat pemberhentian lagi?”
“Antrean sudah
sangat penuh pada tempat itu.”
“Satu
pemberhentian sebelum itu?”
“Lebih cepat
lebih baik, Nak.”
“Sesungguhnya
aku belum siap dan ...”
“Semuanya telah
dipersiapkan untukmu. Ikuti saja alurnya.”
“Apakah Amai
juga sudah siap kehilanganku?”
“Tidak perlu
kau pikirkan itu. Jemput takdirmu sesegera mungkin.”
“Baiklah,”
anggukku. “Dua pemberhentian setelah ini aku siap.”
Amai menghela
napas panjang dan menyandarkan kepalanya pada sudut kursi. Suasana hening
seketika. Kereta yang kutumpangi masih melaju gesit membawaku bersama Amai
Sandhya dan anak-anak lain bersama Amai-nya. Kulirik wajah ayu Amai yang tampak
begitu suci dan tulus. Terdiam dalam pikirannya sendiri.
“Amai?”
“Ya, Nak?”
“Apakah kita
akan bertemu lagi?”
Ia akan
mengangkat bahunya sesaat sambil tersenyum.
“Tidak pernah
ada yang tahu kecuali Tuhan,” ia menatapku dalam. “Bahkan bila aku akan menjadi
manusia sepertimu, belum tentu kita akan saling mengenal lagi seperti ini.”
“Setidaknya,
mungkinkah kita akan bertemu di lain waktu?”
“Ya ...,” ia
agak menunduk. “Kuharap begitu tetapi apapun yang terjadi memang itulah yang
terbaik.”
“Penumpang
kereta yang berbahagia, kita akan tiba di pemberhentian kelima. Bersiaplah
untuk perjalanan berikutnya.”
Pengumuman yang
dikumandangkan di antara dengung dua sirine itu mengejutkanku secara tiba-tiba.
Mendadak Amai memelukku erat. Ditenggelamkannya tubuhku dalam dekapnya yang
lembut. Embusan napasnya terdengar jelas berbisik di telingaku.
“Hati-hati, ya,
Nak,” ucapnya lirih.
Aku hanya
mengangguk dan terdiam. Pintu kereta sudah terbuka lebar di depan mata. Kami
pun berdiri dan bergegas menuju gerbang pemberhentian kelima. Dalam langkah
yang sama, kami melewati setiap inci lantai lembap daalam ruang yang sempit.
Ketika aku berhasil melewati gerbang itu, Amai melebur menjadi makhluk serupa
kumpulan serangga bersayap begitu saja. Hampir aku ingin meraihnya namun
wujudku terlanjur menjelma menjadi sesosok yang lain. Tangisku pun pecah hingga
mengganggu pendengaranku sendiri.
Tak lagi sisa
suara kereta menyapa telingaku. Berganti gumaman yang tak pernah kudengar
sebelumnya. Sesuatu yang hangat tiba-tiba menyentuhku. Sebuah dekapan lembut
penuh ketulusan. Terasa asing namun menenangkan. Selepas itu, aku terlelap dan
tak ingat apa-apa lagi.
***
Tertenung
benang demi benang
Terajut elok
nan elogan
Masa yang
lampau telah hilang
Tergerus waktu
yang berjalan
Ukiran kayu
terpahat rapi
Membingkai
cantiknya kursi jati
Takdir manusia
tak terprediksi
Penuh kejutan
beribu misteri
***
Amai Sandhya
Aku hanyalah sebentuk
makhluk
Tercipta fana
untuk mengabdi
Karya Sang
Agung pemberi bentuk
Yang Maha Adil
lagi Mengasihi
Dalam rupaku
yang tak sempurna
Hidupku
terbatas dalam sebuah dimensi
Yang tak
tertafsir oleh rangkaian kata
Apakah diriku
hanya ilusi?
Waktuku akan
segera usai
Pengabdianku
akan selesai
Aku ‘kan
melebur dan terurai
Terupa bagaikan
anai-anai
Pada Cintaku
yang fatamorgana
Sesosok makhluk
calon manusia
Teman hidupku
pelipur lara
Bersiaplah
hadir untuk dunia
Pun demikian
dengan Cintaku
Ia akan segera
berlayar
Berjumpa dengan
kehidupan baru
Kehidupan dunia
yang hingar-bingar
***
Aku
Perjalanan
baruku akan tiba
Keretaku akan
berhenti pada waktunya
Menjemput
takdir yang jelas dan nyata
Terlahir
sebagai seorang manusia
Pun sama pada
Amai tercinta
Amai Sandhya,
indah namanya
Sesosok serupa
wanita muda
Teman hidupku
di dalam kereta
Tak akan pernah
ada lagi
Kisah singkatku
bersama Amai
Hanya akan
tersisa memori
Dari waktu yang
telah usai
Perhentian demi
perhentian terlalui
Hingga tiba
pada giliranku
Jantungku
berdebar tak terperi
Menyambut pertualangan
baru
Dan masa itu
datang juga
Amai melebur
bersama waktu
Aku menjelma
menjadi manusia
Kami tak lagi
pernah bertemu
***
Amai Sandhya
Akankah kisahku
benar-benar berakhir?
Akankah ada
periode berikutnya?
Entah mengapa
aku seolah pungkir
Terhadap takdir
yang telah nyata
Bolehkah aku
berharap?
Menjadi Amai
untuk berikutnya?
Namun apakah
aku siap–
–ketika doaku
menjadi nyata?
Entahlah
bagaimana selanjutnya
Setidaknya aku
cukup bahagia
Cintaku
berhasil lahir ke dunia
Siap menjadi
seorang manusia
***