Sabtu, 30 November 2024

[Seri Puisi] Hikayat Cinta #1

Bibit Jiwaku Tertanam

Secercah harapan terwaris
Dari hati yang saling mencintai
Dalam janji kalimat berbaris
Ikrar bersama sehidup-semati

Pada ikatan sumpah yang suci
Dan jiwa-jiwa yang lahir berikutnya
Cinta-kasih itu senantiasa terberi
Tak berkurang sepanjang masa

Jalan hidup yang bervariasi
Preferensi yang warna-warni 
Berakar dari sebuah janji
Berupaya mengasihi setiap hati

Kasih sayang yang lestari—
—yang ditanamkan dan diwarisi
Terhingga pada cicit-cicitnya kini
Saling berbagi hari dan hati

Dan sepasang kekasih itu asyik mencintai
Mengasihi jiwa dan menyayangi jasmani—
—bayi yang terlahir di tengah Januari,
yang diwarisi kasih sayang yang suci

Lalu aku semakin mengenal cinta
Yang terlukiskan dari perlakuannya
Mengasihi sosokku tanpa ragu
Membesarkan jiwa dan hatiku

Dan pada hari-hari lainnya,
saat dekapannya menghangatkanku,
saat bisiknya, "kami menyayangimu"
Kuyakini cinta memang benar adanya

Pun ketika senyumnya tenangkan jiwa,
iringi minggu-minggu awal hidupku
Pecahkan berkas cemas di dada
Saat kupikir tak ada yang indah di dunia

Juga kala suapan nafkahnya pada tubuhku
Menjelma jadi raga yang mendewasa
Dan ucap syukurnya setiap waktu
Pada tumbuh kembangku yang menua

Bahkan setelah ribuan purnama
Cintanya padaku tak pernah pudar
Meski hitam-putihku semakin nyata
Walau gurat gelisahku semakin terkuar

Hanyakah dari sosok mereka saja,
kutemui cinta yang warnai dunia?
Atau Tuhanku menitipkannya juga,
pada jiwa lain di ujung sana?

Benarlah bahwa cinta itu memang ada
Karunia dari Allah Yang Maha Mulia
Yang amat mengasihi hamba-Nya
Juga menyayangi beberapa di antaranya

Meski terulur lewat warisan manusia
Yang mengajarkan konsep cinta
Atau melalui kebaikan kepada sesama
Tetap hanya Allah yang memilikinya

Detik demi detik yang kumiliki
Kuwarisi cinta dan kasih mereka
Yang kupahami dari tutur katanya
Bahwa tiap manusia wajib mengasihi

Akankah nanti kuwariskan lagi,
sebongkah cinta dari orangtuaku,
pada buah hatiku di esok hari?
atau hanya pada sesama makhluk Rabb-ku?

Entah apa yang terjadi nanti
Semoga apapun takdir yang kujalani
Warisan ini tetap dapat lestari
Semampuku mengasihi dan mencintai

***

Berikutnya:

Rabu, 20 November 2024

[Cermin] Catatan Awal Kehidupan

Aku berusaha mengerjap beberapa kali ketika berbagai suara menghantam telingaku. Sekeliling pandanganku mengabur. Seolah tampak tak ada batas yang jelas dan nyata di antara berbagai objek. Mataku terasa lengket dan... Aku benar- benar mengantuk!

Ah, padahal seperti baru kemarin upacara perpisahanku diselenggarakan. Aku pun masih ingat bagaimana kami pada akhirnya dijemput oleh... Eh, bagaimana mungkin aku bisa lupa siapa yang mengantarku ke tempat asing ini dan bagaimana prosesnya? Tunggu dulu, mengapa tubuhku menjadi lengket dan basah seperti ini? Sungguh, aku merasa tidak nyaman!

Tidak ada lagi teman-teman lamaku di sini, sepertinya. Aroma yang menguar cukup memberiku petunjuk bahwa aku benar-benar berada di dunia baru. Aku benar-benar menjadi seorang imigran yang baru saja tiba. Tetapi, tunggu dulu. Aku mendengar suara yang serupa denganku ketika sepasang tangan besar meletakkanku di sebuah ranjang kecil. Rupanya banyak 'tamu' yang juga baru datang. Apakah mereka juga mengalami peristiwa yang sama sepertiku?

Segala hal yang asing dan baru bagiku ini, akankah memberikanku sedikit saja ruang untuk memperoleh kenyamanan? Sekuat tenaga aku mencoba memahami dan menerima hal yang sedang terjadi padaku namun tetap saja lagi dan lagi yang meluncur dari lisanku hanyalah sebuah tangisan nyaring. Sungguh, aku mendadak menjadi tidak suka dengan suaraku sendiri.

Bukannya aku tidak berusaha lari dan mencari jalan keluar, tanpa kuketahui asal-mulanya ternyata tubuhku terasa lemas tak berdaya sementara posisiku berada dalam dekapan sepasang tangan raksasa. Lepaskan! Biarkan aku bergerak bebas!

Berbagai obrolan singkat, tawa kecil, dengung-dengung yang kadang melirih dan meninggi... Ah, aku tidak mampu memahami suara-suara itu. Bahkan aku sendiri tak dapat berkomunikasi dengan 'tamu-tamu' itu meskipun (mungkin) kami telah mengalami peristiwa yang sama. Namun selang sekian menit kemudian sepasang tangan raksasa itu membawaku ke sepasang tangan raksasa lain

Lalu aku menjadi sering berpindah dari satu tangan ke tangan lain dengan iringan ucapan syukur. Rupanya kehadiranku sangat dinantikan di sini, begitulah pikirku. Tepat dengan berdentingnya sebuah alarm dan suara yang menggema di dalam hatiku. Ya, benar. Pertualanganku baru saja dimulai.

Selasa, 19 November 2024

[Puisi] Penyesalan

Malamku yang sepi, kala itu
Berbalut sunyi yang melingkupi
Aku termangu dalam dekapan waktu
Hari seakan kosong, namun terus berlari

Hampir tak terbayang bagaimana berikutnya
aku di malam itu melalui waktu
Tiba di titik masa yang tak terduga
Aku tersentak menyambut hasratku

Manusia dapat memilih keputusannya
Namun tak akan mampu mengubah hari lalu
Malam itu tak akan lagi seperti semula
Hanya sebatas kenangan dalam rindu

Bila kembali waktuku bersamanya
Aku ingin kami bersua
Memastikan ia menerima maafku
Atas khilafku yang tercela

Memastikan ia berhasil menjalankan hidupnya
dengan suka cita sebagai manusia
Ia yang jauh entah di mana
Semoga bahagia dalam berbagai lintas masa

[Puisi] Dilema

Membuka hari, beraktivitas lagi
Terpekak bunyi orasi basi
Merasa sesak di antara ilusi
Berimajinasi tak lagi mengobati


Terpasung dalam keraguan
Memberontak dalam angan-angan
Berkreasi sebagai pengelabuan
Ada gelisah yang tak terbantahkan


Harapan yang mulai menguap
Tergoyahkan dalam senyap
Membisu dalam rasa pengap
Perlahan hilang dan beranjak lenyap


Luka lama kembali terkuak
Kekurangan diri mulai tersibak
Visi misi menjadi terserak
Buah catatan lampau yang terjejak


Mengaduh tergerus badai
Seakan tak ada damai
Seolah tak pernah selesai
Terjebak pelik akibat lalai


Puing-puing aib telah tertinggal
–di belakang,  jauh terpental
Tertoleh ketika tersangkal
Saat mencoba menyalahkan aral


Ketika berbalik ke arah depan
Ada yang menatap penuh harapan
–mimpi lama yang terlupakan
Memohon minta diperjuangkan


Tak ada jalan untuk keluar
Tak ada takdir yang menyasar
Seketika benak mulai tersadar
Lampu hijau kembali berpendar


Pada akhirnya tak ada pilihan
Segala alarm berdering bersahutan
Membangunkan satu kesadaran
Pelarangan untuk tinggalkan jalan


Dan, akhirnya kembali lagi
Pada pilihan yang telah terpatri
Pada ikrar dalam sebuah janji
Meski terkadang terulang kembali




Badai yang membabi buta
Akhirnya terkalahkan keyakinan nyata
Ataukah ini jebakan semata
–tentang permainan sebuah rasa?


Ah, biarlah saja
Semoga tak asalah mengolah asa
Setidaknya ada pelajaran bermakna
Dari lika-liku yang penuh warna


[Cerpen] Perjalanan

“Nak, sebentar lagi giliranmu, ya,” pinta Amai dengan halus.

“Lima pemberhentian lagi, ya, Amai,” sahutku agak acuh.

“Itu terlalu jauh. Jangan mengulur waktu!”

“Bagaimana bila empat pemberhentian lagi?”

“Antrean sudah sangat penuh pada tempat itu.”

“Satu pemberhentian sebelum itu?”

“Lebih cepat lebih baik, Nak.”

“Sesungguhnya aku belum siap dan ...”

“Semuanya telah dipersiapkan untukmu. Ikuti saja alurnya.”

“Apakah Amai juga sudah siap kehilanganku?”

“Tidak perlu kau pikirkan itu. Jemput takdirmu sesegera mungkin.”

“Baiklah,” anggukku. “Dua pemberhentian setelah ini aku siap.”

Amai menghela napas panjang dan menyandarkan kepalanya pada sudut kursi. Suasana hening seketika. Kereta yang kutumpangi masih melaju gesit membawaku bersama Amai Sandhya dan anak-anak lain bersama Amai-nya. Kulirik wajah ayu Amai yang tampak begitu suci dan tulus. Terdiam dalam pikirannya sendiri.

“Amai?”

“Ya, Nak?”

“Apakah kita akan bertemu lagi?”

Ia akan mengangkat bahunya sesaat sambil tersenyum.

“Tidak pernah ada yang tahu kecuali Tuhan,” ia menatapku dalam. “Bahkan bila aku akan menjadi manusia sepertimu, belum tentu kita akan saling mengenal lagi seperti ini.”

“Setidaknya, mungkinkah kita akan bertemu di lain waktu?”

“Ya ...,” ia agak menunduk. “Kuharap begitu tetapi apapun yang terjadi memang itulah yang terbaik.”

“Penumpang kereta yang berbahagia, kita akan tiba di pemberhentian kelima. Bersiaplah untuk perjalanan berikutnya.”

Pengumuman yang dikumandangkan di antara dengung dua sirine itu mengejutkanku secara tiba-tiba. Mendadak Amai memelukku erat. Ditenggelamkannya tubuhku dalam dekapnya yang lembut. Embusan napasnya terdengar jelas berbisik di telingaku.

“Hati-hati, ya, Nak,” ucapnya lirih.

Aku hanya mengangguk dan terdiam. Pintu kereta sudah terbuka lebar di depan mata. Kami pun berdiri dan bergegas menuju gerbang pemberhentian kelima. Dalam langkah yang sama, kami melewati setiap inci lantai lembap daalam ruang yang sempit. Ketika aku berhasil melewati gerbang itu, Amai melebur menjadi makhluk serupa kumpulan serangga bersayap begitu saja. Hampir aku ingin meraihnya namun wujudku terlanjur menjelma menjadi sesosok yang lain. Tangisku pun pecah hingga mengganggu pendengaranku sendiri.

Tak lagi sisa suara kereta menyapa telingaku. Berganti gumaman yang tak pernah kudengar sebelumnya. Sesuatu yang hangat tiba-tiba menyentuhku. Sebuah dekapan lembut penuh ketulusan. Terasa asing namun menenangkan. Selepas itu, aku terlelap dan tak ingat apa-apa lagi.


 ***


Tertenung benang demi benang

Terajut elok nan elogan

Masa yang lampau telah hilang

Tergerus waktu yang berjalan

 

Ukiran kayu terpahat rapi

Membingkai cantiknya kursi jati

Takdir manusia tak terprediksi

Penuh kejutan beribu misteri


***


Amai Sandhya

Aku hanyalah sebentuk makhluk

Tercipta fana untuk mengabdi

Karya Sang Agung pemberi bentuk

Yang Maha Adil lagi Mengasihi

 

Dalam rupaku yang tak sempurna

Hidupku terbatas dalam sebuah dimensi

Yang tak tertafsir oleh rangkaian kata

Apakah diriku hanya ilusi?

 

Waktuku akan segera usai

Pengabdianku akan selesai

Aku ‘kan melebur dan terurai

Terupa bagaikan anai-anai

 

Pada Cintaku yang fatamorgana

Sesosok makhluk calon manusia

Teman hidupku pelipur lara

Bersiaplah hadir untuk dunia

 

Pun demikian dengan Cintaku

Ia akan segera berlayar

Berjumpa dengan kehidupan baru

Kehidupan dunia yang hingar-bingar


***


Aku

Perjalanan baruku akan tiba

Keretaku akan berhenti pada waktunya

Menjemput takdir yang jelas dan nyata

Terlahir sebagai seorang manusia

 

Pun sama pada Amai tercinta

Amai Sandhya, indah namanya

Sesosok serupa wanita muda

Teman hidupku di dalam kereta

 

Tak akan pernah ada lagi

Kisah singkatku bersama Amai

Hanya akan tersisa memori

Dari waktu yang telah usai

 

Perhentian demi perhentian terlalui

Hingga tiba pada giliranku

Jantungku berdebar tak terperi

Menyambut pertualangan baru

 

Dan masa itu datang juga

Amai melebur bersama waktu

Aku menjelma menjadi manusia

Kami tak lagi pernah bertemu


***

 

Amai Sandhya

Akankah kisahku benar-benar berakhir?

Akankah ada periode berikutnya?

Entah mengapa aku seolah pungkir

Terhadap takdir yang telah nyata

 

Bolehkah aku berharap?

Menjadi Amai untuk berikutnya?

Namun apakah aku siap–

–ketika doaku menjadi nyata?

 

Entahlah bagaimana selanjutnya

Setidaknya aku cukup bahagia

Cintaku berhasil lahir ke dunia

Siap menjadi seorang manusia

 

 ***

 

 

 

[Puisi] Napas Agustus

Napas-napasku adalah hidupku Napas yang bertiup dari rahmat-Nya Napas yang diperjuangkan ayah dan ibu Napas yang diaminkan puluhan doa Mungk...