Rabu, 28 Juni 2017

[Cerbung] Adoptee #11






 Sebelas





Wulan baru saja berlalu membawa piring dan gelas kotor ketika Ajeng menarik napas dalam-dalam sebelum membuka suara. Perempuan itu tampaknya butuh ketenangan ekstra hanya untuk meladeni tamu-tamunya.
“Jadi benar kalau Pak Aldo dan...,” ia mengarahkan wajahnya pada Jordi, “maaf nama bapak...”
‘Bapak’? Jordi tertohok. “Jordi,” lanjutnya.
Keduanya terlihat sangat canggung. Bukan canggung yang normal karena belum lama kenal. Bahkan mungkin ‘senormalnya’ pun tak ada rasa untuk ‘menghargai’ bila ‘korban’ Jordi bukan Ajeng dan debar seliar hutan rimba tak ada dalam hati mereka ketika tatapan keduanya saling bertemu. Ketiga orang tua di hadapan mereka sangat cermat menangkap kejanggalan itu.
“...mirip?” celetuk Panji.
Jangan-jangan dia adiknya Pak Aldo.
“Dia abang saya, Mbak.”
Ya ampun! Kepribadian mereka sangat kontras! Bagaimana bisa?
“Kalau kata orang, Aldo dan Jordi itu seperti bumi dan langit, Mbak. Beda jauh. Aldo berpikiran dewasa dan Jordi masih kayak... gitu deh,” tutur Yolanda sambil tertawa.
“Apaan sih, Ma?” protes Jordi sambil menendang kaki kanan Yolanda di bawah meja.
“Kami sebagai orang tua sangat malu atas perbuatan tak menyenangkan Jordi pada Mbak Ajeng tempo hari,” ucap Irawan dengan nada serius. “Mbak mau memaafkannyakah?”
Aku yakin mereka bukan orang tua sembarangan. Ajeng setengah mendongak. Tapi putranya? “Sudah saya maafkan,” angguknya.
“Kamu juga minta maaf, dong, Di,” tukas Yolanda melirik ke arah putranya.
“Iya,” Jordi lalu menatap utuh wajah Ajeng setelah menyahut pada mamanya, “saya minta maaf, Mbak. Saya mengaku salah. Kurang ajar dan mempermainkan Mbak Ajeng. Saya janji nggak akan mengulanginya lag pada Mbak maupun orang lain.”
“Iya, saya maafkan,” Ajeng berusaha tersenyum ‘normal’.
“Nah, gitu kan gampang. Cuma minta maaf aja apa susahnya, sih?”
Semudah itu? Tapi jantungku ini? Diam-diam Jordi menghela napas.
“Jeng, lain kali kalau kita mau mampir lagi boleh nggak?” Panji menyela kekosongan dengan nada jahil.
“Boleh. Tapi di rumah saya aja. Di sini kurang nyaman. Bau ayam,” perempuan itu terkekeh kecil.
“Ya sudah, kami pulang dulu, Mbak. Kalau terlalu lama di sini takut mengganggu,” pamit Yolanda tiba-tiba.
Mengganggu... hatikukah?
“Oh, ya,mari saya antar.”
* * *
Dia itu tolol akut atau apa, sih?!
Kemuning mendengus keras. Tak ada jawaban dari nomor yang dihubunginya. Dilemparnya ponsel di tangan kiri ke atas ranjang. Sesungguhnya ia mulai sadar bahwa kedua robotnya itu sudah enggan didiktenya. Dan mulai mencari ‘kemerdekaannya’ sendiri dengan memberontak padanya dengan menuturkan kalimat yang tidak pantas diucapkan. Keterlambatannya menyadari apa yang sebenarnya terjadi itu cukup membuatnya menyesal. Walaupun begitu, sebetulnya ia masih memiliki robot yang lain. Yang sejak lama tak ‘dipakai’-nya. Karena kekeliruannya di masa lalu.
Seharusnya ia sudah berhasil merugikan perempuan sialan itu. Tapi... benarkah ia tak secerdik Dicta dan Ringgo?                                                                                 
Perempuan itu lalu mencoba untuk menguak kembali ingatannya tentang bocah kecil yang pernah diasuhnya. Yang pernah ia dengar dari salah satu mantan ART yang pernah bekerja pada keluarga mantan majikannya itu.

“Dia sih ndak ada apa-apanya, Yu Ning,” ujar Satni dengan nada mencibir. “Pekerjaannya memang lumayan. Otaknya jempol. Gantengnya di atas standar. Ditaksir banyak gadis yang ayu, lho! Tapi entahlah, saya nggak mengerti, mungkin karena statusnya bungsu, kelakuannya masih kayak bocah!”
“Kamu naksir juga?”
“Awalnya iya. Tapi lama-lama saya nggak suka dengan kelakuannya walau kata dia cuma bercanda. Akhirnya saya mundur. Makin hari dia makin kayak bocah. Lagipula saya juga sudah dijodohkan.”
“Kalau Aldo?”
“Biasa aja. Saya nggak tertarik.”
Seganteng itu dibilang biasa aja? Dasar pembantu sombong! Kemuning hanya manggut-manggut.
“Kalau dibandingkan dengan putra saya?”
Perempuan muda itu terbahak. “Jauh bangetlah. Kalau saya belum nikah, mungkin saya naksirnya sama putranya Yu Ning.”
Kemuning kemudian menelepon kembali seseorang di luar sana.
* * *
Praha menghela napas usai membaca halaman terakhir diary milik Puri di tangannya. Yang ditemukannya ketika terakhir kali mengunjungi tempat tinggal lamanya. Dihempaskannya punggung ke sandaran kursi belajar.
Helda dan Kak Yophine kabur ke kampung halaman mereka. Bang Egi dan Bang Tora jadi pelayan warkop pinggir jalan di Bandung. Oka, Seto, dan Mas Gerry jadi buruh kuli di pasar luar kota. Puri rencananya mau mengajakku dan Indy mengikuti Helda dan Kak Yophine yang sebelumnya ingin menetap di sini. Lalu Puri dan Indy sekarang?
Gadis muda itu melenguh kecil. Ia sebetulnya menyadari bahwa meminta bantuan polisi bukanlah jalan yang tepat. Justru tindakannya itu akan mempersulit langkahnya menelusuri jejak teman-temannya yang ‘hilang’. Ratri pun sebenarnya tak mau ikut-campur terlalu jauh. Karena perempuan itu mengenali baik siapa Ajeng dan Praha.
Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Ketika ia menoleh, Ajeng sedang berjalan santai menghampirinya. Mengajaknya dengan lembut untuk makan malam. Dan Praha menurutinya. Mereka berdua melangkah bersama ke ruang makan.
* * *
Ini adalah malam makan terindah dalam hidup Yolanda. Terlaksana tepat waktu dan dengan personil komplit. Tio sudah tiba di rumahnya sore tadi. Orang-orang di sekitarnya saat ini pun mungkin merasakan hal yang sama Di tengah kehangatan canda dan tawa orang-orang kesayangannya. Ada keluarga kecil Chandra dan Tio yang turut melengkapi makan malamnya kali ini. Bukan hal yang biasa terjadi itulah yang membuatnya sedikit merasa euphoria. Meskipun begitu ia tetap berusaha menstabilkan ledakan emosinya itu.
Di antara mereka yang berbahagia, yang terlihat ‘sengsara’ adalah Jordi. Sekuat tenaga ia berusaha untuk tidak ‘menonjolkan’ keberadaannya. Menghindar saat makan malam hanya akan memaksanya untuk membuat kebohongan baru. Ia pun hanya sesekali ikut terkekeh ringan ketika Nia berceloteh tentang banyak hal di sekolahnya yang sama sekali tak ‘dinikmati’ Jordi seutuhnya. Untuk menutupi kegelisahannya.
“Lho, nggak ada saus tomat, to?” kening Irawan mengerut.
“Oh, ya, Mama lupa ambil. Ada di kulkas, kok.”
“Kan kemarin udah habis, Ma,” ralat Aldo.
“Ya udah, kamu beli di minimarket depan, Do. Lima botol,” Yolanda menyerahkan selembar uang seratus ribuan dari saku blusnya pada Aldo. “Yang ukuran biasa, ya?”
“Sip!”
Sepeninggal Aldo, mereka kembali berbincang. Chandra yang memulainya.
“Eh, Ya, kakak kelasmu yang waktu itu pernah main ke rumah, siapa namanya?” tanya Chandra antusias.
“Yang berkuncir satu atau berkepang, Pa?”                                                                                                            
“Yang berkuncir satu, siapa namanya?”

“Oh, namanya Kak Praha. Kalau yang berkepang itu namanya Kak Gea,” sahutnya sambil menuangkan susu dalam milk jug ke gelasnya. “Kenapa emangnya?”

“Kok kayaknya mirip Opud, ya, Ya?”

“Ha, mirip saya?” Tio terbelalak.

Sekilas Mustika melirik Chandra. “Cuma kebetulan mirip ‘kali, Dra,” celetuknya.
Irawan dan Yolanda pun berpendapat yang sama dengan Mustika.
 “Yang mana sih, Pa? Kok Mama nggak pernah lihat, ya?” tanya Claudia sambil menarik selembar tisu dalam box di tengah meja.
“Waktu mereka datang kebetulan aku ada di rumah dan Mama lagi kontrol perpus. Makanya Mama nggak ketemu,” ujar Chandra yang masih sibuk menghabiskan sepiring aneka potongan buah.
“Itu pun baru sekali datang, Ma,” timpal Nia.
Seketika bibir Claudia membundar kecil.
“Kira-kira seperti apa, ya, wajahnya? Hm... Tapi Tante jadi kepo, nih,” Mustika meringis malu. “Besok pagi kuantar Nia sekolah, boleh, ya, Clau, Dra?”
“Boleh nggak tuh, Ya?” Chandra menatapnya putrinya iseng.
“Terima aja, Ya! Nanti ditraktir Omud ice cream sandwich yang paling maknyus lho! Bilang, iya!” ‘paksa’ Claudia dengan tatapan jenaka.

“Ah, kamu, Clau, bilang aja biar irit bensin!” sambar Irawan tiba-tiba.
“Demi keefisiensian sisa isi dompet akhir bulan, Pa,” sahut Claudia dengan santai.
“Apaan isinya? Kartu ATM kosong?!”
Seketika seisi ruangan riuh penuh bahak. Dan Aldo datang semenit berikutnya. Usai menyimpan empat botol saus tomat di kulkas dan menyisakannya sebuah dan diletakkannya di atas meja makan.
“Heboh banget? Ada apa, sih?” Aldo kembali duduk di kursinya dengan wajah penasaran.
“Biasa tuh, Papa dan Mbakmu,” senyum Yolanda. “Dan Tantemu yang pingin banget nganter Nia besok.”
Laki-laki itu hanya menggeleng-gelengkan kepala.
“Eh, boleh nggak nih, Ya? Mau, ya?” rayu Mustika dengan wajah memelas.                                                                                                  
“Diizinin Opud, nggak?” ledek Nia, jahil.
“Boleh kok, boleh. Iya kan, Pud?” kejar Mustika.              
Tio mengangkat bahu dengan tatapan acuh.
“Kalau aku maunya diantar Om Jordi aja, gimana?” Nia melirik Omnya itu yang didapatinya gelisah sejak tadi.
“AKU?” jerit Jordi gelapan.
“Kamu kenapa, Di? Sakit?” tegur Yolanda khawatir.
“Aku... enggak... Nggak apa-apa,” ia berusaha tenang.
“Mungkin masih demam, Ma,” celetuk Irawan.
“Kamu demam, Di?”
Ketika ia akan membuka mulut, Irawan sudah mendahuluinya.
“Demam tadi pagi itu lho. Gara-gara habis ketemu Ajeng,” jawab Irawan.
“Jordi jatuh cinta?!” Claudia mengernyit.
Diam- diam Jordi merutuk. Ah, Aku lupa kalau di sini ada Mbak Clau! Mati aku!
* * *
Mungkin memang benar karena dia...
Jordi menyeruput cappucino-nya yang mulai mendingin.
...yang membuatku tak mampu berpaling dan membuka hati untuk yang lain.
Laki-laki itu mengerjap. Diletakkannya cangkir di atas piring mungil dengan hati-hati.
Meskipun sosok aslinya tak pernah kutemukan...
Diam-diam dinikmatinya aroma sisa embun dari balik jendela kamar.
...dan terlalu mustahil untuk kuendus keberadaanya di dunia nyata.
Tatapannya meredup seketika. Ia mulai limbung.
Karena dia seperti makhluk absurd yang memang benar-benar hanya ada dalam benakku dan akun Facebook itu.
Dan tiba-tiba saja sebutir rasa kesal muncul di hatinya.
Kenapa harus aku yang menanggung rasa bersalah ini? Yang membuatku terlihat setengah gila? Tersudut? Sementara ia di luar sana mungkin saja dia sudah memiliki kekasih nyata yang dicintainya sepenuh hati. Melupakan hal-hal tentang kita. Melupakanku begitu saja. Dan...
Laki-laki itu hampir saja menumpahkan air matanya kalau saja tak ada suara Yolanda memanggilnya dari luar.
* * *
Bersambung


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

[Puisi] Napas Agustus

Napas-napasku adalah hidupku Napas yang bertiup dari rahmat-Nya Napas yang diperjuangkan ayah dan ibu Napas yang diaminkan puluhan doa Mungk...