Kita hanyalah kumpulan penyelesaian
Dari hari-hari yang dijalani dalam kehidupan
Tersusun dari berbagai arsiran
Mulai detik, menit hingga tahunan
Kita tak pernah tahu seberapa besar—
—irisan kita sejak lahir hingga kita di Padang Mahsyar
Dan kita tak akan pernah tahu seberapa banyak binar—
—atau kelam dari irisan yang tergambar
Apakah kau juga peduli dengan irisan?
—atau lebih tertarik dengan gabungan?
Sungguh, aku hampir tenggelam dalam canduku—
—mencari irisan kita yang berpacu pada waktu
Kurasa, kita tak terlalu banyak beririsan
Walaupun katamu, "perbedaan menyempurnakan kita."
Karena tentang kita seakan tak beririsan
Seakan hadirku hanya sia-sia
Bila kita adalah pertidaksamaan lingkaran sempurna,
apakah kita berada di kuadran yang sama?
Bila kita adalah pertidaksamaan lonjong belaka,
bisakah kita berotasi dan memperbesar irisan kita?
Bahkan bila Lauhul Mahfuzh tak pernah ada,
akankah hukum sebab-akibat berlaku sederhana?
Atau hanya karena terbatasnya akal manusia—
—sehingga aku tak mampu menjangkau kebesaran-Nya?
Jika terlalu picik bagimu segala ingkarku
Jika terlalu bodoh anggapmu segala protesku
Lantas tak pernahkah kau sendiri berlaku demikian?
Memanjangkan pandangan seraya menyangkal keadilan?
Bila terlalu rumit untukmu memahami ocehanku
Cukup kuharap kau mensyukuri himpunanmu
Acuhkan jejak tulisanku di dalam buku
Jemputlah bahagiamu hingga waktumu berlalu
***
Puisi sekuel:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar