Sepuluh
Irawan
menatap putra bungsunya dengan wajah datar yang cenderung terlihat serius dan
‘mencurigakan’. Jordi segera memalingkan wajahnya ke semak-semak di sudut
halaman depan rumah. Padahal ia tak tahu
apa yang akan dilakukan ayahnya setelah ini. Entah akan berbicara serius
padanya seputar dunia olahraga, mengajak diskusi soal politik, perkembangan
ekonomi negara, atau hal lain yang mungkin tak terjangkau di benaknya.
Sesungguhnya ia sangat yakin bahwa salah satu dari tebakannya itu tak ada satu
pun kemungkinan untuk dibahasnya bersama Irawan dalam obrolan ringan menjelang
tidur di teras rumah. Dan itulah yang sebetulnya ia khawatirkan sejak tadi.
Bila tiba-tiba laki-laki itu melontarkan satu topik obrolan yang diam-diam
sedang dihindarinya.
“Di, lihat
wajah Papa,” tukas Irawan tiba-tiba, memecah keheningan.
Jordi
lalu menolehnya. Berusaha membalas tatapannya dengan wajah tenang. Masih
terdiam. Belum berani menyahut.
“Kamu
kenapa begitu?”
‘Begitu?’ Jordi menelan ludah.
“Begitu
seperti apa maksud Papa?”
Irawan
menggeleng. Ditatapnya Jordi dengan wajah kecewa.
“Kamu
sudah terlalu tua untuk mengusili orang lain. Apalagi pada tingkatan seserius
ini. Jangan merasa terjebak dalam umur. Kenyataannya memang kamu yang bersalah.
Bukan takdir,” ucap Irawan sabar.
“Aku
nggak mengerti maksud Papa,” sahut Jordi dengan nada ‘polos’.
“Kalau
nggak mengerti besok pagi kamu harus ikut Papa dan Mama. Kamu masih cuti, kan?
Kita selesaikan hingga tuntas urusanmu itu. Biar nggak jadi aib buatku dan
mamamu, terutama dirimu sendiri.”
“Tapi...”
Namun
Irawan sudah melangkah masuk ke dalam tanpa pamit terlebih dahulu dengannya.
Membuat ia merasa cemas sepanjang malam. Yang disertai pula dengan sebuah rasa
yang...
Entahlah... Jordi mengerjap. Dia selalu seperti misteri yang
menyenangkan bagiku.
*
* *
“Aku
senang banget udah sampai di sini, Ma,” celetuk Claudia tiba-tiba sambil
mengiris wortel.
Yolanda
tersenyum. “Memang kenapa kalau terlalu lama di sana? Bosan sendirian di hotel karena
sering ditinggal Chandra?”
“Kalau itu sih nggak apa-apa,”
suara Claudia terdengar lebih serius. “Cuma nggak tau kenapa setiap hari
bawaannya tuh kangen terus sama kalian di sini. Apalagi sama adik bungsuku
itu. Gimana perkembangannya selama
kutinggal ke luar negeri?”
Yolanda tersentak. Ia lalu
menghentikan pekerjaannya memotong kentang ketika pikirannya tiba-tiba terpusat
pada satu topik tentang Jordi. Sejujurnya ia tak tahu harus mulai dari mana.
Sebagai seorang ibu, apa yang ada dalam benaknya saat ini seolah begitu nyata.
Namun sepertinya perempuan itu mulai kehabisan kata. Sehingga ia tak tahu
bagaimana harus menjawab pertanyaan sederhana Claudia.
Tok! Tok! Tok!
“Ya, tunggu!”
Yolanda menghela napas tak
kentara ketika suara ketukan di depan pintu menyela. Memberinya sedikit ruang untuk menghindari pertanyaan Claudia
selanjutnya yang mungkin akan ‘mengganggu’-nya.
“Biar Mama yang buka, ya?”
Yolanda lalu melangkah menuju
depan tanpa menggu jawaban Claudia.
“Tunggu sebentar!”
Diraihnya handle pintu. Glek! Pintu
terbuka.
“Mustika!”
“Mbak,” suara itu melirih sesaat
ketika sosok perempuan setengah baya muncul di hadapannya. “Apa kabar?”
Seketika
dua tubuh itu saling berpelukan. Tubuh Yolanda dan Mustika. Saling menumpahkan
segala kerinduan yang ada. Genangan bening di mata kanan Mustika menggelinding
membasahi leher kiri Yolanda yang selalu hangat untuknya. Dibalas dengan
kecupan sayang Yolanda yang selalu tulus. Untuk siapa pun orang yang
dicintainya. Tak ada secuil kata pun yang dapat mereka lontarkan. Sekembalinya
Mustika dari Singapura saja sudah lebih dari cukup baginya. Karena setiap
harinya ia selalu menunggu kedatangan perempuan itu. Karena amanat orang tua
Mustika yang membuat hatinya selalu terikat dengan adik sepupu bungsunya.
“Kami sudah cukup tua. Usia kami hampir
menginjak pertengahan 60-an. Sementara kami baru mampu mengantarkanmu ke
gerbang pernikahan, sedangkan untuk anakku belum. Sebagai orang tua angkat,
kami nggak minta banyak darimu, Lan,” tutur Witri beberapa puluh tahun silam.
“Kalau kamu ingin berbakti padaku dan Pak Likmu sebagai keponakan sekaligus
anak angkat, rawat dan jagalah Mus kami semampumu. Aku yakin Irawan mau
mengerti. Dia putri semata wayang kesayangan kami. Seperti orang tuamu
mencintaimu dengan segenap jiwa dan raganya.”
“Apakah aku mampu?”
“Ndhuk,” Mitro mengulas senyum. “Kami yakin kamu pantas mengemban amanat
ini,” angguknya.
Setelah Mustika lulus sekolah di kemudian
tahun, diajaknya gadis itu ke Jakarta atas persetujuan Irawan bersama anak-anak
mereka. Hingga pada akhirnya ia berhasil mempertemukan Mustika dengan laki-laki
yang selalu siap mencintai perempuan itu dalam kondisi apapun. Hardantio
Jananto. Dan mereka menikah atas restu Witri dan Mitro setelah Mustika
dinyatakan lulus dan mendapatkan gelar S.E di belakang namanya.
Semuanya
berlangsung beberapa detik hingga Claudia datang memecah keheningan haru di
antara mereka. Seketika keduanya tersadar dan saling menarik diri dari dekapan.
“Tante?”
“Clau...
sini, sayang.”
Mustika
segera membawa Claudia ke dalam pelukannya yang menenangkan. Lalu melepasnya
dan mereka saling menanyakan kabar masing-masing. Claudia terlihat begitu
senang karena kepulangannya mendahului kedatangan Mustika.
“Kita
duduk dulu, yuk!” ajak Yolanda sambil mengusung bahu Mustika.
Lalu
mereka menempati sofa panjang di sebelah kiri Claudia. Yolanda dan Mustika
duduk berdampingan dengan posisi yang nyaris berbeda. Saling bertatapan dengan
wajah berseri. Sementara Claudia pamit ke dapur untuk membuat minuman.
“Maaf,
Mbak, aku nggak konfirmasi kedatanganku dulu sebelumnya. Ponselku mati.”
“Nggak
apa-apa. Yang penting kamu selamat sampai di sini,” jawab Yolanda.
“Mbak.”
“Ya?”
Soal diakah?
“Sebetulnya
harapan ‘itu’ masih ada. Salahkah kami memeliharanya?”
Yolanda
hanya menggeleng. Seutuhnya ia mampu merasakannya juga. Kehilangan, harapan,
kesedihan, yang akhir-akhir ini terbalut oleh rasa bersalah yang entah untuk
apa hingga ketiga rasa pahit tadi mulai tersamar bahkan seolah nyaris sirna
karena dianggap oleh ‘penderita-‘-nya sudah tak penting lagi.
“Kamu
dan Tio nggak salah. Kalian tak pantas dihukum oleh dan dengan apapun atas
harapan sederhana yang kalian jalin setiap hela napas yang kalian anggap
semakin tak berarti tanpa keberadaannya
di antara kalian.”
“Bila
Mbak sependapat dengan kami, lantas menurut Mbak dimana Lucy kami sekarang
berada?”
“Entahlah.
Semoga dia berada di tempat yang aman, hangat, dan penuh cinta,” sahut Yolanda
sambil menerawang jauh menembus dinding.
“Begitukah?”
“Aminkan
doa baik dari siapa pun, Mus,” ucapnya setengah memerintah.
Dan
Mustika hanya mengangguk sambil mengamininya dalam hati.
“Tumben
Clau ada di sini?” Mustika mengalihkan
topik pembicaraan ketika hatinya mulai tenang.
“Kemarin
baru pulang dari KL dia. Harusnya sih hari ini. Dari bandara nyangkut dulu di
sini.”
“Kangen
sama Jordi, Tan.”
Keduanya
segera menoleh. Claudia yang sedang membawa nampan berisi tiga piring mungil mango pudding dan tiga gelas teh tarik menyeletuk tiba-tiba.
Diletakkannya segera nampan itu di atas meja rendah di depan Mustika. Lalu ikut
berbaur dan duduk di sebelah kiri Mustika.
“Kamu ke
KL sendiri atau bertiga?”
“Sebetulnya
aku berdua sama Mas Chandra,” sahut Claudia sambil meraih mango pudding-nya. “Tapi dia udah terbang duluan Senin malam
kemarin. Sedangkan aku baru sampai di sini sekitar tiga jam yang lalu.”
Mereka
lalu berbicara banyak mengenai lima tahun terakhir kehidupan masing-masing yang
hampir berjalan tanpa dilalui bersama. Mengenai perkembangan karir, harapan
yang terpendam, dan berbagai rencana baru untuk meng-upgrade kualitas hidup. Yang akhirnya selalu bermuara pada sebuah
kesadaran Yolanda sebagai seorang ‘ibu’ dari ‘empat’ putra-putrinya. Plus Mustika.
Untuk menjadi panutan sekaligus pembimbing hidup yang tak pernah ‘pensiun’ dari
tugasnya tersebut.
*
* *
Laki-laki itu... Apakah benar bahwa yang di
depanku ini adalah dia atau Pak Aldo?
Ajeng
mendegut ludah ketika sebersit sosok seseorang melintas di benaknya. Dan ia
benar-benar tak mampu menerjemahkan alarm yang berdering di otaknya. Juga kata
hatinya yang selalu membingungkan.
Rasa-rasanya kami pernah dekat.
Matanya
terpejam. Mencoba menikmati hembusan uap embun yang bertiup dari celah jendela
ruang kantornya yang terbuka.
Walaupun aku baru sekali bertemu dengannya.
Walaupun aku baru sekali bertemu dengannya.
Diam-diam
ia mulai resah.
Apa yang sebenarnya sedang kualami?
Tatapannya
menerawang jauh. Dijulurkannya kedua belah tangan di atas kusen jendela yang
menumpu badannya yang duduk membungkuk.
Aku hanya butuh kejelasan yang nyata. Bukan
sesuatu yang mendebarkan dan menggangguku seperti ini.
Ia lalu
bangkit dari kursi.
Bila memang ia adalah... Kenapa harus dia? Ajeng
melenguh kecil. Ah, mereka sudah datang!
Perempuan
itu segera berlari keluar menuju area parkir ketika ekor matanya menangkap sebuah
SUV melaju ke arah peternakannya.
*
* *
Dia...
Keduanya
saling terpana ketika tatapan mereka bertemu dalam satu titik waktu yang
membekukan. Jordi benar-benar tak kuasa menahan debar yang meliar dalam detak
jantungnya. Diam-diam ia mencoba untuk menemukan celah kosong dalam mata Ajeng.
Yang menatap dalam matanya. Dan nyatanya ia berhasil. Membuatnya semakin
‘takut’. Bila yang dilihatnya itu hanya sementara. Sedangkan dalam hatinya
secuil harapan ‘lebih’ itu masih mengisi di sudut paling terdalam. Meskipun ia
sendiri tak pernah berani menanggapinya.
“Jeng.”
Perempun
itu tersentak. Dialihkannya tatapan ke wajah Panji. Rupanya laki-laki itu sudah
memperhatikan mereka sejak tadi. Seketika rona wajah Ajeng memerah malu.
“Ah, ya,
mari masuk ke dalam, Pak, Bu,” kedua tangan Ajeng terulur ke arah ruang tamu,
menggiring kedatangan tamunya.
“Terima
kasih,” ucap mereka bersamaan.
Tangan
kiri Irawan menggenggam erat tangan kanan Yolanda sambil melangkah masuk. Jordi
dan Panji berjalan mengapit keduanya. Mereka lantas duduk di atas kursi yang
telah ditunjuk Ajeng. Sekejap kemudian sang tuan rumah sudah pamit ke dalam pantry untuk menyiapkan jamuan. Ia harus
melakukannya sendiri karena Wulan belum datang.
Irawan
lalu menjawil pundak Yolanda dan melirik Jordi yang tampak begitu fokus menatap
punggung Ajeng yang terus berjalan menjauh setelah perempuan itu menolehnya.
Sambil menahan senyum, Yolanda hanya meletakkan telunjuknya di depan bibir.
Agar putranya itu tak merajuk ketika mengetahui bahwa mereka sedang
memperhatikannya.
Karena
itu, Irawan tiba-tiba teringat akan obrolannya di telepon dengan Panji semalam.
Sedikit tentang seorang Ajeng yang ingin dikenalnya lebih dalam.
“Ajeng itu perempuan yang luar biasa, Wan,”
suara Panji bergema menembus telinga dan hati Irawan. Membuatnya tersentak oleh
ketulusan yang keluar dari penuturan sahabatnya itu. “Ia bukan hanya seorang
wanita karir yang berwibawa dengan bekal ilmu pendidikan yang mumpuni. Dia juga
seorang pahlawan yang berperan besar dalam kehidupan anak-anaknya.”
“Dia sudah menikah?”
“Dia belum menikah,” Panji terkekeh ringan. “Dan
anak-anaknya itu bukan darah dagingnya tapi buah hatinya.”
“Mereka itu anak asuhnya?”
“Anak angkatnya,” ralat Panji. “Karena ia
juga seorang anak angkat,” suara Panji terdengar tersendat di pangkal
tenggorokan.
“Seperti Yolanda?”
“Begitulah.”
“Ia tinggal
bersama dan dirawat satu-satunya bibi yang dimilikinya sejak ia masih batita.
Ibunya meninggal dunia pasca melahirkannya. Dan ayahnya hilang entah kemana
dalam sebuah peristiwa penculikan saat ia berusia empat belas bulan. Hingga
kini tak pernah ada kabar yang menyatakan keadaan ayahnya. Lalu bibinya
meninggal ketika ia baru empat bulan memegang jabatan sebagai pemilik sah dan
pemimpin peternakan ayam yang sampai sekarang masih dilakoninya. Aku tahu itu
sangat berat baginya. Tapi...”
“Kenapa?”
“Ia sudah mendedikasikan hidupnya untuk
menghidupi anak-anak yang kurang beruntung sepertinya. Walaupun sesungguhnya ia
tak semenderita anak-anak di luar sana, tapi ia sangat memahami betul bagaimana
sulitnya memahami dan menerima kenyataan yang ada. Oleh karena itu, hingga kini
ia masih enggan untuk melepas status kelajangannya. Masih belum siap.”
“Meskipun sebenarnya ia ingin?”
“Aku percaya bahwa keinginan untuk menikah
ada dalam hatinya,” Panji mengangguk. “Dan saya juga percaya bahwa Jordi pantas
untuknya.”
“Mungkinkah?”
“Aku tidak tahu. Tapi kelihatannya Ajeng dan
Jordi seperti sepasang kekasih yang serasi di mata saya.”
Otak Irawan mendadak kosong. Dan telepon itu
putus begitu saja setelah terdengar suara Panji mengucap salam dari ponselnya.
Beberapa
menit kemudian, Ajeng dan Wulan datang. Ajeng
melangkah tegak dengan membawa sebuah nampan besar berisi lima piring kecil
berisi beberapa potong singkong keju yang mengepulkan asap beraroma harum yang
khas tertata rapi di atasnya. Wulan yang tiba lebih dulu segera memndahkan lima
gelas besar teh hangat ke atas meja di depan ‘para tamu’.
*
* *
“Aku
akan membuatkannya singkong keju. Tapi... apakah dia suka?”
Ajeng termenung.
Sebetulnya tak jadi masalah apapun yang disajikannya untuk empat orang
‘tamu’-nya di depan. Tapi karena ‘perselisihan’ itu ada. Mengganggunya. Ia benar-benar
tak tahu apa yang sebenarnya ia rasakan saat ini. Berbagai jenis rasa yang
berlainan sedang bergemelut mewakili perasaannya. Senang sekaligus sedih.
Tenang sekaligus khawatir. Kecewa sekaligus rindu. Ingin sekaligus enggan. Dan
pada akhirnya ia menyerah. Mengabaikan perseteruan dalam hatinya.
Kalaupun aku harus marah padanya untuk apa?
Di
tengah lamunannya, tiba-tiba muncul suara perempuan memanggilnya dan bunyi
ketukan dari ballik pintu pantry. Ia
tahu itu suara Wulan. Karena memang ia yang memintanya untuk datang tepat pukul
07.45 melalui pintu lain yang mengarah menuju pantry. Agar perempuan itu ‘tak mengganggu tamu’-nya di depan.
“Buka
aja, Lan. Nggak dikunci, kok.”
Seketika pintu itu terbuka dan datanglah Wulan mendekatinya.
“Ada yang bisa saya bantu, Mbak?”
“Buatkan lima gelas besar teh hangat, ya? Kalau sudah tolong
antar ke ruang tamu.”
“Makanannya mau kubuatkan apa?” tawar Wulan sambil
memanaskan 2 liter air mineral dalam teko listrik.
“Saya mau bikin singkong keju aja, deh. Kebetulan ada banyak
potongan singkong mentah yang sudah dikupas dan keju cheddar di kulkas,” sahut Ajeng yang sedang mencari sesuatu dalam
kulkasnya.
Wulan dan Ajeng lalu melanjutkan pekerjaannya masing-masing.
*
* *
Bersambung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar