Jumat, 02 Juni 2017

[Cerbung] Adoptee #10




Sepuluh




Irawan menatap putra bungsunya dengan wajah datar yang cenderung terlihat serius dan ‘mencurigakan’. Jordi segera memalingkan wajahnya ke semak-semak di sudut halaman depan rumah. Padahal  ia tak tahu apa yang akan dilakukan ayahnya setelah ini. Entah akan berbicara serius padanya seputar dunia olahraga, mengajak diskusi soal politik, perkembangan ekonomi negara, atau hal lain yang mungkin tak terjangkau di benaknya. Sesungguhnya ia sangat yakin bahwa salah satu dari tebakannya itu tak ada satu pun kemungkinan untuk dibahasnya bersama Irawan dalam obrolan ringan menjelang tidur di teras rumah. Dan itulah yang sebetulnya ia khawatirkan sejak tadi. Bila tiba-tiba laki-laki itu melontarkan satu topik obrolan yang diam-diam sedang dihindarinya.

“Di, lihat wajah Papa,” tukas Irawan tiba-tiba, memecah keheningan.

Jordi lalu menolehnya. Berusaha membalas tatapannya dengan wajah tenang. Masih terdiam. Belum berani menyahut.

“Kamu kenapa begitu?”

‘Begitu?’ Jordi menelan ludah.

“Begitu seperti apa maksud Papa?”

Irawan menggeleng. Ditatapnya Jordi dengan wajah kecewa.

“Kamu sudah terlalu tua untuk mengusili orang lain. Apalagi pada tingkatan seserius ini. Jangan merasa terjebak dalam umur. Kenyataannya memang kamu yang bersalah. Bukan takdir,” ucap Irawan sabar.

“Aku nggak mengerti maksud Papa,” sahut Jordi dengan nada ‘polos’.

“Kalau nggak mengerti besok pagi kamu harus ikut Papa dan Mama. Kamu masih cuti, kan? Kita selesaikan hingga tuntas urusanmu itu. Biar nggak jadi aib buatku dan mamamu, terutama dirimu sendiri.”

“Tapi...”

Namun Irawan sudah melangkah masuk ke dalam tanpa pamit terlebih dahulu dengannya. Membuat ia merasa cemas sepanjang malam. Yang disertai pula dengan sebuah rasa yang...

Entahlah... Jordi mengerjap. Dia selalu seperti misteri yang menyenangkan bagiku.

* * *

“Aku senang banget udah sampai di sini, Ma,” celetuk Claudia tiba-tiba sambil mengiris wortel.

Yolanda tersenyum. “Memang kenapa kalau terlalu lama di sana? Bosan sendirian di hotel karena sering ditinggal Chandra?”

“Kalau itu sih nggak apa-apa,” suara Claudia terdengar lebih serius. “Cuma nggak tau kenapa setiap hari bawaannya tuh kangen terus sama kalian di sini. Apalagi sama adik bungsuku itu.  Gimana perkembangannya selama kutinggal ke luar negeri?”

Yolanda tersentak. Ia lalu menghentikan pekerjaannya memotong kentang ketika pikirannya tiba-tiba terpusat pada satu topik tentang Jordi. Sejujurnya ia tak tahu harus mulai dari mana. Sebagai seorang ibu, apa yang ada dalam benaknya saat ini seolah begitu nyata. Namun sepertinya perempuan itu mulai kehabisan kata. Sehingga ia tak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan sederhana Claudia.

Tok! Tok! Tok!

“Ya, tunggu!”

Yolanda menghela napas tak kentara ketika suara ketukan di depan pintu menyela. Memberinya sedikit ruang untuk menghindari pertanyaan Claudia selanjutnya yang mungkin akan ‘mengganggu’-nya.

“Biar Mama yang buka, ya?”

Yolanda lalu melangkah menuju depan tanpa menggu jawaban Claudia.

“Tunggu sebentar!”

Diraihnya handle pintu. Glek! Pintu terbuka.

“Mustika!”

“Mbak,” suara itu melirih sesaat ketika sosok perempuan setengah baya muncul di hadapannya. “Apa kabar?”

Seketika dua tubuh itu saling berpelukan. Tubuh Yolanda dan Mustika. Saling menumpahkan segala kerinduan yang ada. Genangan bening di mata kanan Mustika menggelinding membasahi leher kiri Yolanda yang selalu hangat untuknya. Dibalas dengan kecupan sayang Yolanda yang selalu tulus. Untuk siapa pun orang yang dicintainya. Tak ada secuil kata pun yang dapat mereka lontarkan. Sekembalinya Mustika dari Singapura saja sudah lebih dari cukup baginya. Karena setiap harinya ia selalu menunggu kedatangan perempuan itu. Karena amanat orang tua Mustika yang membuat hatinya selalu terikat dengan adik sepupu bungsunya.


“Kami sudah cukup tua. Usia kami hampir menginjak pertengahan 60-an. Sementara kami baru mampu mengantarkanmu ke gerbang pernikahan, sedangkan untuk anakku belum. Sebagai orang tua angkat, kami nggak minta banyak darimu, Lan,” tutur Witri beberapa puluh tahun silam. “Kalau kamu ingin berbakti padaku dan Pak Likmu sebagai keponakan sekaligus anak angkat, rawat dan jagalah Mus kami semampumu. Aku yakin Irawan mau mengerti. Dia putri semata wayang kesayangan kami. Seperti orang tuamu mencintaimu dengan segenap jiwa dan raganya.”

“Apakah aku mampu?”

Ndhuk,” Mitro mengulas senyum. “Kami yakin kamu pantas mengemban amanat ini,” angguknya.

Setelah Mustika lulus sekolah di kemudian tahun, diajaknya gadis itu ke Jakarta atas persetujuan Irawan bersama anak-anak mereka. Hingga pada akhirnya ia berhasil mempertemukan Mustika dengan laki-laki yang selalu siap mencintai perempuan itu dalam kondisi apapun. Hardantio Jananto. Dan mereka menikah atas restu Witri dan Mitro setelah Mustika dinyatakan lulus dan mendapatkan gelar S.E di belakang namanya.


Semuanya berlangsung beberapa detik hingga Claudia datang memecah keheningan haru di antara mereka. Seketika keduanya tersadar dan saling menarik diri dari dekapan.

“Tante?”

“Clau... sini, sayang.”

Mustika segera membawa Claudia ke dalam pelukannya yang menenangkan. Lalu melepasnya dan mereka saling menanyakan kabar masing-masing. Claudia terlihat begitu senang karena kepulangannya mendahului kedatangan Mustika.

“Kita duduk dulu, yuk!” ajak Yolanda sambil mengusung bahu Mustika.

Lalu mereka menempati sofa panjang di sebelah kiri Claudia. Yolanda dan Mustika duduk berdampingan dengan posisi yang nyaris berbeda. Saling bertatapan dengan wajah berseri. Sementara Claudia pamit ke dapur untuk membuat minuman.

“Maaf, Mbak, aku nggak konfirmasi kedatanganku dulu sebelumnya. Ponselku mati.”

“Nggak apa-apa. Yang penting kamu selamat sampai di sini,” jawab Yolanda.

“Mbak.”

“Ya?”

Soal diakah?

“Sebetulnya harapan ‘itu’ masih ada. Salahkah kami memeliharanya?”

Yolanda hanya menggeleng. Seutuhnya ia mampu merasakannya juga. Kehilangan, harapan, kesedihan, yang akhir-akhir ini terbalut oleh rasa bersalah yang entah untuk apa hingga ketiga rasa pahit tadi mulai tersamar bahkan seolah nyaris sirna karena dianggap oleh ‘penderita-‘-nya sudah tak penting lagi.

“Kamu dan Tio nggak salah. Kalian tak pantas dihukum oleh dan dengan apapun atas harapan sederhana yang kalian jalin setiap hela napas yang kalian anggap semakin tak berarti tanpa keberadaannya  di antara kalian.”

“Bila Mbak sependapat dengan kami, lantas menurut Mbak dimana Lucy kami sekarang berada?”

“Entahlah. Semoga dia berada di tempat yang aman, hangat, dan penuh cinta,” sahut Yolanda sambil menerawang jauh menembus dinding.

“Begitukah?”

“Aminkan doa baik dari siapa pun, Mus,” ucapnya setengah memerintah.

Dan Mustika hanya mengangguk sambil mengamininya dalam hati.


“Tumben Clau ada di sini?”  Mustika mengalihkan topik pembicaraan ketika hatinya mulai tenang.

“Kemarin baru pulang dari KL dia. Harusnya sih hari ini. Dari bandara nyangkut dulu di sini.”

“Kangen sama Jordi, Tan.”

Keduanya segera menoleh. Claudia yang sedang membawa nampan berisi  tiga piring mungil mango pudding dan tiga gelas teh tarik menyeletuk tiba-tiba. Diletakkannya segera nampan itu di atas meja rendah di depan Mustika. Lalu ikut berbaur dan duduk di sebelah kiri Mustika.

“Kamu ke KL sendiri atau bertiga?”

“Sebetulnya aku berdua sama Mas Chandra,” sahut Claudia sambil meraih mango pudding-nya. “Tapi dia udah terbang duluan Senin malam kemarin. Sedangkan aku baru sampai di sini sekitar tiga jam yang lalu.”

Mereka lalu berbicara banyak mengenai lima tahun terakhir kehidupan masing-masing yang hampir berjalan tanpa dilalui bersama. Mengenai perkembangan karir, harapan yang terpendam, dan berbagai rencana baru untuk meng-upgrade kualitas hidup. Yang akhirnya selalu bermuara pada sebuah kesadaran Yolanda sebagai seorang ‘ibu’ dari ‘empat’ putra-putrinya. Plus Mustika. Untuk menjadi panutan sekaligus pembimbing hidup yang tak pernah ‘pensiun’ dari tugasnya tersebut.

* * *

Laki-laki itu... Apakah benar bahwa yang di depanku ini adalah dia atau Pak Aldo?
Ajeng mendegut ludah ketika sebersit sosok seseorang melintas di benaknya. Dan ia benar-benar tak mampu menerjemahkan alarm yang berdering di otaknya. Juga kata hatinya yang selalu membingungkan.

Rasa-rasanya kami pernah dekat.

Matanya terpejam. Mencoba menikmati hembusan uap embun yang bertiup dari celah jendela ruang kantornya yang terbuka.                                                        

Walaupun aku baru sekali bertemu dengannya.

Diam-diam ia mulai resah.

Apa yang sebenarnya sedang kualami?

Tatapannya menerawang jauh. Dijulurkannya kedua belah tangan di atas kusen jendela yang menumpu badannya yang duduk membungkuk.

Aku hanya butuh kejelasan yang nyata. Bukan sesuatu yang mendebarkan dan menggangguku seperti ini.

Ia lalu bangkit dari kursi.

Bila memang ia adalah... Kenapa harus dia? Ajeng melenguh kecil. Ah, mereka sudah datang!

Perempuan itu segera berlari keluar menuju area parkir ketika ekor matanya menangkap sebuah SUV melaju ke arah peternakannya.

* * *

Dia...

Keduanya saling terpana ketika tatapan mereka bertemu dalam satu titik waktu yang membekukan. Jordi benar-benar tak kuasa menahan debar yang meliar dalam detak jantungnya. Diam-diam ia mencoba untuk menemukan celah kosong dalam mata Ajeng. Yang menatap dalam matanya. Dan nyatanya ia berhasil. Membuatnya semakin ‘takut’. Bila yang dilihatnya itu hanya sementara. Sedangkan dalam hatinya secuil harapan ‘lebih’ itu masih mengisi di sudut paling terdalam. Meskipun ia sendiri tak pernah berani menanggapinya.

“Jeng.”

Perempun itu tersentak. Dialihkannya tatapan ke wajah Panji. Rupanya laki-laki itu sudah memperhatikan mereka sejak tadi. Seketika rona wajah Ajeng memerah malu.

“Ah, ya, mari masuk ke dalam, Pak, Bu,” kedua tangan Ajeng terulur ke arah ruang tamu, menggiring kedatangan tamunya.

“Terima kasih,” ucap mereka bersamaan.

Tangan kiri Irawan menggenggam erat tangan kanan Yolanda sambil melangkah masuk. Jordi dan Panji berjalan mengapit keduanya. Mereka lantas duduk di atas kursi yang telah ditunjuk Ajeng. Sekejap kemudian sang tuan rumah sudah pamit ke dalam pantry untuk menyiapkan jamuan. Ia harus melakukannya sendiri karena Wulan belum datang.

Irawan lalu menjawil pundak Yolanda dan melirik Jordi yang tampak begitu fokus menatap punggung Ajeng yang terus berjalan menjauh setelah perempuan itu menolehnya. Sambil menahan senyum, Yolanda hanya meletakkan telunjuknya di depan bibir. Agar putranya itu tak merajuk ketika mengetahui bahwa mereka sedang memperhatikannya.

Karena itu, Irawan tiba-tiba teringat akan obrolannya di telepon dengan Panji semalam. Sedikit tentang seorang Ajeng yang ingin dikenalnya lebih dalam.


“Ajeng itu perempuan yang luar biasa, Wan,” suara Panji bergema menembus telinga dan hati Irawan. Membuatnya tersentak oleh ketulusan yang keluar dari penuturan sahabatnya itu. “Ia bukan hanya seorang wanita karir yang berwibawa dengan bekal ilmu pendidikan yang mumpuni. Dia juga seorang pahlawan yang berperan besar dalam kehidupan anak-anaknya.”

“Dia sudah menikah?”

“Dia belum menikah,” Panji terkekeh ringan. “Dan anak-anaknya itu bukan darah dagingnya tapi buah hatinya.”

“Mereka itu anak asuhnya?”

“Anak angkatnya,” ralat Panji. “Karena ia juga seorang anak angkat,” suara Panji terdengar tersendat di pangkal tenggorokan.

“Seperti Yolanda?”

“Begitulah.”

 “Ia tinggal bersama dan dirawat satu-satunya bibi yang dimilikinya sejak ia masih batita. Ibunya meninggal dunia pasca melahirkannya. Dan ayahnya hilang entah kemana dalam sebuah peristiwa penculikan saat ia berusia empat belas bulan. Hingga kini tak pernah ada kabar yang menyatakan keadaan ayahnya. Lalu bibinya meninggal ketika ia baru empat bulan memegang jabatan sebagai pemilik sah dan pemimpin peternakan ayam yang sampai sekarang masih dilakoninya. Aku tahu itu sangat berat baginya. Tapi...”

“Kenapa?”

“Ia sudah mendedikasikan hidupnya untuk menghidupi anak-anak yang kurang beruntung sepertinya. Walaupun sesungguhnya ia tak semenderita anak-anak di luar sana, tapi ia sangat memahami betul bagaimana sulitnya memahami dan menerima kenyataan yang ada. Oleh karena itu, hingga kini ia masih enggan untuk melepas status kelajangannya. Masih belum siap.”

“Meskipun sebenarnya ia ingin?”

“Aku percaya bahwa keinginan untuk menikah ada dalam hatinya,” Panji mengangguk. “Dan saya juga percaya bahwa Jordi pantas untuknya.”

“Mungkinkah?”

“Aku tidak tahu. Tapi kelihatannya Ajeng dan Jordi seperti sepasang kekasih yang serasi di mata saya.”

Otak Irawan mendadak kosong. Dan telepon itu putus begitu saja setelah terdengar suara Panji mengucap salam dari ponselnya.


Beberapa menit kemudian, Ajeng dan Wulan datang.  Ajeng melangkah tegak dengan membawa sebuah nampan besar berisi lima piring kecil berisi beberapa potong singkong keju yang mengepulkan asap beraroma harum yang khas tertata rapi di atasnya. Wulan yang tiba lebih dulu segera memndahkan lima gelas besar teh hangat ke atas meja di depan ‘para tamu’.

* * *

“Aku akan membuatkannya singkong keju. Tapi... apakah dia suka?”

Ajeng termenung. Sebetulnya tak jadi masalah apapun yang disajikannya untuk empat orang ‘tamu’-nya di depan. Tapi karena ‘perselisihan’ itu ada. Mengganggunya. Ia benar-benar tak tahu apa yang sebenarnya ia rasakan saat ini. Berbagai jenis rasa yang berlainan sedang bergemelut mewakili perasaannya. Senang sekaligus sedih. Tenang sekaligus khawatir. Kecewa sekaligus rindu. Ingin sekaligus enggan. Dan pada akhirnya ia menyerah. Mengabaikan perseteruan dalam hatinya.

Kalaupun aku harus marah padanya untuk apa?

Di tengah lamunannya, tiba-tiba muncul suara perempuan memanggilnya dan bunyi ketukan dari ballik pintu pantry. Ia tahu itu suara Wulan. Karena memang ia yang memintanya untuk datang tepat pukul 07.45 melalui pintu lain yang mengarah menuju pantry. Agar perempuan itu ‘tak mengganggu tamu’-nya di depan.

“Buka aja, Lan. Nggak dikunci, kok.”

Seketika pintu itu terbuka dan datanglah Wulan mendekatinya.

“Ada yang bisa saya bantu, Mbak?”

“Buatkan lima gelas besar teh hangat, ya? Kalau sudah tolong antar ke ruang tamu.”

“Makanannya mau kubuatkan apa?” tawar Wulan sambil memanaskan 2 liter air mineral dalam teko listrik.

“Saya mau bikin singkong keju aja, deh. Kebetulan ada banyak potongan singkong mentah yang sudah dikupas dan keju cheddar di kulkas,” sahut Ajeng yang sedang mencari sesuatu dalam kulkasnya.

Wulan dan Ajeng lalu melanjutkan pekerjaannya masing-masing.

* * *

Bersambung





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

[Puisi] Napas Agustus

Napas-napasku adalah hidupku Napas yang bertiup dari rahmat-Nya Napas yang diperjuangkan ayah dan ibu Napas yang diaminkan puluhan doa Mungk...