Sabtu, 27 Mei 2017

[Cerbung] Adoptee #9





Sembilan




Ajeng terpaku di depan laptopnya. Pekerjanya sudah selesai. Tak perlu ada data yang harus direkap ulang. Semuanya sudah pas pada posisinya masing-masing. Sebenarnya ia sudah ingin pulang sejak tadi. Namun hatinya gelisah. Antara ya atau tidak, sejujunya ia penasaran. Yang ditunggunya belum juga datang. Bahkan hingga menit-menit terakhir jam kerjanya.

“Mbak Ajeng?”

“Hendra-kah?”

“Iya.”

Ajeng lalu beranjak membuka pintu.

“Ada apa, Hen?”

“Di depan ada yang mau ketemu Mbak Ajeng,” sahutnya sopan.

“Siapa? Kamu kenal?”

“Wah, saya nggak kenal, Mbak,”

“Laki-laki atau perempuan?”

“Laki-laki.”

Pak Aldo-kah?

“Oke, kamu dan Wulan sudah boleh pulang.”

“Serius? Terima kasih, Mbak,” ucap Hendra.

Ajeng  lalu mengangguk dan bergegas ke serambi peternakan.

* * *

“Ingat lho, Dict, tugasmu belum selesai.”

“Yang kemarin itu kan sudah kusetor?” jawab Dicta.

“Nggak bisa! Mama anggap itu nggak sah.”

“Lho, nggak bisa begitu, dong, Ma,” celetuk Ringgo.

“Mama nggak mau tahu, pokoknya besok lusa uang itu sudah terkirim ke rekening Mama. Titik!”

“Maaf, Ma, untuk itu kami nggak bisa,” sahut Dicta tegas.

 “Kamu ini bagaimana? Janin yang dikandung Ecilia itu kan anakmu. Dan kamu merelakannya begitu saja pada Ajeng?”

“Janin itu bukan anakku!” sahut Dicta dengan nada meninggi.

“Jadi maksudmu Mama yang  bersalah? Begitu?”

“Jelas!” sambar Ringgo tandas.

“Kami bukan robot, Ma,” sambung Dicta. ”Seharusnya Mama sadari itu. Kenapa bukan Mama sendiri yang melakukannya?”

“Kalian ini didoktrin siapa sih, sampai berani melawan Mama? Ajeng? Perempuan nggak tahu diri itu?!”

“Mama nggak pantas ngomong begitu!!!” tukas Ringgo. “ Perempuan yang nggak tahu diri itu Mama, bukan Mbak Ajeng! Bisanya cuma jadi perusak hidup orang lain!”
Seketika Kemuning dan Dicta terhenyak.

“Ringgo!”


“Mas...”

Dicta menggeliat. Lamunannya membuyar. Ditolehnya Ringgo yang tengah bersiap-siap untuk turun. Sambil menoleh ke kiri-kanan, ia berusaha melupakan perdebatannya dengan Kemuning yang bertengkar hebat dengan Ringgo tadi pagi. Hingga perempuan itu sampai hati mengusir ia dan adiknya.
“Berapa lama lagi, Dik?”

“Kira-kira setengah jam lagi kita sampai di terminal.”

Dicta tak menyahut. Ia lalu menoleh ke arah punggung tangan kirinya. Sedetik kemudian ia mendengus kecil karena arloji digitalnya mati. Maka diliriknya arloji di pergelangan tangan kiri Ringgo.

“Itu jam di arlojimu nggak salah, kan, Dik?”

“Eh,” Ringgo lalu melirik arlojinya yang jarum pendek dan panjangnya hampir menumpuk di angka 6.
“Nggak kok. Arloji punya Mas baterainya habis, ya?”


“Iya,” angguk Dicta. “Mm... nanti kalau sudah sampai kita mampir di warung nasi pecel ujung gang dulu, ya? Kita kan belum makan siang."


“Boleh. Oh, ya, tadi Mas Dicta melamun. Kenapa?”

“Nggak apa-apa,” sahutnya malas.

“Kepikiran yang tadi?”

“Menurutmu begitu?”

Tampaknya Dicta sedang malas membahas soal Keuning. Dan Ringgo hanya bisa termangu. Sejujurnya ia merasa bersalah dengan abangnya itu. Karena perdebatan sengitnya dengan Kemuning pagi tadi. Membuat perempuan itu kalap hingga sampai hati mengusir sambil menyumpah kata-kata keji pada mereka.

“Dik, besok kamu masih libur?” tanya Dicta tiba-tiba.

“Kuliah siang,” Ringgo menggeleng. “Kenapa?”

“Rencananya aku mau ketemu Mbak Ajeng. Mau minta maaf,” sahutnya ragu-ragu.

“Hari Minggu saja. Siang atau sore,” saran Ringgo.
“Begitu, ya?”

“Iya, Mas. Lagipula besok sehabis pulang kuliah aku mau ikut ngajar dengan Getta di SD milik panti asuhan yang dikelola Tante Drisga, adik sepupu mamanya, bersama teman-teman beliau.”

Wajah Dicta terlihat bimbang.

“Aku temani, kok.”

“Janji?”

Ringgo mengangguk mantap. Seketika ia merasa sediit lega ketika Dicta kembali ceria.

* * *

Dini melangkah tegak menuju ruangan Marina. Perasaannya mengatakan bahwa perempuan itu hendak berbicara sesuatu yang serius padanya. Tatapan datar sorot mata Arlan ketika menyampaikan panggilan Marina membuat rasa penasaran sekaligus gugupnya semakin menguat.

“Ibu panggil saya?”

“Dini, ya?”

“Iya,” sahutnya pelan.

“Silakan masuk.”

Dini lalu melebarkan pintu hanya seukuran tubuhnya yang sedikit terbuka itu. Marina sudah menunggunya di dalam. Duduk manis dengan tubuh tegahyang mempertegas kewibawaanya sebagai seorang boss.

“Silakan duduk,” Marina menunjuk kursi di seberangnya yang dipisahkan oleh meja kerjanya.

“Terima kasih.”

“Kamu tahu kenapa saya memanggilmu ke sini?”

Perempuan muda itu hanya menggeleng polos.

“Kalau saya boleh tahu, kamu siapanya Ecilia?”

Dini terbengong. Hatinya yang semula gugup berubah menjadi kesal. Namun ia wajahnya tetap sedatar saat ia baru masuk. Agar Marina tak mempertanyakan ekspresinya.

Pagi-pagi gini udah bahas yang nggak penting!

“Oke, kalau kamu nggak bersedia jawab, nggak apa-apa. Mm... kalau Dicta?”

Ah, apalagi dia!

“Sebetulnya saya bersedia untuk jawab pertanyaan Ibu,” ucapnya lugas. “ Tapi sebelumnya saya juga harus tahu, untuk apa Ibu mengetahuinya?”

Marina tersenyum. Berusaha untuk mengerti.

“Untuk hal yang sepatutnya tak kamu pendam dalam hati.”

“Maksud Ibu apa?”

“Din, saya sebenarnya tahu Ecilia dan Dicta itu siapa. Kamu nggak jawab pun bukan masalah bagi saya.”

“Lantas?”

“Din, tolong  jangan benci Ecilia.”

“Kenapa? Maksudku, Ibu tahu dari mana?”

“Apakah permintaanku ini salah?” tatapan Marina mengabur.

Tiba-tiba Dini limbung. Ia menjadi merasa bersalah. Kebenciannya pada Ecilia memang selalu absurd. Yang ia tahu alasannya karena perempuan muda itu dihamili oeh Dicta, satu-satunya laki-laki yang dicintainya. Meskipun kenyataannya dugaan itu belum jelas.

Ada apa sebenarnya? Apa yang yang telah terjadi?

“Kenapa? Apa yang terjadi?”

“Karena... dia... putriku... yang hilang sembilan belas tahun silam,” jawab Marina dengan isak tertahan.
Tubuh Dini seolah melayang entah ke mana. Mulutnya membungkam seribu bahasa. Keduanya membeku di kursinya masing-masing. Dengan tatapan kosong menerawang jauh.

* * *

“Kuantar, ya, Ma?”

Yolanda tersentak. Segera ia menoleh. Kaca jendela di sebelahnyamasih terbuka. Tubuh Irawan sudah berdiri di sebelah kanan luar jok pengemudi sambil menyembulkan kepalanya ke dalam. Seketika, ia urung mengambil kunci dari sakunya.

“Tumben udah pulang?”

“Nggak boleh?” ledek Irawan sambil menaikkan alis kirinya.

“Boleh. Yakin mau mengantarku?”

“Iyalah, Sara ,” Irawan menekan suaranya saat menyebut nama depan Yolanda.

“Nggak merepotkan?”

“Mengantar istri sendiri kok merepotkan,” gerutunya. “ Aku udah terlanjur izin, nih.”

“Kenapa izin? Ada urusan yang lebih penting dari pekerjaan?”

“Aku janjian mau ketemu Panji sore ini di Purnama. Boleh, kan?”

Tanpa pikir panjang Yolanda mengangguk dan segera keluar dari APV-nya sementara Irawan lalu masuk untuk menggantikannya. Ia kemudian menyusul dan duduk manis di jok kiri depan.

 “Ini sih namanya nebeng, Pa.”

“Soalnya penting banget. Masalah Jordi,”

“Tentang perempuan itu?” selidiknya.

“Iya. Soalnya aku penasaran dengan perasaanku.”

“Jadi Papa juga...,” Yolanda terhenyak dan mulai kehilangan kata.

“Iya, Ma,” angguk Irawan.

“Hm... Ini seperti suatu pertanda tapi entahlah. Aku tak mengerti. Kalau begitu, pulang nanti aku ikut kalian nimbrung, boleh?”

“Gimana, ya?” gumamnya ragu. “Oh, ya, Nia sendirian di rumah, dong?” Irawan menatap Yolanda dengan horor.

“Ada sama Clau di taman depan komplek. Tadi Aldo memberitahuku lewat Line bahwa ia dan Jordi pergi ke Bogor. Di rumah nggak ada orang. Semua pintu sudah dikunci.”

“Repot juga, ya, kalau Bik Munir dan Mang Tarmin lagi pulkam,” gumam Irawan. “Eh, Clau beneran udah pulang?”

“Iya, tadi siang.”

“Kalau begitu kita ajak saja nanti Panji ke rumah.”

“Ya udah, oke.”

* * *

Ajeng terhenyak usai mendengar penuturan Panji. Ia hanya mampu menggeleng. Tak ada kata-kata yang bisa dirangkainya untuk menanggapi uraian singkat laki-laki itu. Selain...

Perfect job! She’s sly woman!” seru Ajeng dengan takjub.

Panji membalasnya dengan senyum yang begitu hambar.

“Saya nggak kebayang kalau dia pernah berbuat senekat itu,” ucap Ajeng terheran-heran.
“Faktor keturunan, Jeng.”

Ajeng ternganga.

“Ayahnya, Pak Pramudyo, bahkan lebih gila daripada itu,” tuturnya dengan nada melecehkan. “Ia tega mengusir Lidya dan Respati saat masih gadis, menjauhkan mereka dari ibunya, dan yang lebih sadis ia dengan berani membunuh mertuanya sendiri untuk mendapatkan harta mereka.”

“Benarkah?”

Panji hanya mengangguk datar. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ada notifikasi BBM yang masuk ke ponselnya. Ketika ia membukanya, ternyata itu pesan singkat dari Irawan. Yang berisikan pemberitahuan bahwa laki-laki itu akan menemuinya di SD Yayasan Purnama petang ini.

“Kalau nanti Irawan bertanya tentangmu,” Panji kembali menatap Ajeng, “aku harus jawab apa?”

“Mm... Katakan yang sejujurnya saja, deh, Pak. Toh, saya nggak salah, kok. Kalau pun ia ingin bertemu dengan saya, ya, silakan saja. Tapi di sini. Besok pagi. Biar jelas kalau ini memang peternakanku,” sahutnya serius.

“Oke, aku pamit dulu, ya, Jeng,” ucap Panji.

“Eh, udah sore, ya, Pak?” Ajeng melirik arlojinya yang menunjukkan pukul lima lewat seperlima jam. “Iya, deh, ini saya juga udah waktunya pulang.”
Mereka lalu berdiri dan berjalan beriringan menuju area pakir.

* * *

“Telepon dariku tadi siang kenapa dimatikan, Ji?”

“Ponselku low battery, Wan,” bual Panji dengan wajah datar. “Eh, aku boleh tanya sesuatu padamu, nggak?"

“Boleh,” sahutnya sabar. “Mau nanya apa, sih?”

“Yang kemarin itu. Tentang perempuan yang lagi kamu kepo-in,” jawabnya, berusaha tenang.

 “Oh...,” Irawan melebarkan senyum. “Kamu mengira kalau dia rival bisnisku, ya? Jelas bukan dong. Kami berbeda profesi. Kan sudah kuberitahu tadi di telepon.”

“Bukan itu yang kumaksud.”

“Lantas?”

“Kalau aku boleh tahu, siapa perempuan itu sebenarnya?”

Irawan terbengong seketika. “Aku juga nggak tahu, Ji. Makanya aku minta bantuan kamu untuk menyelidikinya.”

Aduh! Dia gagal paham!

“Maksudku, tolong ceritakan bagaimana kamu bisa mengenal perempuan itu.”

“Oh... Kukira apa. Seperti biasa, Ji, lewat FB. Awalnya sih aku lagi pengen jalanin hobi lama. Terus saat aku menyentuh fitur searching, username FB perempuan itu muncul di posisi paling atas. Lalu kulacaklah berbagai informasi penting dari akunnya. Tapi yang kudapat nggak seperti yang diharapkan.”

“Coba sini kulihat.”

“Sebentar, ya.”

Irawan meraih ponselnya lalu mengetikkan sesuatu. Kemudian disodorkannya pada Panji.

Ini benar-benar... Panji hampir terhenyak. Lalu dikembalikannya ponsel itu pada Irawan. “Kamu benar-benar mau kubantu?”

Irawan mengangguk cepat.

“Aku kenal perempuan itu,” Panji mengulas senyum, memberi harapan. “Mau bertemu dengannya?”

“Ya, aku mau! Agar lebih jelas.”

“Kalau begitu besok pagi datang ke rumahku sekitar pukul tujuh. Nanti kita selesaikan semuanya di sana.”

* * *

Bersambung



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

[Puisi] Napas Agustus

Napas-napasku adalah hidupku Napas yang bertiup dari rahmat-Nya Napas yang diperjuangkan ayah dan ibu Napas yang diaminkan puluhan doa Mungk...