Selasa, 30 Mei 2017

[Cermin] Graduation







Aku duduk termangu di kursi murid. Padahal hari ini adalah acara kelulusanku. Yang seharusnya aku merasa bahagia. Belasan jenis kebisingan silih berganti menyapa dalam hening yang melingkupi sepetak ruang sunyi di hatiku. Namun aku tetap tak mau tahu. Semua itu hanya kuanggap sebagai angin lalu. Karena berbagai perasaan sedang menghinggapi hatiku. Aku sendiri tak tahu bagaimana harus mengendalikannya. Pelan, kuhela napas.

Kuingat kembali setiap momen yang tercipta dengan berbagai warna di sekolah. Yang terkadang membuatku semakin teguh atau rapuh. Semuanya bagai alur film yang beputar secara otomatis yang terpapar begitu jelas di depan mataku. Dari awal perkenalanku dengan lingkungan baru hingga detik ini. Dari tak tahu cara mencintai hingga  tak tahu cara membenci.

Sampai detik ini pun aku tak tahu apakah aku harus menangis atau tertawa. Dan semua itu selalu menjadi misteri tersendiri dalam hidupku. Tanpa jawaban yang jelas. Penuh kerancuan.

Lalu kucoba untuk mengangkat kepala. Aku kemudian menoleh ke kiri. Senyum manis Tiara menyambutku dengan tulus. Tanpa paksaan.

“Peristiwa di masa lalu bukan untuk membuatmu semakin menunduk malu atau mendongak congkak. Setiap masa yang berlalu memiliki keistimewaan yang harus kau pecahkan sendiri misterinya. Tak perlu seperti itu. Lakukan saja apa yang sepatutnya kamu kerjakan.”

“Apakah ini nyata?” tanyaku setengah putus asa.

“Nyata atau pun tidak bukan hakmu untuk meremehkan takdir,” sahut Tiara lugas.

Aku kembali termenung. Berusaha mencerna kata-kata yang meluncur dari mulut Tiara.

“Ayo,” Tiara mengulurkan tangannya. “Sudah saatnya untuk berfoto.”

Lalu kusambut tangan Tiara dengan senyum terkembang sempurna. Kami kemudian melangkah bersama menuju panggung untuk berfoto dengan teman-teman yang sudah bergabung di sana. Kebahagiaanku saat ini memang tak penuh. Setidaknya hari ini aku telah mendapatkan satu pelajaran yang harus kuingat seumur hidupku: jangan pernah mudah merasa memiliki!

* * *

Waktu melaju dengan alurnya sendiri. Membentang bersama takdir di atas awan yang penuh keajaiban. Tawa dan tangis adalah tetes hujan yang merintik darinya pada setiap makhluk di bawahnya. Entah dalam bentuk geimis kecil yang menyejukkan atau badai yang mematikan. Hanya rasa syukur yang mampu membuat siapa pun mampu menikmati pelanginya yang menakjubkan. Dan semua itu kembali kepada diri sendiri. Memilih jalan hidupnya dalam menyikapi takdir.

Jakarta, 21 Mei 2017
Khairunnisa


* * * * *

Note:

1. Fiksi tersebut dipublikasikan atas persetujuan Mutiara Ramandha (makasih, ya, Teh! Thank you so much....!!!!!)

2. Dan terimakasih buat semua anggota Forswalther untuk tiga tahun penuh warna. Love you more...  I’ll miss you.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

[Puisi] Napas Agustus

Napas-napasku adalah hidupku Napas yang bertiup dari rahmat-Nya Napas yang diperjuangkan ayah dan ibu Napas yang diaminkan puluhan doa Mungk...