Delapan
"Om
ternyata kenal dengan Tante Ajeng, ya?" celetuk Nia tiba-tiba.
"Perempuan
yang tadi, maksudmu?" Aldo segera mengalihkan tatapannya dari layar
televisi.
Nia
mengangguk antusias. "Dia orangnya baik lho, Om," timpalnya.
"Dia
Mama temanmu, ya?" selidik Aldo.
"Iya.
Bundanya Kak Praha."
Praha?
"Oh,
Praha kakak kelasmu itu yang pernah Om antar pulang ke rumahnya kan?"
wajah Aldo seketika berubah menjadi cerah.
"Nah,
itu Om tahu."
Jadi ternyata...
"Oh ya,
kamu tahu alamat peternakan Tante Ajeng nggak?"
"Nggak
tahu, Om."
"Hm...
Om mau pergi dulu, ya, Ya?" izinnya sambil mencubit pelan pipi kanan Nia.
"Titip salam sama Nenek. Jangan sampai lupa, lho. Oke?"
"Iya."
*
* *
"Kita
mau ke mana, sih, Do?"
Aldo hanya
menahan senyum. Melirik pada Jordi pun tidak. Konsentrasinya masih sepenuhnya
terfokus pada APV yang dikemudikannya.
"Do,
jawablah," rayunya dengan nada pura-pura merajuk.
"Udahlah
nggak usah bawel. Tenang aja," sahut Aldo dengan santainya.
"Aku
bukan anak kecil lagi, Do," ujar Jordi dengan nada melas. "Masanya
buat diculik udah kadaluwarsa. Percuma. Biar disekap seketat apa pun aku bisa
pulang sendiri."
Tawa Aldo
langsung pecah memenuhi kabin mobil karenanya. "Lebay kamu, Di!"
"Kamu
juga sih," Jordi terkekeh kecil. "Bawa kabur aku gitu aja. Nggak
pamit sama Mama."
"Nggak
pentinglah soal itu. Kamu kan adikku. Semiring apapun otakmu bahkan misalnya
melebihi Menara Pisa pun nggak bakal aku campakkan gitu aja."
"Kalaupun
andaikan nanti kamu sudah punya anak dan dia laki-laki, masihkah rasa sayangmu
sebagai kakak padaku tetap utuh dan tak meluntur sedikit pun?"
"Kalau
yang punya anak kamu duluan gimana?"
"Aku?"
"Ya...
bisa aja gitu kan."
Dia mulai curigakah?
Drrrtt...
drrrt...
"Eh, ponselku
getar nih, Do. Sebentar, ya."
Aldo melenguh
pelan. Tanpa suara. Dengan sabar, ditunggunya Jordi hingga pembicaraan adiknya
dengan seseorang di telepon berakhir. Ketika Jordi memutus teleponnya, ia
segera mengalihkan tatapan pada Aldo. Membuat abangnya memasang wajah penasaran
dengan sorot mata penuh tanya.
"Kenapa?"
"Kita
ke sekarang. Aku harus ke sana sekarang,
Do. Ada calon klien yang ingin menemuiku," jawabnya lugas. "Doakan
aku, ya?"
"Oh,
baiklah," Aldo lalu memutar arah mobilnya di ujung jalan. Semoga
beruntung."
*
* *
Dia cantik. Kelihatannya juga seorang
perempuan terpelajar dan berbudi pekerti. Punya karir yang menjanjikan. Segala
yang ada padanya terlihat hampir sempurna. Hanya ada satu yang kurang dari
dirinya...
Irawan
menghela napas pendek.
...dia belum menikah!
Usai sudah ia
menjalankan hobi lamanya. Dan sempat menyimpan beberapa foto dari sebuah akun
Facebook milik seseorang yang dikenalnya di sosial media tersebut. Tak ada yang
perlu ditakutinya untuk melakukan hal itu. Sebab bukan akun milik pribadinya
yang ia gunakan untuk berselancar di dunia maya. Karena akun miliknya sendiri
sudah lama terblokir atas ketidaksengajaannya.
Untung masih ada akunnya Jordi yang nyangkut
di ponselku. Irawan nyengir jahil dalam hati.
Tentu saja
diam-diam ia mendapat sedikit keleluasaan untuk memantau perkembangan putra
bungsunya. Meski hanya sebatas lewat dunia maya. Setidaknya ia masih bisa turut
andil dalam setiap hal mengenai laki-laki itu. termasuk urusan teman
sepergaulannya dan bahkan sesuatu yang lebih jauh daripada itu.
Mereka memang tampak berbeda. Aku sendiri
tak dapat mengelaknya. Tapi hatiku jauh lebih jujur daripada apa yang kulihat.
Aku dan Yolanda adalah orang tuanya. Perasaanku bilang bahwa mereka sangat
serasi. Namun entah pada bagian mana.
Tiba-tiba
saja rasa pening itu segera menyerang kepalanya. Rasa pening yang selalu
dirasakannya saat berhadapan dengan sejuta misteri tentang seorang Jordi.
Hampir sama rasanya. Namun tak pernah sepening ini.
Keahlianku hanya menguntit seseorang di
dunia maya. Itu pun hanya sebatas kemampuan orang pada umumnya. Tapi... Ah, ya!
Dia pasti bisa membantuku.
Tak butuh
waktu lama, teleponnya sudah tersambung pada telepon seseorang di seberang
sana.
"Sore,
halo?!"
*
* *
Dia meneleponku?
Panji
mengangkat ponselnya setinggi dada. Sebuah nama terpampang jelas di layar
ponselnya. Segera saja ia menyentuh simbol telepon berwarna hijau yang bergetar
tepat di bawah nomor tersebut. Ketika telepon mereka tersambung, dinyalakannya
mode hands free. Lalu diletakkannya ponsel itu di atas meja.
"Sore,
Wan. Ada apa?"
"Sore, halo?! Aku bisa minta tolong,
nggak?"
Panji
mendapati suara tanya dengan nada sangat serius dari teleponnya. Ia mulai
menerka-nerka. Namun ia tak berani menetapkan prasangkanya. Agar tak
menimbulkan rasa keberatan atau kekecewaan di hatinya.
"Tolong
apa?"
"Ada orang yang ingin kuselidiki. Tapi
informasi yang bisa kudapatkan melalui akun Facebook-nya nggak sedetail yang
kuinginkan. Ada sih beberapa yang bisa kuketahui. Tapi bukan alamat rumahnya.
Melainkan alamat tempat usahanya. Kira-kira kamu bisa bantu, nggak?"
"Username-nya apa?"
"Putri Jenggala," sahut seseorang
di teleponnya. "Yang profile picture-nya foto perempuan berpose senyum
merekah di sebuah kursi pendek dengan background halaman depan peternakan, ya,
Ji."
Putri Jenggala?
"Bagaimana, Ji? Bisa?"
Peternakan?
"Halo?
Panji?"
Diakah?
Tanpa sadar
laki-laki itu memutus teleponnya. Ia mengerjap beberapa kali. Mengatur nafasnya
hingga tenang sebelum melangkah pergi.
*
* *
"Kapan?!"
"Kira-kira
besok lusalah."
"Sendiri
atau..."
"Sendiri
lagi, Mbak."
"Oh,
kalau begitu aku kirim salam aja deh, sama masmu."
"Oke,
nanti akan kusampaikan. Selamat sore, Mbak."
"Sore."
Dia akan
datang. Mustika. Adik sepupu termuda Yolanda. Dengan harapan yang tak pernah
berubah. Ia tahu betul bagaimana hancurnya perasaan perempuan itu ketika
musibah kebakaran yang menimpa keluarga mereka membakar habis rumah yang hangat
beserta sejuta kenangan yang tersisa di dalamnya.
Lucy... Yolanda mendegut ludah. Gadis kecil itu selalu menjadi alasan
Mustika untuk pulang. Adik sepupuku itu sangat yakin bahwa putrinya masih
hidup. Aku takut harapannya sebatas angan. Pelan, ia menggeleng. Menepis
prasangka buruknya itu. Semoga harapannya
terwujud.
*
* *
Bersambung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar