Sabtu, 27 Mei 2017

[Cerbung] Adoptee #8






Delapan




"Om ternyata kenal dengan Tante Ajeng, ya?" celetuk Nia tiba-tiba.

"Perempuan yang tadi, maksudmu?" Aldo segera mengalihkan tatapannya dari layar televisi.

Nia mengangguk antusias. "Dia orangnya baik lho, Om," timpalnya.

"Dia Mama temanmu, ya?" selidik Aldo.

"Iya. Bundanya Kak Praha."

Praha?

"Oh, Praha kakak kelasmu itu yang pernah Om antar pulang ke rumahnya kan?" wajah Aldo seketika berubah menjadi cerah.

"Nah, itu Om tahu."

Jadi ternyata...

"Oh ya, kamu tahu alamat peternakan Tante Ajeng nggak?"

"Nggak tahu, Om."

"Hm... Om mau pergi dulu, ya, Ya?" izinnya sambil mencubit pelan pipi kanan Nia. "Titip salam sama Nenek. Jangan sampai lupa, lho. Oke?"

"Iya."

* * *

"Kita mau ke mana, sih, Do?"

Aldo hanya menahan senyum. Melirik pada Jordi pun tidak. Konsentrasinya masih sepenuhnya terfokus pada APV yang dikemudikannya.

"Do, jawablah," rayunya dengan nada pura-pura merajuk.

"Udahlah nggak usah bawel. Tenang aja," sahut Aldo dengan santainya.

"Aku bukan anak kecil lagi, Do," ujar Jordi dengan nada melas. "Masanya buat diculik udah kadaluwarsa. Percuma. Biar disekap seketat apa pun aku bisa pulang sendiri."
Tawa Aldo langsung pecah memenuhi kabin mobil karenanya. "Lebay kamu, Di!"

"Kamu juga sih," Jordi terkekeh kecil. "Bawa kabur aku gitu aja. Nggak pamit sama Mama."

"Nggak pentinglah soal itu. Kamu kan adikku. Semiring apapun otakmu bahkan misalnya melebihi Menara Pisa pun nggak bakal aku campakkan gitu aja."

"Kalaupun andaikan nanti kamu sudah punya anak dan dia laki-laki, masihkah rasa sayangmu sebagai kakak padaku tetap utuh dan tak meluntur sedikit pun?"

"Kalau yang punya anak kamu duluan gimana?"

"Aku?"

"Ya... bisa aja gitu kan."

Dia mulai curigakah?

Drrrtt... drrrt...

"Eh, ponselku getar nih, Do. Sebentar, ya."

Aldo melenguh pelan. Tanpa suara. Dengan sabar, ditunggunya Jordi hingga pembicaraan adiknya dengan seseorang di telepon berakhir. Ketika Jordi memutus teleponnya, ia segera mengalihkan tatapan pada Aldo. Membuat abangnya memasang wajah penasaran dengan sorot mata penuh tanya.

"Kenapa?"

"Kita ke  sekarang. Aku harus ke sana sekarang, Do. Ada calon klien yang ingin menemuiku," jawabnya lugas. "Doakan aku, ya?"

"Oh, baiklah," Aldo lalu memutar arah mobilnya di ujung jalan. Semoga beruntung."

* * *

Dia cantik. Kelihatannya juga seorang perempuan terpelajar dan berbudi pekerti. Punya karir yang menjanjikan. Segala yang ada padanya terlihat hampir sempurna. Hanya ada satu yang kurang dari dirinya...

Irawan menghela napas pendek.

...dia belum menikah!

Usai sudah ia menjalankan hobi lamanya. Dan sempat menyimpan beberapa foto dari sebuah akun Facebook milik seseorang yang dikenalnya di sosial media tersebut. Tak ada yang perlu ditakutinya untuk melakukan hal itu. Sebab bukan akun milik pribadinya yang ia gunakan untuk berselancar di dunia maya. Karena akun miliknya sendiri sudah lama terblokir atas ketidaksengajaannya.

Untung masih ada akunnya Jordi yang nyangkut di ponselku. Irawan nyengir jahil dalam hati.

Tentu saja diam-diam ia mendapat sedikit keleluasaan untuk memantau perkembangan putra bungsunya. Meski hanya sebatas lewat dunia maya. Setidaknya ia masih bisa turut andil dalam setiap hal mengenai laki-laki itu. termasuk urusan teman sepergaulannya dan bahkan sesuatu yang lebih jauh daripada itu.

Mereka memang tampak berbeda. Aku sendiri tak dapat mengelaknya. Tapi hatiku jauh lebih jujur daripada apa yang kulihat. Aku dan Yolanda adalah orang tuanya. Perasaanku bilang bahwa mereka sangat serasi. Namun entah pada bagian mana.

Tiba-tiba saja rasa pening itu segera menyerang kepalanya. Rasa pening yang selalu dirasakannya saat berhadapan dengan sejuta misteri tentang seorang Jordi. Hampir sama rasanya. Namun tak pernah sepening ini.

Keahlianku hanya menguntit seseorang di dunia maya. Itu pun hanya sebatas kemampuan orang pada umumnya. Tapi... Ah, ya! Dia pasti bisa membantuku.

Tak butuh waktu lama, teleponnya sudah tersambung pada telepon seseorang di seberang sana.

"Sore, halo?!"

* * *

Dia meneleponku?

Panji mengangkat ponselnya setinggi dada. Sebuah nama terpampang jelas di layar ponselnya. Segera saja ia menyentuh simbol telepon berwarna hijau yang bergetar tepat di bawah nomor tersebut. Ketika telepon mereka tersambung, dinyalakannya mode hands free. Lalu diletakkannya ponsel itu di atas meja.

"Sore, Wan. Ada apa?"

"Sore, halo?! Aku bisa minta tolong, nggak?"

Panji mendapati suara tanya dengan nada sangat serius dari teleponnya. Ia mulai menerka-nerka. Namun ia tak berani menetapkan prasangkanya. Agar tak menimbulkan rasa keberatan atau kekecewaan di hatinya.

"Tolong apa?"

"Ada orang yang ingin kuselidiki. Tapi informasi yang bisa kudapatkan melalui akun Facebook-nya nggak sedetail yang kuinginkan. Ada sih beberapa yang bisa kuketahui. Tapi bukan alamat rumahnya. Melainkan alamat tempat usahanya. Kira-kira kamu bisa bantu, nggak?"

"Username-nya apa?"

"Putri Jenggala," sahut seseorang di teleponnya. "Yang profile picture-nya foto perempuan berpose senyum merekah di sebuah kursi pendek dengan background halaman depan peternakan, ya, Ji."

Putri Jenggala?

"Bagaimana, Ji? Bisa?"

Peternakan?

"Halo? Panji?"

Diakah?

Tanpa sadar laki-laki itu memutus teleponnya. Ia mengerjap beberapa kali. Mengatur nafasnya hingga tenang sebelum melangkah pergi.

* * *

"Kapan?!"

"Kira-kira besok lusalah."

"Sendiri atau..."

"Sendiri lagi, Mbak."

"Oh, kalau begitu aku kirim salam aja deh, sama masmu."

"Oke, nanti akan kusampaikan. Selamat sore, Mbak."

"Sore."

Dia akan datang. Mustika. Adik sepupu termuda Yolanda. Dengan harapan yang tak pernah berubah. Ia tahu betul bagaimana hancurnya perasaan perempuan itu ketika musibah kebakaran yang menimpa keluarga mereka membakar habis rumah yang hangat beserta sejuta kenangan yang tersisa di dalamnya.

Lucy... Yolanda mendegut ludah. Gadis kecil itu selalu menjadi alasan Mustika untuk pulang. Adik sepupuku itu sangat yakin bahwa putrinya masih hidup. Aku takut harapannya sebatas angan. Pelan, ia menggeleng. Menepis prasangka buruknya itu. Semoga harapannya terwujud.

* * *

Bersambung





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

[Puisi] Napas Agustus

Napas-napasku adalah hidupku Napas yang bertiup dari rahmat-Nya Napas yang diperjuangkan ayah dan ibu Napas yang diaminkan puluhan doa Mungk...