Rabu, 28 Juni 2017

[Cerbung] Adoptee #11






 Sebelas





Wulan baru saja berlalu membawa piring dan gelas kotor ketika Ajeng menarik napas dalam-dalam sebelum membuka suara. Perempuan itu tampaknya butuh ketenangan ekstra hanya untuk meladeni tamu-tamunya.
“Jadi benar kalau Pak Aldo dan...,” ia mengarahkan wajahnya pada Jordi, “maaf nama bapak...”
‘Bapak’? Jordi tertohok. “Jordi,” lanjutnya.
Keduanya terlihat sangat canggung. Bukan canggung yang normal karena belum lama kenal. Bahkan mungkin ‘senormalnya’ pun tak ada rasa untuk ‘menghargai’ bila ‘korban’ Jordi bukan Ajeng dan debar seliar hutan rimba tak ada dalam hati mereka ketika tatapan keduanya saling bertemu. Ketiga orang tua di hadapan mereka sangat cermat menangkap kejanggalan itu.
“...mirip?” celetuk Panji.
Jangan-jangan dia adiknya Pak Aldo.
“Dia abang saya, Mbak.”
Ya ampun! Kepribadian mereka sangat kontras! Bagaimana bisa?
“Kalau kata orang, Aldo dan Jordi itu seperti bumi dan langit, Mbak. Beda jauh. Aldo berpikiran dewasa dan Jordi masih kayak... gitu deh,” tutur Yolanda sambil tertawa.
“Apaan sih, Ma?” protes Jordi sambil menendang kaki kanan Yolanda di bawah meja.
“Kami sebagai orang tua sangat malu atas perbuatan tak menyenangkan Jordi pada Mbak Ajeng tempo hari,” ucap Irawan dengan nada serius. “Mbak mau memaafkannyakah?”
Aku yakin mereka bukan orang tua sembarangan. Ajeng setengah mendongak. Tapi putranya? “Sudah saya maafkan,” angguknya.
“Kamu juga minta maaf, dong, Di,” tukas Yolanda melirik ke arah putranya.
“Iya,” Jordi lalu menatap utuh wajah Ajeng setelah menyahut pada mamanya, “saya minta maaf, Mbak. Saya mengaku salah. Kurang ajar dan mempermainkan Mbak Ajeng. Saya janji nggak akan mengulanginya lag pada Mbak maupun orang lain.”
“Iya, saya maafkan,” Ajeng berusaha tersenyum ‘normal’.
“Nah, gitu kan gampang. Cuma minta maaf aja apa susahnya, sih?”
Semudah itu? Tapi jantungku ini? Diam-diam Jordi menghela napas.
“Jeng, lain kali kalau kita mau mampir lagi boleh nggak?” Panji menyela kekosongan dengan nada jahil.
“Boleh. Tapi di rumah saya aja. Di sini kurang nyaman. Bau ayam,” perempuan itu terkekeh kecil.
“Ya sudah, kami pulang dulu, Mbak. Kalau terlalu lama di sini takut mengganggu,” pamit Yolanda tiba-tiba.
Mengganggu... hatikukah?
“Oh, ya,mari saya antar.”
* * *
Dia itu tolol akut atau apa, sih?!
Kemuning mendengus keras. Tak ada jawaban dari nomor yang dihubunginya. Dilemparnya ponsel di tangan kiri ke atas ranjang. Sesungguhnya ia mulai sadar bahwa kedua robotnya itu sudah enggan didiktenya. Dan mulai mencari ‘kemerdekaannya’ sendiri dengan memberontak padanya dengan menuturkan kalimat yang tidak pantas diucapkan. Keterlambatannya menyadari apa yang sebenarnya terjadi itu cukup membuatnya menyesal. Walaupun begitu, sebetulnya ia masih memiliki robot yang lain. Yang sejak lama tak ‘dipakai’-nya. Karena kekeliruannya di masa lalu.
Seharusnya ia sudah berhasil merugikan perempuan sialan itu. Tapi... benarkah ia tak secerdik Dicta dan Ringgo?                                                                                 
Perempuan itu lalu mencoba untuk menguak kembali ingatannya tentang bocah kecil yang pernah diasuhnya. Yang pernah ia dengar dari salah satu mantan ART yang pernah bekerja pada keluarga mantan majikannya itu.

“Dia sih ndak ada apa-apanya, Yu Ning,” ujar Satni dengan nada mencibir. “Pekerjaannya memang lumayan. Otaknya jempol. Gantengnya di atas standar. Ditaksir banyak gadis yang ayu, lho! Tapi entahlah, saya nggak mengerti, mungkin karena statusnya bungsu, kelakuannya masih kayak bocah!”
“Kamu naksir juga?”
“Awalnya iya. Tapi lama-lama saya nggak suka dengan kelakuannya walau kata dia cuma bercanda. Akhirnya saya mundur. Makin hari dia makin kayak bocah. Lagipula saya juga sudah dijodohkan.”
“Kalau Aldo?”
“Biasa aja. Saya nggak tertarik.”
Seganteng itu dibilang biasa aja? Dasar pembantu sombong! Kemuning hanya manggut-manggut.
“Kalau dibandingkan dengan putra saya?”
Perempuan muda itu terbahak. “Jauh bangetlah. Kalau saya belum nikah, mungkin saya naksirnya sama putranya Yu Ning.”
Kemuning kemudian menelepon kembali seseorang di luar sana.
* * *
Praha menghela napas usai membaca halaman terakhir diary milik Puri di tangannya. Yang ditemukannya ketika terakhir kali mengunjungi tempat tinggal lamanya. Dihempaskannya punggung ke sandaran kursi belajar.
Helda dan Kak Yophine kabur ke kampung halaman mereka. Bang Egi dan Bang Tora jadi pelayan warkop pinggir jalan di Bandung. Oka, Seto, dan Mas Gerry jadi buruh kuli di pasar luar kota. Puri rencananya mau mengajakku dan Indy mengikuti Helda dan Kak Yophine yang sebelumnya ingin menetap di sini. Lalu Puri dan Indy sekarang?
Gadis muda itu melenguh kecil. Ia sebetulnya menyadari bahwa meminta bantuan polisi bukanlah jalan yang tepat. Justru tindakannya itu akan mempersulit langkahnya menelusuri jejak teman-temannya yang ‘hilang’. Ratri pun sebenarnya tak mau ikut-campur terlalu jauh. Karena perempuan itu mengenali baik siapa Ajeng dan Praha.
Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Ketika ia menoleh, Ajeng sedang berjalan santai menghampirinya. Mengajaknya dengan lembut untuk makan malam. Dan Praha menurutinya. Mereka berdua melangkah bersama ke ruang makan.
* * *
Ini adalah malam makan terindah dalam hidup Yolanda. Terlaksana tepat waktu dan dengan personil komplit. Tio sudah tiba di rumahnya sore tadi. Orang-orang di sekitarnya saat ini pun mungkin merasakan hal yang sama Di tengah kehangatan canda dan tawa orang-orang kesayangannya. Ada keluarga kecil Chandra dan Tio yang turut melengkapi makan malamnya kali ini. Bukan hal yang biasa terjadi itulah yang membuatnya sedikit merasa euphoria. Meskipun begitu ia tetap berusaha menstabilkan ledakan emosinya itu.
Di antara mereka yang berbahagia, yang terlihat ‘sengsara’ adalah Jordi. Sekuat tenaga ia berusaha untuk tidak ‘menonjolkan’ keberadaannya. Menghindar saat makan malam hanya akan memaksanya untuk membuat kebohongan baru. Ia pun hanya sesekali ikut terkekeh ringan ketika Nia berceloteh tentang banyak hal di sekolahnya yang sama sekali tak ‘dinikmati’ Jordi seutuhnya. Untuk menutupi kegelisahannya.
“Lho, nggak ada saus tomat, to?” kening Irawan mengerut.
“Oh, ya, Mama lupa ambil. Ada di kulkas, kok.”
“Kan kemarin udah habis, Ma,” ralat Aldo.
“Ya udah, kamu beli di minimarket depan, Do. Lima botol,” Yolanda menyerahkan selembar uang seratus ribuan dari saku blusnya pada Aldo. “Yang ukuran biasa, ya?”
“Sip!”
Sepeninggal Aldo, mereka kembali berbincang. Chandra yang memulainya.
“Eh, Ya, kakak kelasmu yang waktu itu pernah main ke rumah, siapa namanya?” tanya Chandra antusias.
“Yang berkuncir satu atau berkepang, Pa?”                                                                                                            
“Yang berkuncir satu, siapa namanya?”

“Oh, namanya Kak Praha. Kalau yang berkepang itu namanya Kak Gea,” sahutnya sambil menuangkan susu dalam milk jug ke gelasnya. “Kenapa emangnya?”

“Kok kayaknya mirip Opud, ya, Ya?”

“Ha, mirip saya?” Tio terbelalak.

Sekilas Mustika melirik Chandra. “Cuma kebetulan mirip ‘kali, Dra,” celetuknya.
Irawan dan Yolanda pun berpendapat yang sama dengan Mustika.
 “Yang mana sih, Pa? Kok Mama nggak pernah lihat, ya?” tanya Claudia sambil menarik selembar tisu dalam box di tengah meja.
“Waktu mereka datang kebetulan aku ada di rumah dan Mama lagi kontrol perpus. Makanya Mama nggak ketemu,” ujar Chandra yang masih sibuk menghabiskan sepiring aneka potongan buah.
“Itu pun baru sekali datang, Ma,” timpal Nia.
Seketika bibir Claudia membundar kecil.
“Kira-kira seperti apa, ya, wajahnya? Hm... Tapi Tante jadi kepo, nih,” Mustika meringis malu. “Besok pagi kuantar Nia sekolah, boleh, ya, Clau, Dra?”
“Boleh nggak tuh, Ya?” Chandra menatapnya putrinya iseng.
“Terima aja, Ya! Nanti ditraktir Omud ice cream sandwich yang paling maknyus lho! Bilang, iya!” ‘paksa’ Claudia dengan tatapan jenaka.

“Ah, kamu, Clau, bilang aja biar irit bensin!” sambar Irawan tiba-tiba.
“Demi keefisiensian sisa isi dompet akhir bulan, Pa,” sahut Claudia dengan santai.
“Apaan isinya? Kartu ATM kosong?!”
Seketika seisi ruangan riuh penuh bahak. Dan Aldo datang semenit berikutnya. Usai menyimpan empat botol saus tomat di kulkas dan menyisakannya sebuah dan diletakkannya di atas meja makan.
“Heboh banget? Ada apa, sih?” Aldo kembali duduk di kursinya dengan wajah penasaran.
“Biasa tuh, Papa dan Mbakmu,” senyum Yolanda. “Dan Tantemu yang pingin banget nganter Nia besok.”
Laki-laki itu hanya menggeleng-gelengkan kepala.
“Eh, boleh nggak nih, Ya? Mau, ya?” rayu Mustika dengan wajah memelas.                                                                                                  
“Diizinin Opud, nggak?” ledek Nia, jahil.
“Boleh kok, boleh. Iya kan, Pud?” kejar Mustika.              
Tio mengangkat bahu dengan tatapan acuh.
“Kalau aku maunya diantar Om Jordi aja, gimana?” Nia melirik Omnya itu yang didapatinya gelisah sejak tadi.
“AKU?” jerit Jordi gelapan.
“Kamu kenapa, Di? Sakit?” tegur Yolanda khawatir.
“Aku... enggak... Nggak apa-apa,” ia berusaha tenang.
“Mungkin masih demam, Ma,” celetuk Irawan.
“Kamu demam, Di?”
Ketika ia akan membuka mulut, Irawan sudah mendahuluinya.
“Demam tadi pagi itu lho. Gara-gara habis ketemu Ajeng,” jawab Irawan.
“Jordi jatuh cinta?!” Claudia mengernyit.
Diam- diam Jordi merutuk. Ah, Aku lupa kalau di sini ada Mbak Clau! Mati aku!
* * *
Mungkin memang benar karena dia...
Jordi menyeruput cappucino-nya yang mulai mendingin.
...yang membuatku tak mampu berpaling dan membuka hati untuk yang lain.
Laki-laki itu mengerjap. Diletakkannya cangkir di atas piring mungil dengan hati-hati.
Meskipun sosok aslinya tak pernah kutemukan...
Diam-diam dinikmatinya aroma sisa embun dari balik jendela kamar.
...dan terlalu mustahil untuk kuendus keberadaanya di dunia nyata.
Tatapannya meredup seketika. Ia mulai limbung.
Karena dia seperti makhluk absurd yang memang benar-benar hanya ada dalam benakku dan akun Facebook itu.
Dan tiba-tiba saja sebutir rasa kesal muncul di hatinya.
Kenapa harus aku yang menanggung rasa bersalah ini? Yang membuatku terlihat setengah gila? Tersudut? Sementara ia di luar sana mungkin saja dia sudah memiliki kekasih nyata yang dicintainya sepenuh hati. Melupakan hal-hal tentang kita. Melupakanku begitu saja. Dan...
Laki-laki itu hampir saja menumpahkan air matanya kalau saja tak ada suara Yolanda memanggilnya dari luar.
* * *
Bersambung


Jumat, 02 Juni 2017

[Cerbung] Adoptee #10




Sepuluh




Irawan menatap putra bungsunya dengan wajah datar yang cenderung terlihat serius dan ‘mencurigakan’. Jordi segera memalingkan wajahnya ke semak-semak di sudut halaman depan rumah. Padahal  ia tak tahu apa yang akan dilakukan ayahnya setelah ini. Entah akan berbicara serius padanya seputar dunia olahraga, mengajak diskusi soal politik, perkembangan ekonomi negara, atau hal lain yang mungkin tak terjangkau di benaknya. Sesungguhnya ia sangat yakin bahwa salah satu dari tebakannya itu tak ada satu pun kemungkinan untuk dibahasnya bersama Irawan dalam obrolan ringan menjelang tidur di teras rumah. Dan itulah yang sebetulnya ia khawatirkan sejak tadi. Bila tiba-tiba laki-laki itu melontarkan satu topik obrolan yang diam-diam sedang dihindarinya.

“Di, lihat wajah Papa,” tukas Irawan tiba-tiba, memecah keheningan.

Jordi lalu menolehnya. Berusaha membalas tatapannya dengan wajah tenang. Masih terdiam. Belum berani menyahut.

“Kamu kenapa begitu?”

‘Begitu?’ Jordi menelan ludah.

“Begitu seperti apa maksud Papa?”

Irawan menggeleng. Ditatapnya Jordi dengan wajah kecewa.

“Kamu sudah terlalu tua untuk mengusili orang lain. Apalagi pada tingkatan seserius ini. Jangan merasa terjebak dalam umur. Kenyataannya memang kamu yang bersalah. Bukan takdir,” ucap Irawan sabar.

“Aku nggak mengerti maksud Papa,” sahut Jordi dengan nada ‘polos’.

“Kalau nggak mengerti besok pagi kamu harus ikut Papa dan Mama. Kamu masih cuti, kan? Kita selesaikan hingga tuntas urusanmu itu. Biar nggak jadi aib buatku dan mamamu, terutama dirimu sendiri.”

“Tapi...”

Namun Irawan sudah melangkah masuk ke dalam tanpa pamit terlebih dahulu dengannya. Membuat ia merasa cemas sepanjang malam. Yang disertai pula dengan sebuah rasa yang...

Entahlah... Jordi mengerjap. Dia selalu seperti misteri yang menyenangkan bagiku.

* * *

“Aku senang banget udah sampai di sini, Ma,” celetuk Claudia tiba-tiba sambil mengiris wortel.

Yolanda tersenyum. “Memang kenapa kalau terlalu lama di sana? Bosan sendirian di hotel karena sering ditinggal Chandra?”

“Kalau itu sih nggak apa-apa,” suara Claudia terdengar lebih serius. “Cuma nggak tau kenapa setiap hari bawaannya tuh kangen terus sama kalian di sini. Apalagi sama adik bungsuku itu.  Gimana perkembangannya selama kutinggal ke luar negeri?”

Yolanda tersentak. Ia lalu menghentikan pekerjaannya memotong kentang ketika pikirannya tiba-tiba terpusat pada satu topik tentang Jordi. Sejujurnya ia tak tahu harus mulai dari mana. Sebagai seorang ibu, apa yang ada dalam benaknya saat ini seolah begitu nyata. Namun sepertinya perempuan itu mulai kehabisan kata. Sehingga ia tak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan sederhana Claudia.

Tok! Tok! Tok!

“Ya, tunggu!”

Yolanda menghela napas tak kentara ketika suara ketukan di depan pintu menyela. Memberinya sedikit ruang untuk menghindari pertanyaan Claudia selanjutnya yang mungkin akan ‘mengganggu’-nya.

“Biar Mama yang buka, ya?”

Yolanda lalu melangkah menuju depan tanpa menggu jawaban Claudia.

“Tunggu sebentar!”

Diraihnya handle pintu. Glek! Pintu terbuka.

“Mustika!”

“Mbak,” suara itu melirih sesaat ketika sosok perempuan setengah baya muncul di hadapannya. “Apa kabar?”

Seketika dua tubuh itu saling berpelukan. Tubuh Yolanda dan Mustika. Saling menumpahkan segala kerinduan yang ada. Genangan bening di mata kanan Mustika menggelinding membasahi leher kiri Yolanda yang selalu hangat untuknya. Dibalas dengan kecupan sayang Yolanda yang selalu tulus. Untuk siapa pun orang yang dicintainya. Tak ada secuil kata pun yang dapat mereka lontarkan. Sekembalinya Mustika dari Singapura saja sudah lebih dari cukup baginya. Karena setiap harinya ia selalu menunggu kedatangan perempuan itu. Karena amanat orang tua Mustika yang membuat hatinya selalu terikat dengan adik sepupu bungsunya.


“Kami sudah cukup tua. Usia kami hampir menginjak pertengahan 60-an. Sementara kami baru mampu mengantarkanmu ke gerbang pernikahan, sedangkan untuk anakku belum. Sebagai orang tua angkat, kami nggak minta banyak darimu, Lan,” tutur Witri beberapa puluh tahun silam. “Kalau kamu ingin berbakti padaku dan Pak Likmu sebagai keponakan sekaligus anak angkat, rawat dan jagalah Mus kami semampumu. Aku yakin Irawan mau mengerti. Dia putri semata wayang kesayangan kami. Seperti orang tuamu mencintaimu dengan segenap jiwa dan raganya.”

“Apakah aku mampu?”

Ndhuk,” Mitro mengulas senyum. “Kami yakin kamu pantas mengemban amanat ini,” angguknya.

Setelah Mustika lulus sekolah di kemudian tahun, diajaknya gadis itu ke Jakarta atas persetujuan Irawan bersama anak-anak mereka. Hingga pada akhirnya ia berhasil mempertemukan Mustika dengan laki-laki yang selalu siap mencintai perempuan itu dalam kondisi apapun. Hardantio Jananto. Dan mereka menikah atas restu Witri dan Mitro setelah Mustika dinyatakan lulus dan mendapatkan gelar S.E di belakang namanya.


Semuanya berlangsung beberapa detik hingga Claudia datang memecah keheningan haru di antara mereka. Seketika keduanya tersadar dan saling menarik diri dari dekapan.

“Tante?”

“Clau... sini, sayang.”

Mustika segera membawa Claudia ke dalam pelukannya yang menenangkan. Lalu melepasnya dan mereka saling menanyakan kabar masing-masing. Claudia terlihat begitu senang karena kepulangannya mendahului kedatangan Mustika.

“Kita duduk dulu, yuk!” ajak Yolanda sambil mengusung bahu Mustika.

Lalu mereka menempati sofa panjang di sebelah kiri Claudia. Yolanda dan Mustika duduk berdampingan dengan posisi yang nyaris berbeda. Saling bertatapan dengan wajah berseri. Sementara Claudia pamit ke dapur untuk membuat minuman.

“Maaf, Mbak, aku nggak konfirmasi kedatanganku dulu sebelumnya. Ponselku mati.”

“Nggak apa-apa. Yang penting kamu selamat sampai di sini,” jawab Yolanda.

“Mbak.”

“Ya?”

Soal diakah?

“Sebetulnya harapan ‘itu’ masih ada. Salahkah kami memeliharanya?”

Yolanda hanya menggeleng. Seutuhnya ia mampu merasakannya juga. Kehilangan, harapan, kesedihan, yang akhir-akhir ini terbalut oleh rasa bersalah yang entah untuk apa hingga ketiga rasa pahit tadi mulai tersamar bahkan seolah nyaris sirna karena dianggap oleh ‘penderita-‘-nya sudah tak penting lagi.

“Kamu dan Tio nggak salah. Kalian tak pantas dihukum oleh dan dengan apapun atas harapan sederhana yang kalian jalin setiap hela napas yang kalian anggap semakin tak berarti tanpa keberadaannya  di antara kalian.”

“Bila Mbak sependapat dengan kami, lantas menurut Mbak dimana Lucy kami sekarang berada?”

“Entahlah. Semoga dia berada di tempat yang aman, hangat, dan penuh cinta,” sahut Yolanda sambil menerawang jauh menembus dinding.

“Begitukah?”

“Aminkan doa baik dari siapa pun, Mus,” ucapnya setengah memerintah.

Dan Mustika hanya mengangguk sambil mengamininya dalam hati.


“Tumben Clau ada di sini?”  Mustika mengalihkan topik pembicaraan ketika hatinya mulai tenang.

“Kemarin baru pulang dari KL dia. Harusnya sih hari ini. Dari bandara nyangkut dulu di sini.”

“Kangen sama Jordi, Tan.”

Keduanya segera menoleh. Claudia yang sedang membawa nampan berisi  tiga piring mungil mango pudding dan tiga gelas teh tarik menyeletuk tiba-tiba. Diletakkannya segera nampan itu di atas meja rendah di depan Mustika. Lalu ikut berbaur dan duduk di sebelah kiri Mustika.

“Kamu ke KL sendiri atau bertiga?”

“Sebetulnya aku berdua sama Mas Chandra,” sahut Claudia sambil meraih mango pudding-nya. “Tapi dia udah terbang duluan Senin malam kemarin. Sedangkan aku baru sampai di sini sekitar tiga jam yang lalu.”

Mereka lalu berbicara banyak mengenai lima tahun terakhir kehidupan masing-masing yang hampir berjalan tanpa dilalui bersama. Mengenai perkembangan karir, harapan yang terpendam, dan berbagai rencana baru untuk meng-upgrade kualitas hidup. Yang akhirnya selalu bermuara pada sebuah kesadaran Yolanda sebagai seorang ‘ibu’ dari ‘empat’ putra-putrinya. Plus Mustika. Untuk menjadi panutan sekaligus pembimbing hidup yang tak pernah ‘pensiun’ dari tugasnya tersebut.

* * *

Laki-laki itu... Apakah benar bahwa yang di depanku ini adalah dia atau Pak Aldo?
Ajeng mendegut ludah ketika sebersit sosok seseorang melintas di benaknya. Dan ia benar-benar tak mampu menerjemahkan alarm yang berdering di otaknya. Juga kata hatinya yang selalu membingungkan.

Rasa-rasanya kami pernah dekat.

Matanya terpejam. Mencoba menikmati hembusan uap embun yang bertiup dari celah jendela ruang kantornya yang terbuka.                                                        

Walaupun aku baru sekali bertemu dengannya.

Diam-diam ia mulai resah.

Apa yang sebenarnya sedang kualami?

Tatapannya menerawang jauh. Dijulurkannya kedua belah tangan di atas kusen jendela yang menumpu badannya yang duduk membungkuk.

Aku hanya butuh kejelasan yang nyata. Bukan sesuatu yang mendebarkan dan menggangguku seperti ini.

Ia lalu bangkit dari kursi.

Bila memang ia adalah... Kenapa harus dia? Ajeng melenguh kecil. Ah, mereka sudah datang!

Perempuan itu segera berlari keluar menuju area parkir ketika ekor matanya menangkap sebuah SUV melaju ke arah peternakannya.

* * *

Dia...

Keduanya saling terpana ketika tatapan mereka bertemu dalam satu titik waktu yang membekukan. Jordi benar-benar tak kuasa menahan debar yang meliar dalam detak jantungnya. Diam-diam ia mencoba untuk menemukan celah kosong dalam mata Ajeng. Yang menatap dalam matanya. Dan nyatanya ia berhasil. Membuatnya semakin ‘takut’. Bila yang dilihatnya itu hanya sementara. Sedangkan dalam hatinya secuil harapan ‘lebih’ itu masih mengisi di sudut paling terdalam. Meskipun ia sendiri tak pernah berani menanggapinya.

“Jeng.”

Perempun itu tersentak. Dialihkannya tatapan ke wajah Panji. Rupanya laki-laki itu sudah memperhatikan mereka sejak tadi. Seketika rona wajah Ajeng memerah malu.

“Ah, ya, mari masuk ke dalam, Pak, Bu,” kedua tangan Ajeng terulur ke arah ruang tamu, menggiring kedatangan tamunya.

“Terima kasih,” ucap mereka bersamaan.

Tangan kiri Irawan menggenggam erat tangan kanan Yolanda sambil melangkah masuk. Jordi dan Panji berjalan mengapit keduanya. Mereka lantas duduk di atas kursi yang telah ditunjuk Ajeng. Sekejap kemudian sang tuan rumah sudah pamit ke dalam pantry untuk menyiapkan jamuan. Ia harus melakukannya sendiri karena Wulan belum datang.

Irawan lalu menjawil pundak Yolanda dan melirik Jordi yang tampak begitu fokus menatap punggung Ajeng yang terus berjalan menjauh setelah perempuan itu menolehnya. Sambil menahan senyum, Yolanda hanya meletakkan telunjuknya di depan bibir. Agar putranya itu tak merajuk ketika mengetahui bahwa mereka sedang memperhatikannya.

Karena itu, Irawan tiba-tiba teringat akan obrolannya di telepon dengan Panji semalam. Sedikit tentang seorang Ajeng yang ingin dikenalnya lebih dalam.


“Ajeng itu perempuan yang luar biasa, Wan,” suara Panji bergema menembus telinga dan hati Irawan. Membuatnya tersentak oleh ketulusan yang keluar dari penuturan sahabatnya itu. “Ia bukan hanya seorang wanita karir yang berwibawa dengan bekal ilmu pendidikan yang mumpuni. Dia juga seorang pahlawan yang berperan besar dalam kehidupan anak-anaknya.”

“Dia sudah menikah?”

“Dia belum menikah,” Panji terkekeh ringan. “Dan anak-anaknya itu bukan darah dagingnya tapi buah hatinya.”

“Mereka itu anak asuhnya?”

“Anak angkatnya,” ralat Panji. “Karena ia juga seorang anak angkat,” suara Panji terdengar tersendat di pangkal tenggorokan.

“Seperti Yolanda?”

“Begitulah.”

 “Ia tinggal bersama dan dirawat satu-satunya bibi yang dimilikinya sejak ia masih batita. Ibunya meninggal dunia pasca melahirkannya. Dan ayahnya hilang entah kemana dalam sebuah peristiwa penculikan saat ia berusia empat belas bulan. Hingga kini tak pernah ada kabar yang menyatakan keadaan ayahnya. Lalu bibinya meninggal ketika ia baru empat bulan memegang jabatan sebagai pemilik sah dan pemimpin peternakan ayam yang sampai sekarang masih dilakoninya. Aku tahu itu sangat berat baginya. Tapi...”

“Kenapa?”

“Ia sudah mendedikasikan hidupnya untuk menghidupi anak-anak yang kurang beruntung sepertinya. Walaupun sesungguhnya ia tak semenderita anak-anak di luar sana, tapi ia sangat memahami betul bagaimana sulitnya memahami dan menerima kenyataan yang ada. Oleh karena itu, hingga kini ia masih enggan untuk melepas status kelajangannya. Masih belum siap.”

“Meskipun sebenarnya ia ingin?”

“Aku percaya bahwa keinginan untuk menikah ada dalam hatinya,” Panji mengangguk. “Dan saya juga percaya bahwa Jordi pantas untuknya.”

“Mungkinkah?”

“Aku tidak tahu. Tapi kelihatannya Ajeng dan Jordi seperti sepasang kekasih yang serasi di mata saya.”

Otak Irawan mendadak kosong. Dan telepon itu putus begitu saja setelah terdengar suara Panji mengucap salam dari ponselnya.


Beberapa menit kemudian, Ajeng dan Wulan datang.  Ajeng melangkah tegak dengan membawa sebuah nampan besar berisi lima piring kecil berisi beberapa potong singkong keju yang mengepulkan asap beraroma harum yang khas tertata rapi di atasnya. Wulan yang tiba lebih dulu segera memndahkan lima gelas besar teh hangat ke atas meja di depan ‘para tamu’.

* * *

“Aku akan membuatkannya singkong keju. Tapi... apakah dia suka?”

Ajeng termenung. Sebetulnya tak jadi masalah apapun yang disajikannya untuk empat orang ‘tamu’-nya di depan. Tapi karena ‘perselisihan’ itu ada. Mengganggunya. Ia benar-benar tak tahu apa yang sebenarnya ia rasakan saat ini. Berbagai jenis rasa yang berlainan sedang bergemelut mewakili perasaannya. Senang sekaligus sedih. Tenang sekaligus khawatir. Kecewa sekaligus rindu. Ingin sekaligus enggan. Dan pada akhirnya ia menyerah. Mengabaikan perseteruan dalam hatinya.

Kalaupun aku harus marah padanya untuk apa?

Di tengah lamunannya, tiba-tiba muncul suara perempuan memanggilnya dan bunyi ketukan dari ballik pintu pantry. Ia tahu itu suara Wulan. Karena memang ia yang memintanya untuk datang tepat pukul 07.45 melalui pintu lain yang mengarah menuju pantry. Agar perempuan itu ‘tak mengganggu tamu’-nya di depan.

“Buka aja, Lan. Nggak dikunci, kok.”

Seketika pintu itu terbuka dan datanglah Wulan mendekatinya.

“Ada yang bisa saya bantu, Mbak?”

“Buatkan lima gelas besar teh hangat, ya? Kalau sudah tolong antar ke ruang tamu.”

“Makanannya mau kubuatkan apa?” tawar Wulan sambil memanaskan 2 liter air mineral dalam teko listrik.

“Saya mau bikin singkong keju aja, deh. Kebetulan ada banyak potongan singkong mentah yang sudah dikupas dan keju cheddar di kulkas,” sahut Ajeng yang sedang mencari sesuatu dalam kulkasnya.

Wulan dan Ajeng lalu melanjutkan pekerjaannya masing-masing.

* * *

Bersambung





Selasa, 30 Mei 2017

[Cermin] Graduation







Aku duduk termangu di kursi murid. Padahal hari ini adalah acara kelulusanku. Yang seharusnya aku merasa bahagia. Belasan jenis kebisingan silih berganti menyapa dalam hening yang melingkupi sepetak ruang sunyi di hatiku. Namun aku tetap tak mau tahu. Semua itu hanya kuanggap sebagai angin lalu. Karena berbagai perasaan sedang menghinggapi hatiku. Aku sendiri tak tahu bagaimana harus mengendalikannya. Pelan, kuhela napas.

Kuingat kembali setiap momen yang tercipta dengan berbagai warna di sekolah. Yang terkadang membuatku semakin teguh atau rapuh. Semuanya bagai alur film yang beputar secara otomatis yang terpapar begitu jelas di depan mataku. Dari awal perkenalanku dengan lingkungan baru hingga detik ini. Dari tak tahu cara mencintai hingga  tak tahu cara membenci.

Sampai detik ini pun aku tak tahu apakah aku harus menangis atau tertawa. Dan semua itu selalu menjadi misteri tersendiri dalam hidupku. Tanpa jawaban yang jelas. Penuh kerancuan.

Lalu kucoba untuk mengangkat kepala. Aku kemudian menoleh ke kiri. Senyum manis Tiara menyambutku dengan tulus. Tanpa paksaan.

“Peristiwa di masa lalu bukan untuk membuatmu semakin menunduk malu atau mendongak congkak. Setiap masa yang berlalu memiliki keistimewaan yang harus kau pecahkan sendiri misterinya. Tak perlu seperti itu. Lakukan saja apa yang sepatutnya kamu kerjakan.”

“Apakah ini nyata?” tanyaku setengah putus asa.

“Nyata atau pun tidak bukan hakmu untuk meremehkan takdir,” sahut Tiara lugas.

Aku kembali termenung. Berusaha mencerna kata-kata yang meluncur dari mulut Tiara.

“Ayo,” Tiara mengulurkan tangannya. “Sudah saatnya untuk berfoto.”

Lalu kusambut tangan Tiara dengan senyum terkembang sempurna. Kami kemudian melangkah bersama menuju panggung untuk berfoto dengan teman-teman yang sudah bergabung di sana. Kebahagiaanku saat ini memang tak penuh. Setidaknya hari ini aku telah mendapatkan satu pelajaran yang harus kuingat seumur hidupku: jangan pernah mudah merasa memiliki!

* * *

Waktu melaju dengan alurnya sendiri. Membentang bersama takdir di atas awan yang penuh keajaiban. Tawa dan tangis adalah tetes hujan yang merintik darinya pada setiap makhluk di bawahnya. Entah dalam bentuk geimis kecil yang menyejukkan atau badai yang mematikan. Hanya rasa syukur yang mampu membuat siapa pun mampu menikmati pelanginya yang menakjubkan. Dan semua itu kembali kepada diri sendiri. Memilih jalan hidupnya dalam menyikapi takdir.

Jakarta, 21 Mei 2017
Khairunnisa


* * * * *

Note:

1. Fiksi tersebut dipublikasikan atas persetujuan Mutiara Ramandha (makasih, ya, Teh! Thank you so much....!!!!!)

2. Dan terimakasih buat semua anggota Forswalther untuk tiga tahun penuh warna. Love you more...  I’ll miss you.




Sabtu, 27 Mei 2017

[Cerbung] Adoptee #9





Sembilan




Ajeng terpaku di depan laptopnya. Pekerjanya sudah selesai. Tak perlu ada data yang harus direkap ulang. Semuanya sudah pas pada posisinya masing-masing. Sebenarnya ia sudah ingin pulang sejak tadi. Namun hatinya gelisah. Antara ya atau tidak, sejujunya ia penasaran. Yang ditunggunya belum juga datang. Bahkan hingga menit-menit terakhir jam kerjanya.

“Mbak Ajeng?”

“Hendra-kah?”

“Iya.”

Ajeng lalu beranjak membuka pintu.

“Ada apa, Hen?”

“Di depan ada yang mau ketemu Mbak Ajeng,” sahutnya sopan.

“Siapa? Kamu kenal?”

“Wah, saya nggak kenal, Mbak,”

“Laki-laki atau perempuan?”

“Laki-laki.”

Pak Aldo-kah?

“Oke, kamu dan Wulan sudah boleh pulang.”

“Serius? Terima kasih, Mbak,” ucap Hendra.

Ajeng  lalu mengangguk dan bergegas ke serambi peternakan.

* * *

“Ingat lho, Dict, tugasmu belum selesai.”

“Yang kemarin itu kan sudah kusetor?” jawab Dicta.

“Nggak bisa! Mama anggap itu nggak sah.”

“Lho, nggak bisa begitu, dong, Ma,” celetuk Ringgo.

“Mama nggak mau tahu, pokoknya besok lusa uang itu sudah terkirim ke rekening Mama. Titik!”

“Maaf, Ma, untuk itu kami nggak bisa,” sahut Dicta tegas.

 “Kamu ini bagaimana? Janin yang dikandung Ecilia itu kan anakmu. Dan kamu merelakannya begitu saja pada Ajeng?”

“Janin itu bukan anakku!” sahut Dicta dengan nada meninggi.

“Jadi maksudmu Mama yang  bersalah? Begitu?”

“Jelas!” sambar Ringgo tandas.

“Kami bukan robot, Ma,” sambung Dicta. ”Seharusnya Mama sadari itu. Kenapa bukan Mama sendiri yang melakukannya?”

“Kalian ini didoktrin siapa sih, sampai berani melawan Mama? Ajeng? Perempuan nggak tahu diri itu?!”

“Mama nggak pantas ngomong begitu!!!” tukas Ringgo. “ Perempuan yang nggak tahu diri itu Mama, bukan Mbak Ajeng! Bisanya cuma jadi perusak hidup orang lain!”
Seketika Kemuning dan Dicta terhenyak.

“Ringgo!”


“Mas...”

Dicta menggeliat. Lamunannya membuyar. Ditolehnya Ringgo yang tengah bersiap-siap untuk turun. Sambil menoleh ke kiri-kanan, ia berusaha melupakan perdebatannya dengan Kemuning yang bertengkar hebat dengan Ringgo tadi pagi. Hingga perempuan itu sampai hati mengusir ia dan adiknya.
“Berapa lama lagi, Dik?”

“Kira-kira setengah jam lagi kita sampai di terminal.”

Dicta tak menyahut. Ia lalu menoleh ke arah punggung tangan kirinya. Sedetik kemudian ia mendengus kecil karena arloji digitalnya mati. Maka diliriknya arloji di pergelangan tangan kiri Ringgo.

“Itu jam di arlojimu nggak salah, kan, Dik?”

“Eh,” Ringgo lalu melirik arlojinya yang jarum pendek dan panjangnya hampir menumpuk di angka 6.
“Nggak kok. Arloji punya Mas baterainya habis, ya?”


“Iya,” angguk Dicta. “Mm... nanti kalau sudah sampai kita mampir di warung nasi pecel ujung gang dulu, ya? Kita kan belum makan siang."


“Boleh. Oh, ya, tadi Mas Dicta melamun. Kenapa?”

“Nggak apa-apa,” sahutnya malas.

“Kepikiran yang tadi?”

“Menurutmu begitu?”

Tampaknya Dicta sedang malas membahas soal Keuning. Dan Ringgo hanya bisa termangu. Sejujurnya ia merasa bersalah dengan abangnya itu. Karena perdebatan sengitnya dengan Kemuning pagi tadi. Membuat perempuan itu kalap hingga sampai hati mengusir sambil menyumpah kata-kata keji pada mereka.

“Dik, besok kamu masih libur?” tanya Dicta tiba-tiba.

“Kuliah siang,” Ringgo menggeleng. “Kenapa?”

“Rencananya aku mau ketemu Mbak Ajeng. Mau minta maaf,” sahutnya ragu-ragu.

“Hari Minggu saja. Siang atau sore,” saran Ringgo.
“Begitu, ya?”

“Iya, Mas. Lagipula besok sehabis pulang kuliah aku mau ikut ngajar dengan Getta di SD milik panti asuhan yang dikelola Tante Drisga, adik sepupu mamanya, bersama teman-teman beliau.”

Wajah Dicta terlihat bimbang.

“Aku temani, kok.”

“Janji?”

Ringgo mengangguk mantap. Seketika ia merasa sediit lega ketika Dicta kembali ceria.

* * *

Dini melangkah tegak menuju ruangan Marina. Perasaannya mengatakan bahwa perempuan itu hendak berbicara sesuatu yang serius padanya. Tatapan datar sorot mata Arlan ketika menyampaikan panggilan Marina membuat rasa penasaran sekaligus gugupnya semakin menguat.

“Ibu panggil saya?”

“Dini, ya?”

“Iya,” sahutnya pelan.

“Silakan masuk.”

Dini lalu melebarkan pintu hanya seukuran tubuhnya yang sedikit terbuka itu. Marina sudah menunggunya di dalam. Duduk manis dengan tubuh tegahyang mempertegas kewibawaanya sebagai seorang boss.

“Silakan duduk,” Marina menunjuk kursi di seberangnya yang dipisahkan oleh meja kerjanya.

“Terima kasih.”

“Kamu tahu kenapa saya memanggilmu ke sini?”

Perempuan muda itu hanya menggeleng polos.

“Kalau saya boleh tahu, kamu siapanya Ecilia?”

Dini terbengong. Hatinya yang semula gugup berubah menjadi kesal. Namun ia wajahnya tetap sedatar saat ia baru masuk. Agar Marina tak mempertanyakan ekspresinya.

Pagi-pagi gini udah bahas yang nggak penting!

“Oke, kalau kamu nggak bersedia jawab, nggak apa-apa. Mm... kalau Dicta?”

Ah, apalagi dia!

“Sebetulnya saya bersedia untuk jawab pertanyaan Ibu,” ucapnya lugas. “ Tapi sebelumnya saya juga harus tahu, untuk apa Ibu mengetahuinya?”

Marina tersenyum. Berusaha untuk mengerti.

“Untuk hal yang sepatutnya tak kamu pendam dalam hati.”

“Maksud Ibu apa?”

“Din, saya sebenarnya tahu Ecilia dan Dicta itu siapa. Kamu nggak jawab pun bukan masalah bagi saya.”

“Lantas?”

“Din, tolong  jangan benci Ecilia.”

“Kenapa? Maksudku, Ibu tahu dari mana?”

“Apakah permintaanku ini salah?” tatapan Marina mengabur.

Tiba-tiba Dini limbung. Ia menjadi merasa bersalah. Kebenciannya pada Ecilia memang selalu absurd. Yang ia tahu alasannya karena perempuan muda itu dihamili oeh Dicta, satu-satunya laki-laki yang dicintainya. Meskipun kenyataannya dugaan itu belum jelas.

Ada apa sebenarnya? Apa yang yang telah terjadi?

“Kenapa? Apa yang terjadi?”

“Karena... dia... putriku... yang hilang sembilan belas tahun silam,” jawab Marina dengan isak tertahan.
Tubuh Dini seolah melayang entah ke mana. Mulutnya membungkam seribu bahasa. Keduanya membeku di kursinya masing-masing. Dengan tatapan kosong menerawang jauh.

* * *

“Kuantar, ya, Ma?”

Yolanda tersentak. Segera ia menoleh. Kaca jendela di sebelahnyamasih terbuka. Tubuh Irawan sudah berdiri di sebelah kanan luar jok pengemudi sambil menyembulkan kepalanya ke dalam. Seketika, ia urung mengambil kunci dari sakunya.

“Tumben udah pulang?”

“Nggak boleh?” ledek Irawan sambil menaikkan alis kirinya.

“Boleh. Yakin mau mengantarku?”

“Iyalah, Sara ,” Irawan menekan suaranya saat menyebut nama depan Yolanda.

“Nggak merepotkan?”

“Mengantar istri sendiri kok merepotkan,” gerutunya. “ Aku udah terlanjur izin, nih.”

“Kenapa izin? Ada urusan yang lebih penting dari pekerjaan?”

“Aku janjian mau ketemu Panji sore ini di Purnama. Boleh, kan?”

Tanpa pikir panjang Yolanda mengangguk dan segera keluar dari APV-nya sementara Irawan lalu masuk untuk menggantikannya. Ia kemudian menyusul dan duduk manis di jok kiri depan.

 “Ini sih namanya nebeng, Pa.”

“Soalnya penting banget. Masalah Jordi,”

“Tentang perempuan itu?” selidiknya.

“Iya. Soalnya aku penasaran dengan perasaanku.”

“Jadi Papa juga...,” Yolanda terhenyak dan mulai kehilangan kata.

“Iya, Ma,” angguk Irawan.

“Hm... Ini seperti suatu pertanda tapi entahlah. Aku tak mengerti. Kalau begitu, pulang nanti aku ikut kalian nimbrung, boleh?”

“Gimana, ya?” gumamnya ragu. “Oh, ya, Nia sendirian di rumah, dong?” Irawan menatap Yolanda dengan horor.

“Ada sama Clau di taman depan komplek. Tadi Aldo memberitahuku lewat Line bahwa ia dan Jordi pergi ke Bogor. Di rumah nggak ada orang. Semua pintu sudah dikunci.”

“Repot juga, ya, kalau Bik Munir dan Mang Tarmin lagi pulkam,” gumam Irawan. “Eh, Clau beneran udah pulang?”

“Iya, tadi siang.”

“Kalau begitu kita ajak saja nanti Panji ke rumah.”

“Ya udah, oke.”

* * *

Ajeng terhenyak usai mendengar penuturan Panji. Ia hanya mampu menggeleng. Tak ada kata-kata yang bisa dirangkainya untuk menanggapi uraian singkat laki-laki itu. Selain...

Perfect job! She’s sly woman!” seru Ajeng dengan takjub.

Panji membalasnya dengan senyum yang begitu hambar.

“Saya nggak kebayang kalau dia pernah berbuat senekat itu,” ucap Ajeng terheran-heran.
“Faktor keturunan, Jeng.”

Ajeng ternganga.

“Ayahnya, Pak Pramudyo, bahkan lebih gila daripada itu,” tuturnya dengan nada melecehkan. “Ia tega mengusir Lidya dan Respati saat masih gadis, menjauhkan mereka dari ibunya, dan yang lebih sadis ia dengan berani membunuh mertuanya sendiri untuk mendapatkan harta mereka.”

“Benarkah?”

Panji hanya mengangguk datar. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ada notifikasi BBM yang masuk ke ponselnya. Ketika ia membukanya, ternyata itu pesan singkat dari Irawan. Yang berisikan pemberitahuan bahwa laki-laki itu akan menemuinya di SD Yayasan Purnama petang ini.

“Kalau nanti Irawan bertanya tentangmu,” Panji kembali menatap Ajeng, “aku harus jawab apa?”

“Mm... Katakan yang sejujurnya saja, deh, Pak. Toh, saya nggak salah, kok. Kalau pun ia ingin bertemu dengan saya, ya, silakan saja. Tapi di sini. Besok pagi. Biar jelas kalau ini memang peternakanku,” sahutnya serius.

“Oke, aku pamit dulu, ya, Jeng,” ucap Panji.

“Eh, udah sore, ya, Pak?” Ajeng melirik arlojinya yang menunjukkan pukul lima lewat seperlima jam. “Iya, deh, ini saya juga udah waktunya pulang.”
Mereka lalu berdiri dan berjalan beriringan menuju area pakir.

* * *

“Telepon dariku tadi siang kenapa dimatikan, Ji?”

“Ponselku low battery, Wan,” bual Panji dengan wajah datar. “Eh, aku boleh tanya sesuatu padamu, nggak?"

“Boleh,” sahutnya sabar. “Mau nanya apa, sih?”

“Yang kemarin itu. Tentang perempuan yang lagi kamu kepo-in,” jawabnya, berusaha tenang.

 “Oh...,” Irawan melebarkan senyum. “Kamu mengira kalau dia rival bisnisku, ya? Jelas bukan dong. Kami berbeda profesi. Kan sudah kuberitahu tadi di telepon.”

“Bukan itu yang kumaksud.”

“Lantas?”

“Kalau aku boleh tahu, siapa perempuan itu sebenarnya?”

Irawan terbengong seketika. “Aku juga nggak tahu, Ji. Makanya aku minta bantuan kamu untuk menyelidikinya.”

Aduh! Dia gagal paham!

“Maksudku, tolong ceritakan bagaimana kamu bisa mengenal perempuan itu.”

“Oh... Kukira apa. Seperti biasa, Ji, lewat FB. Awalnya sih aku lagi pengen jalanin hobi lama. Terus saat aku menyentuh fitur searching, username FB perempuan itu muncul di posisi paling atas. Lalu kulacaklah berbagai informasi penting dari akunnya. Tapi yang kudapat nggak seperti yang diharapkan.”

“Coba sini kulihat.”

“Sebentar, ya.”

Irawan meraih ponselnya lalu mengetikkan sesuatu. Kemudian disodorkannya pada Panji.

Ini benar-benar... Panji hampir terhenyak. Lalu dikembalikannya ponsel itu pada Irawan. “Kamu benar-benar mau kubantu?”

Irawan mengangguk cepat.

“Aku kenal perempuan itu,” Panji mengulas senyum, memberi harapan. “Mau bertemu dengannya?”

“Ya, aku mau! Agar lebih jelas.”

“Kalau begitu besok pagi datang ke rumahku sekitar pukul tujuh. Nanti kita selesaikan semuanya di sana.”

* * *

Bersambung



[Puisi] Napas Agustus

Napas-napasku adalah hidupku Napas yang bertiup dari rahmat-Nya Napas yang diperjuangkan ayah dan ibu Napas yang diaminkan puluhan doa Mungk...