Wulan
baru saja berlalu membawa piring dan gelas kotor ketika Ajeng menarik napas
dalam-dalam sebelum membuka suara. Perempuan itu tampaknya butuh
ketenangan ekstra hanya untuk meladeni tamu-tamunya.
“Jadi
benar kalau Pak Aldo dan...,” ia mengarahkan wajahnya pada Jordi, “maaf nama
bapak...”
‘Bapak’? Jordi tertohok. “Jordi,”
lanjutnya.
Keduanya
terlihat sangat canggung. Bukan canggung yang normal karena belum lama kenal.
Bahkan mungkin ‘senormalnya’ pun tak ada rasa untuk ‘menghargai’ bila ‘korban’
Jordi bukan Ajeng dan debar seliar hutan rimba tak ada dalam hati mereka ketika
tatapan keduanya saling bertemu. Ketiga orang tua di hadapan mereka sangat
cermat menangkap kejanggalan itu.
“...mirip?”
celetuk Panji.
Jangan-jangan dia adiknya Pak Aldo.
“Dia
abang saya, Mbak.”
Ya ampun! Kepribadian mereka sangat kontras!
Bagaimana bisa?
“Kalau
kata orang, Aldo dan Jordi itu seperti bumi dan langit, Mbak. Beda jauh. Aldo
berpikiran dewasa dan Jordi masih kayak... gitu deh,” tutur Yolanda sambil
tertawa.
“Apaan
sih, Ma?” protes Jordi sambil menendang kaki kanan Yolanda di bawah meja.
“Kami
sebagai orang tua sangat malu atas perbuatan tak menyenangkan Jordi pada Mbak
Ajeng tempo hari,” ucap Irawan dengan nada serius. “Mbak mau memaafkannyakah?”
Aku yakin mereka bukan orang tua
sembarangan. Ajeng setengah mendongak.
Tapi putranya? “Sudah saya maafkan,” angguknya.
“Kamu
juga minta maaf, dong, Di,” tukas Yolanda melirik ke arah putranya.
“Iya,”
Jordi lalu menatap utuh wajah Ajeng setelah menyahut pada mamanya, “saya minta
maaf, Mbak. Saya mengaku salah. Kurang ajar dan mempermainkan Mbak Ajeng. Saya
janji nggak akan mengulanginya lag pada Mbak maupun orang lain.”
“Iya,
saya maafkan,” Ajeng berusaha tersenyum ‘normal’.
“Nah,
gitu kan gampang. Cuma minta maaf aja apa susahnya, sih?”
Semudah itu? Tapi jantungku ini? Diam-diam
Jordi menghela napas.
“Jeng,
lain kali kalau kita mau mampir lagi boleh nggak?” Panji menyela kekosongan
dengan nada jahil.
“Boleh.
Tapi di rumah saya aja. Di sini kurang nyaman. Bau ayam,” perempuan itu terkekeh
kecil.
“Ya
sudah, kami pulang dulu, Mbak. Kalau terlalu lama di sini takut mengganggu,”
pamit Yolanda tiba-tiba.
Mengganggu... hatikukah?
“Oh,
ya,mari saya antar.”
*
* *
Dia itu tolol akut atau apa, sih?!
Kemuning
mendengus keras. Tak ada jawaban dari nomor yang dihubunginya. Dilemparnya
ponsel di tangan kiri ke atas ranjang. Sesungguhnya ia mulai sadar bahwa kedua
robotnya itu sudah enggan didiktenya. Dan mulai mencari ‘kemerdekaannya’
sendiri dengan memberontak padanya dengan menuturkan kalimat yang tidak pantas
diucapkan. Keterlambatannya menyadari apa yang sebenarnya terjadi itu cukup
membuatnya menyesal. Walaupun begitu, sebetulnya ia masih memiliki robot yang
lain. Yang sejak lama tak ‘dipakai’-nya. Karena kekeliruannya di masa lalu.
Seharusnya ia sudah berhasil merugikan
perempuan sialan itu. Tapi... benarkah ia tak secerdik Dicta dan Ringgo?
Perempuan
itu lalu mencoba untuk menguak kembali ingatannya tentang bocah kecil yang
pernah diasuhnya. Yang pernah ia dengar dari salah satu mantan ART yang pernah
bekerja pada keluarga mantan majikannya itu.
“Dia sih ndak ada apa-apanya, Yu Ning,” ujar
Satni dengan nada mencibir. “Pekerjaannya memang lumayan. Otaknya jempol.
Gantengnya di atas standar. Ditaksir banyak gadis yang ayu, lho! Tapi entahlah,
saya nggak mengerti, mungkin karena statusnya bungsu, kelakuannya masih kayak
bocah!”
“Kamu naksir juga?”
“Awalnya iya. Tapi lama-lama saya nggak suka
dengan kelakuannya walau kata dia cuma bercanda. Akhirnya saya mundur. Makin
hari dia makin kayak bocah. Lagipula saya juga sudah dijodohkan.”
“Kalau Aldo?”
“Biasa aja. Saya nggak tertarik.”
Seganteng
itu dibilang biasa aja? Dasar pembantu sombong! Kemuning hanya manggut-manggut.
“Kalau dibandingkan dengan putra saya?”
Perempuan muda itu terbahak. “Jauh bangetlah.
Kalau saya belum nikah, mungkin saya naksirnya sama putranya Yu Ning.”
Kemuning
kemudian menelepon kembali seseorang di luar sana.
*
* *
Praha
menghela napas usai membaca halaman terakhir diary milik Puri di tangannya. Yang ditemukannya ketika terakhir
kali mengunjungi tempat tinggal lamanya. Dihempaskannya punggung ke sandaran
kursi belajar.
Helda dan Kak Yophine kabur ke kampung
halaman mereka. Bang Egi dan Bang Tora jadi pelayan warkop pinggir jalan di
Bandung. Oka, Seto, dan Mas Gerry jadi buruh kuli di pasar luar kota. Puri
rencananya mau mengajakku dan Indy mengikuti Helda dan Kak Yophine yang
sebelumnya ingin menetap di sini. Lalu Puri dan Indy sekarang?
Gadis
muda itu melenguh kecil. Ia sebetulnya menyadari bahwa meminta bantuan polisi
bukanlah jalan yang tepat. Justru tindakannya itu akan mempersulit langkahnya
menelusuri jejak teman-temannya yang ‘hilang’. Ratri pun sebenarnya tak mau
ikut-campur terlalu jauh. Karena perempuan itu mengenali baik siapa Ajeng dan Praha.
Tiba-tiba
pintu kamarnya terbuka. Ketika ia menoleh, Ajeng sedang berjalan santai
menghampirinya. Mengajaknya dengan lembut untuk makan malam. Dan Praha
menurutinya. Mereka berdua melangkah bersama ke ruang makan.
*
* *
Ini
adalah malam makan terindah dalam hidup Yolanda. Terlaksana tepat waktu dan dengan
personil komplit. Tio sudah tiba di rumahnya sore tadi. Orang-orang di
sekitarnya saat ini pun mungkin merasakan hal yang sama Di tengah kehangatan
canda dan tawa orang-orang kesayangannya. Ada keluarga kecil Chandra dan Tio
yang turut melengkapi makan malamnya kali ini. Bukan hal yang biasa terjadi
itulah yang membuatnya sedikit merasa euphoria.
Meskipun begitu ia tetap berusaha menstabilkan ledakan emosinya itu.
Di
antara mereka yang berbahagia, yang terlihat ‘sengsara’ adalah Jordi. Sekuat
tenaga ia berusaha untuk tidak ‘menonjolkan’ keberadaannya. Menghindar saat
makan malam hanya akan memaksanya untuk membuat kebohongan baru. Ia pun hanya
sesekali ikut terkekeh ringan ketika Nia berceloteh tentang banyak hal di
sekolahnya yang sama sekali tak ‘dinikmati’ Jordi seutuhnya. Untuk menutupi kegelisahannya.
“Lho,
nggak ada saus tomat, to?” kening Irawan mengerut.
“Oh, ya,
Mama lupa ambil. Ada di kulkas, kok.”
“Kan kemarin
udah habis, Ma,” ralat Aldo.
“Ya udah,
kamu beli di minimarket depan, Do. Lima botol,” Yolanda menyerahkan selembar
uang seratus ribuan dari saku blusnya pada Aldo. “Yang ukuran biasa, ya?”
“Sip!”
Sepeninggal
Aldo, mereka kembali berbincang. Chandra yang memulainya.
“Eh, Ya,
kakak kelasmu yang waktu itu pernah main ke rumah, siapa namanya?” tanya
Chandra antusias.
“Yang
berkuncir satu atau berkepang, Pa?”
“Yang
berkuncir satu, siapa namanya?”“Oh, namanya Kak Praha. Kalau yang berkepang itu namanya Kak Gea,” sahutnya sambil menuangkan susu dalam milk jug ke gelasnya. “Kenapa emangnya?”
“Kok
kayaknya mirip Opud, ya, Ya?”
“Ha,
mirip saya?” Tio terbelalak.
Sekilas
Mustika melirik Chandra. “Cuma kebetulan mirip ‘kali, Dra,” celetuknya.
Irawan
dan Yolanda pun berpendapat yang sama dengan Mustika.
“Yang mana sih, Pa? Kok Mama nggak pernah
lihat, ya?” tanya Claudia sambil menarik selembar tisu dalam box di tengah meja.
“Waktu
mereka datang kebetulan aku ada di rumah dan Mama lagi kontrol perpus. Makanya
Mama nggak ketemu,” ujar Chandra yang masih sibuk menghabiskan sepiring aneka
potongan buah.
“Itu pun
baru sekali datang, Ma,” timpal Nia.
Seketika
bibir Claudia membundar kecil.
“Kira-kira
seperti apa, ya, wajahnya? Hm... Tapi Tante jadi kepo, nih,” Mustika meringis
malu. “Besok pagi kuantar Nia sekolah, boleh, ya, Clau, Dra?”
“Boleh
nggak tuh, Ya?” Chandra menatapnya putrinya iseng.
“Terima
aja, Ya! Nanti ditraktir Omud ice cream
sandwich yang paling maknyus lho! Bilang, iya!” ‘paksa’ Claudia dengan
tatapan jenaka.
“Ah,
kamu, Clau, bilang aja biar irit bensin!” sambar Irawan tiba-tiba.
“Demi keefisiensian sisa isi dompet akhir bulan, Pa,” sahut
Claudia dengan santai.
“Apaan
isinya? Kartu ATM kosong?!”
Seketika
seisi ruangan riuh penuh bahak. Dan Aldo datang semenit berikutnya. Usai
menyimpan empat botol saus tomat di kulkas dan menyisakannya sebuah dan
diletakkannya di atas meja makan.
“Heboh
banget? Ada apa, sih?” Aldo kembali duduk di kursinya dengan wajah penasaran.
“Biasa
tuh, Papa dan Mbakmu,” senyum Yolanda. “Dan Tantemu yang pingin banget nganter
Nia besok.”
Laki-laki
itu hanya menggeleng-gelengkan kepala.
“Eh,
boleh nggak nih, Ya? Mau, ya?” rayu Mustika dengan wajah memelas.
“Diizinin
Opud, nggak?” ledek Nia, jahil.
“Boleh kok,
boleh. Iya kan, Pud?” kejar Mustika.
Tio
mengangkat bahu dengan tatapan acuh.
“Kalau
aku maunya diantar Om Jordi aja, gimana?” Nia melirik Omnya itu yang
didapatinya gelisah sejak tadi.
“AKU?”
jerit Jordi gelapan.
“Kamu kenapa,
Di? Sakit?” tegur Yolanda khawatir.
“Aku...
enggak... Nggak apa-apa,” ia berusaha tenang.
“Mungkin
masih demam, Ma,” celetuk Irawan.
“Kamu
demam, Di?”
Ketika
ia akan membuka mulut, Irawan sudah mendahuluinya.
“Demam
tadi pagi itu lho. Gara-gara habis ketemu Ajeng,” jawab Irawan.
“Jordi
jatuh cinta?!” Claudia mengernyit.
Diam-
diam Jordi merutuk. Ah, Aku lupa kalau di
sini ada Mbak Clau! Mati aku!
*
* *
Mungkin memang benar karena dia...
Jordi
menyeruput cappucino-nya yang mulai
mendingin.
...yang membuatku tak mampu berpaling dan
membuka hati untuk yang lain.
Laki-laki
itu mengerjap. Diletakkannya cangkir di atas piring mungil dengan hati-hati.
Meskipun sosok aslinya tak pernah
kutemukan...
Diam-diam
dinikmatinya aroma sisa embun dari balik jendela kamar.
...dan terlalu mustahil untuk kuendus
keberadaanya di dunia nyata.
Tatapannya
meredup seketika. Ia mulai limbung.
Karena dia seperti makhluk absurd yang memang
benar-benar hanya ada dalam benakku dan akun Facebook itu.
Dan
tiba-tiba saja sebutir rasa kesal muncul di hatinya.
Kenapa harus aku yang menanggung rasa
bersalah ini? Yang membuatku terlihat setengah gila? Tersudut? Sementara ia di
luar sana mungkin saja dia sudah memiliki kekasih nyata yang dicintainya
sepenuh hati. Melupakan hal-hal tentang kita. Melupakanku begitu saja. Dan...
Laki-laki
itu hampir saja menumpahkan air matanya kalau saja tak ada suara Yolanda
memanggilnya dari luar.
*
* *
Bersambung