Selasa, 27 September 2016

[Cerbung] Adoptee #3




                               Tiga


Akhirnya...

Lagi-lagi Dini mengucapkan terima kasih kepada Marina. Seorang pemilik kafe Coffee Day. Boss barunya. Dan Marina tahu apa yang harus ia lakukan. Alih-alih menerima gadis itu sebagai pramusaji di kafenya untuk menggantikan Sophie yang telah mengundurkan diri sejak minggu kedua puluh kehamilan pertamanya, ia justru memiliki maksud lain di balik itu.

"Nanti kembali lagi ke sini, ya," senyum Marina. "Usahakan sebelum pukul tiga siang, kamu sudah tiba. Ada asisten kepercayaanku, Tika, yang akan melatihmu. Kau pernah ikut kursus masak, kan? Jadi saya kira masa trainning-mu nggak akan lama."

"Terima rkasih, Bu. Saya janji akan datang tepat waktu. Sekali lagi terima kasih," ucap Dini dengan mata berbinar.

Ia pun pamit kepada Marina. Sesaat kemudian sosoknya tak lagi terlihat di area kafe. Marina tersenyum. Ia membalikkan tubuhnya dan beringsut menuju ruang kerjanya.

Belum sempat ia melangkah, ponselnya bergetar kecil. Ia berhenti sejenak. Sebuah notifikasi Messenger muncul di layar ponselnya. Dari Ajeng.

Selamat pagi, Tante!

Marina mengulas senyum. Anak itu...

Sesaat kemudian serangkaian kalimat sudah terketik rapi di layar ponselnya. Disentuhnya tanda panah ke atas di sudut kiri bawah dan seketika pesan itu sudah meluncur masuk ke Messenger Ajeng. Ia paham betul maksud Ajeng mengirimkan pesan singkat padanya. Dan ia merasa bangga karenanya.

Senyumnya hampir tersungging sempurna. Kala ingatannya tergelitik pada satu peristiwa yang terjadi di meja kassa Coffee Day tiga minggu yang lalu.

Masih jernih dalam memorinya kejadian saat pertama kali pertemuannya dengan Panji setelah hampir dua puluh lima tahun berpisah. Dan atas permintaannya, laki-laki itu sanggup menceritakan semuanya. Yang sebenarnya terjadi di balik layar kehidupannya. Tentang kisah menyedihkan yang menimpa Panji dan istrinya, Ilde. Hingga akhirnya ia siap turut menolong laki-laki itu sepenuhnya. Bersama Ajeng sebagai partner 'kerja samanya'. Melancarkan sebuah misi yang bersifat mutualisme. Meski ia tahu risikonya adalah sakit hati. Dan perasaan laki-laki itu akan selalu tetap pada wanita pilihan terakhirnya.

                                     * * *

"Permisi, bisakah saya memesan seporsi..."

Suara berat yang khas itu terdengar familiar di telinganya. Tubuh Marina langsung berbalik. Menghadap ke arah muka kafe. Ia hampir menjerit histeris ketika mendapati sebuah tatapan teduh dari pemiliknya yang telah lama menghilang.

Panji?

Tatapan Marina terpaku pada seraut wajah di seberang meja kassa.

Marina?

Keduanya saling menyebutkan nama sosok yang dihadapannya dalam hati. Seutuhnya Marina tahu bahwa bara cinta dalam hati Panji untuknya telah lama terpadamkan. Bahkan sisa-sisa gemercik bunga apinya pun ia tak melihatnya masih ada dari kedalaman mata laki-laki itu.

Dan semuanya mengalir begitu saja. Panji dan Marina saling menceritakan kehidupan masing-masing selama tiga windu terakhir. Sambil menikmati hidangan yang disajikan oleh pemilik kafe. Perlahan, satu per satu rahasia di antara keduanya terungkap.

Kini Panji telah mengetahui semuanya. Tentang rahasia di balik sejarah berdirinya Coffee Day. Tentang cinta Marina yang terselip di dalamnya. Tentang harapan yang hanya sebatas angan.

Begitu pun juga Marina. Ia semakin yakin bahwa tak hanya dirinya yang menggilai laki-laki di hadapannya itu. Entah pesona apa yang dimiliki Panji, hingga para gadis pada masa remaja mereka mudah sekali jatuh hati padanya.

Hanya saja perempuan itu bukan aku... Marina mengerjap resah. Apakah... ah! Pupus sudah!

                                      * * *

Dicta menganga bodoh. Ia seperti tersengat sesuatu saat mendengar jawaban adiknya. Sesuatu yang terdengar aneh. Asing dan membingungkan.

Bagaimana mungkin seorang Kemuning Jenggalasari yang dikenalnya tegas macam diktator diam-diam mempunyai seorang... mantan? Dicta menggeleng tak percaya.

"Gitu aja kok kaget, Mas?" celetuk Ringgo kemudian.

"Ya, bagiku aneh aja. Kupikir dengan kepribadian Mama yang seperti itu, laki-laki mana coba yang berani melirik?"

"Lalu Papa? Kita sendiri kan yang jadi bukti cibiran Mas tadi," sahut Ringgo acuh tak acuh.

Papa? Makhluk macam apa itu? Dicta memicingkan mata.

"Wajarlah kalau Mama naksir sama dia. Pak Panji itu kan lumayan, Mas. Cakep, gagah, sopan. Macam Mas Dicta," timpal Ringgo selanjutnya.

"Dik, kamu nggak bercanda kan?"

"Maksud Mas?"

"Aku seperti melihat matamu saat menatap wajahnya! Sumpah, dia mirip banget sama kamu!" sahut Dicta dengan mimik super serius.

Benarkah? Mata Ringgo menyipit.

"Aku nggak nuduh Mas Dicta, ya," ucap Ringgo dengan hati-hati. "Tapi, apa mungkin Mas berpikir kalau Pak Panji itu... adalah ayah kandung kita?"

Dicta terhenyak. Belum sempat ia kembali bicara, suara Kemuning segera mendahuluinya. Memanggil kedua kakak beradik itu dengan nada yang terdengar menyebalkan. Terkecuali bagi Dicta dan Ringgo. Maka keduanya langsung bergegas menghampiri sang ibu di kamarnya.

                                      * * *

Sial!

Kemuning mencengkram kasar selimut putih yang menutupi sebagian tubuhnya. Diliriknya pintu kamar yang menghadap ke ruang tamu. Suara laki-laki itu masih menggema ringan di luar di sana. Silih berganti dengan suara pemuda yang terdengar nyaris gugup. Dilemparnya selimut itu dengan rasa kesal yang tertahan.

Dipalingkan wajahnya dengan mimik yang terlalu kejam untuk ukuran penyihir jahat dan sejenisnya. Ia meringis pelan. Nyeri di betis kanannya kembali mendera. Pecahan kerikil itu rupanya ampuh membuat perempuan berhati iblis itu kesakitan yang amat dahsyat. Ditambah dengan luka di sudut dahinya. Terasa pening.

"Aku tahu bahwa kamu dalangnya, Mbak," desisnya, dengan nada menuduh.

Tatapannya menajam. Menerawang tiap celah di balik dinding bercat biru cerah yang mengelilinginya. Membayangi masa-masa remajanya dulu. Kala Panji memutuskan hubungan asmara dengannya. Tanpa alasan yang menurutnya logis; dilarang orang tua. Ia pun kecewa yang teramat dalam. Hingga mendendam pada Panji dan keluarganya.

Lalu Ilde hadir dalam kehidupan mereka. Dan mata Panji mengarah begitu saja padanya. Hatinya pun turut tertambat pada gadis berdarah Italia-Belanda itu.

Di sinilah permainan dimulai. Tiga tahun setelah lulus SMA, Panji dan keluarganya datang melamar Ilde. Lima bulan berikutnya mereka dan menikah. Sejak itu Kemuning mulai menguntitnya hingga anak pertama Ilde dan Panji lahir ke dunia.

Mahesa Rendra Pratama.

Bayi tampan yang kemudian namanya diubah tanpa sepengetahuan orang lain. Yang dirampasnya dari tangan Ilde dan Panji saat keduanya lengah. Ketika sang bayi telah berusia sebelas bulan, Ia membawa pergi batita mungil itu beserta adiknya laki-lakinya sekaligus yang baru berumur tiga minggu.

Kedua bocah itu kini telah menjelma menjadi pemuda gagah yang tak pernah membantahnya. Yang menjadikan Kemuning sebagai ratu yang kekuasaannya absolut tanpa batas.

Hingga tanpa pernah ia menyadarinya, bahwa pada akhirnya, anak-anak Panji itu akan segera menurunkan tahtanya. Mereka memulainya di belakang punggung Kemuning. Berusaha melepaskan ikatan. Mencari pelita yang sesungguhnya mereka butuhkan. Agar semuanya menjadi terang. Antara mereka dengan orang-orang di sekitarnya.

"Apapun yang terjadi, Dicta-ku tidak boleh pergi," Kemuning mengukuhkan tatapannya. "Atau beralih nama seperti semula. Dan Ringgo, pemuda itu harus tetap dalam genggamanku," ia mulai menggigil. "Tidak akan pernah ada pereinkarnasian nama. Rendra dan Davin sudah mati. Sepertinya, aku harus mulai bergerak dari sekarang."

Kemuning lalu bangkit dari ranjangnya. Namun ia malah terjatuh. Kakinya masih lemah untuk berjalan.

"Dicta! Ringgo! Cepat kemari!!!" teriaknya setengah kesal.

Dan dalam hitungan detik, keduanya segera datang menghampirinya.

                                      * * *

Ajeng tertunduk menekuni ponselnya. Sesekali ia tersenyum sambil mengetikkan sesuatu. Ia menarik napas lega setelah membaca  kalimat terakhir yang tertera jelas di layar.

Dini sudah kuterima sebagai pramusaji di sini.

Segera dibalasnya pesan singkat itu. Beberapa detik kemudian balasan dari seseorang di luar sana masuk ke inbox-nya. Ketika jempolnya hampir menyentuh bagian sudut kiri atas ponselnya untuk membaca sms tersebut, Wulan menegurnya. Ia kemudian mengangkat kepala. Mengirimkan tatapan bertanya.

"Ada calon pelanggan yang maksa mau ketemu Mbak Ajeng," sahut Wulan, menunduk.

"Kenapa?" senyum Ajeng meredup seketika.

"Dia menginginkan data asli hewan ternak di sini dari pemiliknya langsung."

"Terus kamu bilang apa?" tanya Ajeng, sabar.

"Saya sudah tegaskan padanya bahwa ia tak perlu bertemu Mbak untuk urusan itu. Tapi..."

"Antarkan saya padanya," ucap Ajeng, tegas.

Wulan mengangguk. Ia lalu berjalan ke luar kantor Ajeng sambil menjajari langkah boss-nya. Keduanya berusaha tenang ketika hampir sampai di pelataran mini khusus tamu di sebelah peternakan.

"Selamat siang."

Laki-laki itu menoleh. Ditatapnya Ajeng dengan wajah serius. Ajeng menjabat tangannya yang dingin. Sambil mengulas senyum.

"Ajeng," ia menyebutkan namanya.

Laki-laki itu hanya membalas sekenanya. Suaranya terdengar berat saat menyebutkan namanya sendiri. Namun Ajeng tak menyerah.

"Kamu boleh pergi," bisik Ajeng kemudian pada Wulan.

Perempuan itu lalu menyingkir. Ajeng kembali menatapnya. Laki-laki congkak itu.

"Ada yang bisa saya bantu?" Ajeng berusaha ramah kepadanya, seperti perlakuannya terhadap setiap calon pelanggan maupun pelanggan tetap.

"Memangnya Mbak yang tadi nggak bilang apa-apa?" sahutnya sinis.

Ajeng tertegun. Ia menahan diri  untuk tidak mengumpat. Meski dalam hati sekali pun.

"Saya cuma mau minta data hewan ternak di sini. Langsung dari pemiliknya. Bisa, kan?"

"Baik, tunggu sebentar, ya? Anda bisa duduk santai dulu di sini, sementara saya akan mengambil laptop di dalam. Saya akan kembali secepatnya," ucap Ajeng dengan nada yang masih kental dengan kesabaran yang dipaksakan.

Laki-laki itu mengangguk kaku. Kemudian Ajeng melangkah kembali ke ruang kerjanya. Ada sebuah laptop di dalam sana yang sudah siap diraihnya dengan sekali sambar.

Ajeng lalu kembali dengan wajah sumringah. Ia membayangkan betapa takjubnya hati laki-laki itu ketika mengetahui lebih dalam tentang keunggulan peternakannya. Namun kenyataannya tak seindah bayangan.

Laki-laki itu sudah terlanjur pergi saat ia mengambil laptop. Didapatinya sebuah kertas yang terlipat asimetris di atas meja tamu. Segera diraihnya benda tipis itu.

Saya mohon maaf karena tidak sempat pamit sebelum pergi. Waktu saya sangat terbatas. Sebelum lima belas menit berlalu sejak sepeninggal Mbak Ajeng tadi, saya harus sudah ada di depan meja di ruangan boss saya.

Saya pikir ini tidak terlalu buruk. Toh, saya tidak merugikan pihak peternakan ini. Jadi tolong dimaklumi. Terima kasih.

Salam,
Alaska Madagaskar

Ajeng mendengus kesal. Dihelanya napas panjang sebelum kembali ke ruang kerjanya. Untuk kembali melanjutkan 'pekerjaan'-nya yang sempat tertunda.

                                      * * *

Mata Praha mengabur. Ada banyak sisa kabut memenuhi ruangan itu. Kabut yang pernah menutupi hampir seluruh bagiannya. Yang menebal di antara ketakutan para bocah malang dalam ringkuknya di sudut ruangan. Dan kini kabut itu seringkali menebal di mata Praha saat semua memori hitam itu berputar memainkan rasa di benaknya.
Ia tak pernah lupa bagaimana kabut itu dapat muncul dan berputar mengelilingi para bocah tanpa dosa. Dihelanya napas. Berharap kabut itu segera membebaskannya dari perasaan yang kian waktu mengganggu hatinya.

Praha mengedarkan pandangannya sejenak. Semuanya masih terlihat seperti dulu. Kumuh, gelap, dan dingin. Ratri menghujaninya dengan tatapan haru. Ada rasa simpatik yang tergambar jelas kedalaman matanya. Direngkuhnya bahu remaja itu.

"Aku kangen mereka, Bik," ujarnya, lirih.
Ditolehnya Ratri dengan wajah nelangsa. Kabut di matanya menyiratkan rasa yang memadukan antara kerinduan dan harapan. Ia kemudian menyempurnakannya menjadi satu rasa yang utuh. Hingga Ratri tak sanggup lagi membisu di tengah atmosfer biru yang mengelilingi keduanya.

"Iblis itu sudah mati, Praha," tatapan Ratri menembus pintu. "Bagaimana kita dapat memperoleh informasi yang murni kebenarannya tentang keberadaan teman-temanmu?"

"Bukannya tidak mungkin untuk kita mendapatkannya dari polisi," sergahnya, halus.

"Polisi?" Ratri menaikkan suaranya. Menatap Praha dengan putus asa. "Jangan bermain-main dengan maut!"
Praha tersenyum licik.

"Ada beberapa hartaku yang bisa dikorbankan tanpa masalah. Kukira kau mengerti itu. Dan kuharap kau bisa menjadi partner-ku untuk menangani hal ini."

"Rencana apa yang kau pikirkan?"
"Sebuah misi, di mana hanya kita berdua saja yang boleh tahu."

"Bik Ratri takut, Pra. Aku bisa dipecat Bundamu nanti," balas Ratri dengaan nada khawatir.

"Tenanglah. Aku akan mempertanggunggjawabkannya bila itu terjadi," ucapnya, lugas. "Mungkin kita bisa memulainya dari sekarang. Aku tahu bahwa Puri hobi menulis. Kita bisa memanfaatkannya untuk kepentingan penyelidikan."

Ratri lalu menimbang-nimbang keputusan yang akan dipakainya. Perempuan mengedarkan tatapannya ke sekelilingnya. Tiba-tiba saja sekelebat bayangan indah melintas di benaknya. Tentang sebuah ide brilyan Praha. Dan pada detik itu juga ia menyetujui tawaran anak angkat majikannya.

                                      * * *

Dicta dan Ringgo saling melempar pandangan. Lalu keduanya mengarahkan tatapan pada Kemuning sebelum kembali menyuapkan makanan yang ada di sendok mereka. Perempuan itu tampaknya tak terusik oleh tatapan yang menusuk wajahnya. Hingga keduanya tak sadar akan 'kejutan' yang menyadarkan mereka.

"Kalian ini apa-apaan sih?" Kemuning menghentakkan tangannya di atas meja makan begitu menyadari gelagat aneh dari kedua anaknya.

Meja sedang itu bergetar kecil. Diikuti oleh bunyi tiga piring yang beradu dengan sendok di atasnya dan bunyi minuman yang bergejolak dalam sebuah mug besar dan dua buah cangkir. Keheningan segera menguasai ruang makan itu.

Kedua pemuda itu seketika tertunduk malu. Giliran Kemuning yang menatap mereka dengan mata tajam. Secara bergantian.

"Katanya... Ringgo mau... ngomong sesuatu... sama Mama," sahut Dicta dengan kepala masih tertunduk.

"Aku?" Ringgo memprotes.

"Ada apa?" tanya Kemuning dengan suara agak diturunkan.

"Ok, aku yang mulai," mata Ringgo menyapu wajah abangya sekilas sebelum kembali menatap Kemuning. "Aku mau tanya sesuatu,  Ma."

"Apa itu?"

Debar jantungnya semakin cepat. Mulutnya membisu begitu saja. Ditatapnya Dicta berkali-kali. Pemuda itu kemudian mengangguk mantap pada adiknya.

"Ayo katakan! Jangan mengulur waktu! Ini sudah malam. Mama ngantuk, mau tidur," tukas Kemuning.

"Tapi..."

"Lanjutkan!"


"Sebenarnya, ini masalah Papa, Ma," tiba-tiba saja kalimat itu meluncur dari mulut Dicta.

"Apa lagi?" Kemuning mengernyit dengan kesal.

Mulut Ringgo sedikit terbuka. Ia benar-benar tak tahu harus bersikap. Wajahnya terlihat kaku dan bodoh.

"Iya, aku tahu, makanya..."

"Stop! Mama nggak mau dengar!" tangan kiri Kemuning sedikit terulur dengan telapak bawah terbuka mengarah depan. "Toh kamu sudah tahu jawabannya, kok."

"Ma, ayolah," rayu Ringgo.

"Kalau Mama bilang tidak, ya, tidak! Jangan membantah!"

Dicta masih belum menyerah. Ia turut membujuk sang mama sedemikian melasnya. Namun tetap saja Kemuning tak mau mematahkan keputusannya.

"Ma, apa salahnya sih kita menanyakan soal Papa?" Ringgo mencoba untuk memberanikan diri.

Salahnya? Karena kalian anak kandung Panji dan Ilde, Ringgo!

"Sepertinya Mama membenci Papa. Tapi entahlah. Kurasa sih begitu," celetuk Dicta dengan polos.

Pada detik yang sama, Kemuning tak sanggup mengelak lagi. Otaknya tak mampu menyeimbangkan keadaan. Untuk merangkai kata menjadi potongan kalimat sederhana yang selalu ampuh pada kedua 'robot kecil'-nya. Entah mengapa tiba-tiba saja ada ribuan panah dalam mata kedua pemuda itu yang siap melesat untuk menghujam jantungnya.

                                      * * *

Bersambung


Jumat, 16 September 2016

[Cerbung] Adoptee #2-2




Kemuning melangkah keluar menuju pekarangan kecil di depan rumahnya. Seorang laki-laki tinggi besar duduk bersila di bangku dekat salah satu semak rimbun di sana sambil menekuni sesuatu. Kemuning lalu memanggilnya. Dan laki-laki itu mendongak.

"Ada apa sih, Ji?"

Laki-laki itu menutup bukunya. Lalu memasukkannya ke dalam kantong kulot agar Kemuning tak melihatnya.

"Aku ingin bertemu dengan kedua anakku," sahutnya datar sambil mendekati Kemuning. "Sekarang!"

Rendra? Davin?

"Tidak! Mereka sudah mati!" balas Kemuning, sengit.

"Lalu kau akan mengusirku begitu saja setelah aku mempercayainya?"

Kemuning mulai kehilangan kata. Pikirannya kosong seketika. Entah mengapa, ia tak mampu mengelak lagi.

"Mungkin kau bisa membohongi Ilde dengan mudah," nada mengejek terdengar kental dalam suara Panji. "Tapi tidak bagiku. Tak perlu mengelak lagi, Ti. Semuanya sudah sudah jelas."

Seketika Kemuning diam tak berdaya. Panji masih menghujaninya dengan tatapan yang menghujam. Ia terus mengumpat dalam hati.

"Jangan membisu!"

"Mereka sudah mati, Panji! Sudah mati!" Kemuning menekankan suaranya.

"Siapa yang sudah mati?"

Panji dan Kemuning menoleh secara bersamaan. Dicta menatap polos wajah keduanya. Kemuning terperanjat ketika menyadari kehadiran mereka. Kedua putranya.

"Kenapa Mama diam?" Ringgo bergantian menatap Kemuning dan Panji.

"Kapan kalian tiba di sini?" Kemuning mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.

"Sekitar sepuluh menit yang lalu. Saat Mama baru keluar dari dalam rumah," jawab Dicta, jujur.

Kemuning mengedarkan tatapan. Pada ketiga pria di depannya. Tiba-tiba ia mematung. Hening. Beku. Merasa posisinya dalam keadaan lemah, Kemuning mundur perlahan, dengan tatapan yang tetap terpaku pada ketiganya. Tiba-tiba kedua kakinya tersandung kerikil. Ia terjengkang jatuh ke tanah dan tak sadarkan diri. Suasana menjadi tegang seketika.

                                   * * *

"Minum dulu, Pak," Ringgo meletakkan sebuah cangkir beralaskan piring kecil di atas meja, di depan Panji.

Ia berusaha duduk dengan tenang di hadapan laki-laki itu. Menahan diri untuk tidak melontarkan rasa penasarannya. Mengenai perlakuan Panji terhadap Kemuning tadi pagi.

Dicta masih menunggu Kemuning sadar dari pingsannya. Di dalam kamarnya. Kamar masa dininya. Yang selalu hangat. Dan tak pernah sedingin ini sejak ia dan Ringgo merantau Jakarta.

"Maaf, Pak," Ringgo menegakkan badannya, "apakah saya boleh menanyakan sesuatu kepada Bapak?" tanyanya, mencairkan suasana.

"Ya, silahkan," Panji tersenyum tipis.

"Apakah Bapak memiliki hubungan kekerabatan dengan Mama saya?"

Panji memaku tatapannya pada Ringgo. Pemuda itu merasa risih karenanya. Meski agak canggung, dibalasnya tatapan Panji.

Laki-laki ini... Hm...

Panji mendegut ludah. Davin... Ayah tahu itu kamu, Nak. Putra bungsuku. Hampir saja mata Panji mengaca.

"Saya mantan pacar Mamamu, Ri," sahutnya kemudian.

Bibir Ringgo membundar tanpa suara. Menahan diri untuk terkikik geli. Pada detik yang sama, Dicta keluar dari kamarnya. Berjalan tegak menuju ruang tamu.

"Maaf, Pak. Mama baru saja menginstruksi kepada saya agar meminta Pak Panji untuk segera pulang," ucap Dicta lugas.

"Mama sudah sadar, Mas?" Ringgo bangkit dari duduknya.

"Oh, ya, saya akan pulang sekarang," Panji segera berdiri. "Terima kasih atas jamuannya. Tolong sampaikan salamku pada Mama kalian. Permisi."

Dicta dan Ringgo mengantarnya hingga depan pagar. Panji melangkah tegak sambil mengulang pamit. Saat sosoknya telah menghilang di tikungan ujung jalan, Ringgo segera menarik abangnya sambil berlari masuk ke dalam rumah.

                                   * * *

Ringgo segera melepaskan kikiknya usai masuk ke dalam rumah. Dicta menatapnya heran. Ia pun duduk di sebelah adiknya. Perlahan tawa Ringgo mulai mereda.

"Obatmu habis, Dik?"

Ringgo pura-pura terkejut. Ditatapnya Dicta dengan ekspresi cemberut. Yang ditatap tak bereaksi sedikit pun.

"Mas mau tahu kenapa aku cekikikan kayak gini?" Ringgo menaikkan suaranya.

Dicta masih mengacuhkannya.

"Ok, fine! No problem," balas Ringgo tanpa ekspresi.

"Lha, kok ngambek sih?" protes Dicta.
Ringgo meliriknya setengah sinis. Menegakkan duduk. Mengatur napas. Lalu mulai bercerita.

"Sebenarnya Pak Panji itu...," Ringgo menggantung kalimatnya, memancing rasa penasaran abangnya.

Dicta memerhatikannya serius. Ringgo tertawa ringan melihat ekspresinya.
"Yang serius dong, Dik!" hardik Dicta.
"Sebenarnya Pak Panji itu...," Ringgo mengulang kalimatnya. "Mantan pacarnya Mama."

"HAH?"

Pada detik itu juga, Dicta lupa menutup mulutnya.

                                    * * *

Pemuda itu... Rendra dan Davin! Ya, mereka anakku!

Panji kemudian menghubungi Lidya. Tak butuh waktu untuk menunggu lama, perempuan itu sudah terhubung dengannya lewat telepon.

"Aku baru saja menemuinya, Lidya. Mereka... betul-betul bocah tampanku yang diculik Respati dua puluh dua tahun silam," ucap Panji sambil menahan air mata.

"Aku tak berbohong, kan?"

"Terima kasih, Lidya. Terima kasih," ucap Panji dengan penuh syukur.

"Sama-sama, Panji," sahut Lidya hangat.

"Selamat siang," salam Panji.

"Selamat siang."

Sambungan telepon terputus. Diletakkannya kembali ponsel itu. Tangannya menyusup masuk ke dalam kantong kulotnya. Meraba buku kecil di dalamnya yang ternyata adalah sebuah album foto mini yang berumur cukup tua.

Ia tersenyum tulus saat melihat-lihat setiap foto yang tercantum di dalamnya. Sambil menitikkan air mata kerinduan, diusapnya setiap dokumentasi kenangan hidupnya bersama Ilde dan kedua bocah tampan mereka. Rendra dan Davin.

Namun kini hanya tersisa ia sendiri yang mengenangnya. Sambil merangkai setiap potongan-potongan cerita yang disampaikan Lidya dengan pembuktian yang ia sendiri sebagai pelakunya. Untuk kembali menyatukan kepingan jiwanya. Pada pemilik ketiga nama yang disayanginya itu. Mendiang istrinya dan kedua bocah yang telah menjelma menjadi pemuda dengan nama baru yang bukan pemberiannya.

Ia kemudian mengerjap. Menutup album fotonya yang hampir usang. Dalam hati ia menegakkan harapnya. Memantapkan setiap langkah hidupnya. Untuk menguatkan asa. Dan kembali menemukan dunianya. Yang nyata seutuhnya.

                                   * * *

Bersambung


Minggu, 11 September 2016

[Cerbung] Adoptee #2-1




         Dua


Haruskah? Dicta menatap adiknya ragu. Ringgo meliriknya sekilas. Ia tak berani mengganggu abangnya.

"Dik?"

Ringgo mengangkat kepalanya. Suapan terakhirnya tertunda. Ditatapnya Dicta dengan santun.

"Tolong jawab jujur, ya," suara Dicta melirih seketika.

"Iya, Mas," Ringgo mengangguk sopan.

"Apakah kamu merasakan ada perubahan yang terjadi pada Mama beberapa tahun terakhir ini?"

Ringgo mulai kehilangan kata. Pelan, ia menghembuskan napas, tak kentara.

"Saya paham maksud Mas Dicta," Ringgo menunduk. "Karena saya juga turut merasakannya. Kehilangan," kembali ditatapnya Dicta dengan mata yang sarat akan kerinduan, "akan setiap butir-butir cinta yang selalu Mama tanamkan pada kita."

"Sabar, ya, Dik," Dicta membalas tatapan Ringgo dengan wajah prihatin. "Ayo, habiskan makanmu dulu. Nanti antar aku ke bank. Kamu juga mau beli sesuatu di swalayan 'kan?," ucap Dicta sambil membereskan alat makannya.

Ringgo menautkan kedua alisnya sambil mengangguk. Mengirimkan sinyal bertanya. Dicta hanya tersenyum penuh arti.

                                    * * *

"Mumpung belum jam sembilan, kita pergi ke bank dulu, Pak."

Guntur tak menjawab. Hanya melajukan sedan Ajeng ke arah barat begitu ada kesempatan untuk melakukan putar balik. Kali ini Ratri tidak ikut mereka. Karena harus mengurusi pekerjaan rumah dan kedua anak angkat majikannya.

Sebetulnya rumah Ajeng dan Lidya hanya berjarak belasan meter. Jadi Ajeng tak perlu terlalu pagi untuk pergi ke rumah Lidya. Hanya saja kali ini lain cerita. Ia sengaja pergi lebih pagi karena harus segera menyelesaikan urusan administrasi pembayaran tanah yang dibelinya dari seorang  kaya untuk memperluas lahan ternak ayamnya.

Rupanya ia tak mau menomor tujuh belaskan urusan itu. Demi kepentingan bisnis dan mimpi di masa kecilnya. Karena dari pengusaha itulah ia mengetahui semuanya. Tentang teror misterius yang selalu menghantuinya hampir setiap hari. Serta serangkaian rahasia yang bersangkutan dibaliknya.

Bukannya Ajeng tak mau menindaklanjuti peneror misterius itu. Hanya saja ia tak mau bersikap gegabah. Karena perempuan muda itu tahu orang yang sesungguhnya ia hadapi.

Entah apa yang ia mimpikan semalam, peneror misterius itu kini muncul di hadapannya. Orang itu terlihat gugup ketika ia sadar bahwa Ajeng tengah memperhatikannya sejak tadi. Dengan tatapan yang menghujam hingga dalam matanya.

"Selamat pagi."

"Mbak... Ajeng...," Dicta tergagap seketika.

"Apa kabar Dicta?"

"Baik. Sangat baik."

Ajeng tersenyum jahil. "Sebaik itukah?"

Perempuan ini... Mata Dicta menyipit. Sepertinya ia telah mengetahui apa yang sedang terjadi di balik rencananya.

"Nomor empat belas," seorang teller menyebutkan nomor antrian berikutnya.

"Maaf, Mbak," Dicta mengeluarkan sebuah cek dari sakunya. "Giliran saya sudah tiba. Permisi."

Dicta segera beringsut dari hadapannya. Ajeng tersenyum penuh kemenangan. Dan ia semakin percaya bahwa kemenangan memang berpihak kepadanya ketika secara tak sengaja Ajeng juga menjumpai penguntitnya di dalam bank itu.

Wajah penguntit itu tampak pucat pasi. Namun Ajeng tak berbuat banyak. Senyumnya makin melebar dan orang itu semakin tampak ketakutan.

"Ringgo? Apa kabar?"

"Baik," Ringgo berusaha bersikap tenang.

Aduh! Kenapa aku jadi ketakutan begini?

"Oh...," Ajeng menajamkan tatapannya. "Sepertinya keadaanmu terlalu baik."

Jantung Ringgo berdebar kencang.

"Bagaimana kabar Ibu Kemuning?" Ajeng mengalihkan pembicaraan.

Mama? Ringgo tercenung lama.

Seolah tahu dengan apa yang ada di pikiran pemuda itu, tiba- tiba Ajeng menyeletuk begitu saja. Membuat Ringgo tertohok mendengarnya. Hingga akhirnya ia terpaksa menyerah lalu mundur dari lingkaran perangkap yang dibuat Ajeng.

"Tidak ada yang lebih jujur daripada hati nurani kita sendiri," desis Ajeng. Percayalah. Coba kau pikirkan lagi."

Ajeng kemudian melenggang pergi untuk menyelesaikan urusannya di meja teller saat gilirannya sudah tiba. Meninggalkan Ringgo yang tetap membeku di tempatnya berdiri. Hingga Dicta menyadarkan dan membawanya pulang.

                                    * * *

Ringgo hampir terjengkang ketika dahinya tak sengaja terbentur pintu saat ia hendak masuk kamar sambil membuntuti Dicta. Terlambat, abangnya terlanjur membanting pintu kamarnya. Pelan, ia meringis kesakitan.

Dibukanya kembali pintu itu. Ringgo mendapati Dicta tengah telentang santai di atas ranjang. Kaki jenjangnya menjulur ke bawah hingga adiknya tak sengaja menendang ujung jari kakinya saat melangkah masuk.

Dicta hanya tersentak kaget lalu menggeser kakinya. Ringgo kemudian duduk dengan santai di samping tubuhnya.

"Aku malu tadi, Dik," Dicta menggerutu kesal.

"Apalagi aku Mas...," Ringgo ikut membaringkan tubuhnya. "Aku gelagapan tadi. Malah segala pura-pura nanya kabar Mama. Bikin aku makin gak keruan aja."

Dicta terkejut. Ia kemudian bangkit dan duduk tegak. Diikuti oleh Ringgo pada detik berikutnya.

"Kamu juga?" Dicta terbelalak.

Ringgo mengangguk. "Aku tadi sempat lihat Mas tampak gugup saat bicara dengannya kira semenit sebelum dapat giliran antrian."

"Sepertinya perempuan itu tahu sesuatu. Bahkan perasaanku bilang, ia jauh lebih cerdik daripada kita," mata Dicta seolah menerawang jauh.

"Dan itu alasannya kenapa Mas Dicta menghentikan komando untukku dan mengakhiri perang dingin dengannya?"

Dicta mengalihkan tatapannya pada Ringgo.

"Kita sudah kalah telak, Ringgo," jawab Dicta, sabar.

"Padahal kita baru saja melancarkan serangan tahap awal," sergah Ringgo, memaksa.

"Aku tidak mungkin bisa mengembalikan serangan perempuan itu. Situasi tidak memungkinkan. Kita tidak punya persiapan yang cukup untuk memutar balikkan keadaan. Karena aku tahu siapa yang sesungguhnya kita hadapi."

"Lalu uang itu?" Ringgo melirik amplop tebal di genggaman Dicta.

"Nanti malam kita akan ke Semarang."

"Jenguk Mama?"
                                     * * *

"Keren lho, Mbak," Guntur terbahak usai Ajeng menceritakan kronologi unik pertemuannya dengan Dicta dan Ringgo.

"Skak mat kuadrat! Jenius!" seru Ecilia sambil memegangi perutnya yang hampir terguncang karena tawanya.

"Kejutan!" Lidya hampir menjerit.  "Lalu?"

"Menurut kabar yang kudapat dari bawahannya Ibu Marina, nanti malam mereka mau out sejenak dari Jakarta," tutur Ajeng santai.

"Kemana?" tanya Lidya penasaran.

"Pulkam, Bu. Setor uang buat bayar utang Bu Kemuning pada Tante Marina."

"Tante?" dahi Lidya mengernyit. Seperti mendengar sesuatu yang asing di telinganya.

"Iya, Bu Marina itu tanteku. Hanya saja aku bukan keponakan kandungnya. Beliau hanya adik ipar Pakdhe Seno," jawab Ajeng santai.

"Mas Seno abang iparnya almarhumah Mbak Galuh, kan?" tanya Lidya nada penasaran.

Ajeng mengangguk. Lidya dan Ecilia saling menatap. Lekat. Lama.

                                  * * *

Bersambung


Senin, 05 September 2016

[Cerbung] Adoptee #1-2




Dicta membaca ulang pesan terornya sebelum dikirimkan ke akun gmail Ajeng. Ia tersenyum puas setelah mendapat laporan penyelidikan Ringgo tentang pertemuan gelap Ajeng dan Lidya malam ini. Lewat telepon, adiknya menuturkan bahwa keduanya akan kembali bertemu esok pagi di kediaman Lidya.

Melalui salah satu akun gmail samarannya, Dicta mengirimkan pesan terornya yang kesekian puluh kali. Hingga akhirnya Ajeng tak tahan dan memutuskan untuk menemui Lidya malam ini juga. Di sebuah kafe langganannya.

"Ajeng...," Dicta menyeruput teh manis dalam gelasnya, "kupikir kau tak sebodoh yang kukira. Ternyata dugaanku salah. Kau, Dini, dan Ecilia sama dungunya."

Tiba-tiba ponselnya menyala dan berdering kecil. Dicta mengalihkan tatapannya dari langit malam di luar kamar. Disentuhnya kotak Read di bawah notifikasi pesan singkatnya. Dalam waktu sekejap, serangkai kalimat panjang segera memenuhi separuh layar ponselnya.

Ingat Dicta, waktu kita tidak banyak. Kau dan Ringgo harus secerdas mungkin memanfaatkan waktu. Secepatnya, jumlah nominal uang yang telah Mama tentukan harus segera kamu titipkan lewat adikmu untuk Mama. Jangan biarkan Ajeng mengambil anakmu 'begitu saja'. Apa pun kendalanya, Mama tidak mau tahu. Selesaikan secepat dan secermat mungkin.

Salam,

Kemuning Jenggalasari


Dicta menghempaskan tubuhnya ke atas kursi. Diusapnya wajah dengan kedua tangannya. Entah bagaimana kelanjutan hidupnya setelah 'jatuh tempo' nanti, jika ia tak mampu menjalankan 'titah sang Ratu' sebaik mungkin, ia tak berani membayangkannya.

Perempuan setengah baya itu bagaikan diktator baginya dan Ringgo. Sejak ia menginjak dewasa, dirinya seolah kehilangan sosok ibu yang selalu menyayanginya. Kemuning semakin tak terjangkau. Tak pernah lagi ada secerca kasih sayang yang ditanamkan Kemuning dalam hatinya. Keharmonisan keluarganya perlahan memudar begitu saja. Dan ia juga Ringgo selalu mengeluhkannya.

"Jangan putus asa. Semua ada masanya, Dict," ucap Mamanya selalu dengan acuh ketika ia mengeluhkan ketidaknyamanan dalam hidupnya.

Benarkah?

Dicta membisu. Bibirnya bergetar dan matanya mengabur. Dengan hati-hati, diletakkannya ponsel itu di atas meja. Dan yang ada di sekitarnya menjadi samar seketika.

Sebetulnya Dicta dan Ringgo bukanlah pemuda bengis seperti yang dikenal Ajeng, Ratri, Guntur, dan Ecilia. Keduanya hanya anak yang terlalu 'patuh kepada orang tua' sehingga menjadi korban dari sikap aroganisme yang diturunkan oleh Pramudyo kepada putri semata wayangnya, Kemuning. Dan perempuan itu seakan merasa dirinya bagaikan ratu tanpa tahta yang menguasai kerajaan kasat matanya.

                                * * *

Pelan, Ecilia mendekap foto Dicta yang terletak rapi dalam bingkai kaca. Tetesan bening di telaga matanya meleleh. Ia mengerjap. Ketika ia membuka mata, seraut wajah Lidya merangkai senyum untuknya. Berdiri tegak sambil membuka tangannya. Hendak memeluk putri kesayangannyat. Ecilia segera meletakkan foto Dicta di balik bantal dalam keadaan terbalik.

"Lia, kamu sudah dewasa, Nak," Lidya memeluk erat tubuh anaknya. Meski tak seerat pelukannya saat Ecilia masih muda.

"Aku sayang Ibu," ucap Ecilia, tulus.

"Ibu juga sayang pada Lia," sahut Lidya, lirih.

"Ibu baru pulang?" Ecilia menarik tubuhnya.

Lidya segera bangkit dan duduk di sampingnya. Dielusnya kepala Ecilia dengan lembut. Kemudian Ecilia membalasnya dengan sentuhan yang menenangkan di pipi Lidya.

"Ibu baru saja pergi menemui Ajeng," ujar Lidya.

"Lalu?"

Lidya menghela napas. "Sepertinya dia benar-benar tulus ingin merawat anakmu. Sedikit pun Ibu tidak mendapati celah niat licik dalam matanya. Dan besok pagi ia akan datang ke sini."

Ecilia menunduk sambil mengelus perut buncitnya. "Kalau pun anakku tak akan pernah mengenal ibu kandungnya sendiri, aku rela, Bu."

"Jangan bersedih, Nak," Lidya mengangkat dagu anaknya. "Apakah kau tega bila anakmu ikut bersedih juga?"

Ecilia menggeleng lalu tersenyum.

"Tidurlah, Nak," Lidya kembali mengelus kepalanya. "Semoga malammu tidak mengecewakan."

Ecilia menurut. Dibaringkan tubuhnya pelan-pelan di atas ranjang. Lidya sempat mendaratkan sebuah kecupan di salah satu pipinya. Setelah keduanya saling mengucapkan selamat malam, Lidya segera beringsut menuju kamarnya.

                                 * * * 
   
Sebuah ketukan yang hampir menyerupai gedoran di pintu rumahnya berhasil membangunkan Kemuning dari tidur lelapnya di kursi tamu. Ia tersentak kaget ketika telinganya terhujam oleh sebuah teriakan khas yang menggemakan nama aslinya. Dengan diliputi rasa takut dan seluruh tubuh menggigil, Kemuning berusaha membuka pintu.

"Ada apa, Nyonya?" suara Kemuning bergetar hebat.

"Saya bukan lagi majikanmu!" mata Marina mendelik tajam. "Mana uang saya yang kamu pinjam empat tahun yang lalu?"

Hampir saja Kemuning membuka mulut, Marina segera mendahuluinya.

"Nggak ada alasan bulan depan! Kamu tuh ngeremehin saya banget sih! Pantas saja kalau Pramudyo mengusirmu dari rumah!"

Kalimat terakhir yang ditandaskan perempuan berwajah separuh oriental itu menohok Kemuning seketika. Ia membeku seketika.

"Ok, kali ini saya berikan kamu sedikit napas lega," Marina menunjuk-nunjuk wajah Kemuning. "Tapi ingat! Taruhan yang kamu janjikan pada saya bukan sekedar aset penting tanpa nilai," bisik Marina dengan penekanan suara pada kalimat terakhir.

Perempuan itu lalu melenggang pergi tanpa pamit. Dengan wajah gemas, Kemuning hanya mampu menghembuskan napas nelangsa. Ia pun segera menghilang di balik pintu.

                                   * * *

Tanpa sengaja, tatapan Kemuning jatuh pada wajah imut Dicta kecil yang tersenyum jahil di samping Ringgo balita yang terkikik geli dalam sebingkai foto yang tergantung di salah satu dinding kamarnya. Tiba-tiba saja sekelebat ide licik muncul di kepalanya. Dengan cekatan, serangkaian kalimat mantra yang terkesan wibawa di mata kedua putranya, telah terketik rapi di layar ponselnya. Sedetik kemudian mantra 'angker'-nya sudah melesat sampai ke ponsel Dicta.

Dalam hati, ia membayangkan ekspresi yang timbul di wajah Dicta usai membaca mantranya yang selalu ampuh membuat kedua 'robot kecilnya' tunduk seketika. Dan karena keyakinan akan keterampilan dirinya meluluhkan pemuda lugu itu, hingga ia mengira bahwa getar ponsel di tangannya adalah notifikasi pesan sebagai bentuk penindaklanjutan mantranya oleh putra sulungnya. Namun harapannya ternyata segera pupus begitu saja. Kala sepotong nama yang tercantum pada notifikasi sms di ponselnya sebagai pengirim pesan terbaca jelas di matanya.

Diam-diam Kemuning menelan ludah. Terasa pahit di pangkal mulutnya. Entah mengapa malam terasa semakin pekat. Dan seolah bertambah pekat ketika sebuah nomor telepon yang dimiliki oleh nama tadi menghubungi ponselnya.

                                  * * *

Bersambung


[Cermin] Nenek Serba Tahu




Seorang remaja perempuan berjalan santai menemui neneknya yang duduk di kursi kayu sambil merajut baju hangat di beranda rumah. Dengan menunjukkan sebuah foto dirinya dengan sang idola, remaja tersebut mulai mengajukan sebuah pertanyaan pada neneknya.

"Apakah nenek tahu, bahwa Jacquelinne adalah model fashion remaja yang paling cantik?"

"Aku sudah tahu," sang nenek tak menoleh sedikitpun.

"Kalau begitu, nenek juga harus tahu bahwa aku berhasil berfoto ria dengannya. Lihat ini," remaja tersebut terus merayu neneknya agar menghiraukan ocehannya. "Apakah nenek sudah tahu itu?"

"Ya, aku sudah tahu itu," sang nenek tetap melanjutkan pekerjaannya.
"Bagaimana dengan aksesoris perdananya yang serupa dengan aksesoris yang baru saja kubeli dengan harga fantastis?"

"Aku juga tahu itu."

"Jawablah, kapan jadwal pemotretan Jacquelline selanjutnya? Aku berani bersumpah demi apa pun bahwa nenek tidak mengetahuinya."

"Aku tahu semua itu. Hanya saja aku tak perlu memberitahukannya padamu," rajutan sang nenek hampir selesai.
"Hm... Baiklah. Lalu, apakah nenek juga sudah tahu juga mengenai persiapan rancangan gaun yang akan dikenakannya pada fashion show minggu depan?"

"Aku sudah tahu, cucuku."
"Bagaimana dengan prestasi karir modelling-nya? Tahukah nenek tentang itu?"

"Aku sudah tahu."

"Tanggal lahir Jacquelline?"

"Aku tahu."

"Hobinya?"

"Aku juga tahu itu."

"Warna favoritnya? Sahabat terbaiknya? Asal keturunannya?"

"Ya, aku tahu semua itu," desis sang nenek, sambil bangkit dari duduknya.

"Lalu apa yang nenek tidak tahu tentangnya?" balas sang cucu dengan perasaan jengkel.

"Obat penyakit cerewetmu," sahut sang nenek sambil melangkah masuk ke dalam rumah, membawa baju hangat rajutannya yang sudah jadi. "Hanya itu yang nenek tidak tahu."

Remaja tersebut tertegun. Ditatapnya punggung wanita tua itu yang hampir membungkuk. Kepalan tangannya merenggang. Foto kesayangannya itu melesat jatuh ke atas lantai. Sejak saat itu ia memutuskan untuk tidak menunjukkan idolanya lagi pada siapapun.

                                         * * *

[Puisi] Napas Agustus

Napas-napasku adalah hidupku Napas yang bertiup dari rahmat-Nya Napas yang diperjuangkan ayah dan ibu Napas yang diaminkan puluhan doa Mungk...