Tiga
Akhirnya...
Lagi-lagi Dini mengucapkan terima kasih kepada Marina. Seorang pemilik kafe Coffee Day. Boss barunya. Dan Marina tahu apa yang harus ia lakukan. Alih-alih menerima gadis itu sebagai pramusaji di kafenya untuk menggantikan Sophie yang telah mengundurkan diri sejak minggu kedua puluh kehamilan pertamanya, ia justru memiliki maksud lain di balik itu.
"Nanti kembali lagi ke sini, ya," senyum Marina. "Usahakan sebelum pukul tiga siang, kamu sudah tiba. Ada asisten kepercayaanku, Tika, yang akan melatihmu. Kau pernah ikut kursus masak, kan? Jadi saya kira masa trainning-mu nggak akan lama."
"Terima rkasih, Bu. Saya janji akan datang tepat waktu. Sekali lagi terima kasih," ucap Dini dengan mata berbinar.
Ia pun pamit kepada Marina. Sesaat kemudian sosoknya tak lagi terlihat di area kafe. Marina tersenyum. Ia membalikkan tubuhnya dan beringsut menuju ruang kerjanya.
Belum sempat ia melangkah, ponselnya bergetar kecil. Ia berhenti sejenak. Sebuah notifikasi Messenger muncul di layar ponselnya. Dari Ajeng.
Selamat pagi, Tante!
Marina mengulas senyum. Anak itu...
Sesaat kemudian serangkaian kalimat sudah terketik rapi di layar ponselnya. Disentuhnya tanda panah ke atas di sudut kiri bawah dan seketika pesan itu sudah meluncur masuk ke Messenger Ajeng. Ia paham betul maksud Ajeng mengirimkan pesan singkat padanya. Dan ia merasa bangga karenanya.
Senyumnya hampir tersungging sempurna. Kala ingatannya tergelitik pada satu peristiwa yang terjadi di meja kassa Coffee Day tiga minggu yang lalu.
Masih jernih dalam memorinya kejadian saat pertama kali pertemuannya dengan Panji setelah hampir dua puluh lima tahun berpisah. Dan atas permintaannya, laki-laki itu sanggup menceritakan semuanya. Yang sebenarnya terjadi di balik layar kehidupannya. Tentang kisah menyedihkan yang menimpa Panji dan istrinya, Ilde. Hingga akhirnya ia siap turut menolong laki-laki itu sepenuhnya. Bersama Ajeng sebagai partner 'kerja samanya'. Melancarkan sebuah misi yang bersifat mutualisme. Meski ia tahu risikonya adalah sakit hati. Dan perasaan laki-laki itu akan selalu tetap pada wanita pilihan terakhirnya.
* * *
"Permisi, bisakah saya memesan seporsi..."
Suara berat yang khas itu terdengar familiar di telinganya. Tubuh Marina langsung berbalik. Menghadap ke arah muka kafe. Ia hampir menjerit histeris ketika mendapati sebuah tatapan teduh dari pemiliknya yang telah lama menghilang.
Panji?
Tatapan Marina terpaku pada seraut wajah di seberang meja kassa.
Marina?
Keduanya saling menyebutkan nama sosok yang dihadapannya dalam hati. Seutuhnya Marina tahu bahwa bara cinta dalam hati Panji untuknya telah lama terpadamkan. Bahkan sisa-sisa gemercik bunga apinya pun ia tak melihatnya masih ada dari kedalaman mata laki-laki itu.
Dan semuanya mengalir begitu saja. Panji dan Marina saling menceritakan kehidupan masing-masing selama tiga windu terakhir. Sambil menikmati hidangan yang disajikan oleh pemilik kafe. Perlahan, satu per satu rahasia di antara keduanya terungkap.
Kini Panji telah mengetahui semuanya. Tentang rahasia di balik sejarah berdirinya Coffee Day. Tentang cinta Marina yang terselip di dalamnya. Tentang harapan yang hanya sebatas angan.
Begitu pun juga Marina. Ia semakin yakin bahwa tak hanya dirinya yang menggilai laki-laki di hadapannya itu. Entah pesona apa yang dimiliki Panji, hingga para gadis pada masa remaja mereka mudah sekali jatuh hati padanya.
Hanya saja perempuan itu bukan aku... Marina mengerjap resah. Apakah... ah! Pupus sudah!
* * *
Dicta menganga bodoh. Ia seperti tersengat sesuatu saat mendengar jawaban adiknya. Sesuatu yang terdengar aneh. Asing dan membingungkan.
Bagaimana mungkin seorang Kemuning Jenggalasari yang dikenalnya tegas macam diktator diam-diam mempunyai seorang... mantan? Dicta menggeleng tak percaya.
"Gitu aja kok kaget, Mas?" celetuk Ringgo kemudian.
"Ya, bagiku aneh aja. Kupikir dengan kepribadian Mama yang seperti itu, laki-laki mana coba yang berani melirik?"
"Lalu Papa? Kita sendiri kan yang jadi bukti cibiran Mas tadi," sahut Ringgo acuh tak acuh.
Papa? Makhluk macam apa itu? Dicta memicingkan mata.
"Wajarlah kalau Mama naksir sama dia. Pak Panji itu kan lumayan, Mas. Cakep, gagah, sopan. Macam Mas Dicta," timpal Ringgo selanjutnya.
"Dik, kamu nggak bercanda kan?"
"Maksud Mas?"
"Aku seperti melihat matamu saat menatap wajahnya! Sumpah, dia mirip banget sama kamu!" sahut Dicta dengan mimik super serius.
Benarkah? Mata Ringgo menyipit.
"Aku nggak nuduh Mas Dicta, ya," ucap Ringgo dengan hati-hati. "Tapi, apa mungkin Mas berpikir kalau Pak Panji itu... adalah ayah kandung kita?"
Dicta terhenyak. Belum sempat ia kembali bicara, suara Kemuning segera mendahuluinya. Memanggil kedua kakak beradik itu dengan nada yang terdengar menyebalkan. Terkecuali bagi Dicta dan Ringgo. Maka keduanya langsung bergegas menghampiri sang ibu di kamarnya.
* * *
Sial!
Kemuning mencengkram kasar selimut putih yang menutupi sebagian tubuhnya. Diliriknya pintu kamar yang menghadap ke ruang tamu. Suara laki-laki itu masih menggema ringan di luar di sana. Silih berganti dengan suara pemuda yang terdengar nyaris gugup. Dilemparnya selimut itu dengan rasa kesal yang tertahan.
Dipalingkan wajahnya dengan mimik yang terlalu kejam untuk ukuran penyihir jahat dan sejenisnya. Ia meringis pelan. Nyeri di betis kanannya kembali mendera. Pecahan kerikil itu rupanya ampuh membuat perempuan berhati iblis itu kesakitan yang amat dahsyat. Ditambah dengan luka di sudut dahinya. Terasa pening.
"Aku tahu bahwa kamu dalangnya, Mbak," desisnya, dengan nada menuduh.
Tatapannya menajam. Menerawang tiap celah di balik dinding bercat biru cerah yang mengelilinginya. Membayangi masa-masa remajanya dulu. Kala Panji memutuskan hubungan asmara dengannya. Tanpa alasan yang menurutnya logis; dilarang orang tua. Ia pun kecewa yang teramat dalam. Hingga mendendam pada Panji dan keluarganya.
Lalu Ilde hadir dalam kehidupan mereka. Dan mata Panji mengarah begitu saja padanya. Hatinya pun turut tertambat pada gadis berdarah Italia-Belanda itu.
Di sinilah permainan dimulai. Tiga tahun setelah lulus SMA, Panji dan keluarganya datang melamar Ilde. Lima bulan berikutnya mereka dan menikah. Sejak itu Kemuning mulai menguntitnya hingga anak pertama Ilde dan Panji lahir ke dunia.
Mahesa Rendra Pratama.
Bayi tampan yang kemudian namanya diubah tanpa sepengetahuan orang lain. Yang dirampasnya dari tangan Ilde dan Panji saat keduanya lengah. Ketika sang bayi telah berusia sebelas bulan, Ia membawa pergi batita mungil itu beserta adiknya laki-lakinya sekaligus yang baru berumur tiga minggu.
Kedua bocah itu kini telah menjelma menjadi pemuda gagah yang tak pernah membantahnya. Yang menjadikan Kemuning sebagai ratu yang kekuasaannya absolut tanpa batas.
Hingga tanpa pernah ia menyadarinya, bahwa pada akhirnya, anak-anak Panji itu akan segera menurunkan tahtanya. Mereka memulainya di belakang punggung Kemuning. Berusaha melepaskan ikatan. Mencari pelita yang sesungguhnya mereka butuhkan. Agar semuanya menjadi terang. Antara mereka dengan orang-orang di sekitarnya.
"Apapun yang terjadi, Dicta-ku tidak boleh pergi," Kemuning mengukuhkan tatapannya. "Atau beralih nama seperti semula. Dan Ringgo, pemuda itu harus tetap dalam genggamanku," ia mulai menggigil. "Tidak akan pernah ada pereinkarnasian nama. Rendra dan Davin sudah mati. Sepertinya, aku harus mulai bergerak dari sekarang."
Kemuning lalu bangkit dari ranjangnya. Namun ia malah terjatuh. Kakinya masih lemah untuk berjalan.
"Dicta! Ringgo! Cepat kemari!!!" teriaknya setengah kesal.
Dan dalam hitungan detik, keduanya segera datang menghampirinya.
* * *
Ajeng tertunduk menekuni ponselnya. Sesekali ia tersenyum sambil mengetikkan sesuatu. Ia menarik napas lega setelah membaca kalimat terakhir yang tertera jelas di layar.
Dini sudah kuterima sebagai pramusaji di sini.
Segera dibalasnya pesan singkat itu. Beberapa detik kemudian balasan dari seseorang di luar sana masuk ke inbox-nya. Ketika jempolnya hampir menyentuh bagian sudut kiri atas ponselnya untuk membaca sms tersebut, Wulan menegurnya. Ia kemudian mengangkat kepala. Mengirimkan tatapan bertanya.
"Ada calon pelanggan yang maksa mau ketemu Mbak Ajeng," sahut Wulan, menunduk.
"Kenapa?" senyum Ajeng meredup seketika.
"Dia menginginkan data asli hewan ternak di sini dari pemiliknya langsung."
"Terus kamu bilang apa?" tanya Ajeng, sabar.
"Saya sudah tegaskan padanya bahwa ia tak perlu bertemu Mbak untuk urusan itu. Tapi..."
"Antarkan saya padanya," ucap Ajeng, tegas.
Wulan mengangguk. Ia lalu berjalan ke luar kantor Ajeng sambil menjajari langkah boss-nya. Keduanya berusaha tenang ketika hampir sampai di pelataran mini khusus tamu di sebelah peternakan.
"Selamat siang."
Laki-laki itu menoleh. Ditatapnya Ajeng dengan wajah serius. Ajeng menjabat tangannya yang dingin. Sambil mengulas senyum.
"Ajeng," ia menyebutkan namanya.
Laki-laki itu hanya membalas sekenanya. Suaranya terdengar berat saat menyebutkan namanya sendiri. Namun Ajeng tak menyerah.
"Kamu boleh pergi," bisik Ajeng kemudian pada Wulan.
Perempuan itu lalu menyingkir. Ajeng kembali menatapnya. Laki-laki congkak itu.
"Ada yang bisa saya bantu?" Ajeng berusaha ramah kepadanya, seperti perlakuannya terhadap setiap calon pelanggan maupun pelanggan tetap.
"Memangnya Mbak yang tadi nggak bilang apa-apa?" sahutnya sinis.
Ajeng tertegun. Ia menahan diri untuk tidak mengumpat. Meski dalam hati sekali pun.
"Saya cuma mau minta data hewan ternak di sini. Langsung dari pemiliknya. Bisa, kan?"
"Baik, tunggu sebentar, ya? Anda bisa duduk santai dulu di sini, sementara saya akan mengambil laptop di dalam. Saya akan kembali secepatnya," ucap Ajeng dengan nada yang masih kental dengan kesabaran yang dipaksakan.
Laki-laki itu mengangguk kaku. Kemudian Ajeng melangkah kembali ke ruang kerjanya. Ada sebuah laptop di dalam sana yang sudah siap diraihnya dengan sekali sambar.
Ajeng lalu kembali dengan wajah sumringah. Ia membayangkan betapa takjubnya hati laki-laki itu ketika mengetahui lebih dalam tentang keunggulan peternakannya. Namun kenyataannya tak seindah bayangan.
Laki-laki itu sudah terlanjur pergi saat ia mengambil laptop. Didapatinya sebuah kertas yang terlipat asimetris di atas meja tamu. Segera diraihnya benda tipis itu.
Saya mohon maaf karena tidak sempat pamit sebelum pergi. Waktu saya sangat terbatas. Sebelum lima belas menit berlalu sejak sepeninggal Mbak Ajeng tadi, saya harus sudah ada di depan meja di ruangan boss saya.
Saya pikir ini tidak terlalu buruk. Toh, saya tidak merugikan pihak peternakan ini. Jadi tolong dimaklumi. Terima kasih.
Salam,
Alaska Madagaskar
Ajeng mendengus kesal. Dihelanya napas panjang sebelum kembali ke ruang kerjanya. Untuk kembali melanjutkan 'pekerjaan'-nya yang sempat tertunda.
* * *
Mata Praha mengabur. Ada banyak sisa kabut memenuhi ruangan itu. Kabut yang pernah menutupi hampir seluruh bagiannya. Yang menebal di antara ketakutan para bocah malang dalam ringkuknya di sudut ruangan. Dan kini kabut itu seringkali menebal di mata Praha saat semua memori hitam itu berputar memainkan rasa di benaknya.
Ia tak pernah lupa bagaimana kabut itu dapat muncul dan berputar mengelilingi para bocah tanpa dosa. Dihelanya napas. Berharap kabut itu segera membebaskannya dari perasaan yang kian waktu mengganggu hatinya.
Praha mengedarkan pandangannya sejenak. Semuanya masih terlihat seperti dulu. Kumuh, gelap, dan dingin. Ratri menghujaninya dengan tatapan haru. Ada rasa simpatik yang tergambar jelas kedalaman matanya. Direngkuhnya bahu remaja itu.
"Aku kangen mereka, Bik," ujarnya, lirih.
Ditolehnya Ratri dengan wajah nelangsa. Kabut di matanya menyiratkan rasa yang memadukan antara kerinduan dan harapan. Ia kemudian menyempurnakannya menjadi satu rasa yang utuh. Hingga Ratri tak sanggup lagi membisu di tengah atmosfer biru yang mengelilingi keduanya.
"Iblis itu sudah mati, Praha," tatapan Ratri menembus pintu. "Bagaimana kita dapat memperoleh informasi yang murni kebenarannya tentang keberadaan teman-temanmu?"
"Bukannya tidak mungkin untuk kita mendapatkannya dari polisi," sergahnya, halus.
"Polisi?" Ratri menaikkan suaranya. Menatap Praha dengan putus asa. "Jangan bermain-main dengan maut!"
Praha tersenyum licik.
"Ada beberapa hartaku yang bisa dikorbankan tanpa masalah. Kukira kau mengerti itu. Dan kuharap kau bisa menjadi partner-ku untuk menangani hal ini."
"Rencana apa yang kau pikirkan?"
"Sebuah misi, di mana hanya kita berdua saja yang boleh tahu."
"Bik Ratri takut, Pra. Aku bisa dipecat Bundamu nanti," balas Ratri dengaan nada khawatir.
"Tenanglah. Aku akan mempertanggunggjawabkannya bila itu terjadi," ucapnya, lugas. "Mungkin kita bisa memulainya dari sekarang. Aku tahu bahwa Puri hobi menulis. Kita bisa memanfaatkannya untuk kepentingan penyelidikan."
Ratri lalu menimbang-nimbang keputusan yang akan dipakainya. Perempuan mengedarkan tatapannya ke sekelilingnya. Tiba-tiba saja sekelebat bayangan indah melintas di benaknya. Tentang sebuah ide brilyan Praha. Dan pada detik itu juga ia menyetujui tawaran anak angkat majikannya.
* * *
Dicta dan Ringgo saling melempar pandangan. Lalu keduanya mengarahkan tatapan pada Kemuning sebelum kembali menyuapkan makanan yang ada di sendok mereka. Perempuan itu tampaknya tak terusik oleh tatapan yang menusuk wajahnya. Hingga keduanya tak sadar akan 'kejutan' yang menyadarkan mereka.
"Kalian ini apa-apaan sih?" Kemuning menghentakkan tangannya di atas meja makan begitu menyadari gelagat aneh dari kedua anaknya.
Meja sedang itu bergetar kecil. Diikuti oleh bunyi tiga piring yang beradu dengan sendok di atasnya dan bunyi minuman yang bergejolak dalam sebuah mug besar dan dua buah cangkir. Keheningan segera menguasai ruang makan itu.
Kedua pemuda itu seketika tertunduk malu. Giliran Kemuning yang menatap mereka dengan mata tajam. Secara bergantian.
"Katanya... Ringgo mau... ngomong sesuatu... sama Mama," sahut Dicta dengan kepala masih tertunduk.
"Aku?" Ringgo memprotes.
"Ada apa?" tanya Kemuning dengan suara agak diturunkan.
"Ok, aku yang mulai," mata Ringgo menyapu wajah abangya sekilas sebelum kembali menatap Kemuning. "Aku mau tanya sesuatu, Ma."
"Apa itu?"
Debar jantungnya semakin cepat. Mulutnya membisu begitu saja. Ditatapnya Dicta berkali-kali. Pemuda itu kemudian mengangguk mantap pada adiknya.
"Ayo katakan! Jangan mengulur waktu! Ini sudah malam. Mama ngantuk, mau tidur," tukas Kemuning.
"Tapi..."
"Lanjutkan!"
"Sebenarnya, ini masalah Papa, Ma," tiba-tiba saja kalimat itu meluncur dari mulut Dicta.
"Apa lagi?" Kemuning mengernyit dengan kesal.
Mulut Ringgo sedikit terbuka. Ia benar-benar tak tahu harus bersikap. Wajahnya terlihat kaku dan bodoh.
"Iya, aku tahu, makanya..."
"Stop! Mama nggak mau dengar!" tangan kiri Kemuning sedikit terulur dengan telapak bawah terbuka mengarah depan. "Toh kamu sudah tahu jawabannya, kok."
"Ma, ayolah," rayu Ringgo.
"Kalau Mama bilang tidak, ya, tidak! Jangan membantah!"
Dicta masih belum menyerah. Ia turut membujuk sang mama sedemikian melasnya. Namun tetap saja Kemuning tak mau mematahkan keputusannya.
"Ma, apa salahnya sih kita menanyakan soal Papa?" Ringgo mencoba untuk memberanikan diri.
Salahnya? Karena kalian anak kandung Panji dan Ilde, Ringgo!
"Sepertinya Mama membenci Papa. Tapi entahlah. Kurasa sih begitu," celetuk Dicta dengan polos.
Pada detik yang sama, Kemuning tak sanggup mengelak lagi. Otaknya tak mampu menyeimbangkan keadaan. Untuk merangkai kata menjadi potongan kalimat sederhana yang selalu ampuh pada kedua 'robot kecil'-nya. Entah mengapa tiba-tiba saja ada ribuan panah dalam mata kedua pemuda itu yang siap melesat untuk menghujam jantungnya.
* * *
Bersambung