Senin, 05 September 2016

[Cermin] Nenek Serba Tahu




Seorang remaja perempuan berjalan santai menemui neneknya yang duduk di kursi kayu sambil merajut baju hangat di beranda rumah. Dengan menunjukkan sebuah foto dirinya dengan sang idola, remaja tersebut mulai mengajukan sebuah pertanyaan pada neneknya.

"Apakah nenek tahu, bahwa Jacquelinne adalah model fashion remaja yang paling cantik?"

"Aku sudah tahu," sang nenek tak menoleh sedikitpun.

"Kalau begitu, nenek juga harus tahu bahwa aku berhasil berfoto ria dengannya. Lihat ini," remaja tersebut terus merayu neneknya agar menghiraukan ocehannya. "Apakah nenek sudah tahu itu?"

"Ya, aku sudah tahu itu," sang nenek tetap melanjutkan pekerjaannya.
"Bagaimana dengan aksesoris perdananya yang serupa dengan aksesoris yang baru saja kubeli dengan harga fantastis?"

"Aku juga tahu itu."

"Jawablah, kapan jadwal pemotretan Jacquelline selanjutnya? Aku berani bersumpah demi apa pun bahwa nenek tidak mengetahuinya."

"Aku tahu semua itu. Hanya saja aku tak perlu memberitahukannya padamu," rajutan sang nenek hampir selesai.
"Hm... Baiklah. Lalu, apakah nenek juga sudah tahu juga mengenai persiapan rancangan gaun yang akan dikenakannya pada fashion show minggu depan?"

"Aku sudah tahu, cucuku."
"Bagaimana dengan prestasi karir modelling-nya? Tahukah nenek tentang itu?"

"Aku sudah tahu."

"Tanggal lahir Jacquelline?"

"Aku tahu."

"Hobinya?"

"Aku juga tahu itu."

"Warna favoritnya? Sahabat terbaiknya? Asal keturunannya?"

"Ya, aku tahu semua itu," desis sang nenek, sambil bangkit dari duduknya.

"Lalu apa yang nenek tidak tahu tentangnya?" balas sang cucu dengan perasaan jengkel.

"Obat penyakit cerewetmu," sahut sang nenek sambil melangkah masuk ke dalam rumah, membawa baju hangat rajutannya yang sudah jadi. "Hanya itu yang nenek tidak tahu."

Remaja tersebut tertegun. Ditatapnya punggung wanita tua itu yang hampir membungkuk. Kepalan tangannya merenggang. Foto kesayangannya itu melesat jatuh ke atas lantai. Sejak saat itu ia memutuskan untuk tidak menunjukkan idolanya lagi pada siapapun.

                                         * * *

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

[Puisi] Napas Agustus

Napas-napasku adalah hidupku Napas yang bertiup dari rahmat-Nya Napas yang diperjuangkan ayah dan ibu Napas yang diaminkan puluhan doa Mungk...