Jumat, 16 September 2016

[Cerbung] Adoptee #2-2




Kemuning melangkah keluar menuju pekarangan kecil di depan rumahnya. Seorang laki-laki tinggi besar duduk bersila di bangku dekat salah satu semak rimbun di sana sambil menekuni sesuatu. Kemuning lalu memanggilnya. Dan laki-laki itu mendongak.

"Ada apa sih, Ji?"

Laki-laki itu menutup bukunya. Lalu memasukkannya ke dalam kantong kulot agar Kemuning tak melihatnya.

"Aku ingin bertemu dengan kedua anakku," sahutnya datar sambil mendekati Kemuning. "Sekarang!"

Rendra? Davin?

"Tidak! Mereka sudah mati!" balas Kemuning, sengit.

"Lalu kau akan mengusirku begitu saja setelah aku mempercayainya?"

Kemuning mulai kehilangan kata. Pikirannya kosong seketika. Entah mengapa, ia tak mampu mengelak lagi.

"Mungkin kau bisa membohongi Ilde dengan mudah," nada mengejek terdengar kental dalam suara Panji. "Tapi tidak bagiku. Tak perlu mengelak lagi, Ti. Semuanya sudah sudah jelas."

Seketika Kemuning diam tak berdaya. Panji masih menghujaninya dengan tatapan yang menghujam. Ia terus mengumpat dalam hati.

"Jangan membisu!"

"Mereka sudah mati, Panji! Sudah mati!" Kemuning menekankan suaranya.

"Siapa yang sudah mati?"

Panji dan Kemuning menoleh secara bersamaan. Dicta menatap polos wajah keduanya. Kemuning terperanjat ketika menyadari kehadiran mereka. Kedua putranya.

"Kenapa Mama diam?" Ringgo bergantian menatap Kemuning dan Panji.

"Kapan kalian tiba di sini?" Kemuning mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.

"Sekitar sepuluh menit yang lalu. Saat Mama baru keluar dari dalam rumah," jawab Dicta, jujur.

Kemuning mengedarkan tatapan. Pada ketiga pria di depannya. Tiba-tiba ia mematung. Hening. Beku. Merasa posisinya dalam keadaan lemah, Kemuning mundur perlahan, dengan tatapan yang tetap terpaku pada ketiganya. Tiba-tiba kedua kakinya tersandung kerikil. Ia terjengkang jatuh ke tanah dan tak sadarkan diri. Suasana menjadi tegang seketika.

                                   * * *

"Minum dulu, Pak," Ringgo meletakkan sebuah cangkir beralaskan piring kecil di atas meja, di depan Panji.

Ia berusaha duduk dengan tenang di hadapan laki-laki itu. Menahan diri untuk tidak melontarkan rasa penasarannya. Mengenai perlakuan Panji terhadap Kemuning tadi pagi.

Dicta masih menunggu Kemuning sadar dari pingsannya. Di dalam kamarnya. Kamar masa dininya. Yang selalu hangat. Dan tak pernah sedingin ini sejak ia dan Ringgo merantau Jakarta.

"Maaf, Pak," Ringgo menegakkan badannya, "apakah saya boleh menanyakan sesuatu kepada Bapak?" tanyanya, mencairkan suasana.

"Ya, silahkan," Panji tersenyum tipis.

"Apakah Bapak memiliki hubungan kekerabatan dengan Mama saya?"

Panji memaku tatapannya pada Ringgo. Pemuda itu merasa risih karenanya. Meski agak canggung, dibalasnya tatapan Panji.

Laki-laki ini... Hm...

Panji mendegut ludah. Davin... Ayah tahu itu kamu, Nak. Putra bungsuku. Hampir saja mata Panji mengaca.

"Saya mantan pacar Mamamu, Ri," sahutnya kemudian.

Bibir Ringgo membundar tanpa suara. Menahan diri untuk terkikik geli. Pada detik yang sama, Dicta keluar dari kamarnya. Berjalan tegak menuju ruang tamu.

"Maaf, Pak. Mama baru saja menginstruksi kepada saya agar meminta Pak Panji untuk segera pulang," ucap Dicta lugas.

"Mama sudah sadar, Mas?" Ringgo bangkit dari duduknya.

"Oh, ya, saya akan pulang sekarang," Panji segera berdiri. "Terima kasih atas jamuannya. Tolong sampaikan salamku pada Mama kalian. Permisi."

Dicta dan Ringgo mengantarnya hingga depan pagar. Panji melangkah tegak sambil mengulang pamit. Saat sosoknya telah menghilang di tikungan ujung jalan, Ringgo segera menarik abangnya sambil berlari masuk ke dalam rumah.

                                   * * *

Ringgo segera melepaskan kikiknya usai masuk ke dalam rumah. Dicta menatapnya heran. Ia pun duduk di sebelah adiknya. Perlahan tawa Ringgo mulai mereda.

"Obatmu habis, Dik?"

Ringgo pura-pura terkejut. Ditatapnya Dicta dengan ekspresi cemberut. Yang ditatap tak bereaksi sedikit pun.

"Mas mau tahu kenapa aku cekikikan kayak gini?" Ringgo menaikkan suaranya.

Dicta masih mengacuhkannya.

"Ok, fine! No problem," balas Ringgo tanpa ekspresi.

"Lha, kok ngambek sih?" protes Dicta.
Ringgo meliriknya setengah sinis. Menegakkan duduk. Mengatur napas. Lalu mulai bercerita.

"Sebenarnya Pak Panji itu...," Ringgo menggantung kalimatnya, memancing rasa penasaran abangnya.

Dicta memerhatikannya serius. Ringgo tertawa ringan melihat ekspresinya.
"Yang serius dong, Dik!" hardik Dicta.
"Sebenarnya Pak Panji itu...," Ringgo mengulang kalimatnya. "Mantan pacarnya Mama."

"HAH?"

Pada detik itu juga, Dicta lupa menutup mulutnya.

                                    * * *

Pemuda itu... Rendra dan Davin! Ya, mereka anakku!

Panji kemudian menghubungi Lidya. Tak butuh waktu untuk menunggu lama, perempuan itu sudah terhubung dengannya lewat telepon.

"Aku baru saja menemuinya, Lidya. Mereka... betul-betul bocah tampanku yang diculik Respati dua puluh dua tahun silam," ucap Panji sambil menahan air mata.

"Aku tak berbohong, kan?"

"Terima kasih, Lidya. Terima kasih," ucap Panji dengan penuh syukur.

"Sama-sama, Panji," sahut Lidya hangat.

"Selamat siang," salam Panji.

"Selamat siang."

Sambungan telepon terputus. Diletakkannya kembali ponsel itu. Tangannya menyusup masuk ke dalam kantong kulotnya. Meraba buku kecil di dalamnya yang ternyata adalah sebuah album foto mini yang berumur cukup tua.

Ia tersenyum tulus saat melihat-lihat setiap foto yang tercantum di dalamnya. Sambil menitikkan air mata kerinduan, diusapnya setiap dokumentasi kenangan hidupnya bersama Ilde dan kedua bocah tampan mereka. Rendra dan Davin.

Namun kini hanya tersisa ia sendiri yang mengenangnya. Sambil merangkai setiap potongan-potongan cerita yang disampaikan Lidya dengan pembuktian yang ia sendiri sebagai pelakunya. Untuk kembali menyatukan kepingan jiwanya. Pada pemilik ketiga nama yang disayanginya itu. Mendiang istrinya dan kedua bocah yang telah menjelma menjadi pemuda dengan nama baru yang bukan pemberiannya.

Ia kemudian mengerjap. Menutup album fotonya yang hampir usang. Dalam hati ia menegakkan harapnya. Memantapkan setiap langkah hidupnya. Untuk menguatkan asa. Dan kembali menemukan dunianya. Yang nyata seutuhnya.

                                   * * *

Bersambung


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

[Puisi] Napas Agustus

Napas-napasku adalah hidupku Napas yang bertiup dari rahmat-Nya Napas yang diperjuangkan ayah dan ibu Napas yang diaminkan puluhan doa Mungk...