Dicta membaca ulang pesan terornya sebelum dikirimkan ke akun gmail Ajeng. Ia tersenyum puas setelah mendapat laporan penyelidikan Ringgo tentang pertemuan gelap Ajeng dan Lidya malam ini. Lewat telepon, adiknya menuturkan bahwa keduanya akan kembali bertemu esok pagi di kediaman Lidya.
Melalui salah satu akun gmail samarannya, Dicta mengirimkan pesan terornya yang kesekian puluh kali. Hingga akhirnya Ajeng tak tahan dan memutuskan untuk menemui Lidya malam ini juga. Di sebuah kafe langganannya.
"Ajeng...," Dicta menyeruput teh manis dalam gelasnya, "kupikir kau tak sebodoh yang kukira. Ternyata dugaanku salah. Kau, Dini, dan Ecilia sama dungunya."
Tiba-tiba ponselnya menyala dan berdering kecil. Dicta mengalihkan tatapannya dari langit malam di luar kamar. Disentuhnya kotak Read di bawah notifikasi pesan singkatnya. Dalam waktu sekejap, serangkai kalimat panjang segera memenuhi separuh layar ponselnya.
Ingat Dicta, waktu kita tidak banyak. Kau dan Ringgo harus secerdas mungkin memanfaatkan waktu. Secepatnya, jumlah nominal uang yang telah Mama tentukan harus segera kamu titipkan lewat adikmu untuk Mama. Jangan biarkan Ajeng mengambil anakmu 'begitu saja'. Apa pun kendalanya, Mama tidak mau tahu. Selesaikan secepat dan secermat mungkin.
Salam,
Kemuning Jenggalasari
Dicta menghempaskan tubuhnya ke atas kursi. Diusapnya wajah dengan kedua tangannya. Entah bagaimana kelanjutan hidupnya setelah 'jatuh tempo' nanti, jika ia tak mampu menjalankan 'titah sang Ratu' sebaik mungkin, ia tak berani membayangkannya.
Perempuan setengah baya itu bagaikan diktator baginya dan Ringgo. Sejak ia menginjak dewasa, dirinya seolah kehilangan sosok ibu yang selalu menyayanginya. Kemuning semakin tak terjangkau. Tak pernah lagi ada secerca kasih sayang yang ditanamkan Kemuning dalam hatinya. Keharmonisan keluarganya perlahan memudar begitu saja. Dan ia juga Ringgo selalu mengeluhkannya.
"Jangan putus asa. Semua ada masanya, Dict," ucap Mamanya selalu dengan acuh ketika ia mengeluhkan ketidaknyamanan dalam hidupnya.
Benarkah?
Dicta membisu. Bibirnya bergetar dan matanya mengabur. Dengan hati-hati, diletakkannya ponsel itu di atas meja. Dan yang ada di sekitarnya menjadi samar seketika.
Sebetulnya Dicta dan Ringgo bukanlah pemuda bengis seperti yang dikenal Ajeng, Ratri, Guntur, dan Ecilia. Keduanya hanya anak yang terlalu 'patuh kepada orang tua' sehingga menjadi korban dari sikap aroganisme yang diturunkan oleh Pramudyo kepada putri semata wayangnya, Kemuning. Dan perempuan itu seakan merasa dirinya bagaikan ratu tanpa tahta yang menguasai kerajaan kasat matanya.
* * *
Pelan, Ecilia mendekap foto Dicta yang terletak rapi dalam bingkai kaca. Tetesan bening di telaga matanya meleleh. Ia mengerjap. Ketika ia membuka mata, seraut wajah Lidya merangkai senyum untuknya. Berdiri tegak sambil membuka tangannya. Hendak memeluk putri kesayangannyat. Ecilia segera meletakkan foto Dicta di balik bantal dalam keadaan terbalik.
"Lia, kamu sudah dewasa, Nak," Lidya memeluk erat tubuh anaknya. Meski tak seerat pelukannya saat Ecilia masih muda.
"Aku sayang Ibu," ucap Ecilia, tulus.
"Ibu juga sayang pada Lia," sahut Lidya, lirih.
"Ibu baru pulang?" Ecilia menarik tubuhnya.
Lidya segera bangkit dan duduk di sampingnya. Dielusnya kepala Ecilia dengan lembut. Kemudian Ecilia membalasnya dengan sentuhan yang menenangkan di pipi Lidya.
"Ibu baru saja pergi menemui Ajeng," ujar Lidya.
"Lalu?"
Lidya menghela napas. "Sepertinya dia benar-benar tulus ingin merawat anakmu. Sedikit pun Ibu tidak mendapati celah niat licik dalam matanya. Dan besok pagi ia akan datang ke sini."
Ecilia menunduk sambil mengelus perut buncitnya. "Kalau pun anakku tak akan pernah mengenal ibu kandungnya sendiri, aku rela, Bu."
"Jangan bersedih, Nak," Lidya mengangkat dagu anaknya. "Apakah kau tega bila anakmu ikut bersedih juga?"
Ecilia menggeleng lalu tersenyum.
"Tidurlah, Nak," Lidya kembali mengelus kepalanya. "Semoga malammu tidak mengecewakan."
Ecilia menurut. Dibaringkan tubuhnya pelan-pelan di atas ranjang. Lidya sempat mendaratkan sebuah kecupan di salah satu pipinya. Setelah keduanya saling mengucapkan selamat malam, Lidya segera beringsut menuju kamarnya.
* * *
Sebuah ketukan yang hampir menyerupai gedoran di pintu rumahnya berhasil membangunkan Kemuning dari tidur lelapnya di kursi tamu. Ia tersentak kaget ketika telinganya terhujam oleh sebuah teriakan khas yang menggemakan nama aslinya. Dengan diliputi rasa takut dan seluruh tubuh menggigil, Kemuning berusaha membuka pintu.
"Ada apa, Nyonya?" suara Kemuning bergetar hebat.
"Saya bukan lagi majikanmu!" mata Marina mendelik tajam. "Mana uang saya yang kamu pinjam empat tahun yang lalu?"
Hampir saja Kemuning membuka mulut, Marina segera mendahuluinya.
"Nggak ada alasan bulan depan! Kamu tuh ngeremehin saya banget sih! Pantas saja kalau Pramudyo mengusirmu dari rumah!"
Kalimat terakhir yang ditandaskan perempuan berwajah separuh oriental itu menohok Kemuning seketika. Ia membeku seketika.
"Ok, kali ini saya berikan kamu sedikit napas lega," Marina menunjuk-nunjuk wajah Kemuning. "Tapi ingat! Taruhan yang kamu janjikan pada saya bukan sekedar aset penting tanpa nilai," bisik Marina dengan penekanan suara pada kalimat terakhir.
Perempuan itu lalu melenggang pergi tanpa pamit. Dengan wajah gemas, Kemuning hanya mampu menghembuskan napas nelangsa. Ia pun segera menghilang di balik pintu.
* * *
Tanpa sengaja, tatapan Kemuning jatuh pada wajah imut Dicta kecil yang tersenyum jahil di samping Ringgo balita yang terkikik geli dalam sebingkai foto yang tergantung di salah satu dinding kamarnya. Tiba-tiba saja sekelebat ide licik muncul di kepalanya. Dengan cekatan, serangkaian kalimat mantra yang terkesan wibawa di mata kedua putranya, telah terketik rapi di layar ponselnya. Sedetik kemudian mantra 'angker'-nya sudah melesat sampai ke ponsel Dicta.
Dalam hati, ia membayangkan ekspresi yang timbul di wajah Dicta usai membaca mantranya yang selalu ampuh membuat kedua 'robot kecilnya' tunduk seketika. Dan karena keyakinan akan keterampilan dirinya meluluhkan pemuda lugu itu, hingga ia mengira bahwa getar ponsel di tangannya adalah notifikasi pesan sebagai bentuk penindaklanjutan mantranya oleh putra sulungnya. Namun harapannya ternyata segera pupus begitu saja. Kala sepotong nama yang tercantum pada notifikasi sms di ponselnya sebagai pengirim pesan terbaca jelas di matanya.
Diam-diam Kemuning menelan ludah. Terasa pahit di pangkal mulutnya. Entah mengapa malam terasa semakin pekat. Dan seolah bertambah pekat ketika sebuah nomor telepon yang dimiliki oleh nama tadi menghubungi ponselnya.
* * *
Bersambung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar