Angin yang bertiup pelan
Mengurai benang sari, bertebaran
Seperti mimpi yang berhamburan
Terbang melayang di antara awan
Mimpi yang bersikulasi setiap malam
Ditemani bulan yang temaram
Menyelinap di tengah kelam
Berembus setelah mata terpejam
Mimpi adalah buah angan
Suara yang tak tersampaikan
Yang tenggelam dalam pikiran
Yang terkalahkan oleh kenyataan
Manusia yang tak pernah cukup
Haus yang tak pernah tertutup
Hasrat yang makin meletup
Akal sehat kian meredup
Berlayar ke tengah membelah laut
Menyingkap rahasia dalam kemelut
Menyibak tabir serupa benang kusut
Selama jantung masih berdenyut
Fana adalah nyata
Abadi adalah mimpi belaka
Kehidupan penuh dengan warna
Namun tak lama, akan sirna jua
Satu yang tak perlu dua
Tiga, empat, atau lima
Cukup nikmati dan jalani saja
Biarkan berjalan semestinya
Pantaskah mengimitasi demi mimpi?
Mimpi untuk tetap abadi–
–bertahan menjalani hari-hari–
–dengan makhluk serupa diri sendiri?
Tak pernah subur nafsu manusia
Tak pernah kekal makhluk yang fana
Hanya ada Sang Pencipta pada akhirnya
Abadi dan tak akan sirna
Segala yang berlalu akan terlewati
Tak perlu ada plagiasi
Tak perlu bermimpi akan abadi
Cukup satu, sehidup semati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar