Sabtu, 27 Juli 2024

[Puisi] Random Sampling's Story

Jika kita hanya titik acak sampel

Tanpa hubungan dan pengaruh apapun

Gunakah kita dalam pengolahan data?

Perlukah pembatas memisahkan kita?


Jika kita hanya titik acak sampel

Haruskah diolah sedemikian rupa?

Memperjelas bagaimana kita

Bagaimana diriku merasa berbeda


Jika kita hanya titik acak sampel

Sekiranya ingin tak mempersulit

Pengolahan dan analisis data

Meskipun semua itu, menyesakkan dada

Sabtu, 13 Juli 2024

[Puisi] Duplikasi

Angin yang bertiup pelan

Mengurai benang sari, bertebaran

Seperti mimpi yang berhamburan

Terbang melayang di antara awan


Mimpi yang bersikulasi setiap malam

Ditemani bulan yang temaram

Menyelinap di tengah kelam

Berembus setelah mata terpejam


Mimpi adalah buah angan

Suara yang tak tersampaikan

Yang tenggelam dalam pikiran

Yang terkalahkan oleh kenyataan


Manusia yang tak pernah cukup

Haus yang tak pernah tertutup

Hasrat yang makin meletup

Akal sehat kian meredup


Berlayar ke tengah membelah laut

Menyingkap rahasia dalam kemelut

Menyibak tabir serupa benang kusut

Selama jantung masih berdenyut


Fana adalah nyata

Abadi adalah mimpi belaka

Kehidupan penuh dengan warna

Namun tak lama, akan sirna jua


Satu yang tak perlu dua

Tiga, empat, atau lima

Cukup nikmati dan jalani saja

Biarkan berjalan semestinya


Pantaskah mengimitasi demi mimpi?

Mimpi untuk tetap abadi–

–bertahan menjalani hari-hari–

–dengan makhluk serupa diri sendiri?


Tak pernah subur nafsu manusia

Tak pernah kekal makhluk yang fana

Hanya ada Sang Pencipta pada akhirnya

Abadi dan tak akan sirna


Segala yang berlalu akan terlewati

Tak perlu ada plagiasi

Tak perlu bermimpi akan abadi

Cukup satu, sehidup semati


Jumat, 05 Juli 2024

[Cermin] Graduation II

"Bagaimana?"

"Alhamdulillah, aku suka dekorasinya," sahutku lugas. "Sepertinya yang lain juga begitu."

"Bukan itu," ia meringis. "Kamu... Maksudku, hatimu, baik-baik sajakah?"

Aku tercenung. Ada yang terasa sesak di lubuk hatiku. Sekeping luka lama kembali tersingkap. Dan saat itu juga aku tersadar bahwa kelemahanku masih sama — terjebak pada sebuah zona nyamanku. Lalu aku memilih tersenyum. Ia mendekapku tiba-tiba.

"Aku memahaminya. Kau pantas bahagia seutuhnya," ujarnya sambil mekaitkan kedua tangannya diujung bahu kananku dari sebelah kiriku.

Alih-alih menolak, aku mematung seketika. Bukan karena tercekat oleh ucapannya, namun karena aku merasa butuh sebuah dekapan. Dan Rowina memberikannya tanpa kuminta. Seperti yang pernah dilakukan pada Dinara padaku dulu.

Tak banyak kisah yang bisa kubagikan dengannya. Begitu pun ia. Kami lahir dan tumbuh atas kehendak Tuhan diiringi dengan karunia kelebihan dan kekurangan yang berbeda. Memiliki jalan hidup yang tak sama pula. Namun, ketika kami mengirimkan sinyal berupa ekspresi dengan menyandingkan tatapan satu dengan lainnya, maka saat itulah kami belajar memahami satu sama lain.

Hal kecil namun berarti yang tak terlupakan dalam hidupku adalah semua ujaran jujur yang tak terbantahkan. Yang menyapa telingaku dalam berbagai bentuk gaya bahasa. Terkadang teguran halus namun ada kalanya juga hampir serupa ujaran kebencian.

Saat titik itulah, kala semua ujaran itu berhasil menancap tepat sasaran dan mengerucutkan kesadaranku bahwa memanjakan perasaan adalah keputusan bodoh yang pernah ada.

"Agaknya, inilah akhir yang cukup adil untuk kita."

"Tapi dirimu? Hatimu? Jiwamu? Adilkah membiarkannya begitu saja?" bantahnya.

"Aku hanya perlu sedikit mendidiknya lagi. Setidaknya membiasakan diri untuk tidak mengganggu pikiranku melulu."

Ia hampir ternganga dan seolah kehabisan kata.

Memang, hatiku belum benar-benar pulih. Terutama pasca serangkaian pengalaman unik yang sudah hampir lama terjadi. Dan setelah itu, aku benar-benar 'baru' dan berubah. Terikat perih yang menyulitkanku bertahun-tahun.

Tapi Rowina tidak pernah membiarkanku kembali menata diri sendirian. Ia tahu betapa sukarnya melepas rasa takut yang hampir menjelma menjadi trauma. Bersamanya, aku mulai berhasil memperoleh kembali energiku sedikit demi sedikit.

"Sepertinya sebentar lagi kilasan dokumentasi kita semua akan diputar," gumamnya setengah cemas.

Dengan serius tatapannya mengarah pada satu persatu penari yang berbondong-bondong turun dari atas panggung.

"Itu pasti akan sangat lucu!" seruku jahil.

Dan ia makin terlihat cemas. Wajah pucatnya mungkin tertutupi riasan tetapi dapat terlihat bahwa cahayanya meredup tiba-tiba.

"Ayolah, kita nikmati saja!"

Lalu kami menyaksikannya dengan seksama. Sebuah dokumentasi peristiwa konyol diputar dalam sebuah layar besar yang terpasang di hadapan para hadirin selama beberapa belas menit. Berbagai tawa riuh mengisi penuh ruangan acara. Hampir tak satupun orang dalam ruangan itu tak bereaksi ketika saat itu tiba. Beberapa anak tampak setengah menunduk, menutupi wajahnya dengan kedua tangan, serta ada pula yang saling bertukar tanggapan sambil tertawa lebar dengan orang di sebelahnya. Sebagian kecil dari mereka hanya mengulum senyum tanpa komentar.

"Berbahagialah, Rowina."

Ia menolehku sekilas lalu tercenung.

"Aku sudah kembali siap menemanimu tertawa lagi," bisikku.


Dan benar adanya. Aku masih mampu menemani tawa ceria orang lain. Beberapa tahun terakhir ini bukan lagi tawa satu-dua orang saja yang umumnya seusiaku, melainkan sekelompok kecil anak balita hingga pra-remaja. Mengisi sebagian hidup mereka dengan kehangatan yang kupunya. Dengan canda yang terselip dalam tiap kasih yang kubagikan pada mereka, berharap mereka mampu memahami tentang dirinya sendiri terhadap Tuhannya. Berharap apa yang telah kulakukan selama ini mendatangkan kebahagian hakiki dan tidak berakhir sia-sia apalagi petaka. Memang, itu semua terlihat kecil dan sederhana. Namun setidaknya, aku berkesempatan untuk membagikan nikmat dicintai yang pernah kuperoleh seumur hidupku dari berbagai kalangan orang dengan kasih yang dimilikinya dan mengajarkan cara mencintai dalam berbagi.

Aku masih mengingat dengan jelas ketika panggilan pertamaku datang kala usiaku masih terlalu muda. Betapa terkejutnya reaksiku yang diikuti oleh rasa gamang. Lalu disusul panggilan lainnya yang tak kalah mampu membuatku membeku pada awalnya. Hingga...

"Kurasa semua masa lalumu sudah terbayar lunas hari ini," celetuk Rowina suatu waktu.

"Memang tidak ada hutang, kok," elakku.

Seutuhnya aku memahami maksudnya dan memang cukup mudah dimengerti. Aku tersentak ketika seseorang menjawil pundakku. Ia memberiku isyarat anggukan dan kerjapan mata. Kami pun segera beranjak menuju ruang utama.

Belasan riuh salam bertebaran menyambutku seketika saat aku memasuki ruangan itu. Lalu hatiku menghangat begitu saja. Tentu saja tak lupa kubalas salam indah itu.

Akhirnya. Inilah dunia yang kumimpikan sejak lama.


***


Kamis, 04 Juli 2024

[Puisi] Aku (Bukan) Gadis Pingitan

Aku tak pernah merasa seperti ini
Bernapas dalam ruang pribadi
Begitu lama, berhari-hari
Duniaku seolah terasa sepi


Aku termangu dalam diamku
Yang tak mendapat izin restu
Pergi keluar, menikmati waktu
Hari-hariku seolah terbelenggu


Aku mengintip dari celah jendela
Ini bukan lagi zaman Siti Nurbaya
Namun apalah daya
Kuharus menetap dengan terpaksa


Sebuah kabar yang datang ke telinga
Membuatku ingin berkelana
Sungguh indah dunia di luar sana
Katanya, sang penjelajah setia


Namun sayang beribu sayang
Kabar itu masih dalam bayang
Padahal ragaku ingin ke lain ruang
Aku rindu dunia yang terang


Jiwaku merengek ingin menjelajah
Mencari kesegaran, mengusir gundah
Namun usai bencana itu berkisah
Hatiku terasa semakin resah


Mengapa kini aku terpingit?
Keadaanku seolah terjepit
Terjebak antara sehat dan sakit
Sungguh, aku tak mampu menjerit


Bila nanti dunia kembali berseri
Dan izin pergiku telah disetujui
Biarkan jiwaku akan bernyanyi
Menyudahkan rindu yang hampir tak bertepi


Marilah kita menjaga diri
Supaya berakhir masalah ini
Mengurus jiwa menata hati
Bertindak positif setiap hari



NB:

Puisi ini dibuat saat era COVID-19 melanda di Indonesia

 

Rabu, 03 Juli 2024

[Puisi] MELATI

Bungaku, bunga melati
Harum semerbak, putih suci
Mungil dan cantik tak terperi
Sungguh amat kusukai


Bungaku, bunga melati
Menguarkan wangi sepanjang hari
Terbasuh embun setiap pagi
Elok tersorot sinar mentari


Satu hal yang tak tertandingi
Melatiku menyayat hati
Ketika terbang seorang diri
Pergi mencari dunia mimpi


Melatiku mudah berhamburan
Helai demi helai bertebaran
Perlahan hilang dari pandangan
Melayang jauh tanpa tujuan


Bungaku, bunga melati
Gemar berlari mengejar ambisi
Menjelajahi tempat sesuka hati
Meninggalkanku seorang diri


Bungaku, bunga melati
Yang paling kurindu setiap hari
Yang hilang, yang mungkin tak kembali
Sirna bersama lenyapnya pelangi

***

[Puisi] Napas Agustus

Napas-napasku adalah hidupku Napas yang bertiup dari rahmat-Nya Napas yang diperjuangkan ayah dan ibu Napas yang diaminkan puluhan doa Mungk...