"Bagaimana?"
"Alhamdulillah, aku suka dekorasinya," sahutku lugas. "Sepertinya yang lain juga begitu."
"Bukan itu," ia meringis. "Kamu... Maksudku, hatimu, baik-baik sajakah?"
Aku tercenung. Ada yang terasa sesak di lubuk hatiku. Sekeping luka lama kembali tersingkap. Dan saat itu juga aku tersadar bahwa kelemahanku masih sama — terjebak pada sebuah zona nyamanku. Lalu aku memilih tersenyum. Ia mendekapku tiba-tiba.
"Aku memahaminya. Kau pantas bahagia seutuhnya," ujarnya sambil mekaitkan kedua tangannya diujung bahu kananku dari sebelah kiriku.
Alih-alih menolak, aku mematung seketika. Bukan karena tercekat oleh ucapannya, namun karena aku merasa butuh sebuah dekapan. Dan Rowina memberikannya tanpa kuminta. Seperti yang pernah dilakukan pada Dinara padaku dulu.
Tak banyak kisah yang bisa kubagikan dengannya. Begitu pun ia. Kami lahir dan tumbuh atas kehendak Tuhan diiringi dengan karunia kelebihan dan kekurangan yang berbeda. Memiliki jalan hidup yang tak sama pula. Namun, ketika kami mengirimkan sinyal berupa ekspresi dengan menyandingkan tatapan satu dengan lainnya, maka saat itulah kami belajar memahami satu sama lain.
Hal kecil namun berarti yang tak terlupakan dalam hidupku adalah semua ujaran jujur yang tak terbantahkan. Yang menyapa telingaku dalam berbagai bentuk gaya bahasa. Terkadang teguran halus namun ada kalanya juga hampir serupa ujaran kebencian.
Saat titik itulah, kala semua ujaran itu berhasil menancap tepat sasaran dan mengerucutkan kesadaranku bahwa memanjakan perasaan adalah keputusan bodoh yang pernah ada.
"Agaknya, inilah akhir yang cukup adil untuk kita."
"Tapi dirimu? Hatimu? Jiwamu? Adilkah membiarkannya begitu saja?" bantahnya.
"Aku hanya perlu sedikit mendidiknya lagi. Setidaknya membiasakan diri untuk tidak mengganggu pikiranku melulu."
Ia hampir ternganga dan seolah kehabisan kata.
Memang, hatiku belum benar-benar pulih. Terutama pasca serangkaian pengalaman unik yang sudah hampir lama terjadi. Dan setelah itu, aku benar-benar 'baru' dan berubah. Terikat perih yang menyulitkanku bertahun-tahun.
Tapi Rowina tidak pernah membiarkanku kembali menata diri sendirian. Ia tahu betapa sukarnya melepas rasa takut yang hampir menjelma menjadi trauma. Bersamanya, aku mulai berhasil memperoleh kembali energiku sedikit demi sedikit.
"Sepertinya sebentar lagi kilasan dokumentasi kita semua akan diputar," gumamnya setengah cemas.
Dengan serius tatapannya mengarah pada satu persatu penari yang berbondong-bondong turun dari atas panggung.
"Itu pasti akan sangat lucu!" seruku jahil.
Dan ia makin terlihat cemas. Wajah pucatnya mungkin tertutupi riasan tetapi dapat terlihat bahwa cahayanya meredup tiba-tiba.
"Ayolah, kita nikmati saja!"
Lalu kami menyaksikannya dengan seksama. Sebuah dokumentasi peristiwa konyol diputar dalam sebuah layar besar yang terpasang di hadapan para hadirin selama beberapa belas menit. Berbagai tawa riuh mengisi penuh ruangan acara. Hampir tak satupun orang dalam ruangan itu tak bereaksi ketika saat itu tiba. Beberapa anak tampak setengah menunduk, menutupi wajahnya dengan kedua tangan, serta ada pula yang saling bertukar tanggapan sambil tertawa lebar dengan orang di sebelahnya. Sebagian kecil dari mereka hanya mengulum senyum tanpa komentar.
"Berbahagialah, Rowina."
Ia menolehku sekilas lalu tercenung.
"Aku sudah kembali siap menemanimu tertawa lagi," bisikku.
Dan benar adanya. Aku masih mampu menemani tawa ceria orang lain. Beberapa tahun terakhir ini bukan lagi tawa satu-dua orang saja yang umumnya seusiaku, melainkan sekelompok kecil anak balita hingga pra-remaja. Mengisi sebagian hidup mereka dengan kehangatan yang kupunya. Dengan canda yang terselip dalam tiap kasih yang kubagikan pada mereka, berharap mereka mampu memahami tentang dirinya sendiri terhadap Tuhannya. Berharap apa yang telah kulakukan selama ini mendatangkan kebahagian hakiki dan tidak berakhir sia-sia apalagi petaka. Memang, itu semua terlihat kecil dan sederhana. Namun setidaknya, aku berkesempatan untuk membagikan nikmat dicintai yang pernah kuperoleh seumur hidupku dari berbagai kalangan orang dengan kasih yang dimilikinya dan mengajarkan cara mencintai dalam berbagi.
Aku masih mengingat dengan jelas ketika panggilan pertamaku datang kala usiaku masih terlalu muda. Betapa terkejutnya reaksiku yang diikuti oleh rasa gamang. Lalu disusul panggilan lainnya yang tak kalah mampu membuatku membeku pada awalnya. Hingga...
"Kurasa semua masa lalumu sudah terbayar lunas hari ini," celetuk Rowina suatu waktu.
"Memang tidak ada hutang, kok," elakku.
Seutuhnya aku memahami maksudnya dan memang cukup mudah dimengerti. Aku tersentak ketika seseorang menjawil pundakku. Ia memberiku isyarat anggukan dan kerjapan mata. Kami pun segera beranjak menuju ruang utama.
Belasan riuh salam bertebaran menyambutku seketika saat aku memasuki ruangan itu. Lalu hatiku menghangat begitu saja. Tentu saja tak lupa kubalas salam indah itu.
Akhirnya. Inilah dunia yang kumimpikan sejak lama.
***