Puisi prekuel:
Bila bagimu kita hanyalah kumpulan penyelesaian
Dengan anggota berupa waktu yang berjalan
Maka bagiku kita bersama dalam gabungan
Sejak lahir hingga adanya kematian
Kita memang tak pernah tahu
Seberapa pantas hubungan kita diberi simbol U
Dan kita memang tak akan pernah tahu
Hingga kehidupan di alam semesta berlalu
Aku juga peduli dengan arsiran
Walaupun pikirmu aku terfokus pada gabungan
Sungguh, aku selalu berusaha mencari alasan—
—untuk tetap bersamamu dari berbagai persamaan
Kurasa, kita tak perlu begitu cemas
Arsiran hanyalah tentang angka yang fana
Meski untuk menghitung seakan aku malas
Kupikir yang utama kita berjalan seirama
Bila kita adalah penyelesaian lingkaran sempurna
Tak lagi penting apakah kita berada di kuadran berbeda
Kita akan tetap berada di semesta yang sama
Tak perlu khawatirkan garis sumbu yang maya
Bahkan bila Lauhul Mahfuzh tak pernah ada,
buku takdir akan tetap ada di lain rupa
Kita hanya terlalu banyak meminta—
—perihal kebersamaan yang fana
Bagiku cukup manusiawi pola pikirmu
Anggapku tak salah pada cara pandangmu
Kita hanya perlu banyak tafakur
Untuk mampu memahami cara bersyukur
Suara hatimu adalah lagu bagiku
Yang bersenandung dalam kalbu,
dalam ruang hati yang tampak kelabu
Untuk kuwarnai secerah awan biru
Akan kujemput bahagiaku
Akan kudatangi sukacitaku
Syukurku satu dalam hadirmu
Hingga nanti waktu kita berlalu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar