Sembilan
Ajeng terpaku
di depan laptopnya. Pekerjanya sudah selesai. Tak perlu ada data yang harus
direkap ulang. Semuanya sudah pas pada posisinya masing-masing. Sebenarnya ia
sudah ingin pulang sejak tadi. Namun hatinya gelisah. Antara ya atau tidak,
sejujunya ia penasaran. Yang ditunggunya belum juga datang. Bahkan hingga
menit-menit terakhir jam kerjanya.
“Mbak Ajeng?”
“Hendra-kah?”
“Iya.”
Ajeng lalu
beranjak membuka pintu.
“Ada apa,
Hen?”
“Di depan ada
yang mau ketemu Mbak Ajeng,” sahutnya sopan.
“Siapa? Kamu
kenal?”
“Wah, saya
nggak kenal, Mbak,”
“Laki-laki
atau perempuan?”
“Laki-laki.”
Pak Aldo-kah?
“Oke, kamu dan Wulan sudah boleh pulang.”
“Serius? Terima kasih, Mbak,” ucap Hendra.
Ajeng lalu mengangguk
dan bergegas ke serambi peternakan.
*
* *
“Ingat lho, Dict, tugasmu belum selesai.”
“Yang kemarin itu kan sudah kusetor?” jawab
Dicta.
“Nggak bisa! Mama anggap itu nggak sah.”
“Lho, nggak bisa begitu, dong, Ma,” celetuk
Ringgo.
“Mama nggak mau tahu, pokoknya besok lusa
uang itu sudah terkirim ke rekening Mama. Titik!”
“Maaf, Ma, untuk itu kami nggak bisa,” sahut
Dicta tegas.
“Kamu
ini bagaimana? Janin yang dikandung Ecilia itu kan anakmu. Dan kamu
merelakannya begitu saja pada Ajeng?”
“Janin itu bukan anakku!” sahut Dicta dengan
nada meninggi.
“Jadi maksudmu Mama yang bersalah? Begitu?”
“Jelas!” sambar Ringgo tandas.
“Kami bukan robot, Ma,” sambung Dicta. ”Seharusnya
Mama sadari itu. Kenapa bukan Mama sendiri yang melakukannya?”
“Kalian ini didoktrin siapa sih, sampai
berani melawan Mama? Ajeng? Perempuan nggak tahu diri itu?!”
“Mama nggak pantas ngomong begitu!!!” tukas Ringgo.
“ Perempuan yang nggak tahu diri itu Mama, bukan Mbak Ajeng! Bisanya cuma jadi
perusak hidup orang lain!”
Seketika Kemuning dan Dicta terhenyak.
“Ringgo!”
“Mas...”
Dicta
menggeliat. Lamunannya membuyar. Ditolehnya Ringgo yang tengah bersiap-siap
untuk turun. Sambil menoleh ke kiri-kanan, ia berusaha melupakan perdebatannya
dengan Kemuning yang bertengkar hebat dengan Ringgo tadi pagi. Hingga perempuan
itu sampai hati mengusir ia dan adiknya.
“Berapa lama
lagi, Dik?”
“Kira-kira setengah
jam lagi kita sampai di terminal.”
Dicta tak
menyahut. Ia lalu menoleh ke arah punggung tangan kirinya. Sedetik kemudian ia
mendengus kecil karena arloji digitalnya mati. Maka diliriknya arloji di
pergelangan tangan kiri Ringgo.
“Itu jam di arlojimu nggak salah, kan, Dik?”
“Eh,” Ringgo lalu melirik arlojinya yang jarum pendek dan panjangnya
hampir menumpuk di angka 6.
“Nggak kok. Arloji punya Mas baterainya habis, ya?”
“Iya,” angguk Dicta. “Mm... nanti kalau sudah sampai kita mampir di
warung nasi pecel ujung gang dulu, ya? Kita kan belum makan siang."
“Boleh. Oh,
ya, tadi Mas Dicta melamun. Kenapa?”
“Nggak
apa-apa,” sahutnya malas.
“Kepikiran
yang tadi?”
“Menurutmu
begitu?”
Tampaknya
Dicta sedang malas membahas soal Keuning. Dan Ringgo hanya bisa termangu.
Sejujurnya ia merasa bersalah dengan abangnya itu. Karena perdebatan sengitnya
dengan Kemuning pagi tadi. Membuat perempuan itu kalap hingga sampai hati
mengusir sambil menyumpah kata-kata keji pada mereka.
“Dik, besok
kamu masih libur?” tanya Dicta tiba-tiba.
“Kuliah siang,”
Ringgo menggeleng. “Kenapa?”
“Rencananya
aku mau ketemu Mbak Ajeng. Mau minta maaf,” sahutnya ragu-ragu.
“Hari Minggu
saja. Siang atau sore,” saran Ringgo.
“Begitu, ya?”
“Iya, Mas. Lagipula
besok sehabis pulang kuliah aku mau ikut ngajar dengan Getta di SD milik panti
asuhan yang dikelola Tante Drisga, adik sepupu mamanya, bersama teman-teman
beliau.”
Wajah Dicta
terlihat bimbang.
“Aku temani,
kok.”
“Janji?”
Ringgo
mengangguk mantap. Seketika ia merasa sediit lega ketika Dicta kembali ceria.
*
* *
Dini
melangkah tegak menuju ruangan Marina. Perasaannya mengatakan bahwa perempuan
itu hendak berbicara sesuatu yang serius padanya. Tatapan datar sorot mata
Arlan ketika menyampaikan panggilan Marina membuat rasa penasaran sekaligus
gugupnya semakin menguat.
“Ibu panggil
saya?”
“Dini, ya?”
“Iya,”
sahutnya pelan.
“Silakan masuk.”
Dini lalu
melebarkan pintu hanya seukuran tubuhnya yang sedikit terbuka itu. Marina sudah
menunggunya di dalam. Duduk manis dengan tubuh tegahyang mempertegas
kewibawaanya sebagai seorang boss.
“Silakan
duduk,” Marina menunjuk kursi di seberangnya yang dipisahkan oleh meja
kerjanya.
“Terima
kasih.”
“Kamu tahu
kenapa saya memanggilmu ke sini?”
Perempuan
muda itu hanya menggeleng polos.
“Kalau saya
boleh tahu, kamu siapanya Ecilia?”
Dini
terbengong. Hatinya yang semula gugup berubah menjadi kesal. Namun ia wajahnya tetap
sedatar saat ia baru masuk. Agar Marina tak mempertanyakan ekspresinya.
Pagi-pagi gini udah bahas yang nggak
penting!
“Oke, kalau
kamu nggak bersedia jawab, nggak apa-apa. Mm... kalau Dicta?”
Ah, apalagi dia!
“Sebetulnya
saya bersedia untuk jawab pertanyaan Ibu,” ucapnya lugas. “ Tapi sebelumnya saya
juga harus tahu, untuk apa Ibu mengetahuinya?”
Marina
tersenyum. Berusaha untuk mengerti.
“Untuk hal
yang sepatutnya tak kamu pendam dalam hati.”
“Maksud Ibu
apa?”
“Din, saya
sebenarnya tahu Ecilia dan Dicta itu siapa. Kamu nggak jawab pun bukan masalah
bagi saya.”
“Lantas?”
“Din, tolong jangan benci Ecilia.”
“Kenapa?
Maksudku, Ibu tahu dari mana?”
“Apakah
permintaanku ini salah?” tatapan Marina mengabur.
Tiba-tiba
Dini limbung. Ia menjadi merasa bersalah. Kebenciannya pada Ecilia memang
selalu absurd. Yang ia tahu alasannya karena perempuan muda itu dihamili oeh
Dicta, satu-satunya laki-laki yang dicintainya. Meskipun kenyataannya dugaan
itu belum jelas.
Ada apa sebenarnya? Apa yang yang telah
terjadi?
“Kenapa? Apa
yang terjadi?”
“Karena...
dia... putriku... yang hilang sembilan belas tahun silam,” jawab Marina dengan
isak tertahan.
Tubuh Dini
seolah melayang entah ke mana. Mulutnya membungkam seribu bahasa. Keduanya
membeku di kursinya masing-masing. Dengan tatapan kosong menerawang jauh.
*
* *
“Kuantar,
ya, Ma?”
Yolanda
tersentak. Segera ia menoleh. Kaca jendela di sebelahnyamasih terbuka. Tubuh
Irawan sudah berdiri di sebelah kanan luar jok pengemudi sambil menyembulkan
kepalanya ke dalam. Seketika, ia urung mengambil kunci dari sakunya.
“Tumben
udah pulang?”
“Nggak
boleh?” ledek Irawan sambil menaikkan alis kirinya.
“Boleh. Yakin
mau mengantarku?”
“Iyalah,
Sara ,” Irawan menekan suaranya saat menyebut nama depan Yolanda.
“Nggak
merepotkan?”
“Mengantar
istri sendiri kok merepotkan,” gerutunya. “ Aku udah terlanjur izin, nih.”
“Kenapa
izin? Ada urusan yang lebih penting dari pekerjaan?”
“Aku
janjian mau ketemu Panji sore ini di Purnama. Boleh, kan?”
Tanpa
pikir panjang Yolanda mengangguk dan segera keluar dari APV-nya sementara
Irawan lalu masuk untuk menggantikannya. Ia kemudian menyusul dan duduk manis
di jok kiri depan.
“Ini sih namanya nebeng, Pa.”
“Soalnya
penting banget. Masalah Jordi,”
“Tentang
perempuan itu?” selidiknya.
“Iya.
Soalnya aku penasaran dengan perasaanku.”
“Jadi
Papa juga...,” Yolanda terhenyak dan mulai kehilangan kata.
“Iya,
Ma,” angguk Irawan.
“Hm... Ini
seperti suatu pertanda tapi entahlah. Aku tak mengerti. Kalau begitu, pulang
nanti aku ikut kalian nimbrung, boleh?”
“Gimana,
ya?” gumamnya ragu. “Oh, ya, Nia sendirian di rumah, dong?” Irawan menatap
Yolanda dengan horor.
“Ada
sama Clau di taman depan komplek. Tadi Aldo memberitahuku lewat Line bahwa ia dan Jordi pergi ke Bogor.
Di rumah nggak ada orang. Semua pintu sudah dikunci.”
“Repot
juga, ya, kalau Bik Munir dan Mang Tarmin lagi pulkam,” gumam Irawan. “Eh, Clau
beneran udah pulang?”
“Iya, tadi siang.”
“Kalau begitu kita ajak saja nanti Panji ke rumah.”
“Ya
udah, oke.”
*
* *
Ajeng
terhenyak usai mendengar penuturan Panji. Ia hanya mampu menggeleng. Tak ada
kata-kata yang bisa dirangkainya untuk menanggapi uraian singkat laki-laki itu.
Selain...
“Perfect job! She’s sly woman!” seru
Ajeng dengan takjub.
Panji
membalasnya dengan senyum yang begitu hambar.
“Saya
nggak kebayang kalau dia pernah berbuat senekat itu,” ucap Ajeng
terheran-heran.
“Faktor
keturunan, Jeng.”
Ajeng
ternganga.
“Ayahnya, Pak
Pramudyo, bahkan lebih gila daripada itu,” tuturnya dengan nada melecehkan. “Ia
tega mengusir Lidya dan Respati saat masih gadis, menjauhkan mereka dari
ibunya, dan yang lebih sadis ia dengan berani membunuh mertuanya sendiri untuk
mendapatkan harta mereka.”
“Benarkah?”
Panji
hanya mengangguk datar. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ada notifikasi BBM yang masuk ke ponselnya. Ketika ia
membukanya, ternyata itu pesan singkat dari Irawan. Yang berisikan
pemberitahuan bahwa laki-laki itu akan menemuinya di SD Yayasan Purnama petang
ini.
“Kalau
nanti Irawan bertanya tentangmu,” Panji kembali menatap Ajeng, “aku harus jawab
apa?”
“Mm... Katakan yang sejujurnya
saja, deh, Pak. Toh, saya nggak salah, kok. Kalau pun ia ingin bertemu dengan
saya, ya, silakan saja. Tapi di sini. Besok pagi. Biar jelas kalau ini memang
peternakanku,” sahutnya serius.
“Oke,
aku pamit dulu, ya, Jeng,” ucap Panji.
“Eh,
udah sore, ya, Pak?” Ajeng melirik arlojinya yang menunjukkan pukul lima lewat
seperlima jam. “Iya, deh, ini saya juga udah waktunya pulang.”
Mereka
lalu berdiri dan berjalan beriringan menuju area pakir.
*
* *
“Telepon
dariku tadi siang kenapa dimatikan, Ji?”
“Ponselku
low battery, Wan,” bual Panji dengan
wajah datar. “Eh, aku boleh tanya sesuatu padamu, nggak?"
“Boleh,”
sahutnya sabar. “Mau nanya apa, sih?”
“Yang
kemarin itu. Tentang perempuan yang lagi kamu kepo-in,” jawabnya, berusaha tenang.
“Oh...,” Irawan melebarkan senyum. “Kamu mengira
kalau dia rival bisnisku, ya? Jelas bukan dong. Kami berbeda profesi. Kan sudah
kuberitahu tadi di telepon.”
“Bukan
itu yang kumaksud.”
“Lantas?”
“Kalau
aku boleh tahu, siapa perempuan itu sebenarnya?”
Irawan
terbengong seketika. “Aku juga nggak tahu, Ji. Makanya aku minta bantuan kamu
untuk menyelidikinya.”
Aduh! Dia gagal paham!
“Maksudku,
tolong ceritakan bagaimana kamu bisa mengenal perempuan itu.”
“Oh... Kukira apa. Seperti biasa,
Ji, lewat FB. Awalnya sih aku lagi pengen jalanin hobi lama. Terus saat aku
menyentuh fitur searching, username FB
perempuan itu muncul di posisi paling atas. Lalu kulacaklah berbagai informasi
penting dari akunnya. Tapi yang kudapat nggak seperti yang diharapkan.”
“Coba sini kulihat.”
“Sebentar, ya.”
Irawan meraih ponselnya lalu
mengetikkan sesuatu. Kemudian disodorkannya pada Panji.
Ini benar-benar... Panji hampir terhenyak. Lalu dikembalikannya
ponsel itu pada Irawan. “Kamu benar-benar mau kubantu?”
Irawan mengangguk cepat.
“Aku kenal perempuan itu,” Panji
mengulas senyum, memberi harapan. “Mau bertemu dengannya?”
“Ya, aku mau! Agar lebih jelas.”
“Kalau begitu besok pagi datang
ke rumahku sekitar pukul tujuh. Nanti kita selesaikan semuanya di sana.”
*
* *
Bersambung