Selasa, 30 Mei 2017

[Cermin] Graduation







Aku duduk termangu di kursi murid. Padahal hari ini adalah acara kelulusanku. Yang seharusnya aku merasa bahagia. Belasan jenis kebisingan silih berganti menyapa dalam hening yang melingkupi sepetak ruang sunyi di hatiku. Namun aku tetap tak mau tahu. Semua itu hanya kuanggap sebagai angin lalu. Karena berbagai perasaan sedang menghinggapi hatiku. Aku sendiri tak tahu bagaimana harus mengendalikannya. Pelan, kuhela napas.

Kuingat kembali setiap momen yang tercipta dengan berbagai warna di sekolah. Yang terkadang membuatku semakin teguh atau rapuh. Semuanya bagai alur film yang beputar secara otomatis yang terpapar begitu jelas di depan mataku. Dari awal perkenalanku dengan lingkungan baru hingga detik ini. Dari tak tahu cara mencintai hingga  tak tahu cara membenci.

Sampai detik ini pun aku tak tahu apakah aku harus menangis atau tertawa. Dan semua itu selalu menjadi misteri tersendiri dalam hidupku. Tanpa jawaban yang jelas. Penuh kerancuan.

Lalu kucoba untuk mengangkat kepala. Aku kemudian menoleh ke kiri. Senyum manis Tiara menyambutku dengan tulus. Tanpa paksaan.

“Peristiwa di masa lalu bukan untuk membuatmu semakin menunduk malu atau mendongak congkak. Setiap masa yang berlalu memiliki keistimewaan yang harus kau pecahkan sendiri misterinya. Tak perlu seperti itu. Lakukan saja apa yang sepatutnya kamu kerjakan.”

“Apakah ini nyata?” tanyaku setengah putus asa.

“Nyata atau pun tidak bukan hakmu untuk meremehkan takdir,” sahut Tiara lugas.

Aku kembali termenung. Berusaha mencerna kata-kata yang meluncur dari mulut Tiara.

“Ayo,” Tiara mengulurkan tangannya. “Sudah saatnya untuk berfoto.”

Lalu kusambut tangan Tiara dengan senyum terkembang sempurna. Kami kemudian melangkah bersama menuju panggung untuk berfoto dengan teman-teman yang sudah bergabung di sana. Kebahagiaanku saat ini memang tak penuh. Setidaknya hari ini aku telah mendapatkan satu pelajaran yang harus kuingat seumur hidupku: jangan pernah mudah merasa memiliki!

* * *

Waktu melaju dengan alurnya sendiri. Membentang bersama takdir di atas awan yang penuh keajaiban. Tawa dan tangis adalah tetes hujan yang merintik darinya pada setiap makhluk di bawahnya. Entah dalam bentuk geimis kecil yang menyejukkan atau badai yang mematikan. Hanya rasa syukur yang mampu membuat siapa pun mampu menikmati pelanginya yang menakjubkan. Dan semua itu kembali kepada diri sendiri. Memilih jalan hidupnya dalam menyikapi takdir.

Jakarta, 21 Mei 2017
Khairunnisa


* * * * *

Note:

1. Fiksi tersebut dipublikasikan atas persetujuan Mutiara Ramandha (makasih, ya, Teh! Thank you so much....!!!!!)

2. Dan terimakasih buat semua anggota Forswalther untuk tiga tahun penuh warna. Love you more...  I’ll miss you.




Sabtu, 27 Mei 2017

[Cerbung] Adoptee #9





Sembilan




Ajeng terpaku di depan laptopnya. Pekerjanya sudah selesai. Tak perlu ada data yang harus direkap ulang. Semuanya sudah pas pada posisinya masing-masing. Sebenarnya ia sudah ingin pulang sejak tadi. Namun hatinya gelisah. Antara ya atau tidak, sejujunya ia penasaran. Yang ditunggunya belum juga datang. Bahkan hingga menit-menit terakhir jam kerjanya.

“Mbak Ajeng?”

“Hendra-kah?”

“Iya.”

Ajeng lalu beranjak membuka pintu.

“Ada apa, Hen?”

“Di depan ada yang mau ketemu Mbak Ajeng,” sahutnya sopan.

“Siapa? Kamu kenal?”

“Wah, saya nggak kenal, Mbak,”

“Laki-laki atau perempuan?”

“Laki-laki.”

Pak Aldo-kah?

“Oke, kamu dan Wulan sudah boleh pulang.”

“Serius? Terima kasih, Mbak,” ucap Hendra.

Ajeng  lalu mengangguk dan bergegas ke serambi peternakan.

* * *

“Ingat lho, Dict, tugasmu belum selesai.”

“Yang kemarin itu kan sudah kusetor?” jawab Dicta.

“Nggak bisa! Mama anggap itu nggak sah.”

“Lho, nggak bisa begitu, dong, Ma,” celetuk Ringgo.

“Mama nggak mau tahu, pokoknya besok lusa uang itu sudah terkirim ke rekening Mama. Titik!”

“Maaf, Ma, untuk itu kami nggak bisa,” sahut Dicta tegas.

 “Kamu ini bagaimana? Janin yang dikandung Ecilia itu kan anakmu. Dan kamu merelakannya begitu saja pada Ajeng?”

“Janin itu bukan anakku!” sahut Dicta dengan nada meninggi.

“Jadi maksudmu Mama yang  bersalah? Begitu?”

“Jelas!” sambar Ringgo tandas.

“Kami bukan robot, Ma,” sambung Dicta. ”Seharusnya Mama sadari itu. Kenapa bukan Mama sendiri yang melakukannya?”

“Kalian ini didoktrin siapa sih, sampai berani melawan Mama? Ajeng? Perempuan nggak tahu diri itu?!”

“Mama nggak pantas ngomong begitu!!!” tukas Ringgo. “ Perempuan yang nggak tahu diri itu Mama, bukan Mbak Ajeng! Bisanya cuma jadi perusak hidup orang lain!”
Seketika Kemuning dan Dicta terhenyak.

“Ringgo!”


“Mas...”

Dicta menggeliat. Lamunannya membuyar. Ditolehnya Ringgo yang tengah bersiap-siap untuk turun. Sambil menoleh ke kiri-kanan, ia berusaha melupakan perdebatannya dengan Kemuning yang bertengkar hebat dengan Ringgo tadi pagi. Hingga perempuan itu sampai hati mengusir ia dan adiknya.
“Berapa lama lagi, Dik?”

“Kira-kira setengah jam lagi kita sampai di terminal.”

Dicta tak menyahut. Ia lalu menoleh ke arah punggung tangan kirinya. Sedetik kemudian ia mendengus kecil karena arloji digitalnya mati. Maka diliriknya arloji di pergelangan tangan kiri Ringgo.

“Itu jam di arlojimu nggak salah, kan, Dik?”

“Eh,” Ringgo lalu melirik arlojinya yang jarum pendek dan panjangnya hampir menumpuk di angka 6.
“Nggak kok. Arloji punya Mas baterainya habis, ya?”


“Iya,” angguk Dicta. “Mm... nanti kalau sudah sampai kita mampir di warung nasi pecel ujung gang dulu, ya? Kita kan belum makan siang."


“Boleh. Oh, ya, tadi Mas Dicta melamun. Kenapa?”

“Nggak apa-apa,” sahutnya malas.

“Kepikiran yang tadi?”

“Menurutmu begitu?”

Tampaknya Dicta sedang malas membahas soal Keuning. Dan Ringgo hanya bisa termangu. Sejujurnya ia merasa bersalah dengan abangnya itu. Karena perdebatan sengitnya dengan Kemuning pagi tadi. Membuat perempuan itu kalap hingga sampai hati mengusir sambil menyumpah kata-kata keji pada mereka.

“Dik, besok kamu masih libur?” tanya Dicta tiba-tiba.

“Kuliah siang,” Ringgo menggeleng. “Kenapa?”

“Rencananya aku mau ketemu Mbak Ajeng. Mau minta maaf,” sahutnya ragu-ragu.

“Hari Minggu saja. Siang atau sore,” saran Ringgo.
“Begitu, ya?”

“Iya, Mas. Lagipula besok sehabis pulang kuliah aku mau ikut ngajar dengan Getta di SD milik panti asuhan yang dikelola Tante Drisga, adik sepupu mamanya, bersama teman-teman beliau.”

Wajah Dicta terlihat bimbang.

“Aku temani, kok.”

“Janji?”

Ringgo mengangguk mantap. Seketika ia merasa sediit lega ketika Dicta kembali ceria.

* * *

Dini melangkah tegak menuju ruangan Marina. Perasaannya mengatakan bahwa perempuan itu hendak berbicara sesuatu yang serius padanya. Tatapan datar sorot mata Arlan ketika menyampaikan panggilan Marina membuat rasa penasaran sekaligus gugupnya semakin menguat.

“Ibu panggil saya?”

“Dini, ya?”

“Iya,” sahutnya pelan.

“Silakan masuk.”

Dini lalu melebarkan pintu hanya seukuran tubuhnya yang sedikit terbuka itu. Marina sudah menunggunya di dalam. Duduk manis dengan tubuh tegahyang mempertegas kewibawaanya sebagai seorang boss.

“Silakan duduk,” Marina menunjuk kursi di seberangnya yang dipisahkan oleh meja kerjanya.

“Terima kasih.”

“Kamu tahu kenapa saya memanggilmu ke sini?”

Perempuan muda itu hanya menggeleng polos.

“Kalau saya boleh tahu, kamu siapanya Ecilia?”

Dini terbengong. Hatinya yang semula gugup berubah menjadi kesal. Namun ia wajahnya tetap sedatar saat ia baru masuk. Agar Marina tak mempertanyakan ekspresinya.

Pagi-pagi gini udah bahas yang nggak penting!

“Oke, kalau kamu nggak bersedia jawab, nggak apa-apa. Mm... kalau Dicta?”

Ah, apalagi dia!

“Sebetulnya saya bersedia untuk jawab pertanyaan Ibu,” ucapnya lugas. “ Tapi sebelumnya saya juga harus tahu, untuk apa Ibu mengetahuinya?”

Marina tersenyum. Berusaha untuk mengerti.

“Untuk hal yang sepatutnya tak kamu pendam dalam hati.”

“Maksud Ibu apa?”

“Din, saya sebenarnya tahu Ecilia dan Dicta itu siapa. Kamu nggak jawab pun bukan masalah bagi saya.”

“Lantas?”

“Din, tolong  jangan benci Ecilia.”

“Kenapa? Maksudku, Ibu tahu dari mana?”

“Apakah permintaanku ini salah?” tatapan Marina mengabur.

Tiba-tiba Dini limbung. Ia menjadi merasa bersalah. Kebenciannya pada Ecilia memang selalu absurd. Yang ia tahu alasannya karena perempuan muda itu dihamili oeh Dicta, satu-satunya laki-laki yang dicintainya. Meskipun kenyataannya dugaan itu belum jelas.

Ada apa sebenarnya? Apa yang yang telah terjadi?

“Kenapa? Apa yang terjadi?”

“Karena... dia... putriku... yang hilang sembilan belas tahun silam,” jawab Marina dengan isak tertahan.
Tubuh Dini seolah melayang entah ke mana. Mulutnya membungkam seribu bahasa. Keduanya membeku di kursinya masing-masing. Dengan tatapan kosong menerawang jauh.

* * *

“Kuantar, ya, Ma?”

Yolanda tersentak. Segera ia menoleh. Kaca jendela di sebelahnyamasih terbuka. Tubuh Irawan sudah berdiri di sebelah kanan luar jok pengemudi sambil menyembulkan kepalanya ke dalam. Seketika, ia urung mengambil kunci dari sakunya.

“Tumben udah pulang?”

“Nggak boleh?” ledek Irawan sambil menaikkan alis kirinya.

“Boleh. Yakin mau mengantarku?”

“Iyalah, Sara ,” Irawan menekan suaranya saat menyebut nama depan Yolanda.

“Nggak merepotkan?”

“Mengantar istri sendiri kok merepotkan,” gerutunya. “ Aku udah terlanjur izin, nih.”

“Kenapa izin? Ada urusan yang lebih penting dari pekerjaan?”

“Aku janjian mau ketemu Panji sore ini di Purnama. Boleh, kan?”

Tanpa pikir panjang Yolanda mengangguk dan segera keluar dari APV-nya sementara Irawan lalu masuk untuk menggantikannya. Ia kemudian menyusul dan duduk manis di jok kiri depan.

 “Ini sih namanya nebeng, Pa.”

“Soalnya penting banget. Masalah Jordi,”

“Tentang perempuan itu?” selidiknya.

“Iya. Soalnya aku penasaran dengan perasaanku.”

“Jadi Papa juga...,” Yolanda terhenyak dan mulai kehilangan kata.

“Iya, Ma,” angguk Irawan.

“Hm... Ini seperti suatu pertanda tapi entahlah. Aku tak mengerti. Kalau begitu, pulang nanti aku ikut kalian nimbrung, boleh?”

“Gimana, ya?” gumamnya ragu. “Oh, ya, Nia sendirian di rumah, dong?” Irawan menatap Yolanda dengan horor.

“Ada sama Clau di taman depan komplek. Tadi Aldo memberitahuku lewat Line bahwa ia dan Jordi pergi ke Bogor. Di rumah nggak ada orang. Semua pintu sudah dikunci.”

“Repot juga, ya, kalau Bik Munir dan Mang Tarmin lagi pulkam,” gumam Irawan. “Eh, Clau beneran udah pulang?”

“Iya, tadi siang.”

“Kalau begitu kita ajak saja nanti Panji ke rumah.”

“Ya udah, oke.”

* * *

Ajeng terhenyak usai mendengar penuturan Panji. Ia hanya mampu menggeleng. Tak ada kata-kata yang bisa dirangkainya untuk menanggapi uraian singkat laki-laki itu. Selain...

Perfect job! She’s sly woman!” seru Ajeng dengan takjub.

Panji membalasnya dengan senyum yang begitu hambar.

“Saya nggak kebayang kalau dia pernah berbuat senekat itu,” ucap Ajeng terheran-heran.
“Faktor keturunan, Jeng.”

Ajeng ternganga.

“Ayahnya, Pak Pramudyo, bahkan lebih gila daripada itu,” tuturnya dengan nada melecehkan. “Ia tega mengusir Lidya dan Respati saat masih gadis, menjauhkan mereka dari ibunya, dan yang lebih sadis ia dengan berani membunuh mertuanya sendiri untuk mendapatkan harta mereka.”

“Benarkah?”

Panji hanya mengangguk datar. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ada notifikasi BBM yang masuk ke ponselnya. Ketika ia membukanya, ternyata itu pesan singkat dari Irawan. Yang berisikan pemberitahuan bahwa laki-laki itu akan menemuinya di SD Yayasan Purnama petang ini.

“Kalau nanti Irawan bertanya tentangmu,” Panji kembali menatap Ajeng, “aku harus jawab apa?”

“Mm... Katakan yang sejujurnya saja, deh, Pak. Toh, saya nggak salah, kok. Kalau pun ia ingin bertemu dengan saya, ya, silakan saja. Tapi di sini. Besok pagi. Biar jelas kalau ini memang peternakanku,” sahutnya serius.

“Oke, aku pamit dulu, ya, Jeng,” ucap Panji.

“Eh, udah sore, ya, Pak?” Ajeng melirik arlojinya yang menunjukkan pukul lima lewat seperlima jam. “Iya, deh, ini saya juga udah waktunya pulang.”
Mereka lalu berdiri dan berjalan beriringan menuju area pakir.

* * *

“Telepon dariku tadi siang kenapa dimatikan, Ji?”

“Ponselku low battery, Wan,” bual Panji dengan wajah datar. “Eh, aku boleh tanya sesuatu padamu, nggak?"

“Boleh,” sahutnya sabar. “Mau nanya apa, sih?”

“Yang kemarin itu. Tentang perempuan yang lagi kamu kepo-in,” jawabnya, berusaha tenang.

 “Oh...,” Irawan melebarkan senyum. “Kamu mengira kalau dia rival bisnisku, ya? Jelas bukan dong. Kami berbeda profesi. Kan sudah kuberitahu tadi di telepon.”

“Bukan itu yang kumaksud.”

“Lantas?”

“Kalau aku boleh tahu, siapa perempuan itu sebenarnya?”

Irawan terbengong seketika. “Aku juga nggak tahu, Ji. Makanya aku minta bantuan kamu untuk menyelidikinya.”

Aduh! Dia gagal paham!

“Maksudku, tolong ceritakan bagaimana kamu bisa mengenal perempuan itu.”

“Oh... Kukira apa. Seperti biasa, Ji, lewat FB. Awalnya sih aku lagi pengen jalanin hobi lama. Terus saat aku menyentuh fitur searching, username FB perempuan itu muncul di posisi paling atas. Lalu kulacaklah berbagai informasi penting dari akunnya. Tapi yang kudapat nggak seperti yang diharapkan.”

“Coba sini kulihat.”

“Sebentar, ya.”

Irawan meraih ponselnya lalu mengetikkan sesuatu. Kemudian disodorkannya pada Panji.

Ini benar-benar... Panji hampir terhenyak. Lalu dikembalikannya ponsel itu pada Irawan. “Kamu benar-benar mau kubantu?”

Irawan mengangguk cepat.

“Aku kenal perempuan itu,” Panji mengulas senyum, memberi harapan. “Mau bertemu dengannya?”

“Ya, aku mau! Agar lebih jelas.”

“Kalau begitu besok pagi datang ke rumahku sekitar pukul tujuh. Nanti kita selesaikan semuanya di sana.”

* * *

Bersambung



[Cerbung] Adoptee #8






Delapan




"Om ternyata kenal dengan Tante Ajeng, ya?" celetuk Nia tiba-tiba.

"Perempuan yang tadi, maksudmu?" Aldo segera mengalihkan tatapannya dari layar televisi.

Nia mengangguk antusias. "Dia orangnya baik lho, Om," timpalnya.

"Dia Mama temanmu, ya?" selidik Aldo.

"Iya. Bundanya Kak Praha."

Praha?

"Oh, Praha kakak kelasmu itu yang pernah Om antar pulang ke rumahnya kan?" wajah Aldo seketika berubah menjadi cerah.

"Nah, itu Om tahu."

Jadi ternyata...

"Oh ya, kamu tahu alamat peternakan Tante Ajeng nggak?"

"Nggak tahu, Om."

"Hm... Om mau pergi dulu, ya, Ya?" izinnya sambil mencubit pelan pipi kanan Nia. "Titip salam sama Nenek. Jangan sampai lupa, lho. Oke?"

"Iya."

* * *

"Kita mau ke mana, sih, Do?"

Aldo hanya menahan senyum. Melirik pada Jordi pun tidak. Konsentrasinya masih sepenuhnya terfokus pada APV yang dikemudikannya.

"Do, jawablah," rayunya dengan nada pura-pura merajuk.

"Udahlah nggak usah bawel. Tenang aja," sahut Aldo dengan santainya.

"Aku bukan anak kecil lagi, Do," ujar Jordi dengan nada melas. "Masanya buat diculik udah kadaluwarsa. Percuma. Biar disekap seketat apa pun aku bisa pulang sendiri."
Tawa Aldo langsung pecah memenuhi kabin mobil karenanya. "Lebay kamu, Di!"

"Kamu juga sih," Jordi terkekeh kecil. "Bawa kabur aku gitu aja. Nggak pamit sama Mama."

"Nggak pentinglah soal itu. Kamu kan adikku. Semiring apapun otakmu bahkan misalnya melebihi Menara Pisa pun nggak bakal aku campakkan gitu aja."

"Kalaupun andaikan nanti kamu sudah punya anak dan dia laki-laki, masihkah rasa sayangmu sebagai kakak padaku tetap utuh dan tak meluntur sedikit pun?"

"Kalau yang punya anak kamu duluan gimana?"

"Aku?"

"Ya... bisa aja gitu kan."

Dia mulai curigakah?

Drrrtt... drrrt...

"Eh, ponselku getar nih, Do. Sebentar, ya."

Aldo melenguh pelan. Tanpa suara. Dengan sabar, ditunggunya Jordi hingga pembicaraan adiknya dengan seseorang di telepon berakhir. Ketika Jordi memutus teleponnya, ia segera mengalihkan tatapan pada Aldo. Membuat abangnya memasang wajah penasaran dengan sorot mata penuh tanya.

"Kenapa?"

"Kita ke  sekarang. Aku harus ke sana sekarang, Do. Ada calon klien yang ingin menemuiku," jawabnya lugas. "Doakan aku, ya?"

"Oh, baiklah," Aldo lalu memutar arah mobilnya di ujung jalan. Semoga beruntung."

* * *

Dia cantik. Kelihatannya juga seorang perempuan terpelajar dan berbudi pekerti. Punya karir yang menjanjikan. Segala yang ada padanya terlihat hampir sempurna. Hanya ada satu yang kurang dari dirinya...

Irawan menghela napas pendek.

...dia belum menikah!

Usai sudah ia menjalankan hobi lamanya. Dan sempat menyimpan beberapa foto dari sebuah akun Facebook milik seseorang yang dikenalnya di sosial media tersebut. Tak ada yang perlu ditakutinya untuk melakukan hal itu. Sebab bukan akun milik pribadinya yang ia gunakan untuk berselancar di dunia maya. Karena akun miliknya sendiri sudah lama terblokir atas ketidaksengajaannya.

Untung masih ada akunnya Jordi yang nyangkut di ponselku. Irawan nyengir jahil dalam hati.

Tentu saja diam-diam ia mendapat sedikit keleluasaan untuk memantau perkembangan putra bungsunya. Meski hanya sebatas lewat dunia maya. Setidaknya ia masih bisa turut andil dalam setiap hal mengenai laki-laki itu. termasuk urusan teman sepergaulannya dan bahkan sesuatu yang lebih jauh daripada itu.

Mereka memang tampak berbeda. Aku sendiri tak dapat mengelaknya. Tapi hatiku jauh lebih jujur daripada apa yang kulihat. Aku dan Yolanda adalah orang tuanya. Perasaanku bilang bahwa mereka sangat serasi. Namun entah pada bagian mana.

Tiba-tiba saja rasa pening itu segera menyerang kepalanya. Rasa pening yang selalu dirasakannya saat berhadapan dengan sejuta misteri tentang seorang Jordi. Hampir sama rasanya. Namun tak pernah sepening ini.

Keahlianku hanya menguntit seseorang di dunia maya. Itu pun hanya sebatas kemampuan orang pada umumnya. Tapi... Ah, ya! Dia pasti bisa membantuku.

Tak butuh waktu lama, teleponnya sudah tersambung pada telepon seseorang di seberang sana.

"Sore, halo?!"

* * *

Dia meneleponku?

Panji mengangkat ponselnya setinggi dada. Sebuah nama terpampang jelas di layar ponselnya. Segera saja ia menyentuh simbol telepon berwarna hijau yang bergetar tepat di bawah nomor tersebut. Ketika telepon mereka tersambung, dinyalakannya mode hands free. Lalu diletakkannya ponsel itu di atas meja.

"Sore, Wan. Ada apa?"

"Sore, halo?! Aku bisa minta tolong, nggak?"

Panji mendapati suara tanya dengan nada sangat serius dari teleponnya. Ia mulai menerka-nerka. Namun ia tak berani menetapkan prasangkanya. Agar tak menimbulkan rasa keberatan atau kekecewaan di hatinya.

"Tolong apa?"

"Ada orang yang ingin kuselidiki. Tapi informasi yang bisa kudapatkan melalui akun Facebook-nya nggak sedetail yang kuinginkan. Ada sih beberapa yang bisa kuketahui. Tapi bukan alamat rumahnya. Melainkan alamat tempat usahanya. Kira-kira kamu bisa bantu, nggak?"

"Username-nya apa?"

"Putri Jenggala," sahut seseorang di teleponnya. "Yang profile picture-nya foto perempuan berpose senyum merekah di sebuah kursi pendek dengan background halaman depan peternakan, ya, Ji."

Putri Jenggala?

"Bagaimana, Ji? Bisa?"

Peternakan?

"Halo? Panji?"

Diakah?

Tanpa sadar laki-laki itu memutus teleponnya. Ia mengerjap beberapa kali. Mengatur nafasnya hingga tenang sebelum melangkah pergi.

* * *

"Kapan?!"

"Kira-kira besok lusalah."

"Sendiri atau..."

"Sendiri lagi, Mbak."

"Oh, kalau begitu aku kirim salam aja deh, sama masmu."

"Oke, nanti akan kusampaikan. Selamat sore, Mbak."

"Sore."

Dia akan datang. Mustika. Adik sepupu termuda Yolanda. Dengan harapan yang tak pernah berubah. Ia tahu betul bagaimana hancurnya perasaan perempuan itu ketika musibah kebakaran yang menimpa keluarga mereka membakar habis rumah yang hangat beserta sejuta kenangan yang tersisa di dalamnya.

Lucy... Yolanda mendegut ludah. Gadis kecil itu selalu menjadi alasan Mustika untuk pulang. Adik sepupuku itu sangat yakin bahwa putrinya masih hidup. Aku takut harapannya sebatas angan. Pelan, ia menggeleng. Menepis prasangka buruknya itu. Semoga harapannya terwujud.

* * *

Bersambung





[Puisi] Napas Agustus

Napas-napasku adalah hidupku Napas yang bertiup dari rahmat-Nya Napas yang diperjuangkan ayah dan ibu Napas yang diaminkan puluhan doa Mungk...