Lima
"Harusnya kamu tuh minta izin dulu sama Papa! Jangan langsung bawa kabur gitu aja! Otakmu tuh masih normal nggak sih?! Coba bayangkan, gara-gara ulahmu itu Papa terpaksa meninggalkan setumpuk pekerjaan yang harus segera tuntas besok cuma untuk keliling kompleks mencari MPV-ku yang kamu bawa lari!! Bayangkan itu terjadi padamu!!! Nyesek, Di! Papa kecewa sama kamu!" omel Irawan pada Jordi.
Papa lebay!
"Ok, mungkin sikap Papa memang berlebihan! Tapi ini darurat, Di! Akibatnya Papa terpaksa membatalkan janji dengan klien yang paling berpengaruh di Lulla-Lolly! Masih untung dia nggak minta ganti rugi! Keterlaluan kamu, Di!"
"Pa..."
Suara halus Yolanda menyapa lembut telinganya. Perlahan emosinya mulai menyurut. Ditolehnya perempuan ayu itu. Yang menatapnya penuh cinta.
"Kamu uruslah anakmu, Ma," ucapnya kemudian. "Aku mau ngecek laporan anak buahku dulu."
Laki-laki itu lalu melenggang menuju ruang kerjanya. Yolanda mengalihkan tatapannya pada Jordi. Putra bungsunya itu membalasnya dengan wajah memelas. Sekilas dibelokkannya dagu ke arah kiri. Dengan wajah datar. Lalu putra bungsunya itu menyingkir.
Jordi melangkah kecil dan menjatuhkan tubuhnya di atas sofa besar di belakang Yolanda. Matanya masih menatap perempuan itu dengan wajah penuh harap. Yolanda segera menghampirinya dan lalu duduk santai di sebelah kanannya. Kemudian melingkarkan tangan kirinya di sekeliling bahu Jordi.
"Ada apa sebenarnya, Di?"
"Mm..."
"Soal perempuan itu? PutriJenggala?"
Jordi hampir terlonjak kaget. Ia terbatuk kecil. Sekuat tenaga dipaksanya otak untuk bekerja lebih keras mengumpulkan kata-kata yang berceceran di luar daya pikirnya saat itu. Tatapan Yolanda masih menghujam kedua matanya dengan tajam. Ia benar-benar tak dapat menghindarinya.
"Jordi-ku pemuda yang jujur, kan?"
"Ya...," jawabnya acuh.
"Jelaskan semuanya, Nak! Biarkan Mama tahu yang sesungguhnya dari mulut anak Mama sendiri."
"Tapi..."
"Jangan membuat dugaan bahwa Mama telah meng-hack ponselmu. Kamu lupa log out akun Facebook-mu, Di. Tadi siang Mama nggak sengaja masuk ke kamarmu yang super berantakan karena pintunya terbuka. Lalu Mama mencoba membereskannya dan Mama melihat sebuah akun Facebook perempuan terpampang di laman pencarian medsosmu itu di layar ponselmu."
"Aku cuma iseng-iseng nge-stalk akun Facebook perempuan itu aja, kok. Nggak lebih," elaknya dengan gugup.
"Aku ibumu, Di. Aku tahu kamu berbohong," balas Yolanda pelan, tajam.
Jordi mematung seketika. Dialihkannya tatapan dari wajah Yolanda. Namun perempuan itu tetap tak menyerah untuk menuntutnya menjawab jujur.
"Mama nggak pernah melarang kamu untuk nge-stalk akun medsos siapa pun, Di. Kamu nggak perlu takut untuk jujur," ucapnya ringan. "Mungkin...," Yolanda mendesis. "Kau menyembunyikan sesuatu."
Jordi menoleh cepat ke wajah Yolanda. Dahinya mengernyit. Menentang sorot tajam tatapan sang ibu. Lalu ia mendengus. Dengan wajah setengah kesal.
"Aku nggak nyembunyiin apa-apa, kok," sahutnya sinis.
"Serius?" ledek Yolanda.
"Dia bukan siapa-siapa aku!" cetasnya sengit.
Yolanda terkekeh kecil. Baginya pribadi, laki-laki muda itu tetaplah sesosok batita polos yang menggemaskan. Meskipun sesekali ulah Jordi membuatnya dan Irawan kehabisan akal.
"Mama nggak nuding kalau dia siapa-siapa kamu lho, Di," celetuk Yolanda.
"Iya, tapi maksudku...," Jordi tergagap.
"Sebenarnya Mama cuma mau nanya mengenai alasanmu membawa kabur MPV tanpa izin Papa," potong Yolanda. "Apakah ada hubungannya dengan perempuan itu?" selidiknya
Tubuh Jordi tertegak.
"Enggak, Ma. Tadi aku pakai MPV Papa itu buat ketemu klien."
"Klien atau temen?"
"Udah lama kok aku nggak hang out, Ma. Males. Bosen. Monoton."
Yolanda mengangguk. Ia tahu betul bahwa putra bungsunya memang telah lama tak menjalani kebiasaannya itu.
"Bukan apa-apa. Kamu kan tahu sendiri Papamu orangnya seperti apa..."
Lebay! sahut Jordi dalam hati.
"Ya udah, hampir jam tujuh kayaknya," diliriknya jam dinding di belakang Jordi. "Mama pamit ya, Nak."
"Mau kuantar?" tawar Jordi.
"Nggak usah! Nanti Papamu malah kebakaran jenggot lagi," dikeluarkannya sebuah kunci mobil dari dalam saku.
"Hati-hati, ya, Ma."
Yolanda mengangguk lalu meninggalkan laki-laki itu sendirian di atas sofa. Langkah tegaknya semakin membawanya sampai ke depan pintu. Namun saat hendak meraih handle-nya, setengah tubuhnya berbalik dan menjatuhkan tatapannya ke wajah Jordi.
"Ada yang ketinggalan, Ma?"
"Enggak. Mama cuma mau pesan sesuatu," jawabnya dengan nada serius.
"Pesan apa?"
"Hati-hati, Di."
Jordi melongo.
"Hati-hati naksir sama Putri Jenggala," sahut Yolanda sambil menarik handle pintu lalu menutupnya.
Dari dalam, Jordi dapat mendengar derai tawa Yolanda yang mengiringi lari kecil perempuan itu menuju SUV-nya di garasi. Laki-laki itu tersipu. Dan merasa tergelitik dengan sepotong nama yang mulai menghantui pikirannya.
Ajeng. Putri Jenggala.
* * *
Dini memperhatikan setiap langkah yang dilakukan Tika saat mengajarinya menyajikan ice fruit tea dengan wajah serius. Perempuan itu sangat terlihat luwes dan terampil. Membuat Dini takjub melihatnya.
"Saya pikir bikin ice fruit tea itu nggak ribet-ribet banget," diliriknya Dini sekilas. "Hampir sama kayak nyeduh es teh manis rumahan. Cuma bedanya ini dicampurkan air perasan sari buah sesuai selera. Makanya saya yakin banget kalau kamu pasti bisa meraciknya sendiri," sambungnya sambil menyisipkan sekeping irisan lemon segar di bibir gelas berisi empat per lima gelas ice lime tea.
"Aku boleh coba buat sendiri nggak? Kayaknya gampang deh, Mbak," ucap Dini ragu.
Tepat pada saat itu ponsel Tika berdering kecil. Diraihnya benda lebar itu di saku rok panjangnya. Ia lalu menggeser gambar gembok ke sebuah lambang berbentuk amplop di atasnya pada bagian tengah layar.
"Oh, boleh. Silakan. Aku tinggal dulu, ya?Bu Marina panggil aku soalnya."
"Oh, iya. Nanti kalau sudah selesai saya hubungi Mbak Tika atau bagaimana?"
"Mm... Saya rasa pelatihan hari ini sudah cukup. Tadi kamu juga sudah lolos tahap uji penyajian beberapa minuman ringan yang disediakan di sini. Biar nanti saya sendiri yang bereskan semuanya. Sekarang kamu boleh pulang," sahutnya tegas.
"Terima kasih, ya, Mbak," ucap Dini tulus.
"Iya. Eh, aku lupa, Din. Ada titipan dari Bu Marina buat kamu dan Ajeng," Tika meraih tas kertas bermotif batik dari atas rak piring mungil lalu menyodorkannya pada Dini.
"Eh, makasih lho, Mbak. Aduh, jadi ngerepotin. Salam dan terima kasih buat Bu Marina, ya, Mbak. Maaf saya nggak sempat pamit. Takut mengganggu," ucapnya malu-malu.
"Sama-sama, Din. Nanti saya sampaikan, deh."
"Selamat sore. Permisi."
Dini kemudian beringsut dari pantry Coffee Day khusus trainning. Hampir bersamaan dengan langkah Tika meninggalkan dan mengunci tempat tersebut. Untuk menemui Marina.
* * *
Dicta dan Ringgo melirik Kemuning secara bergantian. Dalam posisi kepala tertunduk. Di sebuah bangku panjang ruang tamu rumah Kemuning.
"MEMALUKAN!!!"
Suara tajam Kemuning menghunus tepat ke dalam lubang telinga keduanya. Tak ada satu pun alasan yang masuk akal saat itu. Tak ada sebutan yang baik untuk siapa pun yang menyelinap masuk ke ruangan orang lain tanpa izin dari pihak yang bersangkutan. Celakanya kedua putra Kemuning itu melakukan perbuatan terlarang tersebut prradanya.
"Mama nggak habis pikir!!! Ditinggal keluar sebentar, kalian langsung ngenggeledah kamar Mama!!! Nggak sopan!!! KALIAN KETERLALUAN!!!" jerit Kemuning.
Perempuan itu berusaha mengatur napasnya. Tatapannya yang menghujam wajah kedua putranya mulai menyurut. Diangkatnya dagu mereka secara bergantian secara paksa.
"Coba jelaskan pada Mama! Apa tujuan kalian menjamah kamar Mama tanpa izin? Ya, kamar ini memang pernah dimiliki kalian. Tapi itu dulu!!! Sekarang kamar ini menjadi hakku sepenuhnya!!!"
"Kami...," Dicta mulai angkat suara pada akhirnya.
"Kenapa?!"
"Kami hanya ingin memastikan pernyataan Mama kalau Papa memang benar-benar sudah meninggal. Mencari bukti kuat ucapan Mama tersebut. Atau sekedar menemukan selembar-dua lembar foto Papa. Dan ini semua salahku, Ma. Aku yang mengajak Ringgo untuk melakukan tindakan asusila ini. Kalau..."
"Cukup!!!"
"Hukum aku aja, Ma. Ringgo nggak salah," lanjut Dicta.
Kemuning menggeleng-gelengkan kepala.
"Jadi ini alasan kalian datang ke sin?!"
"Oh, nggak. Kami datang ke sini sebenarnya untuk menyetorkan sejumlah uang yang diminta Mama tempo hari," jawab Ringgo santai.
"Dari Ajeng?" selidik Kemuning.
Ringgo melempar tatapannya pada Dicta. Abangnya tak membalas. Menoleh sedikit pun tidak. Ia lalu menggeleng kecil.
"Lantas uang siapa yang kamu pinjam?"
"Aku nggak pinjam uang siapa pun. Itu uang dari gajiku bulan ini plus SPP kuliah satu semester," sahut Dicta polos.
Kemuning mendengus napas kesal.
"Gila kamu, Dict! Terus nanti kamu makan apa???"
"Urusan nanti, Ma. Aku masih punya uang simpanan."
"Kenapa harus uang kamu, sih?"
"Mbak Ajeng sepertinya sudah tahu yang sebenarnya, Ma. Keadaan kita sudah nggak aman," jawab Ringgo.
Kemuning terkejut. Ia melongo. Seolah ada dua sosok wajah yang bermain di benaknya sedang menertawakan kebodohannya. Diam-diam ia menelan ludah.
Mbak Lidya? Panji?
* * *
"Beneran, Bu?" mata Dini membulat.
...
"Ok, makasih."
Perempuan itu menghembuskan napas keras-keras. Diletakkannya ponsel di dalam laci. Ia lalu menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi. Diam-diam sesosok makhluk cerdik menyelinap ke dalam pikirannya.
Ah, anak ajaib itu!
Ia masih ingat betul bagaimana anak ajaib yang bermain dalam pikirannya itu ditemukan Ajeng di sebuah halte sekitar kompleks perumahan majikan orang tuanya. Menempati ujung bangku halte sambil menghitung lembar-lembar lusuh uang kertas bernominal rendah di tangannya. Dengan berpenampilan yang kurang layak.
* * *
"Kelihatannya dia anak baik, ya, Din?"
Dini menoleh. Ia mendapati seraut wajah Ajeng yang penuh dengan rasa iba. Diarahkannya kedua mata pada sosok mungil di luar sedan yang ditatap majikannya sejak tadi.
"Kayaknya sih begitu," sahutnya jujur.
Ajeng segera turun dari sedannya. Dihampirinya sosok anak ajaib itu. Ia lalu duduk di sampingnya dan mulai mengajukan beberapa pertanyaan dan sebuah tawaran.
"Namamu siapa, Nak?"
Anak ajaib tersebut masih berumur lima tahun saat itu. Disimpannya uang itu di saku celana. Ia menggeser tubuhnya ketika Ajeng mendekatinya. Berusaha menjauh. Dengan tatapan penuh curiga.
Bocah itu masih terdiam. Menatap Ajeng dengan wajah ketakutan. Bahkan ketika Ajeng mencoba menggapai tangannya.
"Kamu nggak perlu takut," ucap Ajeng lembut. "Namamu siapa?" ulangnya.
"Praha," sahut bocah itu lirih.
"Oh... Nama yang menarik," Ajeng kemudian mengulurkan tangan kanannya. "Perkenalkan, nama saya Ajeng."
Lalu Praha mencoba menyentuh jemari Ajeng yang terulur padanya. Dan menjabatnya dengan tangan mungilnya yang tak membuat Ajeng jijik sedikit pun.
"Ibu Ajeng," Praha menyebut nama perempuan itu.
Ajeng tersenyum. "Ikut saya yuk, Nak?"
Namun Praha menggeleng. Sedih.
"Kenapa?"
"Aku sedang menunggu kedatangan bus."
"Biar Ibu yang antar kamu pulang," ajak Ajeng setengah paksa.
Praha menggeleng lagi. Lalu menunduk. Ia tak berani menatap mata teduh Ajeng.
"Berdasarkan rutenya, bus yang akan kutumpangi melintasi kantor polisi. Aku akan turun di sana."
Kini ganti Ajeng yang menggeleng. Ia terkejut. Untuk apa?
"Buat apa, Pra?"
"Bu Ajeng tak perlu tahu. Ini urusanku."
Ajeng makin terkejut. Dibanding bocah lain yang sebaya dengannya, Praha terlihat lebih menarik di matanya. Dan jauh lebih mandiri.
"Kamu sebetulnya mau apa di kantor polisi?" tanya Ajeng heran.
"Teman-temanku...," Praha mengangkat kepala. "Diculik preman," ia kembali menunduk.
"Dan kamu mau lapor polisi???" Ajeng menaikkan suaranya.
Praha tak menjawab. Bocah itu juga tak mengelak ketika Ajeng menggiringnya masuk ke dalam sedan. Di jok belakang. Dan melajukan sedannya ke sebuah tempat.
* * *
Tika mengetuk pelan pintu ruang kerja Marina. Perempuan itu kemudian masuk setelah dipersilakan oleh pemiliknya. Ia lalu diperkenankan untuk duduk di seberang Marina.
"Bagaimana?"
"Kelihatannya dia sangat menikmati pekerjaan barunya."
"Apakah dia curiga?"
Tika menggeleng tegas.
"Menurutmu, sebaik apa potensi kerjanya?"
"Dia memiliki kualitas kepandaian memasak yang sangat baik. Penataan hidangannya sangat apik. Saya sangat tidak merasa terbebani untuk diembankan tugas memberikannya bimbingan dan pengarahan dalam masa tahap pelatihannya sebagai seorang pramusaji baru."
"Sebetulnya saya sangat yakin akan kemampuannya. Hanya saja saya khawatir bila suatu saat nanti ia mengetahui misi rahasia kita."
"Ada apa sebenarnya, Bu?"
"Maaf, Tik. Saya belum bisa membocorkan jawabannya sekarang."
Tika termangu. Dan berusaha mengerti.
"Tolong kamu jaga rahasia ini baik-baik, ya? Perlakukan dia seperti pramusaji baru pada umumnya."
"Saya tidak akan mengecewakan Ibu."
"Soal gaji tambahan, biar nanti aku sendiri yang mengatur."
Tika mengangguk. Marina mempercayainya. Perempuan itu amat merasa bersyukur atas tanggungjawab kinerja yang dipikul asistennya. Membuatnya merasa aman untuk menyerahkan 'kekusaannya' sementara pada suatu waktu apabila ia sedang sibuk menyelesaikan urusan bisnisnya yang lain.
"Ok, kamu boleh pergi."
Tika lalu bangkit dan keluar dari ruangan itu usai mengucapkan permisi.
* * *
Bersambung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar