Empat
Ecilia mengamati pintu ruang periksa kehamilan yang berada di depannya. Sesekali ia juga menoleh ke arah satu per satu pasien bernomor antrian lebih kecil yang keluar-masuk ruang tersebut. Bunyi jam yang bekerja di bagian atas dinding di belakangnya terdengar cukup jelas. Meskipun antrian rumah sakit langganannya lumayan penuh, namun tidak ada satu pun pasien lain yang bisa diajaknya sekedar berbincang ringan seputar masalah kesehatan. Karena ia cukup tegang saat itu. Sekitar sembilan puluh delapan persen dari mereka adalah lansia pria maupun wanita yang hendak menjalani terapi usai menjalankan perawatan inap secara intensif di rumah sakit tersebut. Sedangkan sisanya adalah ibu hamil yang akan melahirkan dan beberapa penderita cacat fisik yang mengalami sakit ringan. Terlihat sangat monoton dan menjenuhkan. Ia pun menolehkan kepalanya ke wajah Lidya.
"Bu?"
"Ya?"
Tatapan Ecilia dan Lidya saling bertemu.
"Ibu ingat nggak waktu Mbak Ajeng bilang kalau Bu Marina itu salah satu tantenya?"
"Oh, iya, Ibu ingat. Kenapa, Nak?"
"Menurut Ibu bagaimana?"
"Ma-ri-na," Lidya memainkan nama itu dalam pikirannya. "Wanita itu... Dia bukan seorang penjilat. Bukan juga pengkhianat," Lidya menggeleng pelan. "Dan sepertinya Ajeng telah menemukan partner yang tepat."
"Bukan itu...," desah Ecilia.
"Lalu?"
"Aku bingung, Bu," Ecilia menatap Ratri, bimbang. "Pakdhe Seno beristrikan Budhe Sasti. Pakdhe Surya suami dari Budhe Galuh. Ibu bersuamikan Bapak. Setahuku, Bapak kan cuma punya dua saudara laki-laki. Lantas Ibu Marina istrinya siapa?"
Lidya membeku di atas kursinya. Tiba-tiba saja ia seolah terperangkap dalam masa lalunya. Ketika ia melakukan semua di balik kejanggalan yang dipertanyakan Ecilia. Ia limbung seketika.
* * *
Jordi segera mengangkat ponselnya yang bergetar di saku baju. Sepotong nama perempuan tertera di bagian atas layar. Hampir membuatnya jengah.
"Ya?"
...
"Dimana?"
...
"Oh, ya. Sama-sama."
Jordi menutup teleponnya. Ia mas menggenggam ponselnya. Tak segera meletakkannya.
Ajeng? Putri Jenggala?
Laki-laki itu kemudian mengetikkan sesuatu di laman pencarian Facebook. Ketika hasilnya muncul, dipilihnya akun pada deret pertama.
Hm... Lumayan. Cantik juga.
Jordi memandangi foto sampul pada sebuah akun Facebook bernama pengguna Putri Jenggala dengan setengah kagum. Pelacakannya berlanjut hingga ke bagian bawah akun. Tak ada informasi lebih yang didapatkannya dari akun tersebut. Selain...
Jadi ini peternakannya.
Jordi lalu mencatat alamat yang tertera dalam salah satu foto di sebuah kiriman akun tersebut pada sebuah kertas. Sedetik kemudian ia tercenung. Masih terbayang di benaknya seraut wajah ayu perempuan pemilik akun Facebook Putri Jenggala yang terpampang jelas di bagian foto sampul.
Ia mengangkat kepala. Berkali-kali dikerjapkannya mata sambil menghitung-hitung keputusannya. Rupanya ia masih bimbang untuk mengerjakan tugasnya itu. Mengerjai perempuan yang ditujukan Kemuning padanya.
Terlalu cantik... Eh!
Ia menggumam setengah sadar. Tatapannya beralih pada sebuah MPV di luar jendela ruang kerjanya. Tiba-tiba saja sebuah ide jahil melintas di pikirannya.
Mengapa tidak?
* * *
"Jadi kapan?"
Ringgo terdiam sejenak. Kepalanya setengah tertunduk. Ia kemudian mendongak cepat hingga lalu tatapannya jatuh di wajah abangnya.
"Kapan pun bisa," jawabnya datar. "Aku nggak punya ide apa-apa. Yang penting situasi aman dan kondusif," sambungnya.
"Okelah. Kalau ada kesempatan besok juga bisa, kok. Kamu ada tugas?"
"Ada, sih. Nanti kuusahakan agar bisa selesai sebelum deadline-nya tiba. Banyak banget. Makanya besok aku mau bangun lebih pagi," Ringgo mulai mengantuk.
Dicta manggut-manggut sambil menarik selimutnya perlahan.
"Aku tidur duluan ya, Mas. Selamat malam."
"Selamat malam."
Dicta mengamati seraut wajah adiknya yang mulai terlelap. Seraut sisa wajah polos seorang bocah kecil yang selalu mampu membuatnya hatinya dipenuhi kelegaan. Seraut wajah milik seorang Ringgo. Gilang Anggoro. Alias Edricko Davin. Putra bungsu Panji dan Ilde yang menghilang tanpa jejak di sebuah taman bermain, dua puluh tahun yang lalu.
* * *
Ajeng melangkah cepat menuju sudut peternakan. Dihampirinya Hendra yang sedang asyik berkutik dengan netbook-nya. Kepala laki-laki itu terangkat begitu mendengar ketukan langkah sepatu bergerak mendekat ke arahnya.
"Hen, aku mau pulang. Sudah waktunya. Kalau pekerjaanmu sudah selesai, tolong siap siaga dengan ponselmu. Jadi bila ada sesuatu yang penting, aku nanti gampang menghubungimu," ujarnya.
"Mbak kayaknya ada urusan penting, ya?"
"Iya. Ini aku juga mau pergi. Makanya tolong, aku mohon, jangan sampai ponselmu nggak bisa kuhubungi."
Hendra lalu mengangguk ringan. Tanpa basa-basi, Ajeng segera bertolak ke area parkir. Menjemput sedannya. Dan segera meluncurkannya ke alamat yang tertera dalam pesan singkat yang dikirimkan Panji siang tadi.
Perempuan itu mengintip sekilas langit di luar dari balik kaca jendela sedan. Langit hampir menggelap sempurna di luar sana. Setengah mati ia berusaha menahan diri untuk bersikap tenang. Entah mengapa lalu lintas tampak tak mendukung keinginannya saat ini. Menemui Panji.
Ia terpaksa menghentikan sedannya tepat di belakang antara SUV dan bus kota yang bersisian sangat dekat. Tak ada celah untuk menyeruak di antara keduanya. Bahkan sepeda motor pun tetap harus sabar menunggu berurainya segala macam kendaraan besar di depannya.
Pandangan Ajeng melayang ke jam digital pada dashboard sedannya. Pukul tujuh malam lewat sekian puluh detik. Pelan ia menghela napas.
Ternyata aku lumayan ngebut juga. Ajeng tersenyum dalam hati. Untung baru jam tujuh.
Perempuan itu masih sempat memeriksa perkembangan pada ponselnya sebelum melaju pelan ketika sebuah SUV di depannya sudah tandas entah ke mana. Perjalanan selanjutnya sama sekali tak bermasalah sedikit pun. Dan pada kilometer kesembilan dari peternakannya, ia memasukkan sedannya ke sebuah pelataran parkir sebuah sekolah kecil di ujung jalan.
Ia sengaja tak memilih kafe atau restoran untuk menemui Panji. Ada beberapa kendala yang melarangnya untuk melakukan itu. Terutama kesibukan mereka masing-masing.
Dari jarak sekitar tujuh meter tampak olehnya Panji yang sedang duduk di sebuah kursi panjang tanpa sandaran tengah mengamati arloji kecil di pergelangan kirinya. Ajeng tersenyum jahil. Ia sengaja membunyikan klakson hingga Panji tersentak dan segera melempar pandangannya ke arah sumber suara.
Ajeng terkekeh. Panji tertawa kecil sambil melangkah ringan menghampiri sedan Ajeng. Perempuan itu memarkirkan sedannya dengan cekatan dan segera menyambut langkah laki-laki di depannya.
"Macet, Jeng?" Panji menggiring Ajeng ke kursi panjang yang didudukinya tadi.
"Begitulah. Wajar. Sudah biasa."
Panji mengangguk ringan sambil mencari awalan yang tepat untuk membuka obrolan. Namun ternyata Ajeng mendahuluinya.
"Jadi Pak Panji yakin kalau otak dari rencana teror yang saya alami itu adalah Bu Kemuning?"
"Siapa lagi?"
Ajeng duduk terdiam. Sebetulnya ia mempercayai Panji seutuhnya. Hanya saja tanda tanya itu masih berputar-putar di benaknya. Tentang siapa Kemuning sebenarnya. Dan apa yang terjadi di balik punggungnya di luar sana pada masa silam. Membuatnya terpaksa menanyakan hal itu pada Panji.
"Yang kamu tahu Kemuning cuma sekadar penculik merangkap ibu tiri Dicta dan Ringgo, kan?"
Ajeng tak menjawab. Pun tak memberikan tanda isyarat apa pun. Ditatapnya Panji baik-baik. Membiarkan laki-laki itu menjawab pertanyaannya sendiri.
"Kemuning itu dulu namanya Respati, Ajeng. Perempuan itu kemudian mengganti namanya menjadi Kemuning seperti yang kau ketahui sekarang ini agar orang-orang di masa lalunya sulit mendapatkan data dirinya. Dia mantan pacarku. Adik kandung Lidya. Adik ipar Mas Saka. Jadi kini kau telah tahu semuanya. Jelas, kan?" Panji membuka kedua telapak tangannya ke udara.
Ajeng hanya terbengong tanpa ekspresi. Ada bermacam rasa saling berkoalisi untuk menyesakkan dadanya. Tubuhnya lemas seketika.
"Pantas saja...," desis Ajeng geram.
"Kenapa?"
"Yang kutahu istrinya Pak Lik Saka itu Tante Marina. Bukan... Bu Lidya," suara Ajeng melemah.
"Tunggu dulu, Marina mengaku kalau suami dan anaknya sudah meninggal karena kecelakaan. Ini sebetulnya bagaimana, sih? Kok malah jadi rumit gini?"
"Iya, Pak," Ajeng mengangguk pelan. "Tujuh belas tahun yang lalu ia memang pernah mengalami kecelakaan. Beruntung Tante masih bisa terselamatkan. Tapi tidak dengan Pak Lik Saka dan Cinde, putri tunggal Tante Marina. Keduanya dinyatakan menghilang dan hingga kini kabarnya tidak pernah lagi terdengar lagi."
"Jeng..." Panji menepuk bahu kiri Ajeng.
Perempuan itu menegakkan wajahnya. Menatap Panji lebih serius. Jantungnya telah bersiap untuk mempercepat degup yang tak terkendali.
"Ada apa?"
"Ecilia...," bisik Panji dengan mulut terbuka.
Ajeng terhenyak. Dan jantungnya mulai berdegup lebih kencang. Matanya setengah mendelik. Tak ada yang dapat dilakukannya. Selain membeku hingga langit benar-benar gelap sempurna.
* * *
"Mama mana, Dik?"
Dicta menjatuhkan tubuhnya di atas bagian kosong kursi di sebelah Ringgo tanpa permisi. Pemuda itu menatap adiknya dengan antusias. Yang ditatap masih sibuk dengan laptopnya.
"Ke pasar, Mas," sahutnya kemudian.
"Kalau begitu sekarang aja. Mumpung Mama lagi pergi," ujar Dicta penuh semangat.
"Tapi..."
"Udah, ayo!"
Ringgo menegakkan tubuhnya tiba-tiba. Ditolehnya sang abang dengan wajah gembira bercampur ragu. Ia lalu mengangguk cepat. Dan segera mengikuti langkah Dicta menuju kamar Kemuning usai menutup laptopnya.
Keduanya setengah bersorak saat berhasil membuka pintu kamar perempuan tersebut yang tidak terkunci. Dicta lalu melebarkan pintu dan menarik adiknya masuk ke dalam. Ringgo segera melacak isi laci dan lemari untuk mendapatkan dokumen penting yang dibutuhkannya. Sementara Dicta mengecek setiap sudut dan bawah ranjang.
Hampir satu jam mereka sibuk mengobrak-abrik kamar Kemuning tanpa rasa bersalah. Dan keduanya benar-benar tak mendengar ketukan pintu rumah dari luar. Bahkan sebuah teriakan yang memanggil nama mereka. Hingga pada akhirnya...
"Jangan...!!!" jerit keduanya hampir bersamaan ketika mendengar suara kunci yang bersinggungan dengan bagian dalam handle pintu kamar tersebut.
* * *
Marina mengusap sebuah foto usang yang terbingkai kayu di atas meja kerjanya. Ada banyak kata yang ingin diungkapkannya. Namun semua itu hanya dapat ia jelaskan lewat tangis yang hampir menyerupai rintihan.
"Cinde...," ucapnya di tengah sedu. "Mama rindu kamu, Nak. Mengapa nasibmu jadi begini?"
Lagi-lagi ia membasahi pipinya dengan air mata yang begitu membuatnya lemah. Sebelah tangannya yang terpaku pada ujung meja menopang dahi dengan wajah tertunduk. Ia tak tahu harus bagaimana lagi.
"Lidya terlalu baik pada Cinde," ia makin tertunduk. "Aku malu untuk meminta kembali anakku," hatinya makin menciut. "Walau ia telah tega memisahkan kami lalu mengganti namanya menjadi Ecilia. Aku tetap tak bisa membencinya."
Pada saat yang sama pintu diketuk dari luar. Marina mengangkat kepala. Mengarah ke pintu.
"Masuk," ucapnya ringan sambil menghapus air matanya.
Arlan datang untuk menyerahkan laporan perkembangan Coffe Day hari itu. Ia menerimanya dengan senang hati. Lalu ia mempersilakan pramuaaji itu untuk pamit.
"Ibu nggak pulang?" celetuk Arlan tiba-tiba.
"Nanti, Lan," Marina mencoba untuk tersenyum. "Mang Tarman masih di jalan."
"Kenapa nggak bareng saya aja?"
"Tanggunglah. Mungkin lima menit lagi dia sampai. Kayaknya sih macet. Biasanya setiap hari juga begitu. Terutama hari Senin."
"Oh, ok. Selamat malam, Bu."
"Malam."
Pria itu segera meninggalkan Marina. Sendirian. Dalam ruang kerjanya yang pekat dengan sisa aroma duka di masa lampau. Biru. Kelabu.
* * *
"Aku baru saja diterima sebagai karyawati di kafe, Pak. Jadi pramusaji."
Ada nada bahagia yang sangat kental dalam suara ringan Dini. Guntur menyambutnya dengan senyum. Ditatapnya gadis itu baik-baik. Dini menatapnya balik. Menunggu sang ayah mengangkat suara.
"Jadi pekerja yang jujur, ya, Nak," ucap Guntur singkat, penuh harap.
Dini hanya mengangguk. Gadis itu kemudian pamit untuk menemui Ratri di dalam. Meninggalkan Guntur seorang diri yang tengah memangkas rumput yang mulai tumbuh meliar di halaman depan.
"Kak Dini...!!!"
Tiba-tiba saja Falka menubruk dan memeluk tubuh Dini kuat-kuat. Membuatnya hampir oleng. Lalu bocah itu menggiringnya setengah paksa menuju kamar Dini. Gadis itu hanya menurut tanpa memberontak sedikit pun.
Dan ketika mereka sampai di sana, sebuah pemandangan indah menyambutnya. Dengan perasaan takjub, Dini berusaha mendefinisikannya. Namun sayangnya tak ada satu pun kata yang mampu mewakili ekspresinya saat itu.
Sepasang flat shoes berwarna cokelat muda terbungkus rapi di dalam kardus berbahan plastik transparan yang berhias pita cantik yang mengikat sempurna. Juga seikat bunga mawar di sebelahnya. Keduanya terletak tepat di pinggir meja riasnya.
Falka mendongak. Sangat jelas di matanya wajah Dini yang penuh haru melihat kejutan yang dibuatnya bersama Praha. Ditariknya berkali-kali ujung t-shirt Dini sambil menaikkan salah satu alisnya dengan wajah lucu.
Dini tertunduk membalas tatapan Falka. "Ini... benar-benar..."
"Selamat ulang tahun Kak. Ini kado persembahan dariku dan Kak Praha. Kak Dini suka, kan?"
Tanpa diminta, ia segera meraih Falka dan menggendong tubuh mungil bocah itu. Mata makhluk imut di hadapannya menyapu wajahnya dengan senyum yang begitu khas. Menampilkan kepolosan yang tak pernah jenuh di mata orang-orang di sekitarnya.
"Di mana Kak Praha sekarang?. Kak Dini mau bilang terima kasih."
Spontan Falka tersentak lucu. Ia kemudian meminta Dini menurunkannya. Lalu ia meraih selembar kertas yang terselip di bawah kardus flat shoes tersebut dan menyerahkannya pada Dini. Perempuan itu nyaris pingsan dibuatnya.
"Falka...!!!"
Mendengar nada geram dari Dini saat menyebut namanya, bocah itu segera berlari menuju kamarnya.
* * *
Bersambung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar