Tujuh
"Pagi, Mbak."
Sapaan halus itu mengelus lembut telinganya. Ajeng menoleh. Ia urung meraih pintu ruang kerjanya. Didapatinya seulas senyum Wulan yang begitu cerah. Tertuju tepat di wajahnya.
"Pagi, Lan," balasnya kemudian. "Ada kabar baik apa pagi ini?"
Perempuan itu mengulum senyum. Dengan binar yang memenuhi matanya. Membuat Ajeng semakin penasaran.
"Itu, lho...," mata Wulan mengarah pada ruang kerja Hendra. "Kami..."
Seketika Ajeng terbahak. Ia paham betul apa yang dimaksud perempuan itu. Dan ia mengangguk ringan.
"Kapan?" mata Ajeng membulat.
"Kemarin," jawabnya malu-malu.
"Semoga langgeng, ya,” kedip Ajeng. "Kutunggu lho pajak jadiannya."
Wulan sempat terbengong. Namun ia segera menghembuskan napas lega begitu mendengar kekehan Ajeng meletus di udara.
"Ledekanku nggak usah diseriusinlah," ujarnya di sela tawanya. "Seriusin aja kerjaanmu itu. Apalagi sekarang ada new moodbooster, ya, kan? Jadi harus lebih semangat!" tangan kanan Ajeng bergetar seperti gerakan meninju dengan kepalan telapak tangan mengarah ke langit.
"Iya, Mbak. Saya permisi dulu, ya?"
"Oh, ya. Silakan."
Wulan sudah berlalu darinya. Ia segera masuk ke dalam ruangan mungil itu. Diam-diam rasa minder itu menyengat benaknya. Dienyahkan tubuhnya pelan ke atas sofa panjang di depan pintu. Sebetulnya tidak ada pekerjaan yang harus dilakukannya di ruangan itu. Semua urusan penataan file yang masuk maupun keluar sudah diserahkan sepenuhnya pada Hendra. Sehingga ia lebih leluasa untuk keluar-masuk kantor dalam pengawasan laki-laki itu. Termasuk menjemput kedua malaikat kecilnya. Dan perempuan tadi - Wulan, ia hanya bertugas sebagai customer service, atau sesekali menjadi asisten dadakan Ajeng.
Rasa itu...
Pelan ia mencoba untuk mengabaikannya. Setelah tujuh tahun yang lalu perempuan itu memutuskan hubungan istimewanya yang tak pernah ada kejelasan dengan sosok Mr. X yang ia kenal dari salah seorang teman kuliahnya lewat akun Facebook bernama pengguna 'Jejaka Muda Belia'. Dengan bantuan sahabat-sahabatnya tentunya sebagai mak comblang antara keduanya. Ketika ia masih terlalu polos dan belia kala itu. Sehingga ia tak mampu mengelak untuk dijadikan teman-temannya sebagai korban 'bully'. Meskipun ia sama sekali belum pernah melihat wajah aslinya. Karena pemiliknya tak pernah menampilkan foto asli di akunnya tersebut. Selalu foto tokoh kartun superhero yang ia publikasikan.
Ah, kenapa jadi kepikiran yang itu, sih?!
Empat tahun yang lalu ketika ia sedang berada dalam acara reuni dengan teman kuliah seangkatannya, ia baru diberitahu oleh salah seorang temannya bahwa akun Facebook asli Mr. X-nya bernama pengguna Jovan Renaldy, yang juga tak dipublikasikan foto pemiliknya sama sekali. Sedangkan akun Facebook yang diketahuinya itu hanya merupakan akun samarannya untuk menjahili orang lain di dunia maya. Termasuk Ajeng.
"Jadi kalian sendiri sama sekali nggak kenal orang itu?" tanyanya dengan nada tinggi waktu itu.
Keempat sahabatnya saling bertukar tatapan sebelum menggeleng. Seketika Ajeng menghembuskan napas dengan dramatis.
"Yang kita tahu cuma nama aslinya doang," timpal salah satu dari mereka.
"Siapa?" tanya Ajeng setengah berbisik.
"Jovan Renaldy."
Tak ada reaksi serius yang dikeluarkan Ajeng. Selain membulatkan bibir. Entah ia mempercayainya atau tidak.
* * *
Morning, Ma.
Gimana kabar keluarga di rumah? Di sini kabarku miris banget. Bosan. Nggak ada kehangatan Mama. Nggak ada perdebatan seru Aldo dan Jordi. Nggak ada kelebayan Papa. He he he. Sorry, Ma. Aku juga kangen banget dengan gadis kecilku, Nia. Dia ngerepotin kalian banget, ya, Ma?
Oh, ya, tadi malam sekitar jam satu Mas Chandra udah pulang dari KL. Dan kabarnya dia baru tiba di Jakarta dini hari pukul dua lewat sepuluh menit. Kemudian langsung ke kantor buat siap-siap meeting di kantornya pagi ini.
Dia bilang sama aku, sengaja nggak pulang dulu ke rumah kami atau mampir ke rumah Papa. Katanya takut ketemu Nia dan jadi malas kerja gara-gara kangennya sama bocah itu terbalaskan. Mungkin menjelang siang atau sore nanti dia akan singgah ke rumah Papa buat jemput Nia.
Nggak usah khawatir, Ma. Esok lusa aku akan nyusul dan bergabung kembali dengan kalian. Di sini aku cuma tinggal menanti hari kepulanganku aja, kok. Jadi sampai dua hari ke depan aku benar-benar free. Dan kita bisa chatting-an kapan pun sepanjang sisa waktuku di sini.
Oh, ya, aku mau mandi dulu. Udah siang disini. Oke, sampai jumpa, Mamaku sayang. Titip salam buat keluarga di rumah. Nanti kita ngobrol lagi, ya?
Your lovely daughter,
Bella Claudia
Yolanda menggelengkan kepala. Diletakkannya ponsel di atas meja makan. Menurut perhitungannya, sebagian sisi dewasa si sulung Claudia menular pada Aldo dan sebagian sisi kekanak-kanakannya menurun pada Jordi.
Dan karakter Claudia sendiri? Perwatakan perempuan itu secara utuh merupakan gabungan antara sifat kedua adiknya. Hanya saja nilai plusnya, ia sedikit lebih dewasa daripada Aldo - sebagai anak putra tertua. Sehingga sebagai perempuan ia tergolong menikah lebih muda dibanding gadis lain yang sebaya dengannya waktu itu.
Yolanda adalah orang pertama yang mensyukuri pernikahan Claudia dengan Chandra bahkan jauh di atas rasa syukur kedua mempelai pengantin itu sendiri. Apalagi ketika tiga bulan setelahnya perempuan itu hamil anak pertama. Bertambah lengkaplah kebahagiannya.
Tapi aku dan Mas Irawan masih punya tugas yang belum selesai.
Ditariknya napas pelan-pelan.
Mungkin karena...
Deru klakson mobil menyentakkan kesadarannya. Lamunannya seketika buyar. Ia lalu bergegas menuju luar ketika mendengar suara seorang laki-laki memanggil namanya.
* * *
Ajeng sedikit tersentak ketika pintunya diketuk dari luar. Dibukanya lebar pintu itu. Dan seulas senyum Wulan langsung menyambutnya.
"Sekarang?"
"Iya, Mbak," angguknya sopan. "Tadi Bang Hendra baru dapat kiriman email, katanya mereka udah hampir sampai di sini."
"Oke, aku ke sana sekarang."
Perempuan itu lalu meraih laptop di atas mejanya. Kemudian ia segera menutup dan mengunci rapat pintunya. Ia segera melangkah menuju ruang tamu peternakan. Di sanalah Ajeng dan kliennya akan bertemu. Di sebuah meja sedang yang dikelilingi tiga buah kursi berukir.
Dan kini ia sedang menunggu mereka di sana. Sementara Wulan sedang membuat jus jeruk dan menyajikan beberapa buah camilan oleh-oleh khas Semarang yang dititipkan Marina pada Tika di meja pantry.
Selang beberapa menit kemudian sebuah mobil memasuki pelataran parkir peternakan beratap kanopi putih. Ajeng lalu bangkit dan menghampirinya. Dua orang laki-laki keluar dari dalamnya. Yang satu berkemeja abu-abu dengan lengan panjang yang tergulung hingga ke siku dan yang lain berjas hitam tanpa dasi. Seketika ia terbengong.
Bang Chandra?
Laki-laki berjas itu menoleh ke wajah temannya yang sedang menutup pintu mobil saat menangkap tatapan kaget Ajeng pada laki-laki berkemeja abu-abu.
"Ajeng?"
"Bang Chandra! Apa kabar?" dijabatnya tangan laki-laki berkemeja abu-abu itu dengan wajah sumringah.
"Kabar saya baik. Kamu gimana?"
"Saya baik."
"Jadi kamu...," Chandra sedikit ternganga.
Mata Ajeng membulat. Mengkodekan Chandra untuk meneruskan kalimatnya yang sudah di ujung lidah.
"...pemilik peternakan ini?"
Barulah Ajeng menghembuskan napasnya sebelum mengangguk dan tersenyum. Chandra lalu menoleh pada laki-laki di sebelahnya. Mata Ajeng kemudian mengikuti gerakan tubuhnya.
"Oh, ya, Jeng, ini teman saya, Pak Keenan."
"Saya Ajeng."
Tangan Keenan lalu menyalaminya dengan hangat. Diulasnya senyum pada laki-laki itu. Yang dibalas dengan senyum paling ramah yang pernah dimilikinya.
"Keenan."
"Senang bertemu dengan anda," ucapnya tulus.
"Saya pun. Jadi kalian udah saling kenal?" Keenan melirik Chandra dan Ajeng secara bergantian.
Chandra mengangguk. "Dia juniorku waktu kuliah dulu."
"Kita masuk, yuk!" tangan Ajeng terbentang ke arah peternakan.
Ia lalu berjalan di depan keduanya. Diiringi oleh Chandra dan Keenan di belakang. Menuju ruang tamu.
Chandra adalah salah satu senior yang cukup akrab dengannya saat masih kuliah. Maka tak heran bila ia begitu senang ketika bertemu dengan laki-laki itu lagi. Apalagi laki-laki itu masih mengingatnya.
Hanya sekedar dekat. Tak pernah ada peluang untuk menjadi lebih.
Ajeng memang sempat menaruh harapan pada Chandra. Namun selama berteman dengannya, ia sendiri tak pernah menangkap sinyal 'lain' yang dikirimkan padanya. Sehingga ia tak berani melukai hatinya sendiri dengan harapan kosong itu.
"Ini ruang tamu peternakanmu, Jeng?"
Ajeng segera menoleh ke belakang sebelum mengangguk polos. Tiba-tiba saja ia sudah berdiri di depan bangunan utama peternakannya. Buru-buru ia membukakan pintu dan menarik dua kursi yang menghadap sebuah kursi yang membelakangi pintu. Sudah ada jamuan yang dibuat Wulan di atas meja itu.
"Silakan duduk."
"Terima kasih," ucap Chandra dan Keenan hampir bersamaan.
"Saya benar-benar mohon maaf sekali pada Bang Chandra dan Pak Keenan," sesalnya dengan perasaan bersalah.
"Untuk apa?"
"Ruang tamu saya kecil begini," desahnya malu. "Sajiannya juga kurang variatif. Soalnya saya belum sempat belanja kebutuhan logistik karyawan."
"Ah...," Chandra mengibaskan tangannya. "Ini sih, udah luar biasa banget buat kami. Betul kan Pak Keenan?"
"Iya," Keenan melirik Chandra sekilas sebelum mengalihkan tatapannya pada Ajeng. "Bu Ajeng, justru kami yang seharusnya minta maaf. Setiap ada meeting di luar, baru kali pertama kali saya dijamu sehormat ini di kantor rekan bisnis."
"Paling biasanya di kafe, ya, Pak," timpal Chandra. "Soal bayar makanan urusan masing-masing."
Ajeng terkekeh kecil sambil mengeluarkan laptopnya.
* * *
Acara meeting itu berlangsung lancar. Kedua belah pihak sangat merasa diuntungkan dengan perjanjian kerja sama yang baru mereka sepakati.Berdasarkan perjanjiannya, mulai bulan depan, sesuai permintaan Keenan selaku kepala purchasing manager, peternakan Ajeng akan menjadi supplier beberapa puluh kilo daging ayam segar kepada pabrik bumbu penyedap masakan milik ayah Keenan.
Ajeng menghela napas. Chandra dan Keenan baru saja pamit sepuluh menit yang lalu. Ponselnya tiba-tiba berbunyi. Ditegakkannya benda itu di atas meja. Ia lau menggeser simbol jam beker besar berdering ke arah kiri layar hingga menghilang.
Sudah saatnya jemput, Falka.
Perempuan itu lalu bangkit dari kursinya. Dan mulai melangkah keluar ruangan. Tiba-tiba Ajeng menghentikan langkahnya. Ia kemudian membalikkan tubuh.
"Lan."
Wulan cepat-cepat mengangkat kepala. Menunda sejenak tugasnya mencatat pesanan dan kritikan serta saran konsumen yang masuk lewat berbagai media sosial pada jaringan komunikasi peternakan Ajeng.
"Ya, Mbak?"
"Saya mau jemput Falka di sekolahnya. Kemungkinan nanti nggak langsung balik ke sini. Sekalian mau beli kebutuhan logistik di pantry. Setelahnya langsung jemput Praha dan mengantarnya pulang. Baru deh, saya balik lagi ke sini."
"Jadi tugas saya sekarang apa?" tanya Wulan seperti biasanya.
"Kalau ada kebutuhan ternak yang kurang atau habis, tolong dicatat di kertas. Lalu berikan catatannya pada saya. Biar nanti saya yan belanjakan. Supaya praktis pakai uang saya dulu aja. Nanti tinggal diganti dengan uang modal."
Wulan lalu berpikir sejenak.
"Nggak ada kebutuhan ternak yang harus dibeli, Mbak. Minggu kemarin Pak Jatminto udah belanja beberapa karung vitamin dan antibiotik. Buat stok sampai bulan berikutnya," jawabnya kemudian.
"Yakin? Serius?"
Wulan lalu mengangguk mantap.
"Mm... Buat maksi nanti mau kubelikan apa?"
Wulan sempat ternganga. Berkali-kali perempuan itu menggelengkan kepala. Berusaha menolaknya dengan halus. Namun Ajeng tetap memaksanya.
"Terserah Mbak sajalah," Wulan menyerah pada akhirnya.
"Oke, tolong kamu bereskan sisa kudapan ini ya, Lan. Saya pergi dulu."
"Siap, Mbak."
* * *
Falka sudah tertidur pulas di atas sofa. Bocah itu baru saja menyelesaikan prnya dengan dibimbing Ajeng. Diam-diam ia menyelinap keluar menuju garasi setelah pamit dengan Ratri.
Ia pun melajukan sedannya itu menuju sebuah minimarket di ujung jalan. Usai menuntaskan urusan berbelanja, Ajeng segera meluncur bersama kendaranya itu menuju sekolah Praha.
Sekian belas menit kemudian ia tiba di sebuah SDS berakreditasi A. Ajeng mengucapkan terima kasih pada sekuriti yang melebarkan celah antara gerbang dengan pilar gapura sekolah. Dibawanya masuk sedan itu ke area parkir yang dinaungi oleh dahan-dahan rimbun pohon tanjung. Ia lalu mematikan mesin begitu tiba di tempat itu. Dan segera bergegas keluar untuk menunggu Praha di bangku taman mungil di sudut lapangan. Seperti biasanya.
Saat ia hendak mengambil ponselnya dari dalam tas, sebuah suara menggema halus di telinganya.
"Permisi, Bu. Boleh saya duduk di sini?"
Ajeng menolehnya. Pada sosok pemilik suara itu. Yang terlihat menatapnya dengan wajah tak enak hati.
Laki-laki itu...
Laki-laki itu masih menunggunya untuk memberikan izin duduk di sebelahnya.
Dia… Ah, ya!
"Pak Aska!" serunya, hampir menjerit. "Anda yang datang ke peternakan saya kemarin siang, kan?"
Laki-laki itu terbengong sejenak. Ekspresinya terlihat begitu bodoh. Ia benar-benar tak mengerti. Apalagi ketika Ajeng melontarkan sesuatu begitu saja di kalimat terakhir.
"Maaf, maksud anda apa, ya?"
Ajeng lalu berdiri. Melontarkan tatapan padanya dengan wajah kesal.
"Pak, sebelumnya saya minta maaf atas pernyataan yang akan saya jelaskan," ucapnya hati-hati. "Sebetulnya saya sedikit kecewa dengan tindakan ceroboh yang telah anda lakukan. Bukannya saya tidak menghargai urusan pribadi Bapak, tapi kemarin itu anda datang ke peternakan saya sebagai tamu, dan saya tuan rumanya. Apakah pantas seorang tamu kabur begitu saja tanpa sepengetahuan sang tuan rumah?"
Ada kekecewaan yang begitu kental dalam suara tegas Ajeng. Laki-laki yang disebutnya bernama Aska itu makin terbengong-bengong. Tak ada segaris pun sorot main-main dalam mata Ajeng.
"Saya rasa Ibu salah paham," sergahnya.
"Salah paham bagaimana? Coba jelaskan!"
"Bu, kemarin saya ada di perpustakaan Gembiraloka sejak pukul dua siang hingga menjelang pukul lima sore. Dan yang paling penting adalah, nama saya bukan Aska. Tapi Aldo," balasnya dengan tenang. "Mungkin anda salah orang."
"Maksud anda ada orang lain yang mirip atau menyamar hingga terlihat serupa dengan anda, begitu?"
Mirip? Jangan-jangan…
Tiba-tiba sesosok laki-laki terlintas di benaknya. Ia mulai mengerti sekarang.
"Baik, begini saja, saya akan buktikan bahwa saya tidak bersalah. Kapan kita bisa bertemu lagi?"
"Sudahlah, tak perlu diperpanjang. Saya berbicara seperti ini hanya bertujuan agar Pak Aska tidak lagi ceroboh dalam mengambil tindakan saat keadaan darurat," sahut Ajeng acuh.
"Tidak. Saya tidak mau nama baik saya tercoreng hanya karena masalah kecil itu."
"Pak, udah, ya, nggak usah dibahas lagi," tolak Ajeng.
"Baik, nanti sore saya akan datang ke peternaakan anda. Akan saya bawa orang yang anda sebut 'Pak Aska' itu."
Ajeng melongo. Laki-laki itu sudah melangkah pergi saat suara anak perempuan memanggil namanya dengan sebutan 'Om' dari arah koridor kelas tiga. Bersamaan dengan langkah Praha yang menghampirinya di bangku itu.
* * *
Bersambung