Jumat, 16 Desember 2016

[Cerbung] Adoptee #6





                                  Enam


Ajeng merasa hampir mati begitu sedannya berhenti tandas di depan pagar rumahnya. Ujung nyala lampu pada fuelmeter hampir surut mmendekati huruf E. Napasnya terengah-engah tak karuan. Telinganya menangkap bunyi sepasang sandal yang menghentak tanah kian jelas mendekati gerbang.

Ia lalu keluar dari sedannya. Pintu gerbang berdecit kecil ketika ditarik dari dalam. Guntur buru-buru mengambil alih sedan untuk diparkirkan di garasi. Ajeng melangkah setengah gontai masuk ke dalam setelah mengucapkan terima kasih padanya.

Ia mendapati Falka dan Praha tengah belajar bersama di ruang tamu. Keduanya duduk manis di atas selembar karpet biru langit cerah. Dengan kepala setengah menunduk menekuni buku pelajaran yang dibacanya. Dan telunjuk kanan bergerak mengikuti alur jalannya mata.

"Selamat malam."

Keduanya menoleh cepat. Menjatuhi tatapannya tepat pada Ajeng dengan sangat antusias. Perempuan itu segera berlutut sambil tertawa ringan ketika kedua anak angkatnya itu menghamburkan diri ke arahnya.

"Oh, my children!"

Didekapnya mereka dengan sentuhan yang begitu hangat. Matanya terpejam. Berusaha menikmati setiap detik momen kebahagiaannya bersama Praha dan Falka. Perlahan rasa lelahnya mulai runtuh.

"Kenapa Bunda baru pulang?" Falka menarik diri dari dekapan Ajeng.

Praha pun turut melepaskan dirinya yang terikat dalam dekapan Ajeng. Ditatapnya sang ibu dengan tatapan menuntut. Namun Ajeng tak menjawab. Hanya mengirimkan sorot teduh dari matanya. Ia dan Falka lalu diperintah untuk membereskan bukunya sebelum digiring Bundanya menuju kamar.

Di dalam ruangan itu Falka kembali mengulang pertanyannya. Dengan rengekan yang mampu menerobos dinding kebungkaman Ajeng.

"Ada banyak data yang harus selesai direkap hari ini buat keperluan besok pagi," senyum Ajeng, membual. "Makanya Bunda terlambat pulang. Maaf, ya. Kalian jadi harus belajar di ruang tamu, deh."

"Nggak apa-apa kok, Bun," sahut Praha.

"Taapiii..."

Ajeng segera menoleh ke wajah Falka. Begitu pun Praha. Bocah tampan itu tampaknya sudah siap 'beraksi' dan memasang wajah jahilnya.

"Apa?"

"Seperti biasa."

"Oh, ok," angguk Ajeng, mengerti. "Lihat saja besok pagi."

                                   * * *

Sesuai perjanjian yang telah disepakati mereka bertiga - Ajeng dan kedua anak angkatnya, maka ia harus melakukan sesuatu untuk bocah cerdik dan gadis pra-ABG kesayangannya itu. Sebagai konsekuensi karena ia pulang terlambat tanpa kabar. Begitu pun yang harus dilakukan anaknya bila melanggar perjanjian.

Dan pagi yang dijanjikan Ajeng itu telah datang. Kedua anaknya segera menagih 'hak'-nya usai sarapan pagi. Saat hendak berangkat sekolah. Di salah satu sudut beranda rumah. Menahannya untuk pergi 'ngantor' hari itu.

"Ok, karena kesalahan Bunda kemarin malam, maka khusus hari ini, bukan Pak Guntur yang akan mengantar-jemput kalian, melainkan Bunda."

Praha terbengong sejenak sebelum menyadari sebait kalimat yang baru saja dilontarkan Bundanya dengan suara ringan. Sementara Falka segera menyelinap ke dalam sedan Ajeng yang telah siap dikemudikan lewat pintu kiri depan. Tampaknya bocah itu sedang memasang sabuk pengaman di tubuhnya.

"Ya udah, masuk aja," Ajeng membuka lebar-lebar pintu kiri belakang sedan, mempersilakan Praha menyusul adik angkatnya dengan nada setengah memerintah. "Nanti keburu telat, lho."

Gadis itu hanya menurut sambil menutup pintu rapat-rapat. Dan Ajeng turut bergabung dengan mereka di jok kemudi. Ia kemudian menyalakan mesin lalu membawa sedan itu untuk mulai bertarung menerobos kemacetan lalu lintas Jakarta.

                                   * * *

"Met pagi, Ma."

Yolanda mengulas senyum. Laki-laki itu menjatuhkan tubuhnya pelan di atas kursi makan. Disusul oleh Jordi.

"Wuiiih...!!! Ada nasi uduk!!!" seru Jordi dengan wajah bercahaya.

Yolanda menatap putra bungsunya dengan wajah pasrah ketika laki-laki itu melahap nasi uduk di atas piring makannya dan beberapa lauk pelengkapnya dengan rakus.

Kamu masih selalu saja bertingkah kekanak-kanakan, Di. Tidak sedewasa Aldo. Yolanda mengerjap pelan. Padahal aku berharap kamu akan segera menikah dan memiliki anak dengan perempuan baik-baik setelah Aldo menikahi Adgin. Tapi kalau begini terus... Ah, ya, Putri Jenggala! Dalam sekejap ratusan bintang segera memenuhi kedua matanya. Mengapa tiba-tiba aku berharap lebih padanya?

"Tumben nggak masak, Ma?" celetuk Aldo, yang menangkapnya dalam keadaan termenung.

Yolanda segera mengalihkan tatapannya pada anak laki-laki tertuanya itu. "Nggak sempat, Do," gelengnya.

"Lho, kenapa?"

Belum sempat Yolanda menjawab, Jordi sudah mendahuluinya.

"Papa masih ngambek, Ma?" sekilas Jordi melempar tatapannya ke arah kamar Irawan.

Yolanda mengedikkan bahu.

"Pagi-pagi sekali dia sudah berangkat. Mama jadi terbangun lebih awal ketika membaui aroma seduhan kopi. Jauh waktu sebelum kalian terjaga."

"Pasti karena ulahmu lagi!" rutuk Aldo.

"Aku cuma pinjam mobil Papa sebentar, kok," elak Jordi.

Aldo menatapnya setengah sinis. "Dan tanpa izin!" tukasnya meledek.

"Tapi, kan..."

"Sudah jangan ribut terus! Ayo sarapan!" Yolanda melera.

"Ma, aku kan masih cuti, jadi kalau hari ini Mama nggak nganter Nia dulu, gimana? Biar aku yang gantiin. Karena kebetulan hari ini aku juga nggak ada agenda acara khusus. Nanti sekalian kujemput juga deh," tawar Aldo.

"Kebetulan banget!" sambut Yolanda dengan wajah cerah. "Boleh, boleh! Soalnya nanti siang Mama juga mau ke sanggar buat nganterin kostum pesanan Bu Utari. Sekalian pantau langsung perkembangan anak didik di sana."

"Nia ke mana, Ma? Kok nggak ikut sarapan?" celetuk Jordi.

Yolanda menatapnya malas. "Kedua Om-nya aja yang bangun kesiangan. Tuh, keponakanmu lagi pakai sepatu di luar."

Kedua putranya terkekeh malu. Yolanda hanya memutar kedua bola matanya. Sambil melanjutkan sarapannya.

"Nek..."

Terdengar suara pintu depan setengah terbuka. Ketiga manusia di ruang makan menoleh ke arahnya. Seorang gadis kecil berambut cokelat tua menyembulkan kepalanya di antara pintu dan kusennya dari luar.

"Hari ini Nia diantar sama Om Aldo aja, ya?" Aldo segera menyusul Nia di teras depan usai menyelesaikan acara sarapannya.

Nia hanya mengangguk polos.

"Hati-hati, ya, Nak! Jangan ngebut sembarangan!!!" pesan Yolanda.

Laki-laki itu hanya mengangguk dari kejauhan, hampir tak kentara.

                                  * * *

Ajeng menepikan sedannya ke bahu trotoar jalan depan sebuah sekolah dasar. Pelan ia menoleh pada Praha. Gadis itu baru saja selesai mengikat tali sepatunya. Dikecupnya pelan pipi kanan Praha saat anak itu menyodorkan kepalanya ke wajah Ajeng.

"Jaga dirimu baik-baik, ya, Pra. Turuti nasihat guru. Jangan membuat masalah. Jaga hubungan baikmu dengan teman-teman. Tetap semangat belajar. Salam terima kasih Bunda pada gurumu," Ajeng menatap lekat-lekat kedua bola mata Praha dengah tubuh setengah membungkuk.

Gadis itu hanya mengangguk. Lalu mengecup pipi kiri Ajeng dengan lembut. Ia kemudian membuka pintu kiri belakang dan buru-buru keluar dari dalamnya. Praha segera melambaikan tangannya pada Ajeng saat sedan Ajeng mulai melaju pelan.

Kini hanya tersisa Ajeng seorang diri di dalam sedannya. Falka sudah sejak tadi diturunkannya di sebuah TK mungil tempat bocah itu bersekolah. Sedangkan Praha baru saja keluar dari sedannya tadi. 

Ia lalu menyalakan sebuah stasiun radio favoritnya. Sesekali perempuan itu ikut bersenandung mengikuti lirik lagu yang sedang diputar. Atau sekedar mengetuk-ngetukkan jari di atas stirnya.

Ia menghela napas. Dilajukannya sedan itu dengan tenang menuju SPBU terdekat. Persediaan bensin di tangkinya sudah hampir habis. Tanpa pulang terlebih dahulu ke rumah. Karena ia memang sudah pamit dengan Ratri sebelum berangkat. Dan setelah itu akan melanjutkan perjalanan menuju peternakan ayamnya.

Entah mengapa lalu lintas Selasa pagi itu lumayan bersahabat dengannya. Cukup lengang dan teratur. Sesuatu yang membuatnya sedikit lega sebelum mulai 'bertempur' dengan tantangan baru pada hari itu.

Sesekali ia melihat-lihat ke arah luar sedan dengan wajah bersinar. Diturunkannya kaca mobil kiri depan. Lalu ia melambatkan laju sedannya. Beberapa mahasiswa melangkah mantap memasuki pelataran sebuah universitas berada di samping kiri sedannya. Ia sempat menyapa sebagian di antara mereka yang menganggapnya seorang alumni paling senior di perguruan tinggi itu.

Aih, nostalgia dadakan. Ia meringis dalam hati. Jadi ingin kuliah lagi. Dinaikkannya kembali kaca mobil yang terbuka itu.

Beberapa menit kemudian ia sampai di SPBU yang ditujunya dan segara memasukkan sedannya dalam barisan antrian urutan terakhir. Tiba-tiba saja tatapannya terjatuh pada sosok laki-laki dan anak peerempuan berseragam murid SD yang masuk ke jok pengemudi sedan lain usai keluar dengan menenteng sebuah plastik besar berisi sesuatu dari minimarket dalam SPBU. Membuatnya hampir mengabaikan bunyi klakson mobil lain yang baru datang di belakangnya yang saling bersahutan menuntutnya untuk melajukan sedannya itu juga.

Pak Aska? Kayssa?! Jadi mereka...

                                   * * *

Jordi...

Mata Irawan menyipit. Ada rasa 'lain' dalam benaknya tentang pemilik nama itu. Yang tak terdefinisikan secara mendetail. Yang mengganggu hatinya sejak tadi malam.

Tapi...

Ia menggeleng tegas. Penglihatannya terhadap Jordi memang tak sebaik milik Yolanda. Tapi ia ayahnya. Boleh saja sewaktu-waktu penilaiannya setara atau bahkan jauh lebih baik dibanding pengamatan istrinya. Suatu hal yang tak dapat dipungkiri oleh siapa pun.

Dan rasa itu diam-diam mulai mengganggunya. Membuatnya tanpa sadar memberanikan diri berprasangka lebih jauh. Walau sebenarnya ia sendiri masih bersikeras untuk berkata tidak.

Anak itu... Hm... Tidak seperti biasanya. Dia...

Irawan lalu mendongak ke arah langit di luar kaca jendela ruangannya. Masih berwarna biru pekat. Diam-diam ia menyesali keputusannya untuk datang terlalu pagi ke kantor. Sebagai salah satu tempat 'kabur'-nya untuk menetralkan diri saat berselisih dengan keluarganya selain perpustakaan langganannya, museum miniatur otomotif, dan sanggar teater kuno milik kakeknya.

Pelan ia menyesap kopi hitam di dalam botolnya. Yang sengaja ia seduh sendiri saat Yolanda masih terlelap. Terasa sangat pahit dan begitu pekat di kerongkongannya. Namun sudah terlanjur tertelan. Segera diletakkannya botol berisi kopi sialan itu. Tiba-tiba ia teringat akan sepenggal pembicarannya dengan Yolanda kemarin lusa di sudut dapur.

"Merk kopi langganan kita stoknya kosong, ya, Ma?" celetuknya sambil merobek sudut bungkus kopi sachet di tangannya.

"Oh, itu," Yolanda meliriknya sekilas. "Mama sengaja nggak beli kopi instan yang udah di-mix dengan bahan lain. Soalnya selera takaran gula para jantan di rumah ini kan berbeda-beda."

"Aduh...," ia kemudian menopang wajahnya dengan salah satu telapak tangannya. "Cuma gara-gara gengsi aku jadi sebodoh ini!"

Dihembuskannya napas keras-keras. Ada hal lain yang sepertinya lebih terasa pekat di tenggorokannya dari pada seteguk kopi hitam tadi. Sepotong nama perempuan yang tak sengaja didengarnya keluar dari mulut istrinya kemarin petang. Yang mulai meliar dalam pikirannya sejak tadi malam hingga detik ini.

Dan sepertinya ia akan mulai membangkitkan kembali hobi lamanya yang diwariskan oleh Jordi. Menguntit seseorang dari akun media sosialnya. Lebih tepatnya akun Facebook milik sepotong nama itu. Sejak menit berikutnya.

                                   * * *

Bersambung


Sabtu, 29 Oktober 2016

[Cerbung] Adoptee #7



                

    Tujuh



"Pagi, Mbak."

Sapaan halus itu mengelus lembut telinganya. Ajeng menoleh. Ia urung meraih pintu ruang kerjanya. Didapatinya seulas senyum Wulan yang begitu cerah. Tertuju tepat di wajahnya.

"Pagi, Lan," balasnya kemudian. "Ada kabar baik apa pagi ini?"

Perempuan itu mengulum senyum. Dengan binar yang memenuhi matanya. Membuat Ajeng semakin penasaran.

"Itu, lho...," mata Wulan mengarah pada ruang kerja Hendra. "Kami..."

Seketika Ajeng terbahak. Ia paham betul apa yang dimaksud perempuan itu. Dan ia mengangguk ringan.

"Kapan?" mata Ajeng membulat.

"Kemarin," jawabnya malu-malu.

"Semoga langgeng, ya,” kedip Ajeng. "Kutunggu lho pajak jadiannya."

Wulan sempat terbengong. Namun ia segera menghembuskan napas lega begitu mendengar kekehan Ajeng meletus di udara.

"Ledekanku nggak usah diseriusinlah," ujarnya di sela tawanya. "Seriusin aja kerjaanmu itu. Apalagi sekarang ada new moodbooster, ya, kan? Jadi harus lebih semangat!" tangan kanan Ajeng bergetar seperti gerakan meninju dengan kepalan telapak tangan mengarah ke langit.

"Iya, Mbak. Saya permisi dulu, ya?"

"Oh, ya. Silakan."

Wulan sudah berlalu darinya. Ia segera masuk ke dalam ruangan mungil itu. Diam-diam rasa minder itu menyengat benaknya. Dienyahkan tubuhnya pelan ke atas sofa panjang di depan pintu. Sebetulnya tidak ada pekerjaan yang harus dilakukannya di ruangan itu. Semua urusan penataan file yang masuk maupun keluar sudah diserahkan sepenuhnya pada Hendra. Sehingga ia lebih leluasa untuk keluar-masuk kantor dalam pengawasan laki-laki itu. Termasuk menjemput kedua malaikat kecilnya. Dan perempuan tadi - Wulan, ia hanya bertugas sebagai customer service, atau sesekali menjadi asisten dadakan Ajeng.

Rasa itu...

Pelan ia mencoba untuk mengabaikannya. Setelah tujuh tahun yang lalu perempuan itu memutuskan hubungan istimewanya yang tak pernah ada kejelasan dengan sosok Mr. X yang ia kenal dari salah seorang teman kuliahnya lewat akun Facebook bernama pengguna 'Jejaka Muda Belia'. Dengan bantuan sahabat-sahabatnya tentunya sebagai mak comblang antara keduanya. Ketika ia masih terlalu polos dan belia kala itu. Sehingga ia tak mampu mengelak untuk dijadikan teman-temannya sebagai korban 'bully'. Meskipun ia sama sekali belum pernah melihat wajah aslinya. Karena pemiliknya tak pernah menampilkan foto asli di akunnya tersebut. Selalu foto tokoh kartun superhero yang ia publikasikan.

Ah, kenapa jadi kepikiran yang itu, sih?!

Empat tahun yang lalu ketika ia sedang berada dalam acara reuni dengan teman kuliah seangkatannya, ia baru diberitahu oleh salah seorang temannya bahwa akun Facebook asli Mr. X-nya bernama pengguna Jovan Renaldy, yang juga tak dipublikasikan foto pemiliknya sama sekali. Sedangkan akun Facebook yang diketahuinya itu hanya merupakan akun samarannya untuk menjahili orang lain di dunia maya. Termasuk Ajeng.

"Jadi kalian sendiri sama sekali nggak kenal orang itu?" tanyanya dengan nada tinggi waktu itu.

Keempat sahabatnya saling bertukar tatapan sebelum menggeleng. Seketika Ajeng menghembuskan napas dengan dramatis.

"Yang kita tahu cuma nama aslinya doang," timpal salah satu dari mereka.

"Siapa?" tanya Ajeng setengah berbisik.

"Jovan Renaldy."

Tak ada reaksi serius yang dikeluarkan Ajeng. Selain membulatkan bibir. Entah ia mempercayainya atau tidak.

                                   * * *

Morning, Ma.

Gimana kabar keluarga di rumah? Di sini kabarku miris banget. Bosan. Nggak ada kehangatan Mama. Nggak ada perdebatan seru Aldo dan Jordi. Nggak ada kelebayan Papa. He he he. Sorry, Ma. Aku juga kangen banget dengan gadis kecilku, Nia. Dia ngerepotin kalian banget, ya, Ma?

Oh, ya, tadi malam sekitar jam satu Mas Chandra udah pulang dari KL. Dan kabarnya dia baru tiba di Jakarta dini hari pukul dua lewat sepuluh menit. Kemudian langsung ke kantor buat siap-siap meeting di kantornya pagi ini.

Dia bilang sama aku, sengaja nggak pulang dulu ke rumah kami atau mampir ke rumah Papa. Katanya takut ketemu Nia dan jadi malas kerja gara-gara kangennya sama bocah itu terbalaskan. Mungkin menjelang siang atau sore nanti dia akan singgah ke rumah Papa buat jemput Nia.

Nggak usah khawatir, Ma. Esok lusa aku akan nyusul dan bergabung kembali dengan kalian. Di sini aku cuma tinggal menanti hari kepulanganku aja, kok. Jadi sampai dua hari ke depan aku benar-benar free. Dan kita bisa chatting-an kapan pun sepanjang sisa waktuku di sini.

Oh, ya, aku mau mandi dulu. Udah siang disini. Oke, sampai jumpa, Mamaku sayang. Titip salam buat keluarga di rumah. Nanti kita ngobrol lagi, ya?

Your lovely daughter,
Bella Claudia


Yolanda menggelengkan kepala. Diletakkannya ponsel di atas meja makan. Menurut perhitungannya, sebagian sisi dewasa si sulung Claudia menular pada Aldo dan sebagian sisi kekanak-kanakannya menurun pada Jordi.

Dan karakter Claudia sendiri? Perwatakan perempuan itu secara utuh merupakan gabungan antara sifat kedua adiknya. Hanya saja nilai plusnya, ia sedikit lebih dewasa daripada Aldo - sebagai anak putra tertua. Sehingga sebagai perempuan ia tergolong menikah lebih muda dibanding gadis lain yang sebaya dengannya waktu itu.

Yolanda adalah orang pertama yang mensyukuri pernikahan Claudia dengan Chandra bahkan jauh di atas rasa syukur kedua mempelai pengantin itu sendiri. Apalagi ketika tiga bulan setelahnya perempuan itu hamil anak pertama. Bertambah lengkaplah kebahagiannya.

Tapi aku dan Mas Irawan masih punya tugas yang belum selesai.

Ditariknya napas pelan-pelan.

Mungkin karena...

Deru klakson mobil menyentakkan kesadarannya. Lamunannya seketika buyar. Ia lalu bergegas menuju luar ketika mendengar suara seorang laki-laki memanggil namanya.

                                   * * *

Ajeng sedikit tersentak ketika pintunya diketuk dari luar. Dibukanya lebar pintu itu. Dan seulas senyum Wulan langsung menyambutnya.

"Sekarang?"

"Iya, Mbak," angguknya sopan. "Tadi Bang Hendra baru dapat kiriman email, katanya mereka udah hampir sampai di sini."

"Oke, aku ke sana sekarang."

Perempuan itu lalu meraih laptop di atas mejanya. Kemudian ia segera menutup dan mengunci rapat pintunya. Ia segera melangkah menuju ruang tamu peternakan. Di sanalah Ajeng dan kliennya akan bertemu. Di sebuah meja sedang yang dikelilingi tiga buah kursi berukir.

Dan kini ia sedang menunggu mereka di sana. Sementara Wulan sedang membuat jus jeruk dan menyajikan beberapa buah camilan oleh-oleh khas Semarang yang dititipkan Marina pada Tika di meja pantry.

Selang beberapa menit kemudian sebuah mobil memasuki pelataran parkir peternakan beratap kanopi putih. Ajeng lalu bangkit dan menghampirinya. Dua orang laki-laki keluar dari dalamnya. Yang satu berkemeja abu-abu dengan lengan panjang yang tergulung hingga ke siku dan yang lain berjas hitam tanpa dasi. Seketika ia terbengong.

Bang Chandra?

Laki-laki berjas itu menoleh ke wajah temannya yang sedang menutup pintu mobil saat menangkap tatapan kaget Ajeng pada laki-laki berkemeja abu-abu.

"Ajeng?"

"Bang Chandra! Apa kabar?" dijabatnya tangan laki-laki berkemeja abu-abu itu dengan wajah sumringah.

"Kabar saya baik. Kamu gimana?"

"Saya baik."

"Jadi kamu...," Chandra sedikit ternganga.

Mata Ajeng membulat. Mengkodekan Chandra untuk meneruskan kalimatnya yang sudah di ujung lidah.

"...pemilik peternakan ini?"

Barulah Ajeng menghembuskan napasnya sebelum mengangguk dan tersenyum. Chandra lalu menoleh pada laki-laki di sebelahnya. Mata Ajeng kemudian mengikuti gerakan tubuhnya.

"Oh, ya, Jeng, ini teman saya, Pak Keenan."

"Saya Ajeng."

Tangan Keenan lalu menyalaminya dengan hangat. Diulasnya senyum pada laki-laki itu. Yang dibalas dengan senyum paling ramah yang pernah dimilikinya.

"Keenan."

"Senang bertemu dengan anda," ucapnya tulus.

"Saya pun. Jadi kalian udah saling kenal?" Keenan melirik Chandra dan Ajeng secara bergantian.

Chandra mengangguk. "Dia juniorku waktu kuliah dulu."

"Kita masuk, yuk!" tangan Ajeng terbentang ke arah peternakan.

Ia lalu berjalan di depan keduanya. Diiringi oleh Chandra dan Keenan di belakang. Menuju ruang tamu.

Chandra adalah salah satu senior yang cukup akrab dengannya saat masih kuliah. Maka tak heran bila ia begitu senang ketika bertemu dengan laki-laki itu lagi. Apalagi laki-laki itu masih mengingatnya.

Hanya sekedar dekat. Tak pernah ada peluang untuk menjadi lebih.

Ajeng memang sempat menaruh harapan pada Chandra. Namun selama berteman dengannya, ia sendiri tak pernah menangkap sinyal 'lain' yang dikirimkan padanya. Sehingga ia tak berani melukai hatinya sendiri dengan harapan kosong itu.

"Ini ruang tamu peternakanmu, Jeng?"

Ajeng segera menoleh ke belakang sebelum mengangguk polos. Tiba-tiba saja ia sudah berdiri di depan bangunan utama peternakannya. Buru-buru ia membukakan pintu dan menarik dua kursi yang menghadap sebuah kursi yang membelakangi pintu. Sudah ada jamuan yang dibuat Wulan di atas meja itu.

"Silakan duduk."

"Terima kasih," ucap Chandra dan Keenan hampir bersamaan.

"Saya benar-benar mohon maaf sekali pada Bang Chandra dan Pak Keenan," sesalnya dengan perasaan bersalah.

"Untuk apa?"

"Ruang tamu saya kecil begini," desahnya malu. "Sajiannya juga kurang variatif. Soalnya saya belum sempat belanja kebutuhan logistik karyawan."

"Ah...," Chandra mengibaskan tangannya. "Ini sih, udah luar biasa banget buat kami. Betul kan Pak Keenan?"

"Iya," Keenan melirik Chandra sekilas sebelum mengalihkan tatapannya pada Ajeng. "Bu Ajeng, justru kami yang seharusnya minta maaf. Setiap ada meeting di luar, baru kali pertama kali saya dijamu sehormat ini di kantor rekan bisnis."

"Paling biasanya di kafe, ya, Pak," timpal Chandra. "Soal bayar makanan urusan masing-masing."

Ajeng terkekeh kecil sambil mengeluarkan laptopnya.

                                    * * *
  
Acara meeting itu berlangsung lancar. Kedua belah pihak sangat merasa diuntungkan dengan perjanjian kerja sama yang baru mereka sepakati.Berdasarkan perjanjiannya, mulai bulan depan, sesuai permintaan Keenan selaku kepala purchasing manager, peternakan Ajeng akan menjadi supplier beberapa puluh kilo daging ayam segar kepada pabrik bumbu penyedap masakan milik ayah Keenan.

Ajeng menghela napas. Chandra dan Keenan baru saja pamit sepuluh menit yang lalu. Ponselnya tiba-tiba berbunyi. Ditegakkannya benda itu di atas meja. Ia lau menggeser simbol jam beker besar berdering ke arah kiri layar hingga menghilang.

Sudah saatnya jemput, Falka.

Perempuan itu lalu bangkit dari kursinya. Dan mulai melangkah keluar ruangan. Tiba-tiba Ajeng menghentikan langkahnya. Ia kemudian membalikkan tubuh.

"Lan."

Wulan cepat-cepat mengangkat kepala. Menunda sejenak tugasnya mencatat pesanan dan kritikan serta saran konsumen yang masuk lewat berbagai media sosial pada jaringan komunikasi peternakan Ajeng.

"Ya, Mbak?"

"Saya mau jemput Falka di sekolahnya. Kemungkinan nanti nggak langsung balik ke sini. Sekalian mau beli kebutuhan logistik di pantry. Setelahnya langsung jemput Praha dan mengantarnya pulang. Baru deh, saya balik lagi ke sini."

"Jadi tugas saya sekarang apa?" tanya Wulan seperti biasanya.

"Kalau ada kebutuhan ternak yang kurang atau habis, tolong dicatat di kertas. Lalu berikan catatannya pada saya. Biar nanti saya yan belanjakan. Supaya praktis pakai uang saya dulu aja. Nanti tinggal diganti dengan uang modal."

Wulan lalu berpikir sejenak.

"Nggak ada kebutuhan ternak yang harus dibeli, Mbak. Minggu kemarin Pak Jatminto udah belanja beberapa karung vitamin dan antibiotik. Buat stok sampai bulan berikutnya," jawabnya kemudian.

"Yakin? Serius?"

Wulan lalu mengangguk mantap.

"Mm... Buat maksi nanti mau kubelikan apa?"

Wulan sempat ternganga. Berkali-kali perempuan itu menggelengkan kepala. Berusaha menolaknya dengan halus. Namun Ajeng tetap memaksanya.

"Terserah Mbak sajalah," Wulan menyerah pada akhirnya.

"Oke, tolong kamu bereskan sisa kudapan ini ya, Lan. Saya pergi dulu."

"Siap, Mbak."

                                   * * *

Falka sudah tertidur pulas di atas sofa. Bocah itu baru saja menyelesaikan prnya dengan dibimbing Ajeng. Diam-diam ia menyelinap keluar menuju garasi setelah pamit dengan Ratri.

Ia pun melajukan sedannya itu menuju sebuah minimarket di ujung jalan. Usai menuntaskan urusan berbelanja, Ajeng segera meluncur bersama kendaranya itu menuju sekolah Praha.

Sekian belas menit kemudian ia tiba di sebuah SDS berakreditasi A. Ajeng mengucapkan terima kasih pada sekuriti yang melebarkan celah antara gerbang dengan pilar gapura sekolah. Dibawanya masuk sedan itu ke area parkir yang dinaungi oleh dahan-dahan rimbun pohon tanjung. Ia lalu mematikan mesin begitu tiba di tempat itu. Dan segera bergegas keluar untuk menunggu Praha di bangku taman mungil di sudut lapangan. Seperti biasanya.

Saat ia hendak mengambil ponselnya dari dalam tas, sebuah suara menggema halus di telinganya.

"Permisi, Bu. Boleh saya duduk di sini?"
Ajeng menolehnya. Pada sosok pemilik suara itu. Yang terlihat menatapnya dengan wajah tak enak hati.

Laki-laki itu...

Laki-laki itu masih menunggunya untuk memberikan izin duduk di sebelahnya.

Dia… Ah, ya!

"Pak Aska!" serunya, hampir menjerit. "Anda yang datang ke peternakan saya kemarin siang, kan?"

Laki-laki itu terbengong sejenak. Ekspresinya terlihat begitu bodoh. Ia benar-benar tak mengerti. Apalagi ketika Ajeng melontarkan sesuatu begitu saja di kalimat terakhir.

"Maaf, maksud anda apa, ya?"

Ajeng lalu berdiri. Melontarkan tatapan padanya dengan wajah kesal.

"Pak, sebelumnya saya minta maaf atas pernyataan yang akan saya jelaskan," ucapnya hati-hati. "Sebetulnya saya sedikit kecewa dengan tindakan ceroboh yang telah anda lakukan. Bukannya saya tidak menghargai urusan pribadi Bapak, tapi kemarin itu anda datang ke peternakan saya sebagai tamu, dan saya tuan rumanya. Apakah pantas seorang tamu kabur begitu saja tanpa sepengetahuan sang tuan rumah?"

Ada kekecewaan yang begitu kental dalam suara tegas Ajeng. Laki-laki yang disebutnya bernama Aska itu makin terbengong-bengong. Tak ada segaris pun sorot main-main dalam mata Ajeng.
"Saya rasa Ibu salah paham," sergahnya.

"Salah paham bagaimana? Coba jelaskan!"

"Bu, kemarin saya ada di perpustakaan Gembiraloka sejak pukul dua siang hingga menjelang pukul lima sore. Dan yang paling penting adalah, nama saya bukan Aska. Tapi Aldo," balasnya dengan tenang. "Mungkin anda salah orang."

"Maksud anda ada orang lain yang mirip atau menyamar hingga terlihat serupa dengan anda, begitu?"

Mirip? Jangan-jangan…

Tiba-tiba sesosok laki-laki terlintas di benaknya. Ia mulai mengerti sekarang.

"Baik, begini saja, saya akan buktikan bahwa saya tidak bersalah. Kapan kita bisa bertemu lagi?"

"Sudahlah, tak perlu diperpanjang. Saya berbicara seperti ini hanya bertujuan agar Pak Aska tidak lagi ceroboh dalam mengambil tindakan saat keadaan darurat," sahut Ajeng acuh.

"Tidak. Saya tidak mau nama baik saya tercoreng hanya karena masalah kecil itu."

"Pak, udah, ya, nggak usah dibahas lagi," tolak Ajeng.

"Baik, nanti sore saya akan datang ke peternaakan anda. Akan saya bawa orang yang anda sebut 'Pak Aska' itu."

Ajeng melongo. Laki-laki itu sudah melangkah pergi saat suara anak perempuan memanggil namanya dengan sebutan 'Om' dari arah koridor kelas tiga. Bersamaan dengan langkah Praha yang menghampirinya di bangku itu.

                                   * * *

Bersambung


Jumat, 28 Oktober 2016

[Cerbung] Adoptee #5



                      Lima


"Harusnya kamu tuh minta izin dulu sama Papa! Jangan langsung bawa kabur gitu aja! Otakmu tuh masih normal nggak sih?! Coba bayangkan, gara-gara ulahmu itu Papa terpaksa meninggalkan setumpuk pekerjaan yang harus segera tuntas besok cuma untuk keliling kompleks  mencari MPV-ku yang kamu bawa lari!! Bayangkan itu terjadi padamu!!! Nyesek, Di! Papa kecewa sama kamu!" omel Irawan pada Jordi.

Papa lebay!

"Ok, mungkin sikap Papa memang berlebihan! Tapi ini darurat, Di! Akibatnya Papa terpaksa membatalkan janji dengan klien yang paling berpengaruh di Lulla-Lolly! Masih untung dia nggak minta ganti rugi! Keterlaluan kamu, Di!"

"Pa..."

Suara halus Yolanda menyapa lembut telinganya. Perlahan emosinya mulai menyurut. Ditolehnya perempuan ayu itu. Yang menatapnya penuh cinta.

"Kamu uruslah anakmu, Ma," ucapnya kemudian. "Aku mau ngecek laporan anak buahku dulu."

Laki-laki itu lalu melenggang menuju ruang kerjanya. Yolanda mengalihkan tatapannya pada Jordi. Putra bungsunya itu membalasnya dengan wajah memelas. Sekilas dibelokkannya dagu ke arah kiri. Dengan wajah datar. Lalu putra bungsunya itu menyingkir.

Jordi melangkah kecil dan menjatuhkan tubuhnya di atas sofa besar di belakang Yolanda. Matanya masih menatap perempuan itu dengan wajah penuh harap. Yolanda segera menghampirinya dan lalu duduk santai di sebelah kanannya. Kemudian melingkarkan tangan kirinya di sekeliling bahu Jordi.

"Ada apa sebenarnya, Di?"

"Mm..."

"Soal perempuan itu? PutriJenggala?"

Jordi hampir terlonjak kaget. Ia terbatuk kecil. Sekuat tenaga dipaksanya otak untuk bekerja lebih keras mengumpulkan kata-kata yang berceceran di luar daya pikirnya saat itu. Tatapan Yolanda masih menghujam kedua matanya dengan tajam. Ia benar-benar tak dapat menghindarinya.

"Jordi-ku pemuda yang jujur, kan?"

"Ya...," jawabnya acuh.
"Jelaskan semuanya, Nak! Biarkan Mama tahu yang sesungguhnya dari mulut anak Mama sendiri."

"Tapi..."

"Jangan membuat dugaan bahwa Mama telah meng-hack ponselmu. Kamu lupa log out akun Facebook-mu, Di. Tadi siang Mama nggak sengaja masuk ke kamarmu yang super berantakan karena pintunya terbuka. Lalu Mama mencoba membereskannya dan Mama melihat sebuah akun Facebook perempuan terpampang di laman pencarian medsosmu itu di layar ponselmu."

"Aku cuma iseng-iseng nge-stalk akun Facebook perempuan itu aja, kok. Nggak lebih," elaknya dengan gugup.

"Aku ibumu, Di. Aku tahu kamu berbohong," balas Yolanda pelan, tajam.

Jordi mematung seketika. Dialihkannya tatapan dari wajah Yolanda. Namun perempuan itu tetap tak menyerah untuk menuntutnya menjawab jujur.

"Mama nggak pernah melarang kamu untuk nge-stalk akun medsos siapa pun, Di. Kamu nggak perlu takut untuk jujur," ucapnya ringan. "Mungkin...," Yolanda mendesis. "Kau menyembunyikan sesuatu."

Jordi menoleh cepat ke wajah Yolanda. Dahinya mengernyit. Menentang sorot tajam tatapan sang ibu. Lalu ia mendengus. Dengan wajah setengah kesal.

"Aku nggak nyembunyiin apa-apa, kok," sahutnya sinis.

"Serius?" ledek Yolanda.

"Dia bukan siapa-siapa aku!" cetasnya sengit.

Yolanda terkekeh kecil. Baginya pribadi, laki-laki muda itu tetaplah sesosok batita polos yang menggemaskan. Meskipun sesekali ulah Jordi membuatnya dan Irawan kehabisan akal.

"Mama nggak nuding kalau dia siapa-siapa kamu lho, Di," celetuk Yolanda.

"Iya, tapi maksudku...," Jordi tergagap.

"Sebenarnya Mama cuma mau nanya mengenai alasanmu membawa kabur MPV tanpa izin Papa," potong Yolanda. "Apakah ada hubungannya dengan perempuan itu?" selidiknya

Tubuh Jordi tertegak.

"Enggak, Ma. Tadi aku pakai MPV Papa itu buat ketemu klien."

"Klien atau temen?"

"Udah lama kok aku nggak hang out, Ma. Males. Bosen. Monoton."

Yolanda mengangguk. Ia tahu betul bahwa putra bungsunya memang telah lama tak menjalani kebiasaannya itu.

"Bukan apa-apa. Kamu kan tahu sendiri Papamu orangnya seperti apa..."

Lebay! sahut Jordi dalam hati.

"Ya udah, hampir jam tujuh kayaknya," diliriknya jam dinding di belakang Jordi. "Mama pamit ya, Nak."

"Mau kuantar?" tawar Jordi.

"Nggak usah! Nanti Papamu malah kebakaran jenggot lagi," dikeluarkannya sebuah kunci mobil dari dalam saku.

"Hati-hati, ya, Ma."

Yolanda mengangguk lalu meninggalkan laki-laki itu sendirian di atas sofa. Langkah tegaknya semakin membawanya sampai ke depan pintu. Namun saat hendak meraih handle-nya, setengah tubuhnya berbalik dan menjatuhkan tatapannya ke wajah Jordi.

"Ada yang ketinggalan, Ma?"

"Enggak. Mama cuma mau pesan sesuatu," jawabnya dengan nada serius.

"Pesan apa?"

"Hati-hati, Di."

Jordi melongo.

"Hati-hati naksir sama Putri Jenggala," sahut Yolanda sambil menarik handle pintu lalu menutupnya.
Dari dalam, Jordi dapat mendengar derai tawa Yolanda yang mengiringi lari kecil perempuan itu menuju SUV-nya di garasi. Laki-laki itu tersipu. Dan merasa tergelitik dengan sepotong nama yang mulai menghantui pikirannya.

Ajeng. Putri Jenggala.

                                    * * *
Dini memperhatikan setiap langkah yang dilakukan Tika saat mengajarinya menyajikan ice fruit tea dengan wajah serius. Perempuan itu sangat terlihat luwes dan terampil. Membuat Dini takjub melihatnya.

"Saya pikir bikin ice fruit tea itu nggak ribet-ribet banget," diliriknya Dini sekilas. "Hampir sama kayak nyeduh es teh manis rumahan. Cuma bedanya ini dicampurkan air perasan sari buah sesuai selera. Makanya saya yakin banget kalau kamu pasti bisa meraciknya sendiri," sambungnya sambil menyisipkan sekeping irisan lemon segar di bibir gelas berisi empat per lima gelas ice lime tea.

"Aku boleh coba buat sendiri nggak? Kayaknya gampang deh, Mbak," ucap Dini ragu.

Tepat pada saat itu ponsel Tika berdering kecil. Diraihnya benda lebar itu di saku rok panjangnya. Ia lalu menggeser gambar gembok ke sebuah lambang berbentuk amplop di atasnya pada bagian tengah layar.

"Oh, boleh. Silakan. Aku tinggal dulu, ya?Bu Marina panggil aku soalnya."

"Oh, iya. Nanti kalau sudah selesai saya hubungi Mbak Tika atau bagaimana?"

"Mm... Saya rasa pelatihan hari ini sudah cukup. Tadi kamu juga sudah lolos tahap uji penyajian beberapa minuman ringan yang disediakan di sini. Biar nanti saya sendiri yang bereskan semuanya. Sekarang kamu boleh pulang," sahutnya tegas.

"Terima kasih, ya, Mbak," ucap Dini tulus.

"Iya. Eh, aku lupa, Din. Ada titipan dari Bu Marina buat kamu dan Ajeng," Tika meraih tas kertas bermotif batik dari atas rak piring mungil lalu menyodorkannya pada Dini.

"Eh, makasih lho, Mbak. Aduh, jadi ngerepotin. Salam dan terima kasih buat Bu Marina, ya, Mbak. Maaf saya nggak sempat pamit. Takut mengganggu," ucapnya malu-malu.

"Sama-sama, Din. Nanti saya sampaikan, deh."

"Selamat sore. Permisi."

Dini kemudian beringsut dari pantry Coffee Day khusus trainning. Hampir bersamaan dengan langkah Tika meninggalkan dan mengunci tempat tersebut. Untuk menemui Marina.

                                   * * *

Dicta dan Ringgo melirik Kemuning secara bergantian. Dalam posisi kepala tertunduk. Di sebuah bangku panjang ruang tamu rumah Kemuning.

"MEMALUKAN!!!"

Suara tajam Kemuning menghunus tepat ke dalam lubang telinga keduanya. Tak ada satu pun alasan yang masuk akal saat itu. Tak ada sebutan yang baik untuk siapa pun yang menyelinap masuk ke ruangan orang lain tanpa izin dari pihak yang bersangkutan. Celakanya kedua putra Kemuning itu melakukan perbuatan terlarang tersebut prradanya.

"Mama nggak habis pikir!!! Ditinggal keluar sebentar, kalian langsung ngenggeledah kamar Mama!!! Nggak sopan!!! KALIAN KETERLALUAN!!!" jerit Kemuning.

Perempuan itu berusaha mengatur napasnya. Tatapannya yang menghujam wajah kedua putranya mulai menyurut. Diangkatnya dagu mereka secara bergantian secara paksa.

"Coba jelaskan pada Mama! Apa tujuan kalian menjamah kamar Mama tanpa izin? Ya, kamar ini memang pernah dimiliki kalian. Tapi itu dulu!!! Sekarang kamar ini menjadi hakku sepenuhnya!!!"

"Kami...," Dicta mulai angkat suara pada akhirnya.

"Kenapa?!"

"Kami hanya ingin memastikan pernyataan Mama kalau Papa memang benar-benar sudah meninggal. Mencari bukti kuat ucapan Mama tersebut. Atau sekedar menemukan selembar-dua lembar foto Papa. Dan ini semua salahku, Ma. Aku yang mengajak Ringgo untuk melakukan tindakan asusila ini. Kalau..."

"Cukup!!!"

"Hukum aku aja, Ma. Ringgo nggak salah," lanjut Dicta.

Kemuning menggeleng-gelengkan kepala.

"Jadi ini alasan kalian datang ke sin?!"

"Oh, nggak. Kami datang ke sini sebenarnya untuk menyetorkan sejumlah uang yang diminta Mama tempo hari," jawab Ringgo santai.

"Dari Ajeng?" selidik Kemuning.

Ringgo melempar tatapannya pada Dicta. Abangnya tak membalas. Menoleh sedikit pun tidak. Ia lalu menggeleng kecil.

"Lantas uang siapa yang kamu pinjam?"

"Aku nggak pinjam uang siapa pun. Itu uang dari gajiku bulan ini plus SPP kuliah satu semester," sahut Dicta polos.

Kemuning mendengus napas kesal.

"Gila kamu, Dict! Terus nanti kamu makan apa???"

"Urusan nanti, Ma. Aku masih punya uang simpanan."

"Kenapa harus uang kamu, sih?"

"Mbak Ajeng sepertinya sudah tahu yang sebenarnya, Ma. Keadaan kita sudah nggak aman," jawab Ringgo.

Kemuning terkejut. Ia melongo. Seolah ada dua sosok wajah yang bermain di benaknya sedang menertawakan kebodohannya. Diam-diam ia menelan ludah.

Mbak Lidya? Panji?

                                  * * *

"Beneran, Bu?" mata Dini membulat.

...

"Ok, makasih."

Perempuan itu menghembuskan napas keras-keras. Diletakkannya ponsel di dalam laci. Ia lalu menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi. Diam-diam sesosok makhluk cerdik menyelinap ke dalam pikirannya.

Ah, anak ajaib itu!

Ia masih ingat betul bagaimana anak ajaib yang bermain dalam pikirannya itu ditemukan Ajeng di sebuah halte sekitar kompleks perumahan majikan orang tuanya. Menempati ujung bangku halte sambil menghitung lembar-lembar lusuh uang kertas bernominal rendah di tangannya. Dengan berpenampilan yang kurang layak.

                                  * * *

"Kelihatannya dia anak baik, ya, Din?"

Dini menoleh. Ia mendapati seraut wajah Ajeng yang penuh dengan rasa iba. Diarahkannya kedua mata pada sosok mungil di luar sedan yang ditatap majikannya sejak tadi.

"Kayaknya sih begitu," sahutnya jujur.

Ajeng segera turun dari sedannya. Dihampirinya sosok anak ajaib itu. Ia lalu duduk di sampingnya dan mulai mengajukan beberapa pertanyaan dan sebuah tawaran.

"Namamu siapa, Nak?"

Anak ajaib tersebut masih berumur lima tahun saat itu. Disimpannya uang itu di saku celana. Ia menggeser tubuhnya ketika Ajeng mendekatinya. Berusaha menjauh. Dengan tatapan penuh curiga.

Bocah itu masih terdiam. Menatap Ajeng dengan wajah ketakutan. Bahkan ketika Ajeng mencoba menggapai tangannya.

"Kamu nggak perlu takut," ucap Ajeng lembut. "Namamu siapa?" ulangnya.

"Praha," sahut bocah itu lirih.

"Oh... Nama yang menarik," Ajeng kemudian mengulurkan tangan kanannya. "Perkenalkan, nama saya Ajeng."

Lalu Praha mencoba menyentuh jemari Ajeng yang terulur padanya. Dan menjabatnya dengan tangan mungilnya yang tak membuat Ajeng jijik sedikit pun.

"Ibu Ajeng," Praha menyebut nama perempuan itu.

Ajeng tersenyum. "Ikut saya yuk, Nak?"

Namun Praha menggeleng. Sedih.

"Kenapa?"

"Aku sedang menunggu kedatangan bus."

"Biar Ibu yang antar kamu pulang," ajak Ajeng setengah paksa.

Praha menggeleng lagi. Lalu menunduk. Ia tak berani menatap mata teduh Ajeng.

"Berdasarkan rutenya, bus yang akan kutumpangi melintasi kantor polisi. Aku akan turun di sana."

Kini ganti Ajeng yang menggeleng. Ia terkejut. Untuk apa?

"Buat apa, Pra?"

"Bu Ajeng tak perlu tahu. Ini urusanku."

Ajeng makin terkejut. Dibanding bocah lain yang sebaya dengannya, Praha terlihat lebih menarik di matanya. Dan jauh lebih mandiri.

"Kamu sebetulnya mau apa di kantor polisi?" tanya Ajeng heran.

"Teman-temanku...," Praha mengangkat kepala. "Diculik preman," ia kembali menunduk.

"Dan kamu mau lapor polisi???" Ajeng menaikkan suaranya.

Praha tak menjawab. Bocah itu juga tak mengelak ketika Ajeng menggiringnya masuk ke dalam sedan. Di jok belakang. Dan melajukan sedannya ke sebuah tempat.

                                    * * *

Tika mengetuk pelan pintu ruang kerja Marina. Perempuan itu kemudian masuk setelah dipersilakan oleh pemiliknya. Ia lalu diperkenankan untuk duduk di seberang Marina.

"Bagaimana?"

"Kelihatannya dia sangat menikmati pekerjaan barunya."

"Apakah dia curiga?"

Tika menggeleng tegas.

"Menurutmu, sebaik apa potensi kerjanya?"

"Dia memiliki kualitas kepandaian memasak yang sangat baik. Penataan hidangannya sangat apik. Saya sangat tidak merasa terbebani untuk diembankan tugas memberikannya bimbingan dan pengarahan dalam masa tahap pelatihannya sebagai seorang pramusaji baru."

"Sebetulnya saya sangat yakin akan kemampuannya. Hanya saja saya khawatir bila suatu saat nanti ia mengetahui misi rahasia kita."

"Ada apa sebenarnya, Bu?"

"Maaf, Tik. Saya belum bisa membocorkan jawabannya sekarang."

Tika termangu. Dan berusaha mengerti.

"Tolong kamu jaga rahasia ini baik-baik, ya? Perlakukan dia seperti pramusaji baru pada umumnya."

"Saya tidak akan mengecewakan Ibu."

"Soal gaji tambahan, biar nanti aku sendiri yang mengatur."

Tika mengangguk. Marina mempercayainya. Perempuan itu amat merasa bersyukur atas tanggungjawab kinerja yang dipikul asistennya. Membuatnya merasa aman untuk menyerahkan 'kekusaannya' sementara pada suatu waktu apabila ia sedang sibuk menyelesaikan urusan bisnisnya yang lain.

"Ok, kamu boleh pergi."

Tika lalu bangkit dan keluar dari ruangan itu usai mengucapkan permisi.

                                     * * *

Bersambung


Senin, 03 Oktober 2016

[Cerbung] Adoptee #4




                      Empat 



Ecilia mengamati pintu ruang periksa kehamilan yang berada di depannya. Sesekali ia juga menoleh ke arah satu per satu pasien bernomor antrian lebih kecil yang keluar-masuk ruang tersebut. Bunyi jam yang bekerja di bagian atas dinding di belakangnya terdengar cukup jelas. Meskipun antrian rumah sakit langganannya lumayan penuh, namun tidak ada satu pun pasien lain yang bisa diajaknya sekedar berbincang ringan seputar masalah kesehatan. Karena ia cukup tegang saat itu. Sekitar sembilan puluh delapan persen dari mereka adalah lansia pria maupun wanita yang hendak menjalani terapi usai menjalankan perawatan inap secara intensif di rumah sakit tersebut. Sedangkan sisanya adalah ibu hamil yang akan melahirkan dan beberapa penderita cacat fisik yang mengalami sakit ringan. Terlihat sangat monoton dan menjenuhkan. Ia pun menolehkan kepalanya ke wajah Lidya.

"Bu?"

"Ya?"

Tatapan Ecilia dan Lidya saling bertemu.

"Ibu ingat nggak waktu Mbak Ajeng bilang kalau Bu Marina itu salah satu tantenya?"

"Oh, iya, Ibu ingat. Kenapa, Nak?"

"Menurut Ibu bagaimana?"

"Ma-ri-na," Lidya memainkan nama itu dalam pikirannya. "Wanita itu... Dia bukan seorang penjilat. Bukan juga pengkhianat," Lidya menggeleng pelan. "Dan sepertinya Ajeng telah menemukan partner yang tepat."

"Bukan itu...," desah Ecilia.

"Lalu?"

"Aku bingung, Bu," Ecilia menatap Ratri, bimbang. "Pakdhe Seno beristrikan Budhe Sasti. Pakdhe Surya suami dari Budhe Galuh. Ibu bersuamikan Bapak. Setahuku, Bapak kan cuma punya dua saudara laki-laki. Lantas Ibu Marina istrinya siapa?"

Lidya membeku di atas kursinya. Tiba-tiba saja ia seolah terperangkap dalam masa lalunya. Ketika ia melakukan semua di balik kejanggalan yang dipertanyakan Ecilia. Ia limbung seketika.

                                    * * *

Jordi segera mengangkat ponselnya yang bergetar di saku baju. Sepotong nama perempuan tertera di bagian atas layar. Hampir membuatnya jengah.

"Ya?"

...

"Dimana?"

...

"Oh, ya. Sama-sama."

Jordi menutup teleponnya. Ia mas menggenggam ponselnya. Tak segera meletakkannya.

Ajeng? Putri Jenggala?

Laki-laki itu kemudian mengetikkan sesuatu di laman pencarian Facebook. Ketika hasilnya muncul, dipilihnya akun pada deret pertama.

Hm... Lumayan. Cantik juga.

Jordi memandangi foto sampul pada sebuah akun Facebook bernama pengguna Putri Jenggala dengan setengah kagum. Pelacakannya berlanjut hingga ke bagian bawah akun. Tak ada informasi lebih yang didapatkannya dari akun tersebut. Selain...

Jadi ini peternakannya.

Jordi lalu mencatat alamat yang tertera dalam salah satu foto di sebuah kiriman akun tersebut pada sebuah kertas. Sedetik kemudian ia tercenung. Masih terbayang di benaknya seraut wajah ayu perempuan pemilik akun Facebook Putri Jenggala yang terpampang jelas di bagian foto sampul.

Ia mengangkat kepala. Berkali-kali dikerjapkannya mata sambil menghitung-hitung keputusannya. Rupanya ia masih bimbang untuk mengerjakan tugasnya itu. Mengerjai perempuan yang ditujukan Kemuning padanya.

Terlalu cantik... Eh!

Ia menggumam setengah sadar. Tatapannya beralih pada sebuah MPV di luar jendela ruang kerjanya. Tiba-tiba saja sebuah ide jahil melintas di pikirannya.

Mengapa tidak?

                                    * * *

"Jadi kapan?"

Ringgo terdiam sejenak. Kepalanya setengah tertunduk. Ia kemudian mendongak cepat hingga lalu tatapannya jatuh di wajah abangnya.

"Kapan pun bisa," jawabnya datar. "Aku nggak punya ide apa-apa. Yang penting situasi aman dan kondusif," sambungnya.

"Okelah. Kalau ada kesempatan  besok juga bisa, kok. Kamu ada tugas?"

"Ada, sih. Nanti kuusahakan agar bisa selesai sebelum deadline-nya tiba. Banyak banget. Makanya besok aku mau bangun lebih pagi," Ringgo mulai mengantuk.

Dicta manggut-manggut sambil menarik selimutnya perlahan.

"Aku tidur duluan ya, Mas. Selamat malam."

"Selamat malam."

Dicta mengamati seraut wajah adiknya yang mulai terlelap. Seraut sisa wajah polos seorang bocah kecil yang selalu mampu membuatnya hatinya dipenuhi kelegaan. Seraut wajah milik seorang Ringgo. Gilang Anggoro. Alias Edricko Davin. Putra bungsu Panji dan Ilde yang menghilang tanpa jejak di sebuah taman bermain, dua puluh tahun yang lalu.

                                    * * *

Ajeng melangkah cepat menuju sudut peternakan. Dihampirinya Hendra yang sedang asyik berkutik dengan netbook-nya. Kepala laki-laki itu terangkat begitu mendengar ketukan langkah sepatu bergerak mendekat ke arahnya.

"Hen, aku mau pulang. Sudah waktunya. Kalau pekerjaanmu sudah selesai, tolong siap siaga dengan ponselmu. Jadi bila ada sesuatu yang penting, aku nanti gampang menghubungimu," ujarnya.

"Mbak kayaknya ada urusan penting, ya?"

"Iya. Ini aku juga mau pergi. Makanya tolong, aku mohon, jangan sampai ponselmu nggak bisa kuhubungi."

Hendra lalu mengangguk ringan. Tanpa basa-basi, Ajeng segera bertolak ke area parkir. Menjemput sedannya. Dan segera meluncurkannya ke alamat yang tertera dalam pesan singkat yang dikirimkan Panji siang tadi.

Perempuan itu mengintip sekilas langit di luar dari balik kaca jendela sedan. Langit hampir menggelap sempurna di luar sana. Setengah mati ia berusaha menahan diri untuk bersikap tenang. Entah mengapa lalu lintas tampak tak mendukung keinginannya saat ini. Menemui Panji.

Ia terpaksa menghentikan sedannya tepat di belakang antara SUV dan bus kota yang bersisian sangat dekat. Tak ada celah untuk menyeruak di antara keduanya. Bahkan sepeda motor pun tetap harus sabar menunggu berurainya segala macam kendaraan besar di depannya.

Pandangan Ajeng melayang ke jam digital pada dashboard sedannya. Pukul tujuh malam lewat sekian puluh detik. Pelan ia menghela napas.

Ternyata aku lumayan ngebut juga. Ajeng tersenyum dalam hati. Untung baru jam tujuh.

Perempuan itu masih sempat memeriksa perkembangan pada ponselnya sebelum melaju pelan ketika sebuah SUV di depannya sudah tandas entah ke mana. Perjalanan selanjutnya sama sekali tak bermasalah sedikit pun. Dan pada kilometer kesembilan dari peternakannya, ia memasukkan sedannya ke sebuah pelataran parkir sebuah sekolah kecil di ujung jalan.

Ia sengaja tak memilih kafe atau restoran untuk menemui Panji. Ada beberapa kendala yang melarangnya untuk melakukan itu. Terutama kesibukan mereka masing-masing.

Dari jarak sekitar tujuh meter tampak olehnya Panji yang sedang duduk di sebuah kursi panjang tanpa sandaran tengah mengamati arloji kecil di pergelangan kirinya. Ajeng tersenyum jahil. Ia sengaja membunyikan klakson hingga Panji tersentak dan segera melempar pandangannya ke arah sumber suara.

Ajeng terkekeh. Panji tertawa kecil sambil melangkah ringan menghampiri sedan Ajeng. Perempuan itu memarkirkan sedannya dengan cekatan dan segera menyambut langkah laki-laki di depannya.

"Macet, Jeng?" Panji menggiring Ajeng ke kursi panjang yang didudukinya tadi.

"Begitulah. Wajar. Sudah biasa."

Panji mengangguk ringan sambil mencari awalan yang tepat untuk membuka obrolan. Namun ternyata Ajeng mendahuluinya.

"Jadi Pak Panji yakin kalau otak dari rencana teror yang saya alami itu adalah Bu Kemuning?"

"Siapa lagi?"

Ajeng duduk terdiam. Sebetulnya ia mempercayai Panji seutuhnya. Hanya saja tanda tanya itu masih berputar-putar di benaknya. Tentang siapa Kemuning sebenarnya. Dan apa yang terjadi di balik punggungnya di luar sana pada masa silam. Membuatnya terpaksa menanyakan hal itu pada Panji.

"Yang kamu tahu Kemuning cuma sekadar penculik merangkap ibu tiri Dicta dan Ringgo, kan?"

Ajeng tak menjawab. Pun tak memberikan tanda isyarat apa pun. Ditatapnya Panji baik-baik. Membiarkan laki-laki itu menjawab pertanyaannya sendiri.

"Kemuning itu dulu namanya Respati, Ajeng. Perempuan itu kemudian mengganti namanya menjadi Kemuning seperti yang kau ketahui sekarang ini agar orang-orang di masa lalunya sulit mendapatkan data dirinya. Dia mantan pacarku. Adik kandung Lidya. Adik ipar Mas Saka. Jadi kini kau telah tahu semuanya. Jelas, kan?" Panji membuka kedua telapak tangannya ke udara.

Ajeng hanya terbengong tanpa ekspresi. Ada bermacam rasa saling berkoalisi untuk menyesakkan dadanya. Tubuhnya lemas seketika.

"Pantas saja...," desis Ajeng geram.

"Kenapa?"

"Yang kutahu istrinya Pak Lik Saka itu Tante Marina. Bukan... Bu Lidya," suara Ajeng melemah.

"Tunggu dulu, Marina mengaku kalau suami dan anaknya sudah meninggal karena kecelakaan. Ini sebetulnya bagaimana, sih? Kok malah jadi rumit gini?"

"Iya, Pak," Ajeng mengangguk pelan. "Tujuh belas tahun yang lalu ia memang pernah mengalami kecelakaan. Beruntung Tante masih bisa terselamatkan. Tapi tidak dengan Pak Lik Saka dan Cinde, putri tunggal Tante Marina. Keduanya dinyatakan menghilang dan hingga kini kabarnya tidak pernah lagi terdengar lagi."

"Jeng..." Panji menepuk bahu kiri Ajeng.

Perempuan itu menegakkan wajahnya. Menatap Panji lebih serius. Jantungnya telah bersiap untuk mempercepat degup yang tak terkendali.

"Ada apa?"

"Ecilia...," bisik Panji dengan mulut terbuka.

Ajeng terhenyak. Dan jantungnya mulai berdegup lebih kencang. Matanya setengah mendelik. Tak ada yang dapat dilakukannya. Selain membeku hingga langit benar-benar gelap sempurna.

                                     * * *

"Mama mana, Dik?"

Dicta menjatuhkan tubuhnya di atas bagian kosong kursi di sebelah Ringgo tanpa permisi. Pemuda itu menatap adiknya dengan antusias. Yang ditatap masih sibuk dengan laptopnya.

"Ke pasar, Mas," sahutnya kemudian.

"Kalau begitu sekarang aja. Mumpung Mama lagi pergi," ujar Dicta penuh semangat.

"Tapi..."

"Udah, ayo!"

Ringgo menegakkan tubuhnya tiba-tiba. Ditolehnya sang abang dengan wajah gembira bercampur ragu. Ia lalu mengangguk cepat. Dan segera mengikuti langkah Dicta menuju kamar Kemuning usai menutup laptopnya.

Keduanya setengah bersorak saat berhasil membuka pintu kamar perempuan tersebut yang tidak terkunci. Dicta lalu melebarkan pintu dan menarik adiknya masuk ke dalam. Ringgo segera melacak isi laci dan lemari untuk mendapatkan dokumen penting yang dibutuhkannya. Sementara Dicta mengecek setiap sudut dan bawah ranjang.

Hampir satu jam mereka sibuk mengobrak-abrik kamar Kemuning tanpa rasa bersalah. Dan keduanya benar-benar tak mendengar ketukan pintu rumah dari luar. Bahkan sebuah teriakan yang memanggil nama mereka. Hingga pada akhirnya...

"Jangan...!!!" jerit keduanya hampir bersamaan ketika mendengar suara kunci yang bersinggungan dengan bagian dalam handle pintu kamar tersebut.

                                     * * *

Marina mengusap sebuah foto usang yang terbingkai kayu di atas meja kerjanya. Ada banyak kata yang ingin diungkapkannya. Namun semua itu hanya dapat ia jelaskan lewat tangis yang hampir menyerupai rintihan.

"Cinde...," ucapnya di tengah sedu. "Mama rindu kamu, Nak. Mengapa nasibmu jadi begini?"

Lagi-lagi ia membasahi pipinya dengan air mata yang begitu membuatnya lemah. Sebelah tangannya yang terpaku pada ujung meja menopang dahi dengan wajah tertunduk. Ia tak tahu harus bagaimana lagi.

"Lidya terlalu baik pada Cinde," ia makin tertunduk. "Aku malu untuk meminta kembali anakku," hatinya makin menciut. "Walau ia telah tega memisahkan kami lalu mengganti namanya menjadi Ecilia. Aku tetap tak bisa membencinya."

Pada saat yang sama pintu diketuk dari luar. Marina mengangkat kepala. Mengarah ke pintu.

"Masuk," ucapnya ringan sambil menghapus air matanya.

Arlan datang untuk menyerahkan laporan perkembangan Coffe Day hari itu. Ia menerimanya dengan senang hati. Lalu ia mempersilakan pramuaaji itu untuk pamit.

"Ibu nggak pulang?" celetuk Arlan tiba-tiba.

"Nanti, Lan," Marina mencoba untuk tersenyum. "Mang Tarman masih di jalan."

"Kenapa nggak bareng saya aja?"

"Tanggunglah. Mungkin lima menit lagi dia sampai. Kayaknya sih macet. Biasanya setiap hari juga begitu. Terutama hari Senin."

"Oh, ok. Selamat malam, Bu."

"Malam."

Pria itu segera meninggalkan Marina. Sendirian. Dalam ruang kerjanya yang pekat dengan sisa aroma duka di masa lampau. Biru. Kelabu.

                                     * * *

"Aku baru saja diterima sebagai karyawati di kafe, Pak. Jadi pramusaji."

Ada nada bahagia yang sangat kental dalam suara ringan Dini. Guntur menyambutnya dengan senyum. Ditatapnya gadis itu baik-baik. Dini menatapnya balik. Menunggu sang ayah mengangkat suara.

"Jadi pekerja yang jujur, ya, Nak," ucap Guntur singkat, penuh harap.

Dini hanya mengangguk. Gadis itu kemudian pamit untuk menemui Ratri di dalam. Meninggalkan Guntur seorang diri yang tengah memangkas rumput yang mulai tumbuh meliar di halaman depan.

"Kak Dini...!!!"

Tiba-tiba saja Falka menubruk dan memeluk tubuh Dini kuat-kuat. Membuatnya hampir oleng. Lalu bocah itu menggiringnya setengah paksa menuju kamar Dini. Gadis itu hanya menurut tanpa memberontak sedikit pun.
Dan ketika mereka sampai di sana, sebuah pemandangan indah menyambutnya. Dengan perasaan takjub, Dini berusaha mendefinisikannya. Namun sayangnya tak ada satu pun kata yang mampu mewakili ekspresinya saat itu.

Sepasang flat shoes berwarna cokelat muda terbungkus rapi di dalam kardus berbahan plastik transparan yang berhias pita cantik yang mengikat sempurna. Juga seikat bunga mawar di sebelahnya. Keduanya terletak tepat di pinggir meja riasnya.

Falka mendongak. Sangat jelas di matanya wajah Dini yang penuh haru melihat kejutan yang dibuatnya bersama Praha. Ditariknya berkali-kali ujung t-shirt Dini sambil menaikkan salah satu alisnya dengan wajah lucu.

Dini tertunduk membalas tatapan Falka. "Ini... benar-benar..."

"Selamat ulang tahun Kak. Ini kado persembahan dariku dan Kak Praha. Kak Dini suka, kan?"

Tanpa diminta, ia segera meraih Falka dan menggendong tubuh mungil bocah itu. Mata makhluk imut di hadapannya menyapu wajahnya dengan senyum yang begitu khas. Menampilkan kepolosan yang tak pernah jenuh di mata orang-orang di sekitarnya.

"Di mana Kak Praha sekarang?. Kak Dini mau bilang terima kasih."

Spontan Falka tersentak lucu. Ia kemudian meminta Dini menurunkannya. Lalu ia meraih selembar kertas yang terselip di bawah kardus flat shoes tersebut dan menyerahkannya pada Dini. Perempuan itu nyaris pingsan dibuatnya.

"Falka...!!!"

Mendengar nada geram dari Dini saat menyebut namanya, bocah itu segera berlari menuju kamarnya.

                                        * * *

Bersambung


[Puisi] Napas Agustus

Napas-napasku adalah hidupku Napas yang bertiup dari rahmat-Nya Napas yang diperjuangkan ayah dan ibu Napas yang diaminkan puluhan doa Mungk...