Prolog
Ajeng remaja menatap Galuh dengan wajah nelangsa. Kelabu di matanya menyiratkan kesedihan yang tak terbendung. Perempuan itu kemudian membalasnya. Menghujaninya dengan sorot mata prihatin.
"Kenapa?" Ajeng menuntut jawaban.
"Gayatri menitipkanmu padaku karena ia sangat mencintaimu. Yakinilah, Ajeng," Galuh tersenyum tipis. "Dan aku percaya, bahwa aku hanya mampu sekedar menjaga gadis kesayangannya. Tak lebih. Dibandingkan ibumu yang sanggup melindungimu seutuhnya."
"Lalu mengapa ibu pergi?" Ajeng mulai terisak, menunduk.
"Ibumu wafat setelah melahirkanmu, Jeng. Dia wanita yang baik. Adik perempuanku yang paling tangguh."
"Bagaimana bila aku menyusahkanmu?" Ajeng kembali menatapnya, khawatir.
Galuh melebarkan senyumnya. "Tidak akan pernah!"
* * *
Satu
Waktu telah menunjukkan pukul delapan lewat sepuluh malam. Jam beker di atas meja kerja di samping ranjang Ajeng bergetar hebat dan berdering kencang. Hingga pada dering yang keempat dengan rentang waktu tiga menit setiap deringnya, pemilik jam tersebut terbangun.
Sontak Ajeng terduduk tegak di atas ranjang. Ditekannya berkali-kali tombol besar di atas jam bekernya. Hingga benda itu berhenti membuat gaduh.
Lalu terdengar sebuah ketukan pintu dari luar. Ia segera bangkit untuk membuka pintu.
* * *
Dini melangkah ragu menuju kamar Ajeng. Atas perintah ibunya, ia terpaksa menurut tanpa membantah. Maka ia mencoba membangunkan majikannya dengan mengetuk pintu kamar wanita muda itu.
"Mbak Ajeng sudah bangun?" Dini mendekatkan mulutnya pada sebuah pintu.
Sedetik kemudian pintu itu terbuka. Kepala Ajeng menyembul dari balik pintu. Dini hampir terkejut karenanya.
"Sebentar, Din. Aku mau cuci muka dulu," ia tersenyum ringan. "Mobil sudah siap?"
"Sudah, Mbak, " Dini mengangguk. "Saya tinggal dulu, ya?"
"Ok," Ajeng mengacungkan jempol. "Terima kasih."
* * *
Guntur membelokkan sedan itu ke kiri begitu truk besar di depannya melaju pelan. Sekilas ia melirik spion tengah. Didapatinya Ajeng dan Ratri tengah berbincang cukup serius.
"Menurut Bik Ratri, apakah yang telah saya lakukan selama ini salah?" Ajeng menatap Ratri dengan wajah polos.
Ratri menghela napas prihatin.
"Sama sekali nggak kok, Mbak. Toh selama ini Mbak cuma menolong 'budak-budak' malang itu."
"Ya, saya mengerti, Bik. Tapi bagaimana pun mereka juga manusia biasa," Ajeng mengalihkan tatapannya kepada segerombol wanita tunasusila di ujung jalan. "Saya nggak kebayang kalau suatu waktu saya berada di posisi seperti mereka."
"Itu sudah menjadi bagian dari konsekuensi," tukas Ratri, halus. "Lagi pula siapa yang akan mengurus anak mereka kalau Mbak Ajeng nggak segera bertindak cepat seperti ini?"
"Tapi Ecilia beda."
"Pastilah, Mbak."
Kini ganti Ajeng yang mendengus kecil. Lalu hening. Sesekali telinganya menangkap bunyi klakson di sekitarnya.
"Mbak Ajeng..."
Suara berat Guntur menyentakkan kesadarannya. Ketika ia menegakkan pandangan, samar-samar Coffee Day berdiri tegak di luar sana. Ia kemudian meminta Guntur untuk mengarahkan sedannya ke tempat itu.
"Saya pikir malam-malam begini warung kopi sudah tutup," celetuk Guntur.
Ajeng terkekeh kecil karenanya.
"Ini kan kota, Pak," gerutu Ratri.
"Coffee Day itu sejenis kafe metropolitan. Bukan sekedar warung kopi biasa. Jam operasionalnya cuma khusus malam, karena target utama pengunjung kafe tersebut adalah murid SMA paket C yang bersekolah di SMA Pelita Bangsa di seberang kafe," jelas Ajeng.
"Kok namanya aneh gitu ya, Mbak?" tanya Ratri bodoh.
"Ya, itu salah satu trik mereka untuk menarik perhatian konsumen," Ajeng tersenyum datar.
Seketika bibir Ratri membundar tanpa suara. Tanpa mereka sadari, sedan yang mereka tumpangi sudah meluncur masuk ke area parkir basement kafe.
"Sudah sampai, Mbak," Guntur membuka pintu kanan depan mobil.
Ratri segera membuka pintu kiri belakang sedan, lalu keluar dari dalamnya. Sesaat kemudian ponsel Ajeng berbunyi. Ketika ia mengangkat benda itu, ternyata sebuah notifikasi inbox dari gmail-nya. Namun ia menahan diri untuk membacanya sampai ia keluar dari area parkir.
"Pak Guntur ikut kami masuk, yuk!"
ajak Ajeng sambil membuka inbox tersebut.
Namun Guntur menolaknya dengan alasan tidak mau mengganggu. Beberapa kali Ajeng merayunya hingga pada akhirnya ia dan Ratri berhasil masuk ke dalam kafe bersama Guntur.
* * *
Dini baru saja mengunci gerendel pintu gerbang. Sedan yang membawa orang tua serta majikannya telah meluncur pergi. Lalu ia bergegas menuju kamarnya. Usai meletakkan rangkaian kunci di bawah bantal, ia kemudian merebahkan tubuh lelahnya di atas ranjang.
Jam dinding telah menujukkan pukul sembilan malam lewat lima menit. Namun ia belum juga berhasil memejamkan matanya. Sepotong nama terus bermain di kepalanya sejak tadi. Yang membuatnya hampir pingsan saat ia tak sengaja mendengar sebuah berita mengenai pemilik nama tersebut. Dalam obrolan singkat Ajeng dan Ratri.
Dicta...
Dini menggumamkan nama itu dengan susah payah. Bahkan ia tak sanggup membuka mulutnya sedikit pun. Lalu ia menyipitkan mata. Ketika ia mengingat bahwa ada sepotong nama lain yang juga disebut-sebut Ajeng dalam pembicaraannya dengan Ratri sore tadi.
Nyaris ia tak bisa tidur karena sepotong nama yang kedua itu. Membuatnya hampir tak berdaya. Tubuhnya terasa lemas seketika.
Lengkap sudah!
* * *
"Apa kabar, Jeng?" Lidya menjabat erat telapak tangan kanan Ajeng.
"Baik, Bu," balas Ajeng sambil megulas senyum pada Lidya.
"Silakan duduk," Lidya menarik kursi di seberang mejanya.
Ajeng kemudian duduk di atas kursi itu. Lidya melambaikan tangan kepada seorang pramusaji muda di meja kassa. Pramusaji itu kemudian menghampiri mereka dengan membawa sebuah buku menu dan sebatang pena di saku kaus seragamnya.
Pada detik itu Ajeng dan Lidya sibuk memilih minuman yang akan dipesannya. Tanpa mereka ketahui, seorang pria berjaket hitam duduk di kursi yang terletak di sudut untuk mengawasi mereka sejak Lidya memasuki kafe. Melihat yang memata-matai majikannya adalah pria yang mereka kenal bengis, Guntur dan Ratri hanya mampu saling pandang tanpa berkata.
Setelah sesi memesan minuman selesai, Ajeng menatap Lidya dengan wajah serius. Lidya membalas tatapan Ajeng. Terjadilah obrolan yang cukup serius di antara mereka.
"Saya nggak memaksa lho, Bu," desis Ajeng.
Laksmi kemudian mengangguk. "Ecilia juga nggak keberatan. Saya pikir kalian berdua sudah sepakat. Meskipun 'transaksi'-nya terjadi secara tidak langsung."
"Aku cuma khawatir..."
Lidya memotong ucapan Ajeng, lalu menggeleng pelan. "Kekhawatiran hanya akan mempersulit langkahmu, Jeng."
Ajeng menunduk ragu. Tepat pada saat itu seorang pramusaji datang membawa pesanan mereka. Ice apple tea untuk Ajeng dan moccacino white coffee pesanan Lidya. Dan usai pramusaji berlalu, kembali mereka saling bertatapan.
"Bukankah kamu juga sudah pernah melakukannya?"
Ajeng mendongak. Dan matanya tepat jatuh pada wajah Lidya. Perempuan itu tersenyum ketir.
"Dengar Ajeng, kau bukan penjahat sepertiku," ujar Lidya setengah berbisik. "Kau hanya melakukan yang sepantasnya kau kerjakan. Karena kau mampu melaksanakannya, maka lakukanlah."
Ajeng kemudian menyesap pelan ice apple tea-nya. Mencoba membuka cakrawala pikirnya untuk mencerna kata-kata Lidya. Sesaat kemudian ia mengerjap.
"Bagaimana dengan nanti?"
"Saya mengerti," Lidya meneguk seperempat gelas moccacino white coffee-nya. "Kau khawatir bila suatu saat nanti Ecilia akan menuntut hak asuhnya kan?"
"Bahkan perkara yang lebih buruk dari itu," sambung Ajeng.
"Saya menjamin keterbukaan tangan Ecilia 'meminjamkan aset berharga'-nya padamu. Hukumlah saya bila ucapan tadi salah."
"Bukan itu yang saya risaukan," Ajeng membuka akun gmail-nya.
"Lantas?" Lidya mengerutkan keningnya.
"Saya hanya khawatir dengan Dicta."
"Kenapa?"
Ajeng mengarahkan layar ponselnya tepat di depan wajah Lidya. "Dia meneror saya lewat gmail samarannya. Laki-laki itu sudah tau rencana kita."
Dan pada saat itu juga otak Lidya terpusat pada sebuah nama. Yang membuatnya ternganga seketika dan tatap mata yang kosong. Dalam hati, ia menyebutkan sebuah nama.
Respati?
* * *
Bersambung