Senin, 24 April 2017

[Cermin] Bayangan








“Kamu nggak apa-apa, Grace?”

Lagi-lagi aku mendapatinya tengah bersedih. Raut wajah datarnya terlihat murung. Sebetulnya aku tak tega melihatnya seperti ini. Namun setiap kali kumenatapnya iba, ia melarangku untuk itu. Meski sesekali mataku tak mampu untuk berbohong saat menjelajahi setiap inci wajahnya. Dan aku mencoba untuk menahan rasa sakit yang mengiris hatiku. Yang membuatku jauh lebih menderita dibanding perasaan terbebani yang menimpanya. Sesuatu yang selalu membuatku terpaksa melenguh dan mendengus.

“Aku nggak apa-apa,” sahutnya datar.

“Nggak apa-apa, ya?” balasku setengah sinis.

“Kamu meragukanku?” ia menolehku, dengan wajah dinginnya yang membekukan hatiku.

Aku membisu. Hanya dia yang sanggup membuatku selalu begini. Bahkan ketika ratusan menit dalam hidupku berlalu tanpanya. Saat benakku terpenuhi oleh sosoknya yang terlalu absurd untuk kugenggam. Lalu kudengar, dengan lirih ia menghela napas. Seperti hendak membuka suara.

“Terkadang kita terlalu mempercayai atau meragukan sesuatu yang kita sudah ketahui kebenarannya, Fem,” ia membisu lagi, mengatur napas. “Aku hanya ingin kau mampu memahami tentangku lebih dari mereka. Karena aku yakin hanya kau yang mampu.”

Aku masih terdiam. Sejujurnya aku sendiri benar-benar tak mengerti bagaimana aku bisa membencinya walaupun aku sangat mencintainya. Bila siapapun melihat kami, pasti menganggap bahwa dia sudah lebih dari cukup untuk memperlakukanku sebagai seorang teman. Yang kuinginkan memang sebatas teman. Bukan sahabat. Namun hatiku selalu mengingkarinya. Anganku sesekali memberontak dan meliar hingga setitik rasa benci padanya pelan menyayat hatiku yang tak sepatutnya aku terluka oleh itu. Karena dirinya yang seperti bayangan untuk kujadikan sesuatu yang nyata.

Ia mendesah. Ditatapnya aku baik-baik. Kali ini ia berusaha tersenyum tipis. Agar keraguanku padanya tak semakin menguat.

“Aku harus pulang, Fem,” pamitnya. “Jaga dirimu baik-baik, ya? Sampai jumpa.”

Dengan meninggalkan seulas senyum, ia kemudian melangkah pergi. Tanpa menunggu jawabanku. Membawa serta benciku padanya.

* * *

Gracia bukan perempuan yang terlalu istimewa. Setidaknya logikaku berpendapat demikian tentangnya. Berbanding terbalik dengan hatiku yang terlihat egois. Ia seolah memiliki tahta bak seorang ratu yang menguasai separuh hatiku. Wajahnya memang tak secerah sinar matahari di musim panas atau selembut cahaya rembulan kala purnama. Tapi energi magis itu tumbuh dan bersinar di dalam dirinya. Energi yang menghipnotisku untuk menghindarkannya dari makhluk manapun yang hendak menghancurkannya secara sadar maupun tidak.

Aku tersentak. Tiba-tiba saja Gracia mendatangiku dengan wajah lebih mendung dibanding kemarin lusa. Dengan susah payah ia menahan diri untuk terisak. Seperti biasa, ia sepertinya hendak mengeluhkan sesuatu. Mungkin hal kecil yang telah membuatnya kesal atau apalah itu.

“Femmy, kamu percaya takdir?”

Aku mengangguk. Kali ini aku merasa menang. Karena yang memulai percakapan di antara kami adalah dia bukan aku.

“Takdir baru saja membawanya pergi, Fem,” bisiknya lirih, patah.

Aku tak tahu apakah harus bersorak atau tersedu. Impianku untuk memisahkan Gracia dengan perempuan yang setengah memonopolinya dariku itu memang sudah tercapai. Tapi apa yang harus kubayar selain melihatnya menderita?

“Dia pindah ke mana?” tanyaku sabar.

“Ke Perth. Seperti impiannya."

“Dan kau bersedih atas itu?”

“Hanya dia yang hatiku miliki. Yang mampu membangkitkan semangat hidupku.”

“Tanpanya?”

“Hatiku perlahan akan merapuh," ia hampir terisak. "Ia memang bukan untuku sepertinya, Fem. Ia seperti bayangan yang tak pernah bisa kuraih.”

Kini aku benar-benar tak mengerti siapa yang sebetulnya seperti bayangan. Gracia atau perempuan itu.

* * *

 (Teruntuk Diamondra yang melambungkan mimpiku ke angkasa)


* * * * *


[Puisi] Napas Agustus

Napas-napasku adalah hidupku Napas yang bertiup dari rahmat-Nya Napas yang diperjuangkan ayah dan ibu Napas yang diaminkan puluhan doa Mungk...