“Kamu nggak apa-apa, Grace?”
Lagi-lagi aku mendapatinya tengah
bersedih. Raut wajah datarnya terlihat murung. Sebetulnya aku tak tega
melihatnya seperti ini. Namun setiap kali kumenatapnya iba, ia melarangku untuk
itu. Meski sesekali mataku tak mampu untuk berbohong saat menjelajahi setiap
inci wajahnya. Dan aku mencoba untuk menahan rasa sakit yang mengiris hatiku.
Yang membuatku jauh lebih menderita dibanding perasaan terbebani yang menimpanya. Sesuatu
yang selalu membuatku terpaksa melenguh dan mendengus.
“Aku nggak apa-apa,” sahutnya
datar.
“Nggak apa-apa, ya?” balasku
setengah sinis.
“Kamu meragukanku?” ia menolehku,
dengan wajah dinginnya yang membekukan hatiku.
Aku membisu. Hanya dia yang
sanggup membuatku selalu begini. Bahkan ketika ratusan menit dalam hidupku
berlalu tanpanya. Saat benakku terpenuhi oleh sosoknya yang terlalu absurd untuk
kugenggam. Lalu kudengar, dengan lirih ia menghela napas. Seperti hendak
membuka suara.
“Terkadang kita terlalu
mempercayai atau meragukan sesuatu yang kita sudah ketahui kebenarannya,
Fem,” ia membisu lagi, mengatur napas. “Aku hanya ingin kau mampu memahami
tentangku lebih dari mereka. Karena aku yakin hanya kau yang mampu.”
Aku masih terdiam. Sejujurnya aku
sendiri benar-benar tak mengerti bagaimana aku bisa membencinya walaupun aku
sangat mencintainya. Bila siapapun melihat kami, pasti menganggap bahwa dia
sudah lebih dari cukup untuk memperlakukanku sebagai seorang teman. Yang
kuinginkan memang sebatas teman. Bukan sahabat. Namun hatiku selalu mengingkarinya.
Anganku sesekali memberontak dan meliar hingga setitik rasa benci padanya pelan
menyayat hatiku yang tak sepatutnya aku terluka oleh itu. Karena dirinya yang seperti bayangan untuk kujadikan sesuatu yang nyata.
Ia mendesah. Ditatapnya aku
baik-baik. Kali ini ia berusaha tersenyum tipis. Agar keraguanku padanya tak
semakin menguat.
“Aku harus pulang, Fem,” pamitnya. “Jaga dirimu baik-baik,
ya? Sampai jumpa.”
Dengan meninggalkan seulas senyum, ia kemudian melangkah
pergi. Tanpa menunggu jawabanku. Membawa serta benciku padanya.
* * *
Gracia bukan perempuan yang
terlalu istimewa. Setidaknya logikaku berpendapat demikian tentangnya. Berbanding
terbalik dengan hatiku yang terlihat egois. Ia seolah memiliki tahta bak
seorang ratu yang menguasai separuh hatiku. Wajahnya memang tak secerah sinar
matahari di musim panas atau selembut cahaya rembulan kala purnama. Tapi energi
magis itu tumbuh dan bersinar di dalam dirinya. Energi yang menghipnotisku
untuk menghindarkannya dari makhluk manapun yang hendak menghancurkannya secara
sadar maupun tidak.
Aku tersentak. Tiba-tiba saja
Gracia mendatangiku dengan wajah lebih mendung dibanding kemarin lusa. Dengan
susah payah ia menahan diri untuk terisak. Seperti biasa, ia sepertinya hendak
mengeluhkan sesuatu. Mungkin hal kecil yang telah membuatnya kesal atau apalah
itu.
“Femmy, kamu percaya takdir?”
Aku mengangguk. Kali ini aku
merasa menang. Karena yang memulai percakapan di antara kami adalah dia bukan
aku.
“Takdir baru saja membawanya
pergi, Fem,” bisiknya lirih, patah.
Aku tak tahu apakah harus
bersorak atau tersedu. Impianku untuk memisahkan Gracia dengan perempuan yang setengah
memonopolinya dariku itu memang sudah tercapai. Tapi apa yang harus kubayar
selain melihatnya menderita?
“Dia pindah ke mana?” tanyaku
sabar.
“Ke Perth. Seperti impiannya."
“Dan kau bersedih atas itu?”
“Hanya dia yang hatiku miliki.
Yang mampu membangkitkan semangat hidupku.”
“Tanpanya?”
“Hatiku perlahan akan merapuh," ia hampir terisak. "Ia
memang bukan untuku sepertinya, Fem. Ia seperti bayangan yang tak pernah bisa
kuraih.”
Kini aku benar-benar tak mengerti siapa yang
sebetulnya seperti bayangan. Gracia atau perempuan itu.
* * *
(Teruntuk Diamondra yang
melambungkan mimpiku ke angkasa)
* * * * *