Jumat, 16 Desember 2016

[Cerbung] Adoptee #6





                                  Enam


Ajeng merasa hampir mati begitu sedannya berhenti tandas di depan pagar rumahnya. Ujung nyala lampu pada fuelmeter hampir surut mmendekati huruf E. Napasnya terengah-engah tak karuan. Telinganya menangkap bunyi sepasang sandal yang menghentak tanah kian jelas mendekati gerbang.

Ia lalu keluar dari sedannya. Pintu gerbang berdecit kecil ketika ditarik dari dalam. Guntur buru-buru mengambil alih sedan untuk diparkirkan di garasi. Ajeng melangkah setengah gontai masuk ke dalam setelah mengucapkan terima kasih padanya.

Ia mendapati Falka dan Praha tengah belajar bersama di ruang tamu. Keduanya duduk manis di atas selembar karpet biru langit cerah. Dengan kepala setengah menunduk menekuni buku pelajaran yang dibacanya. Dan telunjuk kanan bergerak mengikuti alur jalannya mata.

"Selamat malam."

Keduanya menoleh cepat. Menjatuhi tatapannya tepat pada Ajeng dengan sangat antusias. Perempuan itu segera berlutut sambil tertawa ringan ketika kedua anak angkatnya itu menghamburkan diri ke arahnya.

"Oh, my children!"

Didekapnya mereka dengan sentuhan yang begitu hangat. Matanya terpejam. Berusaha menikmati setiap detik momen kebahagiaannya bersama Praha dan Falka. Perlahan rasa lelahnya mulai runtuh.

"Kenapa Bunda baru pulang?" Falka menarik diri dari dekapan Ajeng.

Praha pun turut melepaskan dirinya yang terikat dalam dekapan Ajeng. Ditatapnya sang ibu dengan tatapan menuntut. Namun Ajeng tak menjawab. Hanya mengirimkan sorot teduh dari matanya. Ia dan Falka lalu diperintah untuk membereskan bukunya sebelum digiring Bundanya menuju kamar.

Di dalam ruangan itu Falka kembali mengulang pertanyannya. Dengan rengekan yang mampu menerobos dinding kebungkaman Ajeng.

"Ada banyak data yang harus selesai direkap hari ini buat keperluan besok pagi," senyum Ajeng, membual. "Makanya Bunda terlambat pulang. Maaf, ya. Kalian jadi harus belajar di ruang tamu, deh."

"Nggak apa-apa kok, Bun," sahut Praha.

"Taapiii..."

Ajeng segera menoleh ke wajah Falka. Begitu pun Praha. Bocah tampan itu tampaknya sudah siap 'beraksi' dan memasang wajah jahilnya.

"Apa?"

"Seperti biasa."

"Oh, ok," angguk Ajeng, mengerti. "Lihat saja besok pagi."

                                   * * *

Sesuai perjanjian yang telah disepakati mereka bertiga - Ajeng dan kedua anak angkatnya, maka ia harus melakukan sesuatu untuk bocah cerdik dan gadis pra-ABG kesayangannya itu. Sebagai konsekuensi karena ia pulang terlambat tanpa kabar. Begitu pun yang harus dilakukan anaknya bila melanggar perjanjian.

Dan pagi yang dijanjikan Ajeng itu telah datang. Kedua anaknya segera menagih 'hak'-nya usai sarapan pagi. Saat hendak berangkat sekolah. Di salah satu sudut beranda rumah. Menahannya untuk pergi 'ngantor' hari itu.

"Ok, karena kesalahan Bunda kemarin malam, maka khusus hari ini, bukan Pak Guntur yang akan mengantar-jemput kalian, melainkan Bunda."

Praha terbengong sejenak sebelum menyadari sebait kalimat yang baru saja dilontarkan Bundanya dengan suara ringan. Sementara Falka segera menyelinap ke dalam sedan Ajeng yang telah siap dikemudikan lewat pintu kiri depan. Tampaknya bocah itu sedang memasang sabuk pengaman di tubuhnya.

"Ya udah, masuk aja," Ajeng membuka lebar-lebar pintu kiri belakang sedan, mempersilakan Praha menyusul adik angkatnya dengan nada setengah memerintah. "Nanti keburu telat, lho."

Gadis itu hanya menurut sambil menutup pintu rapat-rapat. Dan Ajeng turut bergabung dengan mereka di jok kemudi. Ia kemudian menyalakan mesin lalu membawa sedan itu untuk mulai bertarung menerobos kemacetan lalu lintas Jakarta.

                                   * * *

"Met pagi, Ma."

Yolanda mengulas senyum. Laki-laki itu menjatuhkan tubuhnya pelan di atas kursi makan. Disusul oleh Jordi.

"Wuiiih...!!! Ada nasi uduk!!!" seru Jordi dengan wajah bercahaya.

Yolanda menatap putra bungsunya dengan wajah pasrah ketika laki-laki itu melahap nasi uduk di atas piring makannya dan beberapa lauk pelengkapnya dengan rakus.

Kamu masih selalu saja bertingkah kekanak-kanakan, Di. Tidak sedewasa Aldo. Yolanda mengerjap pelan. Padahal aku berharap kamu akan segera menikah dan memiliki anak dengan perempuan baik-baik setelah Aldo menikahi Adgin. Tapi kalau begini terus... Ah, ya, Putri Jenggala! Dalam sekejap ratusan bintang segera memenuhi kedua matanya. Mengapa tiba-tiba aku berharap lebih padanya?

"Tumben nggak masak, Ma?" celetuk Aldo, yang menangkapnya dalam keadaan termenung.

Yolanda segera mengalihkan tatapannya pada anak laki-laki tertuanya itu. "Nggak sempat, Do," gelengnya.

"Lho, kenapa?"

Belum sempat Yolanda menjawab, Jordi sudah mendahuluinya.

"Papa masih ngambek, Ma?" sekilas Jordi melempar tatapannya ke arah kamar Irawan.

Yolanda mengedikkan bahu.

"Pagi-pagi sekali dia sudah berangkat. Mama jadi terbangun lebih awal ketika membaui aroma seduhan kopi. Jauh waktu sebelum kalian terjaga."

"Pasti karena ulahmu lagi!" rutuk Aldo.

"Aku cuma pinjam mobil Papa sebentar, kok," elak Jordi.

Aldo menatapnya setengah sinis. "Dan tanpa izin!" tukasnya meledek.

"Tapi, kan..."

"Sudah jangan ribut terus! Ayo sarapan!" Yolanda melera.

"Ma, aku kan masih cuti, jadi kalau hari ini Mama nggak nganter Nia dulu, gimana? Biar aku yang gantiin. Karena kebetulan hari ini aku juga nggak ada agenda acara khusus. Nanti sekalian kujemput juga deh," tawar Aldo.

"Kebetulan banget!" sambut Yolanda dengan wajah cerah. "Boleh, boleh! Soalnya nanti siang Mama juga mau ke sanggar buat nganterin kostum pesanan Bu Utari. Sekalian pantau langsung perkembangan anak didik di sana."

"Nia ke mana, Ma? Kok nggak ikut sarapan?" celetuk Jordi.

Yolanda menatapnya malas. "Kedua Om-nya aja yang bangun kesiangan. Tuh, keponakanmu lagi pakai sepatu di luar."

Kedua putranya terkekeh malu. Yolanda hanya memutar kedua bola matanya. Sambil melanjutkan sarapannya.

"Nek..."

Terdengar suara pintu depan setengah terbuka. Ketiga manusia di ruang makan menoleh ke arahnya. Seorang gadis kecil berambut cokelat tua menyembulkan kepalanya di antara pintu dan kusennya dari luar.

"Hari ini Nia diantar sama Om Aldo aja, ya?" Aldo segera menyusul Nia di teras depan usai menyelesaikan acara sarapannya.

Nia hanya mengangguk polos.

"Hati-hati, ya, Nak! Jangan ngebut sembarangan!!!" pesan Yolanda.

Laki-laki itu hanya mengangguk dari kejauhan, hampir tak kentara.

                                  * * *

Ajeng menepikan sedannya ke bahu trotoar jalan depan sebuah sekolah dasar. Pelan ia menoleh pada Praha. Gadis itu baru saja selesai mengikat tali sepatunya. Dikecupnya pelan pipi kanan Praha saat anak itu menyodorkan kepalanya ke wajah Ajeng.

"Jaga dirimu baik-baik, ya, Pra. Turuti nasihat guru. Jangan membuat masalah. Jaga hubungan baikmu dengan teman-teman. Tetap semangat belajar. Salam terima kasih Bunda pada gurumu," Ajeng menatap lekat-lekat kedua bola mata Praha dengah tubuh setengah membungkuk.

Gadis itu hanya mengangguk. Lalu mengecup pipi kiri Ajeng dengan lembut. Ia kemudian membuka pintu kiri belakang dan buru-buru keluar dari dalamnya. Praha segera melambaikan tangannya pada Ajeng saat sedan Ajeng mulai melaju pelan.

Kini hanya tersisa Ajeng seorang diri di dalam sedannya. Falka sudah sejak tadi diturunkannya di sebuah TK mungil tempat bocah itu bersekolah. Sedangkan Praha baru saja keluar dari sedannya tadi. 

Ia lalu menyalakan sebuah stasiun radio favoritnya. Sesekali perempuan itu ikut bersenandung mengikuti lirik lagu yang sedang diputar. Atau sekedar mengetuk-ngetukkan jari di atas stirnya.

Ia menghela napas. Dilajukannya sedan itu dengan tenang menuju SPBU terdekat. Persediaan bensin di tangkinya sudah hampir habis. Tanpa pulang terlebih dahulu ke rumah. Karena ia memang sudah pamit dengan Ratri sebelum berangkat. Dan setelah itu akan melanjutkan perjalanan menuju peternakan ayamnya.

Entah mengapa lalu lintas Selasa pagi itu lumayan bersahabat dengannya. Cukup lengang dan teratur. Sesuatu yang membuatnya sedikit lega sebelum mulai 'bertempur' dengan tantangan baru pada hari itu.

Sesekali ia melihat-lihat ke arah luar sedan dengan wajah bersinar. Diturunkannya kaca mobil kiri depan. Lalu ia melambatkan laju sedannya. Beberapa mahasiswa melangkah mantap memasuki pelataran sebuah universitas berada di samping kiri sedannya. Ia sempat menyapa sebagian di antara mereka yang menganggapnya seorang alumni paling senior di perguruan tinggi itu.

Aih, nostalgia dadakan. Ia meringis dalam hati. Jadi ingin kuliah lagi. Dinaikkannya kembali kaca mobil yang terbuka itu.

Beberapa menit kemudian ia sampai di SPBU yang ditujunya dan segara memasukkan sedannya dalam barisan antrian urutan terakhir. Tiba-tiba saja tatapannya terjatuh pada sosok laki-laki dan anak peerempuan berseragam murid SD yang masuk ke jok pengemudi sedan lain usai keluar dengan menenteng sebuah plastik besar berisi sesuatu dari minimarket dalam SPBU. Membuatnya hampir mengabaikan bunyi klakson mobil lain yang baru datang di belakangnya yang saling bersahutan menuntutnya untuk melajukan sedannya itu juga.

Pak Aska? Kayssa?! Jadi mereka...

                                   * * *

Jordi...

Mata Irawan menyipit. Ada rasa 'lain' dalam benaknya tentang pemilik nama itu. Yang tak terdefinisikan secara mendetail. Yang mengganggu hatinya sejak tadi malam.

Tapi...

Ia menggeleng tegas. Penglihatannya terhadap Jordi memang tak sebaik milik Yolanda. Tapi ia ayahnya. Boleh saja sewaktu-waktu penilaiannya setara atau bahkan jauh lebih baik dibanding pengamatan istrinya. Suatu hal yang tak dapat dipungkiri oleh siapa pun.

Dan rasa itu diam-diam mulai mengganggunya. Membuatnya tanpa sadar memberanikan diri berprasangka lebih jauh. Walau sebenarnya ia sendiri masih bersikeras untuk berkata tidak.

Anak itu... Hm... Tidak seperti biasanya. Dia...

Irawan lalu mendongak ke arah langit di luar kaca jendela ruangannya. Masih berwarna biru pekat. Diam-diam ia menyesali keputusannya untuk datang terlalu pagi ke kantor. Sebagai salah satu tempat 'kabur'-nya untuk menetralkan diri saat berselisih dengan keluarganya selain perpustakaan langganannya, museum miniatur otomotif, dan sanggar teater kuno milik kakeknya.

Pelan ia menyesap kopi hitam di dalam botolnya. Yang sengaja ia seduh sendiri saat Yolanda masih terlelap. Terasa sangat pahit dan begitu pekat di kerongkongannya. Namun sudah terlanjur tertelan. Segera diletakkannya botol berisi kopi sialan itu. Tiba-tiba ia teringat akan sepenggal pembicarannya dengan Yolanda kemarin lusa di sudut dapur.

"Merk kopi langganan kita stoknya kosong, ya, Ma?" celetuknya sambil merobek sudut bungkus kopi sachet di tangannya.

"Oh, itu," Yolanda meliriknya sekilas. "Mama sengaja nggak beli kopi instan yang udah di-mix dengan bahan lain. Soalnya selera takaran gula para jantan di rumah ini kan berbeda-beda."

"Aduh...," ia kemudian menopang wajahnya dengan salah satu telapak tangannya. "Cuma gara-gara gengsi aku jadi sebodoh ini!"

Dihembuskannya napas keras-keras. Ada hal lain yang sepertinya lebih terasa pekat di tenggorokannya dari pada seteguk kopi hitam tadi. Sepotong nama perempuan yang tak sengaja didengarnya keluar dari mulut istrinya kemarin petang. Yang mulai meliar dalam pikirannya sejak tadi malam hingga detik ini.

Dan sepertinya ia akan mulai membangkitkan kembali hobi lamanya yang diwariskan oleh Jordi. Menguntit seseorang dari akun media sosialnya. Lebih tepatnya akun Facebook milik sepotong nama itu. Sejak menit berikutnya.

                                   * * *

Bersambung


[Puisi] Napas Agustus

Napas-napasku adalah hidupku Napas yang bertiup dari rahmat-Nya Napas yang diperjuangkan ayah dan ibu Napas yang diaminkan puluhan doa Mungk...